Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Perlawanan Dokter Angga


__ADS_3

Waktu yang ditunggu oleh Rendra akhirnya tiba juga. Menunggu kedatangan Anna di ruangan itu. Rendra terlebih dahulu memperhatikan penampilan dirinya. Bagaikan anak remaja, Rendra ingin terlihat sempurna di mata Anna. Dan ketika jarum jam menunjukkan waktu istirahat para karyawan. Rendra merasakan jantungnya berdetak kencang. Rendra sangat yakin jika dirinya sudah jatuh cinta pada wanita itu.


Rendra hampir tidak bisa bernafas setelah mendengar ketukan pintu ruangannya. Rendra menyuruh masuk sambil berjalan ke arah pintu tersebut. Dia ingin menyambut kedatangan wanita itu. Dan benar saja, langkah Rendra hampir mencapai pintu. Anna sudah berdiri dan bersiap masuk ke dalam ruangan dengan kotak makanan sudah ada di tangannya.


"Ini makanan yang saya pesankan untuk bapak. Semoga bapak menyukai dan sesuai selera bapak," kata Anna. Anna meletakkan kotak makanan itu di atas meja. Dan Rendra juga sudah duduk di sofa sedangkan Anna masih berdiri.


"Duduklah Anna. Tunggu apa lagi. Mari kita makan," kata Rendra sambil tersenyum. Melihat dua kotak makanan yang dibawa oleh Anna. Rendra semakin mengagumi sikap Anna yang ternyata bisa menepati apa yang sudah dia setujui. Persetujuan makan siang bersama karena tidak mencerna baik baik perkataan Rendra.


Anna menurut. Gerak geriknya terlihat canggung. Duduk berhadapan dengan pimpinan perusahaan bukan karena urusan pekerjaan tentu saja membuat Anna canggung. Rendra memperhatikan gerak gerik itu dan tersenyum dalam hati. Anna bukan wanita agresif atau wanita penggoda yang memanfaatkan kesempatan untuk mendekati dirinya. Jelas terlihat perbedaaan Anna dan Salsa.


Rendra membuka kotak makanan itu. Anna merasakan khawatir di dalam hati. Makanan itu dipesan bukan dari restoran mahal melainkan dipesan dari rumah makan yang terletak di seberang kantor mereka. Anna khawatir, Rendra tidak menyukai pilihannya.


Rendra mengembangkan senyumnya melihat isi kotak makanan itu. Ikan tawar bakar dan sayur rebusan yang sangat cocok untuk dirinya sudah berumur Lima puluhan. Apalagi tadi pagi dirinya sudah makan makanan berat dan berminyak. Pilihan Anna benar benar menyenangkan hatinya.


"Ternyata kamu pintar juga menyesuaikan makanan sesuai dengan usia, Anna," kata Rendra. Dia mengambil sedikit ikan itu setelah mencuci tangan terlebih dahulu.


"Bapak menyukainya?" tanya Anna. Ada perasaan lega melihat senyuman Rendra karena menyukai makanan pilihannya itu.


"Sangat suka," jawab Rendra cepat.


"Tapi maaf Pak. Makanan ini aku pesan bukan dari restoran mahal tapi untuk rasa dan higenies tidak diragukan lagi," kata Anna jujur.


"Tidak apa apa. Yang penting makanannya enak dan sehat," jawab Rendra. Dia tidak menyangkal perkataan Anna akan rasa dan higenies dari makanan tersebut. Setelah Rendra menyicip makanan tersebut rasanya alami tanpa penyedap rasa. Kotak makanannya juga tidak terbuat dari kotak makanan biasa.


Anna menarik nafas lega. Dia memperhatikan sekilas Rendra yang terlihat lahap menikmati makanan itu sedangkan dirinya jangankan menikmati membuka kotak itu juga belum. Anna berencana membawa kotak itu ke ruangannya dan makan di sana.


"Mengapa kamu tidak makan?" tanya Rendra. Anna hanya tersenyum malu. Dari tadi dia merasa aman karena Rendra sangat menikmati makanan itu dan tidak menyuruh dirinya makan di ruangan itu.


"Maaf Pak, Saya makan di ruangan saya saja," jawab Anna gugup.


"Itu namanya tidak makan bersama. Buka Dan makan sekarang," perintah Rendra tegas. Anna terlihat semakin gugup. Tapi pandangan Rendra yang tidak beralih dari wajahnya membuat Anna mengulurkan tangannya membuka kotak makanan tersebut.


