Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Kejadian Sepuluh Tahun Yang Lalu


__ADS_3

Perjalanan tiga jam yang mengingatkan Evan akan kejadian sepuluh tahun yang lalu akhirnya tiba juga. Setelah mengosongkan jadwal satu hari penuh akhirnya Evan dan Rico melakukan perjalanan ke Kota kecil itu.


Flashback on


Evan, Rico, Adelia dan tiga teman mereka lainnya merencanakan akan melakukan perjalanan wisata. Mereka berenam adalah teman satu kampus. Perjalanan itu sudah dipikirkan matang matang. Perjalanan wisata itu lebih tepatnya disebutkan dengan touring karena enam orang tersebut berkendara dengan naik motor besar dari Kota menuju tempat tempat wisata yang akan mereka singgahi nantinya. Ini bukan yang pertama. Setiap selesai ujian semester mereka berenam akan melakukan perjalanan seperti ini dengan tujuan wisata yang berbeda.


Mereka berangkat dari Kota pagi pagi sekali. Tidak ada firasat apapun menyangkut perjalanan mereka Kali ini. Cuaca cerah seakan mendukung perjalanan mereka. Tiga motor besar itu akhirnya melaju meninggalkan perkotaan. Evan berboncengan dengan Rico sedangkan Adelia dibonceng oleh Rudi yang merupakan kekasihnya kala itu. Dua teman mereka lainnya yang bernama Satria juga berboncengan dengan kekasihnya yang bernama Mutia.


Perjalanan itu mereka lalui dengan jalan yang tidak mereka duga sebelumnya. Sebagai orang yang pertama sekali melewati jalan yang bisa dikatakan berbahaya seperti ini, Rico mengeluh kepada Evan. Jika mereka mau, sebenarnya ada jalan lain yang bisa mereka lalui yang pasti dengan jarak tempuh yang lebih lama menuju tempat wisata pertama yang akan mereka kunjungi. Tapi pemandangan yang begitu indah dan waktu yang lebih cepat membuat mereka memutuskan lewat jalan tersebut. Berbeda dengan Rico. Evan dan yang lainnya justru lebih tertantang untuk menaklukkan jalan tersebut. Akhirnya perjalanan yang berliku liku bisa mereka lewati tanpa ada rintangan apapun.


Mereka menikmati pemandangan di tempat wisata pertama yang mereka kunjungi. Mereka berada di tempat ketinggian. Di bawahnya terpampang dataran rendah yang hijau karena masih rimbunnya pepohonan. Dari celah celah pepohonan itu mereka bisa melihat atap atap rumah penduduk. Sungguh pemandangan yang indah ditambah udara yang sejuk.


Dua pasangan yang menjadi Tim dari perjalanan yakni pasangan Adelia Dan Rudi juga satria dan Mutia memanfaatkan momen yang indah itu. Udara yang dingin membuat mereka duduk berdekatan untuk saling memberi kehangatan. Sedangkan Rico dan Evan menikmati kopi panas untuk mengusir rasa dingin itu dari tubuh mereka.


Perjalanan dilanjutkan karena matahari sudah mulai meninggi. Masih Ada dua tempat wisata lainnya yang akan mereka kunjungi nantinya. Mereka sudah membuat rencana sebelum jam sembilan malam sudah harus tiba di rumah. Karena Evan tidak minta ijin kepada mama Anita dan Rendra akan perjalanannya Kali ini. Karena jika minta ijin pun. Mama Anita pasti tidak akan mengijinkan karena terlalu sangat sayang kepada Evan.


"Sungguh indah sekali," kata Adelia setelah mereka tiba di sebuah danau yang berair jernih. Rudi yang Ada di dekatnya juga tersenyum pertanda setuju akan pendapat kekasihnya akan keindahan danau itu.


Tidak jauh dari mereka Evan dan Rico sudah bersiap untuk berenang.


"Kamu tidak berencana ingin berenang?" tanya Rudi kepada Adelia. Adelia menggelengkan kepalanya. Dia lebih suka duduk berdekatan seperti ini daripada berenang.


