
Anggita akhirnya menceritakan tentang kejahatan mama Anita yang bekerja sama dengan salah satu pekerja di rumah nenek Rieta. Sang Bibi terlihat terkejut. Anggita juga dapat melihat tanggapan dari gerakan tubuh sang Bibi bukan yang dibuat buat.
"Aku berencana akan melaporkan semua pekerja di rumah kepada polisi. Dan aku juga memerintahkan satpam untuk menutup gerbang dan tidak memperbolehkan para pekerja tanpa ijin keluar dari rumah," ancam Anggita tidak main main.
"Aku siap diperiksa nyonya. Karena aku benar benar tidak pernah berhubungan dalam bentuk apapun dengan ibu Anita," kata Bibi itu.
Anggita menatap wajah sang Bibi. Jika benar yang dikatakan oleh Bibi itu. Itu artinya ada yang memakai ponsel Bibi itu tanpa sepengetahuan dirinya.
"Selain Bibi. Siapa yang pernah memakai atau meminjam ponsel milikmu ini?"
"Tidak ada nyonya. Hanya aku yang memakai ponsel ini."
Anggita semakin yakin jika ada seseorang yang memakai ponsel milik Bibi itu. Tapi untuk mencurigai salah satu pekerja rasanya tidak mungkin. Banyak pekerja di rumah itu. Mulai dari bagian dapur, bagian loundry, bagian taman dan bagian bersih bersih rumah semua itu dilakukan oleh orang yang berbeda. Jika dihitung total para pekerja di rumah nenek Rieta itu berjumlah sepuluh orang selain satpam. Sepuluh pekerja itu tujuh wanita dan tiga laki laki yang khusus bekerja di taman. Dari informasi yang diberikan oleh Dokter Angga. Yang menjadi patner mama Anita adalah seorang wanita. Kecurigaan Anggita kini tertuju kepada enam pekerja wanita lainnya selain sang Bibi si tukang masak.
"Lanjutkan pekerjaan kamu Bibi. Dan tolong jangan ceritakan apapun yang sudah Bibi dengar dan apa yang sudah aku lakukan kepada Bibi. Maaf, jika aku langsung menuduh atau mencurigai Bibi. Tapi jika ada pekerja yang mencurigakan atau terdengar berhubungan dengan mama Anita. Tolong beritahu aku Bibi," kata Anggita tulus. Dia sudah memikirkan rencana lain untuk mengungkapkan siapa yang menjadi pengkhianat di rumah itu.
__ADS_1
"Rumah ini adalah ladang rejeki aku nyonya. Aku tidak akan membiarkan orang jahat untuk merusak suasana nyaman di rumah ini. Sebagai balas budi kepada Nenek Rieta dan seluruh keluarga. Aku akan memberitahukan siapapun yang penglihatan di rumah ini. Itu janjiku nyonya," kata Bibi itu. Anggita hanya menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Bibi itu. Walau dirinya percaya jika sang Bibi bukanlah pengkhianat tapi Anggita menunjukkan Sikap waspada terhadap wanita itu.
Setelah sang Bibi kembali bekerja. Anggita berlalu dari taman dan langsung masuk ke kamar nenek Rieta.
"Apa kamu yakin dengan seperti itu. Kita akan bisa mengetahui siapa pengkhianat itu nak?" tanya nenek Rieta ketika Anggita menceritakan rencananya untuk mengetahui sang pengkhianat.
"Tidak ada jalan lain nek. Hanya itu jalan satu satunya," kata Anggita.
"Aku percaya kepada kamu nak," kata Nenek Rieta lagi. Wanita tua itu pun sebenarnya sangat marah mengetahui jika salah satu pekerja di rumahnya ternyata seorang pengkhianat. Nenek Rieta juga tidak habis pikir mengapa salah satu pekerjanya tega melakukan pengkhianatan itu. Selama ini, dirinya dan kakek Martin semasa hidupnya berusaha untuk membuat para pekerja nyaman dari segi gaji dan situasi di rumah itu.
Nenek Rieta terpaksa meredam kemarahan itu mengingat sebagian para pekerjanya itu adalah orang orang yang sudah lama bekerja pada dirinya dan tidak bisa dipungkiri jika dirinya juga sudah nyaman dengan para pekerja tersebut. Itulah sebabnya Nenek Rieta menahan diri untuk menyelidiki satu persatu para pekerjanya karena tidak ingin salah memecat orang. Nenek Rieta juga berpikir jika pengkhianat tersebut adalah seseorang yang sangat licik dan munafik. Karena di depan semua anggota keluarga kakek Martin pengkhianat tersebut bisa bersikap sangat baik dan tidak mencurigakan. Tapi di belakangnya, pengkhianat tersebut merencanakan hal berbahaya bagi anak kecil.