"Kamu tidak bisa makan sendiri atau aku yang harus menyuapi kamu?" tanya Rendra. Anna masih memandangi makanan itu.


"Aaa iya Pak. Eh maskud saya tidak pak," jawab Anna semakin gugup. Tapi akhirnya Anna mengulurkan tangannya untuk mengambil makanan itu. Rendra tersenyum senang melihat Anna. Wajah dewasa Anna terlihat sangat lucu jika sedang gugup.


Akhirnya makan siang itu selesai juga. Walau dengan gugup dan canggung. Anna akhirnya bisa menghabiskan makanan itu.


"Besok siang, Saya mau. Kamu yang memesan makan siangku," kata Rendra membuat Anna terkejut sekaligus kesal. Dia tidak ingin ada gosip yang tidak enak pada dirinya karena makan siang bersama sanga atasan Hari ini Dan besok kembali memesan makanan untuk sang pemimpin. Apalagi dirinya yang masih baru menjadi janda. Dia tidak ingin dirinya dicap penggoda atasan apalagi dicap sebagai janda gatal.


"Maaf Pak. Saya tidak bisa. Jika bapak menyukai makanan yang aku pesankan. Bapak bisa menyuruh office boy untuk memesan makanan di seberang kantor Kita," jawab Anna tegas. Dia tidak ingin para karyawan lain mengira dirinya memberikan perhatian khusus kepada sang pemimpin.


Rendra tertawa mendengar perkataan tegas dari Anna.

__ADS_1


"Saya yang jadi bos. Kok, jadi kamu pula yang mengatur saya."


"Maaf Pak. Bukan bermaksud mengatur bapak. Saya hanya tidak ingin ada gosip jika saya sering sering ke ruangan bapak karena bukan urusan pekerjaan," kata Anna jujur.


"Kalau kamu tidak ingin ada gosip. Ijinkan aku mengenal kamu lebih dalam. Saya serius Anna," kata Rendra. Dia tidak mengalihkan tatapannya dari wajah Anna yang terlihat biasa saja. Anna terdiam. Tiga hari ini sebenarnya, Anna memikirkan tawaran Rendra tiga hari yang lalu. Melihat bagaimana gencar nya sang mantan suami meminta dirinya rujuk. Anna juga ingin mempunyai pasangan hidup secepatnya. Tapi untuk memiliki pasangan hidup seperti Rendra yang terpaut usia cukup jauh dengan dirinya. Tidak pernah terpikir oleh Anna. Sekalipun Rendra sangat kaya.


"Apa karena aku sudah terlalu tua, sehingga kamu tidak memberikan kesempatan untuk mengenal dirimu lebih dalam?" tanya Rendra pelan. Anna sedikit tersentuh mendengar pertanyaan Rendra. Lebih tepatnya. Anna kasihan melihat atasannya itu. Wajah Rendra terlihat putus asa.


"Bukan karena masalah umur itu Pak. Saya hanya takut jika nantinya bapak kecewa jika apa yang bapak cari dan inginkan tidak ada dalam diri Saya. Saya yang takut bapak nantinya kecewa setelah mengenal saya lebih dalam."


"Saya tidak perduli. Saya hanya ingin kamu memberikan kesempatan kepada saya untuk mengenal kamu. Nanti sore, saya akan menunggu kamu. Kita pulang bersama."


Cinta yang menggebu membuat Rendra sedikit egois. Semakin Anna menolak dirinya semakin besar rasa penasaran dirinya kepada wanita itu. Rendra juga memaklumi sikap Anna yang jual Mahal. Bukankah banyak wanita yang seperti itu?. Rendra sangat yakin jika nantinya Anna akan terpikat kepada dirinya.


"Saya pamit ke ruangan saya Pak," kata Anna setelah membereskan meja.


"Silahkan Anna. Ingat perkataan Saya ini. Jika nanti kamu masih belum bersedia pulang bersama dengan saya. Besok juga, Saya akan menunggu kamu," kata Rendra. Perkataannya itu disengaja untuk memberikan waktu lebih lama kepada Anna untuk memikirkan tawarannya. Rendra semakin yakin jika Anna adalah jodoh Kala melihat wanita itu tersenyum sebelum keluar dari ruangannya.


Di jam yang sama di tempat yang berbeda. Seorang pria tua terlihat mengepalkan ltangannya membaca laporan dari seorang orang kepercayaan. Pria itu adalah Bronson. Wajahnya memerah membayangkan dampak dari laporan orang kepercayaannya itu.