"Padahal aku ingin bergabung dengan mereka," kata Rudi sambil menunjuk Evan dan Rico yang sudah berenang. Mutia dan Satria juga terlihat sudah mendekati bibir pantai untuk ikut berenang.


"Jangan, Kita begini saja," kata Adelia sambil memeluk tubuh Rudi dengan erat. Mereka duduk di sebuah batu besar yang tidak jauh dari bibir pantai dengan pohon besar yang melindungi dua insan itu dari teriknya sinar matahari.


Rudi tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu. Adelia dikenal di antara teman teman Mereka sebagai sosok wanita manja. Dia juga sangat mencintai kekasihnya itu.


Satu jam berlalu. Empat orang yang sedang asyik berenang itu masih terlihat berenang. Air dingin danau itu seakan bukan penghalang bagi mereka untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan.


"Ayolah sayang, ijinkan aku untuk berenang," kata Rudi lagi. Ajakan dari empat teman mereka untuk berenang tidak bisa dikabulkan oleh Rudi karena sikap kekasihnya itu.


"Tidak. Lihat!. Mereka juga sudah mau selesai," tunjuk Adelia. Keempat teman mereka terlihat sudah keluar dari dalam air. Tapi dugaan Adelia ternyata salah. Keempat temannya itu justru berbaring di pasir dan tertawa sambil berguling guling di pasir putih yang kering. Setelah puas bermain pasir Evan dan ketiga temannya kembali menceburkan diri mereka ke dalam air. Mereka membuat permainan sendiri di dalam air itu sehingga terlihat seru.


Butuh waktu satu jam bagi keempat manusia untuk memuaskan diri mereka masing masing di dalam air. Evan terlebih dahulu menyerah dan keluar dari dalam air. Pria itu cepat masuk ke dalam kamar Mandi yanh disediakan pengeola wisata itu.


"Kenapa kalian tidak berenang. Jarang jarang ada kesempatan atau tidak ada untuk Kita ke tempat ini lagi. Setelah lulus dan bekerja. Kita pasti sibuk dengan dunia kerja atau dengan keluarga," kata Evan. Kini dia duduk di batu yang lebih kecil dari batu tempat Adelia dan Rudi duduk.


"Dia yang tidak mengijinkan aku," kata Rudi dengan wajah yang dibuat pura pura menangis. Adelia cepat menangkap kepala kekasihnya dan membenamkannya di ketiaknya. Tingkah sepasang kekasih itu membuat Evan tertawa.


"Bagaimana rencana selanjutnya?" tanya Evan. Kini tidak terasa sudah jam tiga.


"Kita pulang ke Kota sekarang. Suruh mereka keluar dari air. Jika kita ke tempat wisata ketiga bisa dipastikan jika Kita tidak akan sampai di rumah jam sembilan," jawab Rudi. Dari tempat ini ke Kota sudah memakan waktu selama Lima jam.


Evan setuju dengan usul dari Rudi. Sedangkan Satria dan Mutia tidak setuju dengan usul itu. Mereka memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan dan akan balik ke Kota besok. Evan sebenarnya juga tidak ingin pulang cepat cepat. Tapi dia juga tidak ingin membuat mama Anita akan khawatir.


"Baiklah. Lanjutkan perjalanan kalian. Bersenang senanglah," kata Evan kepada Mutia dan Satria. Mereka sudah bersiap melanjutkan perjalanan dengan arah yang berbeda.


Dua motor besar itu bertolak menuju Kota. Kali ini Evan yang membawa motor dan Rico duduk tenang di boncengan tanpa perlu konsentrasi melihat jalanan itu. Di depan mereka, Rudi dan Adelia memimpin perjalanan mereka Kali ini. Adelia memeluk erat tubuh kekasihnya dan menyandarkan kepalanya di punggung Rudi. Adelia menikmati pemandangan jalanan sebelah kanannya.


Satu jam di awal perjalanan tidak ada kendala sama sekali. Tapi ketika mereka sudah mendekati Kota kabupaten Mereka melalui jalan umum. Bukan hanya kendaraan roda empat atau roda dua yang melewati jalan itu. Truk pengangkut hasil bumi melintas di jalan lintas itu.


