Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 136


__ADS_3

Ternyata Danny mendengar sama bisikan bisikan para tetangga itu. Danny menghentikan langkahnya kemudian menatap para ibu itu satu persatu. Kemudian pria itu melanjutkan langkahnya dengan menggandeng Sisil yang masih menangis. Memasukkan putrinya itu ke dalam mobil dan membujuk supaya berhenti menangis.


"Diam sayang. Kita akan cari tante Nia ya," kata Danny sambil mengusap air mata putrinya itu. Kemudian memeluk Sisil dengan erat sambil mengelus kepalanya. Melihat putrinya menangis seperti ini. Danny juga tidak dapat menahan kesedihannya. Dia mengetahui dengan sangat sadar jika putrinya itu sangat merindukan sosok seorang ibu yang bisa menyayangi Sisil. Terkadang, Danny juga bisa melihat kecemburuan di Mata putrinya ketika melihat Anggita menimang bahkan ketika mencium Cahaya. Dan sejauh ini. Danny juga bisa melihat jika Sisil bisa memposisikan dirinya jika berhadapan dengan Anggita.


"Janji ya pa."


"Janji. Tapi diam dulu donk," bujuk Danny sambil kembali mengelus kepala putrinya. Anak kecil itu menganggukkan kepalanya dengan polos.


"Tunggu sebentar disini," kata Danny lagi kemudian menutup pintu mobil. Danny kembali berjalan ke tempat para ibu ibu yang masih membahas tentang Nia.


"Maaf ibu, ibu. Tolong jangan menganggap Nia sebagai pelakor. Aku berhubungan dengan Nia dengan status duda," kata Danny. Ternyata dirinya tadi tidak langsung menanggapi perkataan ibu ibu itu karena Danny tidak ingin Sisil putrinya mendengar pembicaraan dewasa ini.


Para ibu ibu itu terlihat malu. Mereka tidak menyangka jika pendengaran Danny sangat tajam. Mereka hanya berbisik tapi Danny mendengarnya. Tidak ada yang berani menjawab perkataan Danny karena para ibu itu merasa malu ketahuan mengatakan hal negative itu kepada Nia. Tapi ada seorang wanita yang melangkah mendekat ke arah Danny hingga wanita itu dan Danny hanya berjarak sekitar satu meter.


"Bagaimana pun pembelaan anda terhadap Nia saat ini. Tidak ada lagi artinya. Nia sudah mendapatkan kata kata menyakitkan dari kami para tetangganya. Seharusnya anda melakukan pembelaan ini di saat kehamilan Nia baru saja diketahui oleh para tetangga. Setelah penderitaannya berakhir. Pernah kamu berpikir, bagaimana Nia menjalani kehamilan itu sendiri?. Kehamilan itu memang bisa saja karena salah Nia tidak bisa menjaga harga dirinya. Tapi dengan janin itu. Itu bukan kesalahan Nia atau anda. Tapi itu ada karena kehendak Penciptanya. Banyak diluar sana manusia melakukan dosa nikmat itu, tapi tidak hamil. Atau bahkan pasangan halal yang tidak kunjung mendapatkan momongan. Jika kamu tidak perduli dengan Nia. Setidaknya kamu perduli dengan benih anda dengan menjaga perasaan Nia," kata wanita itu membuat Danny semakin terbuka pemikirannya. Wanita itu adalah wanita yang menolong Nia. Wanita itu sudah mengetahui sedikit hal apa yang membuat Nia tidak ingin menikah dengan Danny.


Setelah mengucapkan kata kata itu. Wanita itu meninggalkan Danny yang masih terlihat termenung memikirkan perkataan wanita itu. Wanita itu merasa puas setelah mengucapkan kata kata itu kepada Danny. Melihat bagaimana penderitaan Nia. Wanita itu sangat setuju Nia pergi dari tempat itu dan pergi dari Danny. Wanita itu bahkan membantu menjual perabot milik Nia dan berjanji akan tutup mulut kepada Danny dan keluarganya. Hanya wanita itu yang dipercaya oleh Nia saat ini di tempat itu.


Kini Danny yang merasa malu melihat para ibu ibu tetangga itu. Niatnya untuk membela Nia dan menghilangkan penilaian negatif itu tapi dirinya kini yang harus menunduk kepala karena tidak ingin melihat tatapan sinis para ibu ibu. Para tetangga itu sangat jelas mendengar perkataan wanita itu. Tapi Danny juga merasa lega dan puas. Setidaknya dengan pembelaannya. Para ibu ibu tetangga tidak sembarangan lagi mengatakan hal negative tentang Nia.


