Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Siapakah Dokter Angga


__ADS_3

Anggita tersentak mendengar suara mesin Mobil yang dihidupkan. Dia mendekat ke pintu mobil tapi Evan dengan gesit memundurkan mobilnya hingga keluar dari pekarangan rumah itu. Anggita tidak bisa berbuat apa apa selain menangis. Dia berlari ke dalam rumah karena tidak ingin menjadi perhatian pengunjung kafe yang keluar masuk.


Anggita kini sendirian. Tanpa Cahaya dan mama Feli yang menjadi penyemangat hidupnya. Rasa bencinya kepada pria yang pernah menjadi suaminya itu semakin menjadi jadi. Anggita jelas tidak terima jika hanya karena dokter Angga memandikan Cahaya dan memposting foto putrinya menjadi alasan bagi Evan memisahkan dia dari Cahaya. Anggita berusaha berpikir untuk membuat Cahaya harus kembali kepadanya.


Pikiran Anggita tertuju kepada dokter Angga. Dia menghubungi dokter itu untuk segera datang ke rumah. Anggita sudah membuat rencana akan menyusul Cahaya Hari ini juga ke Kota.


"Dokter, Cahaya dibawa pergi oleh ayahnya. Bantu aku dokter Kita susul mereka secepatnya."


Anggita menyambut kedatangan Dokter Angga dengan kalimat berita dan meminta bantuan. Dokter Angga terlihat sangat terkejut tapi kemudian berusaha untuk tenang.


"Duduk dulu Anggita."


Anggita menurut. Dia duduk di sofa dengan wajah sedih yang tidak bisa disembunyikan.


"Apa masalah kalian. Mengapa pak Evan membawa Cahaya pergi?" tanya dokter Angga lembut seperti biasanya. Anggita menceritakan yang sejujurnya tanpa ada yang disembunyikan.


"Tolong dokter. Aku tidak bisa jauh dari Cahaya. Bantu aku untuk menyusul mereka. Mama juga ikut ikutan pergi."


"Aku pasti membantu kamu Anggita. Tapi tunggu sebentar. Aku numpang kamar mandi. Boleh?. Kebelet akut soalnya."


Anggita mengiyakan permintaan dokter Angga dengan menganggukkan kepalanya. Di pikirannya, dia berharap dokter Angga tidak lama di kamar Mandi supaya mereka secepatnya menyusul Cahaya.


Lima menit setelah dokter Angga pamit ke kamar mandi, Anggita sudah semakin gelisah dan bosan menunggu dokter Angga keluar dari kamar mandi.


"Lama amat sih," gumam Anggita sedikit kesal. Sudah hampir sepuluh menit tapi pria itu belum juga muncul di ruang tamu.


Di menit ke Lima belas. Dokter Angga keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Sepertinya pria itu membasuh wajahnya. Dokter Angga langsung duduk di sebelah Anggita. Tidak seperti biasanya yang selalu mereka duduk berhadapan.


"Ayo dokter Kita susul Mereka sekarang." Anggita langsung berdiri melihat dokter Angga yang sudah duduk tenang.


"Duduk dulu. Kita harus memasang strategi supaya Cahaya kembali kepada Kita. Dalam kasus perceraian seperti ini. Rebutan hak asuh itu adalah hal yang wajar. Pasangan bercerai akan berusaha memenangkan hak asuh anak. Jika Kita mengejar mereka sekarang. Hanya dua kemungkinan. Bisa membawa Cahaya kembali kepada Kita atau melepaskan Cahaya bersama mereka. Ini hanya menguras tenaga. Jika pun Kita berhasil mengejar mereka. Itu bukan jaminan Pak Evan diam begitu saja. Bisa saja dia akan mengajukan gugatan hak asuh anak nantinya."


Anggita terdiam mendengar perkataan dokter Angga. Apa yang dikatakan oleh dokter itu Ada benarnya juga.


"Jadi apa yang harus aku lakukan," kata Anggita lemah. Keinginannya untuk menyusul Cahaya masih kuat. Tapi mendengar perkataan Dokter Angga. Anggita ingin mendengar solusi yang dari pria itu.


"Sebelum pak Evan yang mengajukan gugatan hak asuh anak. Maka kamu yang harus terlebih dahulu mengajukan gugatan tersebut. Aku punya teman seorang pengacara yang tidak diragukan lagi kehebatannya. Aku yakin kamu pasti menang. Biasanya anak dibawah umur seperti Cahaya harus ikut ibunya. Dengan begitu, Pak Evan tidak bisa berbuat macam macam seperti kejadian saat ini."

__ADS_1


"Aku pikirkan dulu," kata Anggita, jauh di lubuk


hatinya tidak ingin rebutan hak asuh anak seperti yang dikatakan dokter Angga. Dia ingin antara dirinya dan Evan bisa akur demi perkembangan Cahaya.


Anggita menarik nafas panjang. Apakah perceraianya dengan Evan akan seperti perceraian orang lain yang menjadikan anak sebagai bahan rebutan?.