Evan dengan sadar sangat berkonsentrasi melewati jalan itu. Di tengah konsentrasinya Evan merasa terkejut dan hilang konsentrasi melihat motor yang dikendarai oleh Rudi menyenggol truk yang yang hendak di lewatinya. Rudi tidak berhasil melewati truk itu yang ada dirinya justru terjatuh bersama motornya. Adelia terlempar ke tepi jalan sedangkan Rudi terjatuh si tengah jalan.


Evan seketika gugup. Dia lupa menginjak rem melihat kenyataan menyedihkan yang dialami temannya itu. Entah apa yang Ada di pikiran Evan saat itu yang terjadi justru dirinya dan Rico juga terjatuh setelah menggilas tubuh Rudi. Selanjutnya Evan tidak mengetahui apa lagi yang terjadi dengan dirinya.


Besok paginya. Evan mendapatkan kenyataan yang menyedihkan sepanjang hidupnya. Teman seperjalanannya Rudi meninggal di tempat. Sedangkan dirinya baru melewati kritis akibat dari kecelakaan itu. Sedangkan Rico juga terluka tapi tidak separah yang dialami oleh Evan.


Evan tentu saja terpukul mendapatkan kenyataan itu. Andaikan dia lebih berkonsentrasi mungkin dia tidak menggilas tubuh temannya. Atau bisa saja Rudi masih hidup. Evan tidak hanya merasa kesakitan di tubuhnya akibat luka luka parah itu. Paha kanannya terlihat mengecil karena banyaknya daging yang terbuang akibat kecelakaan itu. Melihat dirinya sendiri Evan histeris sejalan dengan hatinya yang sangat sakit kehilangan teman baiknya.


Evan menangis. Dia lebih menangisi kepergian Rudi dibandingkan dengan dirinya. Ditengah kesedihan hatinya. Evan tiba tiba mengingat Rudi dan Adelia. Dia belum mengetahui kondisi dua temannya itu.

__ADS_1


"Suster, selain saya dan temanku Rudi. Masih Ada dua teman saya yang ikut dalam kecelakaan itu," kata Evan kepada suster yang baru saja memberikan sarapan kepada dirinya. Suster itu juga yang memberitahukan Evan tentang kabar Rudi yang jenasahnya sudah diambil keluarga tadi malam.


"Benar. Mereka sedang di kamar perawatan. Mereka juga terluka, tapi tidak begitu parah."


"Bisakah suster mengantarkan Saya ke ruangan salah satu dari temanku itu?.


"Sebaiknya kamu tidak perlu banyak bergerak dulu. Korban wanita yang kecelakaan bersama kalian tidak terlalu parah. Dia hanya mengalami luka ringan di kepalanya. Saya akan memanggil dia ke ruangan ini."


Evan menganggukkan kepalanya setuju. Dia menarik nafas lega setidaknya diantara mereka ada yang tidak terluka parah seperti dirinya.


Beberapa menit dari kepergian suster dari ruangan itu. Adelia muncul di hadapan Evan. Wanita itu bisa berjalan hanya perban kecil yang Ada di pelipisnya sebelah Kiri.


"Evan, Rudi sudah pergi," kata Adelia sambil menangis. Matanya yang bengkak bisa dipastikan jika wanita itu pasti menangis satu malam ini. Evan bisa melihat kesedihan mendalam dari wanita itu.


"Aku sudah tahu Adelia. Mengapa Kita mengalami perjalanan menyedihkan ini. Andaikan aku tahu ini perjalanan yang merenggut nyawa Rudi. Aku tidak akan ikut dalam perjalanan ini."


Evan hanya dapat menyesali keputusan akan perjalanan ini. Dua manusia itu terlihat menangis karena kepergian Rudi.


"Bagaimana dengan Rico?" tanya Evan lemah setelah puas menangis.


"Kakinya patah."


Evan memalingkan wajahnya mendengar kabar tentang sahabatnya itu.