"Siapa wanita ini?" bisik nenek Rieta kepada Anggita. Anggita sudah memperkenalkan wanita yang bernama Oci itu kepada Nenek Rieta tapi ternyata Nenek Rieta penasaran dan ingin mengetahui wanita itu secara detail.
"Oci ini yang akan membantu Kita untuk menjalankan rencana yang aku ceritakan tadi nek," kata Anggita pelan. Matanya berkeliling melihat semua penjuru sudut rumah. Dia takut salah satu pekerja lewat dari ruang tamu itu dan mendengar rencana yang dia maksud.
__ADS_1
"Baiklah. Jalankan rencananya sekarang juga," kata Nenek Rieta bersemangat. Nenek Rieta menjanjikan imbalan dua kali lipat yang sudah dijanjikan oleh Anggita jika rencana itu membuahkan hasil. Para pekerja sedang sibuk bekerja. Dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk menjalankan rencana itu.
Anggita dan Oci sama sama beranjak dari tempat duduknya. Mereka berjalan menuju dapur.
"Bibi, kenalkan ini Oci. Baby sitter yang akan menjaga Cahaya mulai besok," kata Anggita setelah dirinya dan Oci tiba di dapur. Bibi menyambut wanita itu dengan senang hati dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Bibi sangat yakin jika nak Oci ini akan betah bekerja di rumah ini," kata Bibi itu sambil tersenyum. Oci menganggukkan kepalanya tersenyum. Ketika Bibi lengah. Anggita mengedipkan sebelah matanya kepada Oci.
"Bibi, boleh aku numpang kamar Mandi belakang?" tanya Oci sopan.
"Oia silahkan Oci. Jalan dari sini saja. Kamar Mandi wanita yang kamar mandi yang pertama dapat itu ya," kata Bibi. Bibi menunjuk ke arah luar untuk menunjukkan kamar Mandi wanita. Dari dapur itu. Oci bisa melihat dua kamar mandi tanpa keterangan. Kamar Mandi itu adalah kamar mandi yang digunakan oleh para pekerja. Kamar mereka yang berada di belakang rumah nenek Rieta belum dilengkapi dengan kamar Mandi pribadi di setiap kamar. Hanya kamar Bibi si tukang masak yang dilengkapi kamar mandi karena Bibi tukang masak dianggap sebagai kepala pekerja di rumah itu.
Anggita pura pura tidak perduli dengan percakapan Bibi dan Oci. Dia pura pura sibuk menikmati kue kering buatan Bibi yang baru saja diangkat dari Oven. Lewat ekor matanya, dia memperhatikan Oci yang sudah keluar dari dapur dan kini sudah memasuki kamar Mandi.
Di kamar mandi. Oci menjalankan tugasnya dengan cekatan. Dari balik rok kembangnya yang menjuntai. Oci mengeluarkan beberapa peralatan yang digunakan untuk memasang cctv di kamar Mandi tersebut. Matanya mencari tempat yang sangat cocok dan tidak terlihat untuk memasang kamera pengintai. Setelah mendapatkan tempat yang pas. Oci memasang kamera pengintai itu. Oci tidak butuh waktu lama untuk memasang kamera tersebut karena itu sudah menjadi keahliannya.
__ADS_1
Oci keluar dari kamar mandi itu dengan perasaan lega. Tugasnya awal untuk membantu Anggita sudah selesai tinggal menunggu hasil dari rencana tersebut.
Oci kembali ke dapur. Dia mengacungkan jempolnya kepada Anggita ketika Bibi sibuk dengan pekerjaannya. Anggita tersenyum. Dia sangat berharap dengan rencana ini, pengkhianat itu cepat terungkap. Dia sadar apa yang dilakukannya saat ini mengganggu privasi para pekerjanya tapi demi keamanan putrinya Anggita siap menanggung resikonya. Niatnya hanya untuk mengungkap pengkhianat itu. Itulah sebabnya Anggita meminta oci untuk menghubungkan kamera pengintai itu ke ponselnya. Anggita berjanjinl dalam hati tidak akan menyalahkan gunakan hasil dari kamera pengintai itu nantinya.