
Danny tidak menyangka sesulit ini untuk mendapatkan nomor kontak ataupun alamat calon suami dari Nia. Pria itu terdiam mencari kata yang tepat yang bisa mempengaruhi Anna supaya bersedia memberikan apa yang dia inginkan. Wanita itu sudah mengatakan jika dirinya akan memberikan apa yang diinginkan Danny jika yang bersangkutan tidak keberatan. Tapi sampai detik ini, tidak ada tanda tanda jika Anna akan menghubungi pria yang menjadi calon suami Nia.
"Tante, tolong kerja samanya. Aku hanya ingin bertemu dengan Nia sebelum hari pernikahan mereka. Jika tante, mempunyai nomor kontak milik Nia. Aku minta nomor Nia saja," kata Danny.
"Aku tidak mempunyai nomor kontak milik Nia. Kami bahkan masih sekali bertemu."
"Kalau begitu nomor prianya saja tante. Aku mohon," kata Danny. Baru kali ini dirinya sampai rela memohon untuk mendapatkan nomor kontak Alex demi ingin bertemu dengan secepatnya dengan Nia. Hal yang tidak pernah dia lakukan kepada siapapun.
Anna menatap Danny dengan tajam. Danny sudah memohon kepada dirinya. Hatinya tergerak ingin membantu Danny tapi hatinya juga diliputi keraguan.
"Sudahlah Danny. Jangan ganggu mereka. Biarkan mereka bahagia. Itu yang terbaik untuk kalian," kata Anna akhirnya. Wanita itu merasa dilema. Danny dan Alex adalah dua pria yang merupakan bagian dari keluarganya sendiri. Danny dari pihak suaminya sedangkan Alex dari pihak dirinya. Dia hendak membantu Danny tapi otaknya ketakutan jika dengan bantuannya akan mengacaukan pernikahan kerabat nya itu sendiri. Jika tidak membantu Danny. Anna takut dianggap manusia tega. Enam bulan ini dirinya mengetahui bagaimana Danny berusaha keras mencari keberadaan Nia. Anna juga merasa kasihan kepada Danny dan Sisil. Sungguh, Anna juga tidak menyangka jika wanita yang selama ini yang menjadi topic pembicaraan setiap mereka berkumpul adalah calon istri dari kerabat nya sendiri.
"Selain sok tahu ternyata tante lebih condong ke pihak tante sendiri," kata Danny kesal. Danny tidak menyukai perkataan Anna yang mengatakan jika ini yang terbaik. Pernikahan Nia jelas jelas bukan yang terbaik untuk dirinya. Dia merasa apa salahnya jika Anna memberikan nomor kontak pria calon suami Nia. Yang membuat Danny sangat kesal karena Anna sama sekali tidak berinisiatif untuk menghubungi pria calon suami Nia untuk meminta ijin memberikan kontak nomor atau alamat rumah kepada dirinya. Anna tidak menjawab. Wanita itu hanya mengelus perut buncit nya sambil menatap Danny. Dan Anna juga tidak terpengaruh dengan kekesalan yang ditunjukkan oleh Danny.
Danny keluar dari rumah nenek Rieta tanpa hasil. Bahkan pria itu tidak berniat sama sekali menemui nenek Rieta yang sedang bersantai di taman belakang. Danny terlalu kesal dengan sikap Anna. Danny bahkan tidak menyapa Rendra ketika mereka berpapasan di halaman rumah nenek Rieta. Rendra memanggil dirinya tapi Danny langsung masuk ke dalam mobilnya. Pria itu juga langsung menjalankan mobil itu menjauh dari tempat tersebut.
Danny tidak berniat pulang ke rumah. Dia membawa mobilnya ke suatu tempat yang mungkin bisa menenangkan pikirannya. Dalam perjalanan itu, Danny berkali kali memukul setir mobilnya. Dan kadang juga menekan klakson Mobil berkali kali jika ada kemacetan. Banyak pengendara motor dan mobil lainnya yang menggerutu karena bunyi klakson mobilnya itu. Danny tidak perduli. Hanya dengan seperti itu kekesalannya sedikit berkurang.