"Mengapa kamu masih disini. Apa kamu tidak ingin melihat jenasah Rudi dikuburkan?" tanya Evan lagi. Jika dirinya tidak mengalami luka parag itu. Evan akan berusaha untuk mengantarkan sahabatnya itu ke peristirahatan terakhir.


"Kalau aku pergi ikut membawa jenasahnya tadi malam. Bisa dipastikan jika kamu juga tidak selamat," kata Adelia membuat Evan seketika melihat wajah kekasih dari temannya itu.


"Apa yang kamu lakukan Adelia. Terima kasih sebelumnya karena menolong aku."


"Kamu kehilangan darah yang sangat banyak. Aku mendonorkan darahku supaya kamu bisa selamat," kata Adelia sambil menundukkan kepalanya.


"Terima kasih Adelia. Aku berjanji akan membalas kebaikan kamu ini. Katakan apa yang kamu inginkan," kata Evan. Sungguh Evan bersyukur mempunyai teman seperti Adelia yang berkorban demi dirinya. Dia mengamati wajah Adelia yang terlihat sangat pucat yang menyakinkan dirinya jika Adelia memberikan darah kepada dirinya.


"Jangan hubungi papa mamaku. Aku akan menumpang ke keluarga Rico nantinya," jawab Evan cepat. Dalam keadaan sakit parah seperti ini Evan masih memikirkan kedua orang tuanya supaya tidak khawatir akan keadaannya.


"Baiklah. Sebaiknya aku akan minta tolong ke pihak rumah sakit untuk memindahkan kita dari rumah sakit ini ke rumah sakit yang di kota. Tapi aku terkendala biaya," kata Adelia lagi.


"Apa kamu melihat barang barangku?" tanya Evan. Adelia menganggukkan kepalanya.


"Di dalam dompet ku ada Atm. Aku rasa uang yang didalamnya cukup untuk biaya Kita bertiga. Ambil lah uang itu," kata Evan. Dia tidak bisa berjalan karena Luka parah di paha kanannya. Evan merasa lega karena Adelia bisa mengurus biaya rumah sakit dan juga pindahan mereka dari rumah sakit itu.


Siang Hari, Evan dan Rico dipindahkan dari rumah sakit itu. Adelia bisa diandalkan sehingga proses mereka keluar dari rumah sakit itu tidak ada kendala. Menuju Kota, mereka harus kembali melewati jalan tempat mereka kecelakaan. Evan merasakan hampir tidak bisa bernafas hanya melewati jalan itu. Bayang bayang sebelum kecelakaan semalam sangat jelas teringat di pikirannya.


"Kita harus kuat, Evan," kata Adelia sambil memegang tangan Evan supaya kuat. Evan berbaring di mobil itu dengan bed khusus yang bisa diletakkan di dalam ambulance. Sedangkan Rico berada di ambulance lain tanpa ada teman atau keluarga yang mendampingi. Rico juga memutuskan tidak memberitahukan keluarganya terlebih dahulu tentang kecelakaan itu.


"Aku takut Adelia," kata Evan lemah. Wajah takutnya sudah dihiasi dengan air mata.


"Semangat Evan. Jangan biarkan pengorbananku sia sia karena kamu tidak bisa mengusir rasa takut itu di hatimu. Kita pasti bisa melewatinya," kata Adelia juga ikut menangis. Adelia membelai rambut temannya itu supaya Evan bisa tidur tanpa merasakan perjalanan itu. Dan benar saja, entah karena obat atau belaian Adelia kini Evan sudah tertidur.


"Evan, tidak ada jalan lain. Kita sudah di kota ini. Sebaiknya orang tua kamu mengetahui keadaan kamu saat ini. Orang tua Rico sudah di rumah sakit ini," kata Adelia setelah Evan sudah berbaring di tempat tidur di ruang perawatan.


"Baiklah Adelia. Tolong hubungi papaku saja." Akhirnya Evan setuju dan menyebutkan nomor kantor papanya Rendra. Adelia dengan cepat menghubungi Rendra dengan meminjam telepon rumah sakit itu.