Selama ini Anggita tidak pernah bermaksud membatasi waktu Evan untuk menemui Cahaya. Karena Anggita ingin perceraiannya dengan Evan tidak membuat Cahaya kekurangan kasih sayang dari mereka berdua. Anggita sangat sadar jika perceraian orang tua yang menjadi korban adalah anak. Itulah sebabnya, Anggita bersikap baik terhadap Evan. Karena Anggita tidak ingin ribut soal hak asuh anak.


"Bagaimana keputusan kamu Anggita?" tanya dokter Angga. Anggita menggelengkan kepalanya pertanda dirinya belum bisa memutuskan jalan apa yang ingin dia lakukan.


"Jangan terlalu lama berpikir. Yang ingin kamu perjuangkan saat ini adalah putri kamu sendiri. Kamu yang berhak atas Cahaya. Kamu sudah melakukan bahkan mengorbankan banyak hal untuk melindungi Cahaya sejak di kandungan."


"Iya aku tahu dokter. Aku tidak lupa akan hal itu. Aku rasa jalan terbaik, aku terlebih dahulu berbicara dengan mas Evan dan juga keluarganya. Aku ingin melibatkan keluarga dari pihak mas Evan dulu," jawab Anggita.


"Apa kamu yakin. Bagaimana kalau tindakan pak Evan membawa Cahaya pergi mendapatkan dukungan dari pihak keluarganya," kata Dokter Angga. Anggita terlihat berpikir kemudian menggelengkan kepalanya. Dia sangat yakin tindakan Evan membawa Cahaya pergi murni karena keegoisan pria itu bukan karena dukungan keluarga besar kakek Martin.


"Aku rasa tidak perlu menggugat hak asuh dulu Dokter. Aku memang membenci tindakan mas Evan. Tapi aku ingin berbicara baik baik dulu."


Anggita tetap pada pendiriannya. Bagaimanapun dia mengingat kebaikan kebaikan dari keluarga kakek Martin mulai dari Nenek Rieta, Rendra, Gunawan, tante Tiara dan juga Danny. Dia tidak ingin hubungan baik yang tercipta antara dirinya dengan orang orang itu menjadi buruk hanya karena tindakannya yang terburu buru.


"Terserah kamu saja Anggita, kapan kamu berubah pikiran aku akan menghubungi pengacara itu. Apapun keputusan kamu. Aku ingin yang terbaik untuk kamu dan Cahaya juga untuk kita berdua," kata dokter Angga lembut. Dokter Angga bahkan berani mengelus punggung tangan Anggita. Anggita terlihat kaku atas perlakuan dokter itu.


Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa mengetahui isi hati seseorang. Begitu juga dengan mama Feli. Dia tidak mengetahui apa yang menjadi tujuan Evan membawa Cahaya. Yang pasti ketika mama Feli mendengar Evan menghubungi seseorang untuk menjaga Anggita dari kejauhan. Mama Feli yakin jika Evan tidak berniat jahat kepada Anggita. Dan ketika mama Feli mendengar Evan menghubungi seseorang untuk menyelidiki tentang dokter Angga, mama Feli bingung dan penasaran.


"Nak, apa maksud kamu. Apa dokter Angga adalah orang jahat?" tanya mama Feli khawatir. Wanita tua itu sudah mulai duduk gelisah. Dia mengkhawatirkan Anggita yang sendiri di kota itu tanpa dirinya.


"Aku belum mempunyai bukti untuk itu bu. Tapi jika dia terbukti orang jahat. Aku tidak akan melepaskannya. Dan jika ternyata dia Orang baik. Anggita beruntung mendapatkan pasangan hidup seperti pria itu."


Mama Feli tidak puas mendengar jawaban Evan. Dia ingin jawaban pasti yang secepatnya mengingat dokter Angga selalu datang ke rumah Anggita setiap Hari.


Tapi untuk bertanya lagi. Mama Feli tidak berani. Wajah Evan terlihat sangat serius menyetir dan menatap jalanan.


Kedatangan Evan yang membawa Cahaya dan mama Feli tentu saja membuat seisi rumah terkejut.


"Ada apa ini Evan?" tanya tante Tiara. Ketika wanita itu mengulurkan tangannya ke Cahaya. Bayi tidak memberikan reaksi apapun.


"Bentar ma. Cahaya aku antar ke kamar dulu."

__ADS_1


Evan langsung menuju kamar tamu sedangkan mama Feli, Gunawan dan tante Tiara masih di ruang tamu. Mama Feli mendapatkan banyak pertanyaan dari Gunawan dan Tante Tiara, tapi wanita tua itu sekedarnya seperti yang dia lihat dan dengar.


Setelah Cahaya tidur. Evan langsung ke lantai atas menuju kamar Danny. Tanpa mengetuk Dan mengucapkan Salam. Evan membuka kamar itu dengan sedikit kasar.


