Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Evan Dan Adelia


__ADS_3

"Pa, kapan lagi Kita ke rumah mama Ita?"


Baru saja Danny menghentikan mobilnya di garasi. Sisil sudah bertanya kapan mereka akan kesana.


Danny menatap putrinya sebentar. Putri kecilnya itu di usia tiga tahun termasuk bijak berbicara. Setiap kata kata yang keluar dari mulutnya sudah dapat dimengerti oleh orang dewasa. Hanya saja. Setiap berbicara, Sisil akan terlihat lucu di pengucapan dan gerakan tubuhnya.


"Papa "


Sisil menuntut jawaban dari papanya.


"Nanti, kalau papa tidak sibuk."


Danny berkata pelan tapi masih bisa didengar oleh putrinya. Sedangkan Sisil sudah bersorak gembira. Anak kecil itu hanya mengerti kata nanti. Dia percaya perkataan papanya akan menjadi kenyataan.


"Ayo, turun!.


Danny merentangkan tangannya. Sisil bergerak dan sudah bergelayut manja di gendongan Danny.


"Pa, aku senang," kata Sisil sambil menyandarkan kepalanya di dada Danny. Danny hanya mengelus kepala putrinya sambil berjalan. Hatinya sangat sedih mendengar perkataan putrinya yang sedang berbahagia. Danny, sebenarnya tidak bisa mengetahui kapan pastinya dia akan kembali membawa Sisil ke rumah Anggita. Anggita sangat jelas menunjukkan penolakan atas sebutan itu. Hanya saja, Anggita tidak menampakan keberatan itu dengan Sisil. Tapi lain dengan Danny. Anggita jelas menunjukkan penolakan.


Danny sebenarnya merasa malu. Malu pada dirinya sendiri karena tidak melarang Sisil memanggil Anggita dengan sebutan mama Ita. Anggita terlihat keberatan dengan sebutan itu. Anggita tidak menjawab pertanyaan Danny ketika pria itu bertanya apakah Anggita keberatan atau tidak dengan sebutan itu.


Di sisi lain, Danny juga sangat sedih. Dia tidak tega menghancurkan kebahagiaan putrinya yang terlihat sangat berbahagia bersama Anggita tadi.


"Nenek," panggil Sisil setelah papa dan putri itu sudah berdiri di pintu rumah.


"Sayang," jawab tante Tiara. Sisil turun dari gendongan Danny dan berlari menuju tante Tiara. Di sofa ruang tamu itu yang duduk bukan hanya tante Tiara. Ada Evan dan juga Gunawan di tempat itu.


"Darimana kalian. Ini baru pulang," kata Tante Tiara. Sisil Dan Danny pergi dari rumah sejak tadi pagi. Tapi pulangnya hampir malam.


"Dari rumah mama Ita," jawab Sisil senang. Anak kecil itu seakan tidak merasakan lelahnya dalam perjalanan yang memakan waktu hampir enam jam pulang pergi.


"Dari rumah mama Ita nek."


"Mama Ita?" tanya Evan heran. Nama Ita mengingatkan dirinya langsung dengan nama Anggita yang merupakan tiga huruf terakhir nana dari mantan istrinya. Bukan hanya Evan. Tante Tiara dan Gunawan juga merasa heran dengan perkataan Sisil. Gunawan sampai memicingkan matanya karena heran.

__ADS_1


"Mungkinkah yang dia maksud Anggita?" tebak Evan dalam hati.


"Nek, di perut mama Ita ada adik bayi," kata Sisil lagi membuat Evan, Tante Tiara dan Gunawan semakin bertanya tanya dalam hati siapakah mama Ita yang sebenarnya. Evan bahkan merasakan ada perasaan yang sulit digambarkan yang tiba tiba menyusup ke relung hatinya.


"Ternyata bukan Anggita," batin Evan lagi dalam hati. Evan berpikir jika Anggita sudah keguguran. Tapi bersamaaan dengan itu, jantungnya berdetak kencang dan tiba tiba Evan merasa hampa. Mendengar perkataan Sisil. Evan menjadi lesu. Sebelumnya, dia sangat berharap jika mama Ita yang dikatakan oleh Sisil adalah mantan istrinya.


"Siapa yang dimaksudkan oleh Sisil Evan?" tanya tante Tiara tajam. Tante Tiara dan Gunawan sudah menasehati Danny untuk tidak sembarangan mencari wanita pasangan hidupnya kelak. Tante Tiara juga khawatir jika mama Ita yang disebutkan oleh Sisil adalah kekasih Danny. Sungguh, Tante Tiara tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Dulu, Danny dan Clara menikah karena kesalahan hamil terlebih dahulu. Tante Tiara tidak meragukan Sisil sebagai cucunya. Tapi untuk mendatangkan wanita di keluarganya dengan hal yang sama. Tante Tiara sama sekali tidak berkenan.


