Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 103


__ADS_3

Anggita berjalan cepat menuju area belakang rumah itu. Tidak hanya langkahnya yang cepat tapi jantungnya juga berdetak kencang dengan amarah yang sudah diubun ubun Setelah berpikir matang matang Anggita berniat menguping pembicaraan wanita itu terlebih dahulu yang dia yakini sebagai patner mama Anita. Anggita tidak ingin bertindak gegabah. Evan tidak di rumah. Dia takut jika dirinya terlalu nekat akan menggagalkan penyelidikan itu dan yang ada akan membuat mereka jadi celaka.


Ketika Anggita hendak membuka pintu penghubung dapur dengan area belakang. Anggita merasakan sebuah tepukan mendarat di pundaknya. Anggita merasakan jantungnya hampir copot dari raga karena terkejut. Anggita spontan menoleh. Wanita itu menarik nafas lega melihat Oci yang berdiri di belakang tubuhnya dengan ponsel berada di tangannya menampilkan si wanita yang sedang dalam pantauan asyik berbicara dengan lawan bicaranya.


"Untuk menangkap penjahat. Tidak baik dilakukan dengan sendiri. Kita tidak tahu entah berapa orang yang sudah menjadi pengkhianat di rumah ini," bisik Oci. Bisikannya sudah jelas menyiratkan jika dirinya akan menemani Anggita menangkap basah pengkhianat itu. Anggita menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan pendapat temannya itu. Bersamaan dengan itu. Oci menarik tubuh Anggita sehingga Anggita berada di belakang tubuh Oci.


Oci perlahan menggerakkan tangannya membuka pintu itu dengan pelan setelah terlebih dahulu memberikan ponsel ke tangan Anggita. Baru saja, pintu terbuka sedikit. Oci kembali menutup pintu itu dengan sangat pelan.


"Kamu tunggu disini. Aku akan berpura pura mengantri ke kamar mandi para pekerja. Mereka mengetahui aku sebagai baby sitter Cahaya. Mereka tidak akan curiga. Jika perlu. Kamu kirim pesan kepada suami kamu supaya cepat kembali," kata Oci sangat pelan. Wanita itu juga mengkhawatirkan keselamatan mereka sendiri mengingat para pekerja di rumah itu tidak hanya wanita. Oci berpikir jika kemungkinan besar bukan hanya wanita yang sedang berada di kamar mandi itu yang harus dicurigai.


"Kenapa?. Apa tidak lebih baik kita menguping bersama mendengar pembicaraan wanita itu?" jawab Anggita. Oci menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Jangan berdebat, jika kamu ingin si pengkhianat cepat tertangkap," kata Oci.


"Berikan alasan yang tepat mengapa aku harus berdiri di tempat ini Oci," kata Anggita dengan tatapan tajam.


Bukan menjawab. Oci justru membuka pintu penghubung itu perlahan. Oci menggerakkan tangannya ke arah seorang laki laki yang duduk di depan kamar dengan tatapan tertuju ke kamar mandi.


"Kita harus mencurigai semua pekerja sebelum si pengkhianat sebenarnya terungkap. Jika kamu yang kesana. Bisa dipastikan mereka akan mencurigai jika kamu juga sudah mencurigai mereka. Aku sangat yakin laki laki itu mempunyai tujuan tertentu duduk di tempat itu," kata Oci sambil menunjuk keberadaan laki laki itu sehingga Anggita dapat melihatnya.


Anggita merasakan tubuhnya bergetar ketakutan hanya mendengar kecurigaan Oci. Dia tidak dapat membayangkan sebagian dari para pekerja itu mengkhianati keluarga kakek Martin.


"Jangan takut," kata Oci. Kemudian wanita itu membuka pintu penghubung itu kembali dan keluar dari dapur itu setelah menutup pintu kembali. Anggita hanya bisa ketakutan sendiri di balik pintu itu. Sedangkan di luar dapur. Oci berjalan setenang mungkin menuju kamar mandi. Dia berjalan seakan akan tidak mengetahui jika seseorang duduk di depan sebuah kamar. Oci sengaja meletakkan tangannya ke pintu kamar Mandi seakan akan mendorong pintu kamar mandi supaya terkesan dirinya benar benar ingin ke kamar Mandi tersebut. Ekor matanya memperhatikan si laki laki itu. Dan telinga di pasang setajam mungkin untuk mendengar pembicaraan dari kamar mandi. Tapi pembicaraan yang diharapkan bisa didengar sama sekali tidak ada.