Dengan lesu, Danny melangkahkan kakinya ke mobil. Melihat Sisil kembali membuka kesedihannya. Untuk yang kedua kalinya, mungkin Sisil akan kehilangan harapan akan seorang wanita yang bisa menyayangi dirinya dengan tulus. Sisil pernah mengharapkan Anggita sebagai mamanya dan memberikan julukan mama ita kepada wanita itu. Tapi harapannya tidak terkabul karena Anggita adalah istri dari om nya sendiri.


"Maafkan papa nak," kata Danny dalam hati. Dia merasa pesimis bisa bertemu dengan Nia kembali. Danny kemudian merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponsel dari kantong tersebut.


Danny membuka kembali blokir kontak milik Nia di ponselnya. Danny berusaha menghubungi kontak itu. Danny bersorak senang karena panggilan itu yang awalnya memanggil kini sudah berubah berdering. Danny tidak sabar menunggu panggilan itu dijawab. Hingga akhirnya panggilan itu tidak terjawab sama sekali.


Ingin menunjukkan keseriusannya. Akhirnya Danny kembali menghubungi kontak Nia. Tapi Kali ini tidak lagi berdering melainkan hanya memanggil saja. Danny memukul setir itu kesal. Tapi menyadari ada putri kesayangannya di mobil itu akhirnya Danny berusaha bersikap biasa.


Di tempat yang lain. Hal yang berbeda dirasakan oleh Nia. Wanita malang itu merasakan kebahagiaan yang tidak terkira mengetahui jika bayinya sudah bisa dibawa pulang ke rumah. Kabar itu dia dapat semalam dan hari ini dia bertemu dengan sang bayi untuk pertama kalinya setelah tiga minggu terpisah. Mereka sengaja membuat janji di rumah salah satu teman Jessi yang agak jauh dari kota karena tidak ingin para tetangganya di tempat yang lama mengetahui tentang bayi perempuan ini. Butuh dua jam perjalanan hingga bisa tiba di rumah milik teman Jessi itu.


Nia menangis bahagia melihat bayi perempuannya. Selama tiga minggu dirinya menahan rindu karena harus terpisah dari sang bayi. Selain karena fokus memulihkan tubuhnya, salah satu alasan Nia tidak mengunjungi bayi perempuannya karena takut ketahuan akan Danny. Selama tiga minggu itu, Danny datang sembarangan waktu. Itulah sebabnya mereka membuat janji bertemu di rumah ini setelah menyelesaikan urusan pindah dari rumah yang lama. Nia sengaja menjual perabotan rumah itu supaya Danny dan keluarganya menduga mereka pindah ke luar Kota.

__ADS_1


"Mengapa kamu tidak membiarkan aku pindah jauh ke luar kota Jessi," kata Nia sedih. Sebenarnya dirinya ingin pergi jauh melupakan semua kenangan di kota ini tapi kedua adiknya menahan Nia untuk tetap dulu tinggal di kota ini.


"Bagaimana aku bisa melepaskan kamu pergi jauh mbak. Hidup tidak seperti di dunia halusinasi. Semua butuh pertimbangan. Kamu dan bayi ini masih harus mendapatkan perawatan setidaknya istirahat total selama satu bulan ke depan. Kalau aku mengijinkan kamu pindah ke luar Kota. Apa kamu sangat yakin langsung mendapatkan pekerjaan. Jika iya, bagaimana dengan bayi ini. Setidaknya jika kita masih bersama. Kita bisa bertukar pikiran," jawab Jessi. Banyak hal yang dipertimbangkan Jessi hingga mereka hanya pindah rumah tanpa pindah kota. Studynya yang tidak lama lagi menjadi pertimbangan kemudian keadaan tempat baru yang belum pasti.


Nia terdiam. Perkataan Jessi benar.


"Kita akan melakukan perjalanan sekitar satu jam lagi ke rumah kontrakan Kita," kata Jessi lagi. Nia membulatkan matanya. Dia berpikir jika rumah kontrakan yang dikatakan oleh Jessi ada di sekitar tempat ini. Baru lepas persalinan tiga minggu yang lalu. Melakukan perjalanan ke tempat ini sangat membuat dirinya lelah. Dan demi ingin melihat kontrakan seperti apa yang dipilih Jessi untuk mereka membuat Nia penasaran.


"Kalau begitu, kita berangkat saja sekarang," kata Nia. Tapi Jessi Dan temannya tidak langsung setuju. Mereka menyuruh Nia untuk istirahat dulu.