"Teman lama aku ma," jawab Danny beralasan. Dia juga bisa menangkap kekhawatiran mamanya atas kesalahan Masa lalu itu.


"Dia teman lama kamu. Dan dia mengandung. Apa suaminya tidak keberatan Sisil memanggil wanita itu dengan mama?. Kali ini Gunawan yang bertanya. Dari tadi diam bukan berarti dia tidak menyimak setiap pembicaraan. Dan kini pria itu menatap wajah putranya dengan seksama untuk melihat ekspresi wajah Danny berbohong atau tidak.


"Tidak keberatan pa. Dia tidak punya suami."


"Dia hamil di luar nikah?" tanya Gunawan kaget. Tatapan masih ke wajah Danny. Seketika itu juga Danny gelagapan. Dia tidak tahu harus menjawab pertanyaan papanya itu. Seketika itu juga Danny merasa paling bodoh di dunia. Harusnya dia tidak perlu menjawab hal yang sejujurnya tentang keadaan Anggita saat ini.


"Bukan. Dia wanita baik baik. Hanya saja dia Dan mantan suaminya tidak ada kecocokan. Mereka memutuskan bercerai walau wanita itu hamil dan suaminya tidak ada niat membatalkan perceraian itu walau istrinya sedang hamil. Lagipula kami hanya berteman. Kebetulan saja tadi kami bertemu."


Danny akhirnya berbohong. Walau sebagian dari perkataannya ada kebenaran tapi Evan tidak bisa menyadari jika pembicaraan mereka saat ini adalah tentang Anggita dan dirinya.


"Bagus baguslah kamu memilih istri. Jangan sampai gagal untuk kedua kalinya. Dan satu lagi. Kami memilih istri bukan hanya untuk dirimu. Tapi juga untuk Sisil. Untuk itulah kamu harus memilih istri yang bisa menerima Sisil seperti anak kandungnya."


"Om, Tante. Ada yang ingin aku tanyakan," kata Evan setelah Sisil dibawa salah satu pelayan di rumah itu masuk ke kamar. Kini di ruang tamu itu hanya ada Evan, Danny, Gunawan dan Tante Tiara.


"Apa itu nak?" tanya tante Tiara lembut.


"Aku sudah mengetahui siapa diriku sebenarnya. Ternyata aku bukan anak kandung dari papa dan mama."


Tante Tiara langsung menatap Evan. Dia bisa melihat pria itu yang memendam kesedihan. Hatinya juga sedih melihat pria itu sedih. Tante Tiara kemudian menoleh ke Gunawan. Kini sepasang suami istri itu sama sama menundukkan kepalanya. Sedangkan Danny belum bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya setelah mengetahui kenyataan baru itu.


"Papa menyuruh aku untuk bertanya kepada kalian," kata Evan lagi.


Suasana di ruang tamu itu kembali hening. Mereka bermain dengan pemikiran sendiri. Tapi tidak dengan tante Tiara. Wanita itu menunduk dengan bahu yang terguncang karena menangis.


"Ada alasan kuat mengapa orang tua kamu menitipkan kamu kepada Rendra dan Anita." Gunawan berkata dengan mata menerawang. Dia juga sudah siap memberitahukan kebenaran itu kepada Evan. Karena bagaimana pun alasan. Cepat atau lambat Evan harus mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dan sepertinya saat ini lah waktu yang tepat.

__ADS_1


"Alasan kuat apa?" tanya Evan tidak sabaran.


"Saat itu usia kamu tiga tahun. Saat itu mama kandung kamu melahirkan anak kedua. Mama kandung kamu menderita syndrom baby blues yang parah. Anita yang belum mempunyai anak menyayangi tulus. Karena terbiasa dengan Rendra dan Anita beberapa bulan. Kamu tidak mau dipisahkan dari mereka."


"Jadi siapa orang tua kandung aku?" tanya Evan mendesak Gunawan supaya tidak bertele tele.


"Aku dan Tiara. Kamu adalah putra pertama kami."


Evan dan Danny sama sama terkejut mendengar pengakuan Gunawan itu. Setelah berpuluh tahun. Mereka berdua mengetahui jika ternyata mereka saudara kandung.


"Maafkan mama Evan. Ini semua kesalahan mama."