Oci tersenyum sinis mendengar mendengar laki laki itu berdehem kemudian berbatuk. Oci berpura pura tidak melihat laki laki itu sebelumnya. Dia tetap bersikap seperti orang yang mengantri untuk ke kamar Mandi. Sikap Oci sangat natural dan tidak mencurigakan.


Seperti dugaan Oci. Hanya mendengar berdehem dan batuk. Pintu kamar mandi itu terbuka dan menampilkan wajah si wanita pengkhianat itu. Oci menduga jika deheman dan suara batuk itu adalah kode untuk wanita yang berada di kamar Mandi.


"Maaf mengganggu. Sesak pipis soalnya. Kamar Mandi yang didalam di pakai ibu Feli. Numpang ke kamar mandi ibu Anggita atau yang lainnya rasanya tidak mungkin," kata Oci setelah batang hidung wanita itu terlihat di depan pintu kamar Mandi. Oci sengaja berbicara lumayan panjang supaya penyelidikan mereka tidak dicurigai oleh wanita yang sudah sangat dia yakini sebagai pengkhianat itu. Dan Oci dapat melihat raut wajah wanita itu tidak terlihat biasa. Sangat jelas wanita itu seakan menutupi sesuatu.


Wanita itu tidak langsung menjawab. Dia menatap wajah Oci yang sedang terlihat menahan pipis. Kemudian wanita itu menoleh ke arah laki laki itu hanya dengan gerakan mata tanpa menggerakkan kepalanya. Oci bisa memperhatikan hal tersebut dan sudah sangat yakin jika wanita ini dan pria itu berhubungan.

__ADS_1


"Silahkan. Aku juga sudah selesai," jawab wanita itu kurang bersahabat. Oci tidak begitu memperdulikan sikap wanita itu. Dia hanya berpikir supaya aktingnya sesuai dengan apa yang dia ucapkan. Oci berjalan cepat masuk ke kamar mandi. Beruntung tubuhnya bisa diajak kerja sama. Panggilan alam itu seketika terjadi dalam tubuhnya. Oci sangat yakin jika wanita itu percaya dengan alasan dirinya masuk ke kamar mandi para pekerja.


Oci berjalan cepat setelah menyadari tidak ada lagi siapapun di tempat itu. Tapi dirinya sangat yakin jika wanita tadi belum masuk ke kamarnya. Oci membuka pintu penghubung area belakang dan dapur itu dengan cepat. Mengunci pintu itu dari dalam dapur kemudian menarik tangan Anggita dengan cepat. Dia membawa Anggita ke arah samping rumah dan mengunci pintu itu juga. Pintu itu adalah akses para pekerja keluar dari area belakang tanpa melewati dapur dan rumah.


"Mengapa kamu mengunci pintu itu semua?" tanya Anggita heran. Tangannya masih dipegang oleh Oci dan mereka berjalan menuju kamar mama Feli.


"Non aktifkan akses internet dan hubungi suami kamu secepatnya," kata Oci juga sudah mulai panik. Melihat kepanikan di wajah Oci, Anggita juga merasakan ketakutan yang luar biasa. Anggita menurut dengan apa yang dikatakan oleh Oci tapi panggilannya tidak dijawab oleh Evan padahal suaminya itu sedang online saat ini.


"Informasi apa yang kamu dapatkan dari area belakang?" tanya Anggita penasaran. Anggita belum mendapatkan jawaban akan aksi Oci yang menutup semua akses para pembantu ke rumah maupun keluar dari rumah itu.


"Kamu harus melawan ketakutan kamu terlebih dahulu sebelum mendengar apa yang aku dapatkan dari area belakang," kata Oci serius. Anggita terlihat menarik nafas panjang kemudian menganggukkan kepalanya. Anggita menguatkan hatinya mendengar kemungkinan terburuk dari pengkhianatan pekerja di rumah itu.