Di hadapannya sudah ada Adelia, Dokter Angga dan seorang pria yang baru saja bergabung dan memberikan laporan itu. Kemarahannya tidak hanya karena laporan dari orang kepercayaannya itu melainkan juga karena kegagalan Adelia dan Dokter Angga.


"Temukan Pemilik akun palsu itu. Dan bungkam mulutnya dengan uang. Dia harus menghapus postingan itu secepatnya," kata Bronson penuh penekanan.


Bronson sangat marah bercampur takut. Pemilik akun palsu itu dengan berani membuat postingan jika product yang diproduksi oleh perusahaannya adalah product palsu dan memberikan beberapa bukti yang memperkuat jika product itu benar benar tidak menggunakan bahan baku yang tertera di kemasan.


"Bukan hanya itu Pak. Orang yang membantu Kita di lembaga pengawasan makanan juga sudah dipecat dua hari yang lalu Pak," kata pria itu membuat Bronson semakin frustasi.


Seseorang yang dimaksudkan pria itu adalah orang yang meloloskan perusahaan Bronson untuk mempunyai ijin produksi dengan bahan baku yang tergolong jauh dari bahan baku alami yang memenuhi standard. Selama ini, Bronson bisa memproduksi barang tiruan karena campur tangan seseorang itu.


"Kurang ajar. Siapa yang sudah berani bermain main dengan Bronson?" tanya Bronson dengan gigi rapat dan juga dengan tangan yang terkepal.


"Saya rasa ini adalah unsur kesengajaan baik. Ada pihak pihak yang ingin melihat bapak hancur. Mereka memulai dari isu terlebih dahulu untuk mengelabui kita," kata pria itu semakin membuat kemarahan Bronson semakin membara. Adelia dan Dokter Angga sampai tidak berani menatap Bronson karena kemarahannya.


"Ini pasti Evan. Iya. Ini adalah perbuatan Evan. Berani sekali dia," kata Bronson yakin dan menyepelekan Evan.


"Saya rasa bukan Evan Dinata pak. Tapi oknum dari lembaga pengawasan makanan yang mungkin menginginkan sogokan lebih banyak lagi," kata pria itu.


"Tidak ini pasti Evan. Aku sangat yakin sembilan puluh persen."


Pria itu tidak menjawab lagi. Karena dia mengetahui watak Bronson. Jika dibantah tidak akan segan segan menpermalukan dirinya nantinya seperti manusia yang tidak punya harga diri.


"Saya pamit Pak. Saya ingin bergerak secepatnya mencari Pemilik akun palsu itu," kata pria itu mencari selamat dari kemarahan Bronson. Jika berlama lama di tempat itu bisa dipastikan dirinya akan menjadi sasaran kemarahan Bronson jika berkata salah sedikit saja.

__ADS_1


"Secepatnya. Jangan percuma digaji tapi hasil pekerjaan tidak memuaskan," kata Bronson. Pria itu cepat cepat beranjak dari duduknya karena melihat Bronson sudah mulai kumat.


"Kalian berdua, bagaimana hasil kerja kalian?" tanya Bronson menatap dua orang suruhannya itu.


"Masih proses pak, Sepertinya dalam minggu ini akan ada hasilnya," jawab Adelia tanpa ragu. Mendengar laporan Adelia seperti hiburan bagi Bronson ditengah rasa kemarahannya.


"Bagus Adelia. Jadilah orang yang bisa aku andalkan. Kamu akan mendapatkan banyak fasilitas jika kamu bisa bekerja dengan benar," kata Bronson senang. Tapi kemudian dia menoleh ke dokter Angga yang masih menundukkan kepalanya. Adelia tersenyum bangga mendengar pujian dan keuntungan yang disebutkan oleh Bronson.


"Dan kamu dokter Angga. Bagaimana, sudah Ada ide?" tanya Bronson.


"Maaf Pak, saya tidak menemukan ide apapun. Evan sepertinya bisa membaca rencana kita sehingga tidak membiarkan Anggita ke luar dari rumah sekalipun ke kafe pelangi. Anggita hanya boleh keluar jika bersama Evan dan pengawal."


Bronson merapatkan giginya dan menatap tajam mendengar laporan dokter Angga. Menurut Bronson, alasan yang dikatakan oleh Dokter Angga adalah alasan karena dokter Angga yang tidak berniat untuk menjalankan perintahnya.