Danny akhirnya menghentikan mobilnya di area pemakaman. Pemakaman tempat putranya beristirahat untuk selamanya. Tempat ini adalah tempat yang yang selalu dikunjungi oleh Danny jika merasa lelah mencari keberadaan Nia.
Danny mengungkapkan keluh kesah di pusara putranya itu. Setiap mengunjungi pusara itu, Danny tidak pernah lupa meminta maaf atas perbuatannya di masa lalu. Jika dulu dia tidak pernah memberikan perhatian kepada putranya itu selama di kandungan. Kini pusara putranya itu menjadi tempat selalu berkeluh kesah.
Setelah berkeluh kesah dalam diam. Danny menatap pusara putranya itu. Setiap menatap pusara itu, Danny selalu diingatkan bagaimana Nia meminta dirinya untuk bertanggung jawab. Bahkan wanita itu tidak menuntut pernikahan resmi. Pertanggungjawaban yang dia butuhkan dari Danny hanya semata mata untuk meringankan dirinya menanggung malu.
__ADS_1
Mengingat itu semua, Danny merasakan matanya memanas. Setelah enam bulan berusaha keras. Danny mengingat bagaimana dirinya tidak mau tahu tentang kehamilan Nia. Bahkan sebelum kepergian putranya itu. Nia sudah pernah hampir mengalami keguguran. Tapi Danny tetap saja mengabaikan peringatan itu.
"Pantas saja, kamu memilih pergi nak. Ternyata papa sangat jahat kepada kamu bahkan sebelum kamu terbentuk sempurna di rahim mama kamu," kata Danny dalam hati.
Penyesalan itu masih jelas terasa di hati Danny hingga kini. Dia tidak pernah jika kisah hidupnya lebih menyedihkan dibandingkan dengan kehidupan mantan istrinya Clara yang lebih bahagia saat ini dibandingkan bersama dirinya dulu.
"Mungkin kah ini karma bagiku?" tanya Danny lagi dalam hati. Enam bulan ini, Danny banyak merenung tentang kehidupan saat ini. Dulu dirinya adalah anak yang lebih liar dan berani melawan kakek Martin dibandingkan dengan Evan. Dirinya lebih sukses membangun perusahaan di luar negeri yang kini sudah dikuasai oleh mantan istrinya. Tapi saat ini. Dirinya seperti orang yang berjalan di tempat. Modal usaha yang diberikan nenek Rieta kepada dirinya masih begitu begitu saja belum menampakan perkembangan yang cukup berarti. Dalam kehidupan asmara. Dirinya gagal mendapatkan Salsa dan gagal pula meraih hati wanita yang rela memberikan tubuhnya kepada dirinya.
"Apa yang salah dalam diriku," kata Danny lagi. Kini dirinya tidak lagi berdiri di samping pusara putranya itu. Larut dalam merenungkan kehidupannya di masa lalu dan di masa saat ini. Tidak sadar Danny terduduk.
"Bagaimana papa memperbaiki hidupku ini boi," tanya Danny kepada pusara putranya itu. Danny merasa dirinya tidak berarti. Danny merasa gagal dalam kehidupan pribadinya dan merasa gagal dalam dunia usahanya.
"Seandainya kamu ada. Mungkin papa tidak seperti ini. Mungkin mama kamu pasti mempertimbangkan penyesalan dan menerima pertanggungjawaban papa. Mungkin kita sudah menjadi keluarga kecil. Kamu pasti sangat disayang oleh kakak kamu Sisil."
Danny terus berbicara dalam hati kepada pusara putranya itu.
Di tempat lain. Di ruang kerja Alex. Nia dan Alex sedang berdiri di hadapan sebuah manekin. Tangan Alex aktif menempelkan manik manik ke gaun yang terpasang dalam manekin sedangkan Nia tidak melakukan apa pun. Gaun ala princess itu adalah gaun buatan Alex untuk calon istrinya. Dia yang mendesain sendiri gaun itu dan Nia menyukainya. Gaun itu sudah rampung sembilan puluh lima persen.