"Aku sangat yakin pengkhianat itu tidak sendiri melainkan Ada dua atau bisa saja lebih. Aku melihat kode gerakan tubuh dari laki laki itu dan wanita yang ada didalam kamar mandi. Setelah aku keluar dari kamar mandi. Aku sengaja melewati salah satu kamar pekerja dan tidak sengaja mendengar pembicaraan dari kamar itu yang menyuruh memadamkan lampu langsung dari meteran listrik jam tiga pagi besok. Aku rasa mereka merencanakan sesuatu. Jika pun pemadaman lampu dari meteran itu bukan rencana jahat. Ada baiknya kita berhati hati dan waspada," kata Oci menceritakan apa yang dia dengar di area belakang tadi. Dia tidak bisa berlama lama berdiri menguping pembicaraan yang ada di dalam kamar tersebut karena Oci sadar jika wanita yang ada di dalam kamar mandi itu masih berada di luar kamar belum masuk ke dalam kamarnya. Oci tidak ingin dirinya terlibat sengaja memata matai situasi area belakang itu


Itulah sebabnya. Dirinya langsung menutup semua pintu akses para pekerja ke rumah atau ke bagian depan area rumah untuk mencegah para pengkhianat itu menjalankan rencananya. Selain itu, jika pun para pengkhianat itu sudah merasa dicurigai, mereka tidak bisa melarikan diri dengan mudah.


Anggita kembali merasakan ketakutan. Mengungkap pengkhianat itu tidak semudah yang dia bayangkan. Walau begitu. Anggita merasa meminta bantuan kepada Oci tidak terlambat. Hal itu terbukti dari penyelidikan mereka malam ini. Mereka bisa mengetahui lebih jelas siapa yang harus dicurigai.


"Hubungi Gunawan saja," saran mama Feli yang sedari tadi menyimak pembicaraan Anggita dan Oci. Dengan cepat Anggita mencari kontak papa mertuanya. Anggita mengelus dadanya merasa lega karena panggilannya akhirnya terjawab juga.


Anggita menceritakan semua tentang semua hasil penyelidikan dirinya dengan Oci. Tidak lupa Anggita juga menceritakan tentang pembicaraan yang didengar Oci tentang pemadaman lampu langsung dari meteran.


"Papa akan langsung membawa beberapa Anggota polisi malam ini juga," kata Anggita setelah panggilan suara itu berakhir.


"Setuju. Jalan satu satunya harus melibatkan polisi. Aku juga tidak mau mati konyol hanya karena niat tulus membantu teman," kata Oci. Dia sudah mempunyai banyak dugaan kepada para pekerja pengkhianat tersebut. Dia sangat yakin pemadaman lampu itu adalah bagian dari rencana jahat yang akan mereka jalankan. Sebagai seseorang yang sudah belajar banyak tentang tekhnologi. Dirinya mengetahui tujuan pemadaman lampu itu adalah sesuatu bagian dari rencana jahat yang tidak ingin rencan jahat mereka tidak terekam.


Oci berusaha bersikap tenang supaya temannya itu tidak semakin takut. Dirinya juga manusia biasa yang dilanda ketakutan luar biasa saat ini. Di dalam rumah itu hanya mereka berlima. Dirinya, Anggita, mama Feli dan juga nenek Rieta dan Cahaya. Dan Mereka semua adalah perempuan.


Sedangkan Anggita belum bisa menghilangkan rasa marah itu dari hatinya. Dia mengutuk perbuatan para pengkhianat itu yang tidak tahu membalas budi. Di kasih pekerjaan, tempat tinggal dan fasilitas lainnya tapi masih bisa merencanakan hal jahat.


Selain rasa marah itu, Anggita merasa cemas dengan suaminya. Sudah berkali kali dihubungi dan tidak dijawab. Biasanya sesibuk apapun suaminya itu tidak pernah mengabaikan panggilan yang entah sudah berapa kali dia hubungi.

__ADS_1


"Mungkin suami kamu lembur," kata mama Feli menenangkan hati putrinya itu.