"Danny, siapa dokter Angga sebenarnya?" tanya Evan sengit tanpa basa basi. Danny terkejut dengan pertanyaan Evan.


"Mengapa kamu menanyakan hal itu."


"Karena aku ingin mengetahui lebih mendetail tentang calon papa sambung Cahaya."


"Aku juga tidak begitu mengenal Dokter Angga. Anggita bertemu dan mengenal Dokter itu karena dokter Angga adalah yang memeriksa kehamilan Anggita di rumah sakit," jawab Danny jujur. Danny tidak begitu tertarik untuk menyelidiki dokter Angga selama ini karena Danny bisa melihat perlakuan Dokter Angga kepada Anggita bahkan kepada dirinya terlihat sangat tulus.


"Jangan bohong kamu. Asal kamu tahu. Anggita Dan dokter itu akan menikah dalam tahun ini."


"Benar bro. aku tidak begitu dekat dengan dokter Angga. Jika soal menikah. Aku rasa itu adalah hal yang tepat. Anggita berhak bahagia. Yang aku lihat mereka pasangan yang serasi."


Evan berusaha meredam kecemburuanya mendengar Danny memuji dokter Angga.


"Tapi aku merasa curiga kepada dokter Angga. Walau dia terlihat baik entah mengapa aku merasa kebaikannya adalah pura pura. Aku merasa jika incaran dokter Angga bukanlah Anggita melainkan putriku Cahaya."


"Apa maksud kamu. Kamu mungkin trauma karena Adelia sehingga kamu meragukan kebaikan orang lain kepada wanita yang kamu cintai. Jangan terlalu berprasangka buruk bro," kata Danny. Dia tidak terpengaruh dengan kecurigaan Evan. Dia hanya menilai sesuai dengan kenyataan yang dia lihat.


"Tidak. Aku tidak menilai dokter Angga karena trauma dengan sifat Adelia. Tapi kenyataan banyak orang seperti Adelia. Aku berbicara berdasarkan bukti. Dokter Angga memposting foto foto Cahaya di media sosialnya. Dia menuliskan nama Cahaya Dinata dengan jelas. Dan yang membuat aku curiga. Postingan itu disukai oleh Bronson."


Danny terlihat terkejut. Danny memutar kepalanya untuk menatap Evan. Mencari keseriusan di wajah kakaknya karena merasa tidak mungkin jika Dokter Angga dan Bronson saling mengenal. Bronson adalah pemilik perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dengan perusahaan Dinata Berlian Sejahtera yang dikelola oleh Evan saat ini. Bisa dikatakan bahwa Bronson adalah saingan bisnis perusahaan Dinata.


"Mana postingannya?" tanya Danny tidak percaya. Pria itu sudah merasakan khawatir yang luar biasa. Dia yang mempercayakan Anggita kepada dokter Angga karena ketulusan sang dokter. Evan langsung mengeluarkan ponselnya, mencari akun dokter Angga di ponsel tersebut.


"Kok tidak ada. Padahal aku melihatnya dengan jelas tadi," jawab Evan bingung. Tangannya tidak berhenti bergerak di layar ponsel itu. Beberapa nama Dokter Angga yang ada tertulis di media sosial itu diperiksa satu persatu. Tapi dari sekian banyak akun yang bernama dokter Angga. Satu pun tidak Ada yang memposting foto Cahaya.


"Mungkin kamu salah melihat."


"Tidak. Mataku masih berfungsi dengan sempurna. Aku mengenali putriku dalam keadaan apapun," kata Evan sangat yakin. Evan pun menduga dalam hati jika dokter Angga sudah menghapus foto foto itu.


"Siapa sebenarnya kamu dokter Angga," tanya Danny dalam hati. Hatinya sangat yakin jika kakaknya itu tidak berbohong. Danny mengepalkan tangannya karena marah sekaligus kecewa pada dirinya sendiri yang terlalu percaya dengan dokter Angga.


"Lain kali, kalau ada Hal mencurigakan yang kamu lihat di media sosial. Kamu screenshot. Postingan di media sosial bisa di hapus. Kalau begini kamu tidak mempunyai bukti akan tuduhan kamu ke dokter Angga."

__ADS_1


"Kamu benar Danny. Tapi aku sangat yakin jika Anggita dan Dokter Angga sudah bertemu setelah aku membawa Cahaya pergi. Bisa saja Anggita menceritakan alasan aku membantu Cahaya. Dokter Angga sengaja menghapus foto itu untuk menghilangkan bukti. Dan justru itu yang membuat aku semakin curiga. Jika dia tidak bermaksud apa apa. Dia tidak perlu menghapus foto itu. Cukup minta maaf kepada aku karena kelancangannya."


Danny menganggukkan kepalanya. Apa yang dipikirkan oleh Evan sangat masuk akal. Danny menundukkan kepalanya karena Danny tidak ingin Evan melihat penyesalannya yang menitipkan Anggita kepada orang yang salah.


__ADS_2