Sebenarnya, Alex bisa meminta karyawannya untuk melakukan pekerjaan itu. Tapi supaya persiapan pernikahan dan pernikahan mereka sangat berkesan. Alex turun tangan untuk membuat gaun pengantin Nia.
"Sudah selesai," kata Alex setelah selesai menyematkan sebuah mutiara asli di sisi kanan paling atas gaun itu. Mutiara itu dikelilingi oleh manik manik yang berwarna kontras dan lebih kecil dari mutiara tersebut.
Nia tersenyum menatap gaun pengantin itu. Gaun itu terlihat sangat mewah setelah manik menempel di gaun itu dengan rapi.
__ADS_1
"Terima kasih Lex. Aku sangat menyukainya" kata Nia senang. Nia mengagumi gaun putih hasil rancangan Alex itu. Nia bahkan berjalan mengelilingi manekin itu untuk melihat bagian belakang gaun. Alex tersenyum dan berjalan ke arah meja kerjanya. Dia mengambil sebuah kotak yang sejak tadi sudah ada di atas meja kerja itu.
"Ada yang kurang?" tanya Alex lembut. Alex membawa kotak itu di tangannya. Nia terdiam menatap gaun pengantin itu. Raut wajahnya tidak seceria tadi.
"Gaun yang indah Lex. Tapi aku salah pilih warna," kata Nia. Dirinya yang memilih warna putih itu tapi kini Nia terlihat menyesal karena memilih warna putih.
"Kenapa menyesal?" tanya Alex bingung.
"Harusnya aku memilih warna lain. Warna putih melambangkan kesucian sementara diriku tidak suci lagi," kata Nia sedih. Nia merasa sedih karena tidak bisa menjaga kesucian yang harusnya dipersembahkan kepada pria yang baik seperti Alex.
"Dasar kedondong. Kita menikah untuk berbahagia. Bukan untuk bersedih seperti ini. Buka kotak ini!" kata Alex sambil memberikan kotak itu kepada Nia. Nia menerima kotak itu dan membukanya.
"Ya ampun. Imut sekali. Terima kasih lagi Lex," kata Nia senang. Dia tangannya kini ada gaun kecil untuk putrinya. Gaun itu berwarna putih juga dan dilengkapi dengan bando.
"Putra Kita pasti tambah cantik dan menggemaskan memakai gaun ini," kata Alex. Nia menganggukkan kepalanya senang sambil mengamati gaun kecil itu.
"Bisa bisanya kamu terpikir membuat gaun untuk Naya, Lex," kata Nia sambil merapikan gaun kecil itu dan memasukkan ke dalam kotak dengan hati hati.
"Naya juga harus cantik donk. Bundanya cantik. Ayahnya tampan. Masa Naya pakai baju seadanya saja." Nia menganggukkan kepalanya setuju. Mengingat putrinya. Nia juga mengingat putranya yang sudah tiada.
"Lex, aku belum pernah ke makam putraku. Entah mengapa aku tiba tiba terbersit di pikiranku untuk mengunjunginya sebelum kita menikah," kata Nia. Nia menundukkan kepalanya karena merasa sudah banyak merepotkan Alex. Pergi ke pusara putranya. Alex pasti tidak akan membiarkan Nia pergi sendiri
"Aku bisa sendiri. Jika kamu masih banyak pekerjaan," kata Nia lagi.
__ADS_1
"Sekarang?" tanya Alex. Nia mendongak menatap calon suaminya kemudian menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menemani kamu. Bersiap siap lah. Sepuluh menit lagi Kita pergi," kata Alex sambil memperhatikan gaun pengantin calon istrinya itu. Sama seperti Nia. Alex juga berjalan mengelilingi manekin untuk melihat bagian belakang gaun tersebut.