Tante Tiara masih menangis. Ingatan dimana dirinya melukai anak pertama karena pengaruh sindrom itu. Dia masih ingat dia mencubit Evan kecil kala anak itu hanya karena berniat mencium Danny. Saat itu Masa masa sulit bagi Tiara karena melahirkan anak kedua tanpa dukungan suaminya. Bukan karena Gunawan tidak bertanggung jawab. Tapi saat itu, Gunawan sedang menempuh jenjang pendidikan strata dua di America. Jaman dulu tidak secanggih teknologi sekarang membuat Tiara dan Gunawan minim komunikasi.


Disaat itulah, Anita datang. Anita yang suka anak kecil mampu membuat Evan kecil dekat dengan dirinya. Awalnya hitungan Hari, minggu hingga hitungan bulan. Perlahan lahan Evan memanggil Anita dengan sebutan mama. Dan karena jarang mendapatkan kasih sayang dari sosok seorang ayah. Evan juga semakin dekat dengan Rendra dan memanggil dengan sebutan papa. Dia tidak mau jauh dari kedua orang yang sudah dianggapnya itu sebagai orang tuanya.


Hal itu adalah Hal sulit bagi Anita setelah sembuh dari syndrom tersebut. Dia tidak ingin jauh dari Evan. Tapi demi kebaikan Evan saat itu. Akhirnya Tiara dan Gunawan tidak memaksakan kehendak mereka.


"Butuh waktu untuk bisa mengerti ini semua," kata Evan. Dia bangkit dari duduknya. Dan Danny hanya menatap Evan tanpa berbicara. Danny tiba tiba merasa kasihan akan saudaranya itu. Mereka ternyata kakak beradik tapi mengalami pengalaman hidup yang sangat berbeda. Jika Danny terbilang hidup bebas untuk menentukan jalan hidupnya tapi tidak dengan Evan. Pria itu seakan dituntut untuk menuruti peraturan yang dibuat oleh kakek Martin.


Perbedaaan itu sangat mencolok. Evan harus meneruskan usaha yang dirintis oleh Kakek Martin. Dan dalam hal jodoh. Evan juga dituntut untuk menikahi wanita pilihan kakek. Tapi tidak dengan Danny. Pria itu tidak mau dipaksa. Dia merintis usahanya sendiri dan menikahi gadis pilihannya sendiri. Tapi sayang, apa yang dia rintis dan dia pilih hilang begitu saja.


"Duduklah nak. Aku mohon. Apa kamu tidak bisa merasakan kasih sayang mama kepada kamu?"


Tante Tiara memegang tangan Evan supaya pria itu duduk. Tapi Evan melepaskan tangan itu lembut. Kemudian pergi dari rumah itu. Tidak ada yang bisa untuk mencegah pria itu pergi. Termasuk Danny. Danny juga merasakan jika kenyataan baru ini butuh waktu untuk memikirkannya.


Evan merenung sambil menyetir. Dia tiba di rumahnya dengan beban pikiran yang semakin bertambah. Bukannya Evan tidak bahagia mengetahui jika Gunawan dan Tiara adalah orang tua kandungnya. Tapi kenyataan ini terlalu beruntun sehingga Evan butuh waktu tenang untuk merenungkan hidupnya.


"Kamu masih berani untuk datang ke rumah ini?" tanya Evan setelah melihat Adelia di rumah itu. Dia sudah mengusir Adelia sejak mengetahui kejahatan Adelia. Dan bahkan sudah mengunci semua kamar tamu supaya sewaktu waktu wanita itu datang tidak bisa bebas lagi di rumah itu.


"Kamu kekasih aku. Aku datang ke rumah ini untuk menagih janji kamu." Evan terkekeh.


"Mulai hari ini. Diantara kita tidak ada apa apa lagi. Silahkan angkat kaki dari rumah aku. Atau perlukah polisi yang menjemput kami dari rumah ini?" gertak Evan membuat Adelia ketakutan.


"Bajingan kamu Evan. Aku melakukan itu untuk kebahagiaan Kita. Tapi kamu tidak menghargainya."

__ADS_1


"Silahkan pergi," kata Evan marah sambil menunjuk pintu rumah. Kekecewaan dan kemarahan karena mengetahui kenyataan tentang dirinya membuat Evan tidak bisa mengontrol amarahnya kepada Adelia.


Jalani takdir kamu. Aku jalani takdir ku. Anggap Kita tidak saling mengenal selama ini," kata Evan kemudian meninggalkan Adelia di ruang tamu. Dia menuju dapur dan menyuruh Bibi Ani untuk mengusir Adelia dari rumah ini. Dia tidak ingin berurusan lagi dengan wanita itu.


__ADS_2