Berselang satu jam, ruangan Evan sudah penuh dengan tangisan. Mama Anita, Tante Tiara dan juga nenek Rieta yang langsung ikut ke rumah sakit setelah mendengar Evan kecelakaan. Mereka histeris melihat kondisi Evan terutama melihat paha kanannya.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Rendra. Hanya dia pria yang ikut melihat keadaan Evan saat ini.


Adelia menceritakan kronologis mulai dari awal perjalanan hingga kecelakaan itu terjadi. Semua yang ada di ruangan itu terlihat sedih karena mengetahui jika perjalanan itu tidak hanya kecelakaan tapi juga kehilangan satu teman dari mereka.


Para wanita terlihat bersyukur karena Evan masih selamat.

__ADS_1


"Evan juga sebenarnya hampir tidak selamat tante. Dia banyak kehilangan darah. Aku memilih mendonorkan darah ke Evan daripada ikut membawa jenasah kekasihku pulang ke rumahnya," kata Adelia di akhir ceritanya.


Mendengar pengakuan Adelia. Rendra menatap Adelia dan mengucapkan terima kasih yang tulus. Sedangkan mama Anita langsung memeluk Adelia sebagai ucapan terima kasih yang sangat tulus.


"Terima kasih nak.. Terima kasih Adelia. Aku tidak menyangka kamu berkorban sejauh ini demi Evan dibandingkan membawa jenasah kekasih kamu," kata mama Anita sambil memeluk Adelia.


"Sebenarnya berat untuk aku memilih antara mendonorkan darah kepada Evan dan mengantarkan jenasah Rudi tante. Aku sangat mencintainya. Aku memilih mendonorkan darah kepada Evan karena aku tidak ingin ada korban lainya. Ikut membawa jenasah Rudi tidak akan bisa mengubah apapun tentang Rudi. Tapi mendonorkan darah kepada Evan akan bisa mengubah kondisi kririsnya seperti sekarang ini."


Mama Anita semakin kagum mendengar penuturan Adelia. Dia mengusap lengan wanita itu untuk menghilangkan kesedihan wanita yang masih terlihat sedih itu.


"Terima kasih atas pengorbanan kamu nak." Hanya itu yang terlontar dari mulut nenek Rieta. Ucapan terima kasih yang tidak berlebihan. Sedangkan Tante Tiara tidak mengucapkan apa apa karena masih shock melihat keadaan Evan.


Kesedihan keluarga Evan tidak hanya disitu saja. Setelah dokter memeriksa keadaan Evan. Dokter justru membuat pernyataan yang membuat keluarga tercengang dan tidak rela. Dokter mengusulkan kaki Evan diamputasi mulai dari paha. Kondisi paha itu yang sudah terluka parah dan hanya daging tipis yang membalut tulang sangat tipis harapan untuk sembuh kecuali amputasi.


Sama seperti keluarga. Evan juga tidak rela jika kakinya kanannya tidak diamputasi. Dia menangis terus karena menyesal tidak bisa menjaga pemberian Tuhan. Dia sudah terlahir sempurna. Tapi karena tidak bisa menahan diri untuk bersenang senang. Akankah dirinya menjadi orang cacat?.


Memikirkan hal itu, Evan berpikir jika dirinya lebih baik mati saja daripada menderita karena kehilangan satu kakinya. Dukungan dari keluarga tidak membuat dirinya setuju jika kaki kanannya diamputasi. Dia justru berpikir jika karena kaki kanannya itu dia akan mati lebih baik seperti itu daripada cacat.


Tapi lagi lagi Adelia menjadi penolongnya lagi. Begitulah Evan menilai Adelia setelah merasakan perbuatan wanita itu.


"Evan, Ada temannya saudaraku yang mengalami kecelakaan seperti kamu ini. Kakinya sudah divonis diamputasi tapi berkat sebuah ramuan. Daging di kakinya bisa tumbuh lagi walau tidak terlalu sempurna," kata Adelia suatu hari setelah Evan sudah dirawat di rumah sakit di Kota itu.


"Ramuan apa itu Adelia. Tolong carikan aku ramuan itu." Evan seakan menemukan semangatnya untuk hidup mendengar cerita Adelia itu.