"Istirahat dulu mbak. Kamu sudah melakukan perjalanan dua jam. Sebaiknya istirahat terlebih dahulu," kata Jessi. Jessi benar benar perhatian kepada Nia. Jessi berpikir Kalau bukan dirinya dan adiknya yang memperhatikan Nia, siapa lagi. Mereka melarang Nia untuk berhubungan dengan Danny. Selama tiga minggu ini, Jessi harus menahan amarah mengetahui Danny yang hampir setiap Hari ke rumah. Dia ingin sebenarnya memberikan pria itu kata kata mutiara yang menyakitkan. Tapi mengingat bayi Nia lebih penting daripada marah marah kepada Danny membuat wanita itu memfokuskan dirinya untuk menjaga bayi perempuan itu selama di rumah sakit.


Dua jam kemudian. Nia dan Jessi melakukan perjalanan menuju kontrakan mereka. Nia dan bayinya dengan naik taksi sedangkan Jessi dengan sepeda motornya.


"Ini rumahnya?" tanya Nia setelah dia dan sang bayi turun dari taksi. Koper koper berisi pakaian mereka juga sudah diturunkan.


"Iya, kenapa?" tanya Jessi sambil mengunci sepeda motornya kemudian turun dari sepeda motor tersebut. Jessi bahkan meminta tolong sang supir taksi mengangkat koper koper mereka hingga ke depan rumah.


Jessi membuka pintu rumah itu. Nia terkejut melihat bagian depan rumah itu. Ternyata Jessi tidak hanya mengontrak rumah untuk tempat tinggal mereka tapi juga untuk usaha.


"Bagaimana mbak?" tanya Jessi sambil tersenyum.


"Kapan kamu mengurus ini semua?" tanya Nia heran. Yang dia ketahui Jessi harus kuliah dan bergantian dengan adiknya satu lagi untuk menjaga sang bayi di rumah sakit. Nia memperhatikan bagian depan rumah itu yang sudah terisi dengan bahan bahan pokok yang dibutuhkan rumah tangga setiap hari. Ada beras, gula, minyak goreng dan yang lainnya. Depan rumah itu sudah mirip seperti grosir karena jualan yang sudah tertata rapi itu sangat lengkap.


"Yang pasti selama tiga minggu ini mbak," jawab Jessi. Satu minggu sejak kelahiran bayi itu. Jessi berpikir keras akan pemasukan mereka nantinya. Kebutuhan dan pengeluaran sudah pasti bertambah dengan adanya sang bayi perempuan. Jessi menemukan ide itu setelah bertukar pikiran dengan temannya. Tidak ingin sisa hasil pinjaman dari bank habis percuma. Akhirnya Nia nekad menggunakan uang itu untuk membuka usaha. Jessi berpikir, Nia akan lebih nyaman menjaga usaha itu bersamaan dengan menjaga bayinya daripada harus mencari pekerjaan lagi.


"Hidup kita untuk sementara waktu, tergantung kepada usaha ini mbak," kata Jessi. Wanita itu berubah sedih membayangkan keadaan hidup mereka yang belum pasti.


Nia ikut sedih. Dia mengetahui maksud dari perkataan adiknya itu. Jessi memang mempunyai pekerjaan sampingan selain kuliah tapi itu untuk dirinya sendiri kurang. Sedangkan adiknya yang satu lagi juga seperti itu. Mempunyai pekerjaan yang tidak menetap tapi untuk dirinya sendiri juga kurang.


"Terima kasih adikku," kata Nia sambil mendekatkan tubuhnya ke tubuh Jessi. Hanya itu yang bisa dia ucapkan saat ini atas perjuangan bersama dengan adik adiknya. Jessi memeluk tubuh saudara itu dengan isakan tangis. Jessi merasa sangat sedih. Kebahagiaan mereka karena kelahiran bayi itu juga merupakan kesedihan bagi mereka bertiga. Hanya karena mempertahankan bayi itu. Mereka harus menutup kuping jika melewati para ibu ibu yang sedang berkumpul di rumah terdahulu.

__ADS_1


"Kita besarkan bayi ini bersama sama mbak. Dia tanggung jawab kita bertiga," kata Jessi sambil menatap wajah teduh bayi perempuan itu. Nia menganggukkan kepalanya dengan haru mendengar perkataan adiknya itu. Dia tidak menyangka. Setelah aib yang dia buat sendiri. Adik adiknya tetap memberikan semangat bahkan mendukung dirinya sampai sejauh ini.


Nia pun aku menitikkan air matanya. Dalam hati dia berharap dan berdoa semoga usaha ini bisa membuat mereka dari kesulitan ekonomi apalagi ada cicilan setiap bulan yang harus mereka tanggung jawab.