"Biasanya tidak seperti ini," jawab Anggita cemas. Wanita itu sangat cemas memikirkan suaminya yang tidak biasa mengabaikan dirinya seperti ini.


"Tenang dulu Anggita. Jangan langsung panik," kata Oci. Melihat Anggita Monday mandir tidak menentu membuat Oci merasa memperingatkan temannya itu. Oci berpikir jika mereka harus berpikir tenang sekarang daripada mondar mandir seperti itu tanpa berpikir.


"Kemana dan dimana mereka?" tanya Anggita sambil terus berusaha menghubungi Evan. Tapi yang sedang dikhawatirkan dan diharapkan jawaban tidak juga menjawab panggilannya membuat Anggita bertambah kesal tapi kemudian muncul ketakutan di hatinya. Anggita takut terjadi sesuatu kepada suami, Rico sang asisten dan juga kepada papa mertuanya Rendra.


"Apa yang harus Kita lakukan," kata Anggita akhirnya. Dirinya merasa buntu karena tidak mendapatkan jawaban atas panggilan dari dirinya terhadap sang suami.


Wanita itu hendak berpikir dan bahkan sudah mengajak Oci dan mama Feli untuk berpikir tapi Cahaya mengacaukannya. Anak kecil itu menangis tiba tiba dengan suara yang kencang.


"Ada apa nak. Cup, cup. Tidur kembali ya," kata Anggita setelah mama Feli berusaha melakukan hal untuk membuat bayi itu tertidur tapi tidak juga tertidur. Bayi itu tidak juga diam melainkan masih menangis dengan kencang.


"Mungkin ingin minum susu," kata Oci. Pikiran wanita itu buyar setelah suara tangisan Cahaya tidak juga berhenti. Mama Feli menggelengkan kepalanya jika bukan karena susu menyebabkan Cahaya menangis. Cahaya baru saja minum susu satu jam yang lalu. Itu artinya jika bayi itu harus minum susu dua atau tiga jam lagi.


"Biar aku buatkan susunya dulu," kata Anggita akhirnya. Melihat bayi itu tidak kunjung diam akhirnya Anggita berinisiatif membuat susu untuk putrinya meskipun belum waktunya.


Anggita memberikan susu itu kepada Cahaya. Tapi bayj itu sama sekali tidak tertarik. Cahaya tidak bersedia meminum susu itu. Yang berarti bukan alasan susu yang membuat dirinya menangis. Akhirnya Anggita menggendong bayi itu. Berharap dengan seperti itu. Cahaya terdiam dan tertidur. Tapi apa yang diharapkan Anggita tidak juga terjadi. Bayi itu menangis bahkan ketika mama Feli melakukan hal yang sama.


Anggita terdiam dan memperhatikan mama Feli berusaha mendiamkan putrinya. Wanita itu berpikir mungkinkah Cahaya rewel karena ada sesuatu yang menimpa Evan mengingat bagaimana Evan mempunyai kontak batin dengan Cahaya. Pemikiran yang sama yang ada di pikiran mama Feli tapi tidak memberitahukan kepada Anggita Karena takut putrinya itu semakin cemas.


"Mama, jangan jangan terjadi sesuatu terhadap mas Evan. Makanya Cahaya rewel seperti ini. Mama kan tahu sendiri Cahaya mempunyai kontak batin yang kuat dengan mas Evan," kata Anggita. Dia tidak tahan untuk memberitahukan apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Jangan terlalu berpikiran jauh. Berpikir lah yang positive," kata mama Feli. Anggita berusaha berpikir positif tapi hatinya tetap seperti merasakan hal lain.


"Apa sebenarnya yang terjadi dengan kamu mas Evan?" tanya Anggita kemudian menarik nafas panjang.


"Diamlah sayang. Putri mama," kata Anggita kepada putrinya itu.


Terima kasih kepada para pembaca setia yang masih menunggu kelanjutan cerita ini. Beberapa hari author tidak up bukan karena tidak bertanggung jawab. Tapi beberapa hari yang lalu. Author dan keluaga harus melewati hari yang sedih karena berduka. Terima kasih atas pengertiannya. Salam sehat.

__ADS_1


__ADS_2