"Dasar tolol kamu Dokter Angga. Itulah gunanya berpikir supaya kamu bisa melaksanakan rencana Kita. Kalau kamu malas berpikir bagaimana bisa mendapatkan ide?" tanya Rendra marah.


Dokter Angga menatap Bronson berani. Dia sudah muak diperlakukan seperti ini.


"Rasa cinta Evan kepada Anggita akan sulit bagi Kita untuk menghancurkan mereka melalui kehidupan pribadi mereka pak. Sebaiknya kita memikirkan cara lain untuk melihat Evan Dinata hancur," kata dokter Angga berani. Dokter Angga tidak tega menyakiti Anggita lagi mengingat bagaimana Anggita sangat percaya kepada dirinya. Kebaikan dan ketulusan Anggita selama beberapa bulan mereka bersama membuat dokter Angga sangat sadar dan malu akan semua perbuatan jahatnya kepada Anggita.


"Kalau begitu kamu yang memikirkan cara itu. Aku tidak ingin Evan melihat kehancuran Bronson tapi Bronson lah yang akan melihat bagaimana Evan Dinata hancur," kata Bronson penuh ambisi.


"Maaf Pak. Otakku sungguh buntu memikirkan rencana rencana jahat. Apapun rencana bapak aku siap menjalankannya."


Dokter Angga berkata berani dan tegas. Dia tidak ingin lagi bersusah susah memikirkan rencana jahat hanya demi memuaskan hati Bronson.


"Kamu sudah berani melawan aku Angga?. Kamu lupa siapa dirimu sebelum aku mengangkat kamu sebagai anakku?. Beginikah balasan kamu atas gelar dokter specialist kandungan yang sudah aku berikan kepada kamu?"


Dokter Angga sudah menduga jika Bronson akan marah dan mengungkit semua kebaikannya dulu. Tapi Dokter Angga sudah bertekad akan pergi dari kehidupan Bronson bagaimana pun caranya. Dokter Angga benar benar ingin berubah dan menjadi manusia yang lebih baik lagi.


"Aku tidak lupa pak. Jika bapak menginginkan aku seperti yang bapak inginkan. Maka siang ini aku pamit mundur dari kehidupan bapak. Tentang gelar kedokteran dan semua fasilitas akan aku kembalikan kepada bapak."


Bronson tidak dapat lagi menahan amarahnya. Dia meraih vas bunga yang terletak di atas meja dan melemparkan kepada dokter Angga.


"Aduh," teriak Adelia ketakutan. Melihat vas bunga itu mendarat sempurna di kepala dokter Angga membuat Adelia yang meringis kesakitan. Dokter Angga yang tidak menyangka mendapatkan serangan cepat seperti itu terlihat memegang kepalanya yang sudah mengeluarkan darah.


Bronson tidak hanya melemparkan vas bunga kepada dokter Angga. Dia juga melemparkan gelas kaca bekas kopi ke arah dokter Angga. Gelas kaca itu mengenai lengan dokter Angga.


Dokter Angga berdiri menahan sakit di kepala dan lengannya. Dia menundukkan kepalanya melihat pecahan kaca yang berserakan di lantai, sofa tempat duduknya dan juga ada di atas meja.


"Pak Bronson. Dengarkan baik baik. Aku Angga bukan lagi menjadi bagian dari komplotan kamu. Mulai sekarang aku adalah musuh kamu," kata dokter Angga. Dia tidak menyebut dirinya lagi sebagai dokter Angga karena dia tidak akan lagi menggunakan ilmu kedokteran itu sejak Hari ini. Sebab Angga ingin membuang semua pemberian Bronson kepada dirinya.


"Berani kamu melawan aku. Maka siap siapalah dirimu akan hancur," kata Bronson sambil menunjuk wajah dokter Angga. Adelia ketakutan melihat dua pria itu yang sudah sama sama berdiri. Dia takut dua pria itu jika berduel.

__ADS_1


"Pak Bronson. Aku sudah lama melihat kamu sebagai penjahat. Tapi yang aku lihat. Kamu tidak pernah berhasil menghancurkan musuh kamu. Yang aku lihat. Justru Kamu yang semakin hancur."


"Diam dokter Angga," teriak Bronson marah. Untung saja mereka berada di rumah pribadi milik Bronson. Jika tidak orang akan menduha Bronson adalah orang Gila.


__ADS_2