"Hanya ini sisa uang dari sisa hasil pinjaman bank mbak," kata Nia lagi sambil menunjukkan beberapa lembar uang merah dan biru kepada Nia.


"Apa itu cukup untuk membayar cicilan bank minggu depan?" tanya Nia. Minggu dengan mereka sudah harus membayar cicilan pertama atas uang yang mereka pinjam.


"Cukup mbak. Tapi untuk minggu ini makan Kita harus dari Usaha ini," kata Jessi. Nia terdiam. Itu artinya mereka saat ini masih bisa dikatakan dalam kesulitan keuangan. Hasil penjuru perabot rumah belum juga mereka terima. Jessi membantu wanita itu untuk duduk di lantai. Berbeda dengan bagian depan rumah yang terisi bahan bahan untuk di jual. Tapi bagian tengah rumah itu masih terlihat kosong. Di kamar hanya ada tempat tidur sederhana dan di dapur hanya ada perlengkapan seadanya saja.


"Jessi, Kapan kamu ada waktu. Tolong kamu bawa mesin jahit yang di rumah kita sebelumnya," kata Nia setelah berpikir sebentar. Mesin jahit miliknya tidak ada yang membeli karena tidak ada yang membutuhkan di tempat itu. Tapi sekarang. Nia merasa bersyukur tidak ada yang berminat membeli mesin jahit itu karena di tempat ini. Dirinya akan menggunakan mesin itu untuk menghasilkan uang.


"Emang kamu yakin sudah bisa. Apa tidak diperdalam dulu ilmunya baru buka usaha menjahit," tanya Jessi ragu. Nia masih hitungan bulan belajir menjahit. Jessi khawatir jika terburu buru membuka usaha itu akan membuat pelanggan kecewa karena hasilnya kurang memuaskan.


"Percaya padaku," kata Nia menyakinkan adiknya. Nia sudah bertekad dalam hati akan membawa adik adik dan putrinya akan keluar dari kesusahan ini.


"Untuk sementara waktu. Sebaiknya Kita jangan ke rumah itu mbak. Nanti aku minta tolong sama teman aku untuk mencari mesin jahit bekas untuk kamu. Aku khawatir Danny akan datang ke tempat itu," kata Jessi.


Nia kembali terdiam. Mendengar nama ayah dari bayi yang ditangannya sekarang. Ada denyut nyeri hinggap ke relung hatinya.


"Kamu memikirkan?" tanya Jessi sambil menatap tajam ke wajah Nia. Wanita itu paling tidak suka melihat Nia berwajah sedih jika mendengar nama pria itu. Nia tergagap dan mengatakan tidak.


"Jadilah wanita tegas mbak. Pastikan hati kamu tidak terpengaruh hanya mendengar namanya. Sekalipun Kita menatap Dan menyentuh darah dagingnya setiap hari. Pastikan tidak ada ruang kosong di hati kamu untuk pria itu. Tapi jika kata kata ku berlawanan dengan hati kamu. Aku tidak memaksa kamu untuk tetap disini. Kamu bisa menentukan jalan kamu sendiri. Jika menikah dengan pria itu, menurut kamu adalah jalan terbaik. Silahkan," kata Jessi tegas. Dia tidak menyukai Danny dan keluarganya sama sekali. Tapi jika Nia menginginkan pernikahan itu. Jessi tidak akan memaksa Nia untuk menolak.


"Apa menurut kamu aku terlihat seperti menginginkan pernikahan itu?" tanya Nia balik.. Dirinya hanya sedih mengingat perlakuan Danny yang menolak bertanggung jawab demi bayi kembarnya. Bukan berarti dirinya bersedia menikah dengan pria itu yang semudah telapak tangan setuju dengan usul dari Nenek Rieta dan Gunawan untuk menikahi dirinya. Apalagi dengan jelas, Danny menunjukkan kepada dirinya akan wanita yang dikejarnya saat itu.


"Kamu tidak tahu sakitnya dek. Kamu boleh mengartikan apa saja raut wajahku jika mendengar nama itu. Tapi satu Hal yang harus kamu ketahui. Aku tidak akan menjatuhkan harga diriku kepada siapapun termasuk pria itu. Cukup satu kebodohan ini sebagai Pembelajaran untuk kita bertiga dan bayi ini kelak."


Jessi tersenyum mendengar perkataan Nia.


"Kalau begitu. Buktikan dirimu adalah wanita kuat," kata Jessi menyemangati Nia. Nia menganggukkan kepalanya. Setelah perjalanan pengalaman hidup yang pahit itu. Nia berjanji akan memberikan masa depan cerah kepada keluarganya terutama putrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2