"Aku sudah membawa ramuan itu untuk kamu. Aku menyuruh papaku mencari ramuan ini yang hanya ada di kampung halamannya," kata Adelia sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia mengeluarkan beberapa lipatan lipatan kecil dari dalam tasnya.


"Itukah serbuknya?" tanya Evan dengan wajah senang. Adelia menganggukkan kepalanya.


"Iya. Kamu sudah mandi kan?. Evan menganggukkan kepalanya. Sebelum kedatangan Adelia. Dia sudah dimandikan oleh perawat laki laki tadi.


Adelia menyingkapkan selimut yang menutupi paha Evan. Kemudian dia menaburkan ramuan halus itu ke area paha yang terluka.


"Kamu jangan khawatir. Ramuan ini pasti ampuh," kata Adelia lagi. Evan mengaminkan perkataan Adelia di dalam hati.


Dan benar saja, setelah rutin satu minggu menaburkan ramuan itu di paha Evan setelah Mandi. Evan bisa melihat daging di pahanya tumbuh. Awalnya kecil hingga hampir serupa tabalnya dengan daging yang masih tersisa di sebelah luar paha kanan itu.


Evan sangat senang dan bersyukur. Dokter yang menangani dirinya terlihat takjub melihat perkembangan kesehatannya yang ajaib. Adelia dan Evan tidak menceritakan tentang ramuan itu kepada keluarga Evan maupun ke dokter. Evan diperbolehkan pulang dari rumah sakit dan perlu untuk kontrol sekali seminggu ke rumah sakit.


"Adelia, terima kasih. Kalau tidak ada dirimu. Entah apa yang terjadi dengan aku," kata Evan setelah dia sudah di rumah. Adelia rutin datang ke rumah itu setiap Hari setelah satu bulan Evan pulang dari rumah sakit.


Adelia hanya tersenyum kemudian menundukkan kepalanya.


"Apa yang kamu inginkan. Aku tidak ingin hanya mengucapkan terima kasih atas semua bantuanmu. Kamu dewi Penolongku," kata Evan lagi. Mereka duduk berhadapan di sofa di ruang tamu itu.


"Evan, jika kamu bertanya apa yang aku inginkan. Tentu saja aku menginginkan Rudi kembali bersamaku. Tapi itu mustahil bukan?" kata Adelia dengan mata yang berkaca kaca.


"Aku merindukannya Evan. Aku merindukan sosok Rudi. Bisakah kamu menggantikan sosok Rudi di dalam hidupku?" tanya Adelia membuat Evan terkejut. Dia mengerti jika Adelia masih bersedih atas kepergian Rudi yang masih hitungan bulan. Tapi untuk menjadi pengganti sosok Rudi dalam hidup Adelia tidak pernah terpikir oleh dirinya.


Evan terdiam tidak tahu menjawab apa atas keinginan Adelia. Untuk mengatakan tidak tentu tidak bisa karena tidak enak hati mengingat semua kebaikan wanita itu.


"Baiklah, kalau kamu tidak bisa. Mungkin ini yang terakhir kalinya aku berkunjung ke rumah ini."


Adelia beranjak dari duduknya dan menyambar tas miliknya yang terletak di sofa. Wajahnya juga sudah dihiasi oleh air Mata.


"Tunggu Adelia," kata Evan setelah Adelia hampir mencapai pintu utama.Wanita itu berhenti tanpa membalikkan badannya.


"Baiklah aku bersedia. Tapi bukan pengganti Rudi. Aku tetap Evan yang akan menemani hari harimu."


Evan akhirnya memutuskan mengatakan hal itu. Dia hanya berpikir jika bukan karena Adelia entah jadi apa dirinya sekarang ini.


Adelia berjalan cepat ke arah Evan. Dia memeluk Evan dengan erat tanpa menghentikan tangisannya.

__ADS_1


Hari terus berlalu. Evan Dan Adelia sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Sikap manja dan perhatian Adelia ternyata bisa membuat Evan jatuh cinta kepada wanita itu. Dia membalas cinta Adelia dengan materi yang tidak bisa diberikan oleh Rudi selama hidupnya kepada Adelia.


Flashback off.


__ADS_2