Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 148


__ADS_3

Sebelum menjawab pertanyaan Rendra Alex menarik nafas panjang. Pria itu bisa melihat jika Naya diterima dengan baik di keluarga kakek Martin. Bukan hanya Naya, Alex juga bisa melihat jika sebenarnya semua anggota keluarga yang ada di ruangan itu menginginkan Nia bersatu dengan Danny. Dan perkataan Gunawan tentang mengangkat dirinya menjadi anaknya tidak membuat Alex langsung senang.


Perkataan Gunawan mungkin karena terlalu senang dan menghargai Alex. Tapi Alex mempunyai penilaian tersendiri dengan perkataan Gunawan itu. Alex juga tidak ingin menanggapi permintaan Gunawan yang terlalu berlebihan itu menurut dirinya. Tapi jika Alex tidak menjawab, pria itu khawatir Gunawan atau yang lainnya salah mengartikan sikap diamnya.


"Terima kasih sebelumnya om. Mengangkat aku jadi anak kalian menurut aku itu berlebihan. Jika om melakukan itu demi Naya. Tanpa mengangkat aku jadi anak. Aku pastikan Naya tetap mendapatkan kasih sayang dari kalian selaku keluarga kandungnya."


Akhirnya Alex mengatakan apa tanggapan atas permintaan Gunawan. Dia tidak akan membiarkan dirinya dijadikan hanya sebagai alat untuk mendekatkan Nia kepada mereka. Begitulah penilaian Alex akan permintaan Gunawan. Mengangkat dirinya sebagai anak itu berarti dirinya akan sering berkumpul di rumah ini dan Nia akan sering bertemu atau bisa saja berkomunikasi dengan Nia. Alex hanya menilai sebatas kemampuannya.


Nia merasa lega mendengar jawaban Alex. Wanita itu juga tidak setuju dengan permintaan Gunawan. Selain berlebihan, Nia merasa hal itu tidak masuk akal. Walau dirinya tidak menginginkan Danny. Tapi Nia juga tidak ingin menyakiti pria itu jika terlalu sering berhadapan dengan dirinya dan Alex.


"Sebenarnya tidak berlebihan Alex. Bagaimana pun, Naya ada diantara kita. Aku hanya ingin Kita menjadi keluarga saja," kata Gunawan. Jawaban Alex jelas sudah menolak tapi Gunawan juga tidak memaksakan kehendaknya.


Rendra dan Evan sama sama menatap ke arah Alex. Dalam hati, Evan bisa menilai jika Alex adalah pria yang benar benar baik, tulus dan serakah. Jika orang lain yang ada di posisi Alex saat ini. Mungkin akan senang dijadikan anak angkat oleh Gunawan. Menjadi anak angkat Gunawan berarti sang anak angkat juga mempunyai hak di dalam keluarga angkatnya. Tapi Alex tidak seperti itu. Alex menjaga harga dirinya dengan tidak mudah tergiur menerima tawaran dari Gunawan.


Evan merasa kagum akan sikap Alex. Evan merasa Nia tidak salah memilih pria sebagai pendampingnya. Pantas saja Nia, tidak butuh waktu lama untuk berpikir menerima lamaran Alex. Alex adalah pria muda tapi pemikirannya sudah sangat dewasa.


Merasa sudah cukup waktu mereka berada di rumah itu. Alex akhirnya pamit untuk pulang. Alex bahkan menolak ketika Gunawan menawari mereka makan siang bersama. Bukan tidak ingin menghargai ajakan Gunawan. Tapi Alex dapat melihat jika Nia sejak tiba di rumah itu kurang nyaman.


"Bisakah Naya dan Nia disini sebentar lagi?. Biar Evan dan Anggita nantinya yang mengantarkan mereka," kata Nenek Rieta. Alex menatap Nia yang duduk di sebelahnya. Alex bisa melihat Nia meremas tangannya sebagai pertanda jika dirinya juga ingin segera meninggalkan rumah itu.


"Maaf nek. Kami datang bersama sama ke tempat ini. Maka kami juga pulang bersama sama," jawab Alex membuat Nenek Rieta tidak bisa mengeluarkan satu katapun untuk menahan Nia dan Naya. Wanita tua itu dan yang lainnya ingin berlama lama Nia dan Naya di tempat itu.


Nenek Rieta hanya bisa menatap Naya yang Kini sudah di tangan Nia. Mereka sudah siap untuk pulang tanpa membicarakan bagaimana kesepakatan pola asuh Naya nantinya. Tadinya Gunawan sudah memberikan pendapat Danny mendapatkan waktu yang sama mengasuh Naya, tapi Nia tidak setuju dengar pola asuh yang dikatakan oleh Gunawan. Nia ingin, Naya sepenuhnya bersama dirinya. Jika Danny dan keluarganya lainnya ingin bertemu dengan Naya. Jessi bisa membawa Naya ke rumah ini. Tapi Gunawan dan yang lainnya juga tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nia.


Akhirnya tentang pola asuh tidak ada kesepakatan. Hal itulah yang membuat pihak keluarga sangat sedih. Mereka tidak bisa berbuat banyak apalagi menekan Nia karena ada Rendra yang jadi pembela Nia.


"Kasihan kamu nak, setelah kehilangan saudara kembar kamu. Kamu bahkan tidak dapat merasakan kasih sayang ayah kandung kamu seperti bayi perempuan lainnya. Apa salah leluhur kami sehingga kedua putri Danny harus menerima hal menyakitkan seperti ini," kata Nenek Rieta sambil terisak. Wanita tua itu menangis mengingat Sisil dan Naya mengalami hal yang sama. Jika Sisil kehilangan kasih sayang mama kandungnya maka Naya yang akan kekurangan kasih sayang papa kandungnya. Nia dan Alex yang sudah berdiri merasa kakinya tertahan setelah mendengar perkataan sedih wanita tua itu.


"Tante Nia," kata Sisil senang dan terkejut. Sisil baru saja tiba di ruang keluarga itu. Anak itu baru bangun dan mencari nenek dan Kakeknya di ruang keluarga tapi hal yang membuat hatinya sangat senang ada di ruangan itu.


"Tante kemana?. Aku cari cari loh," kata Sisil. Kini anak itu sudah memeluk kaki Nia. Nia merasakan tenggorakannya tercekat karena tidak bisa menjawab pertanyaan Sisil. Nia menggerakkan tangannya kanannya supaya Sisil terlepas dari kakinya. Wanita itu merasa tidak enak hati karena Sisil memeluk kakinya. Nia hanya tersenyum tanpa menjawab karena Nia merasa Sisil tidak akan mengerti apapun jawabannya nanti.


Sisil mendongak menatap wanita yang sudah dia inginkan menjadi mama bagi dirinya itu. Jelas terlihat kerinduan di mata Sisil. Caranya memeluk kaki Nia dengan erat sudah sangat jelas jika Sisil sangat senang bertemu dengan Nia. Selama ini dirinya tidak banyak bertanya lagi tentang Nia. Bukan berarti Sisil melupakan Nia. Sisil bahkan masih menunggu kapan tiba waktu dirinya mengubah panggilannya ke Nia.


Sisil bersorak senang melihat wajah Naya yang ternyata menatap dirinya. Sisil menarik tangan Nia supaya wanita itu menunjukkan wajah Naya kepada dirinya. Nia pun menundukkan dirinya sehingga Sisil bisa menatap Naya tanpa mendongak.


"Ada Adik," kata Sisil sambil mengelus wajah Naya. Sisil tertawa riang ketika Naya berhasil menangkap dan memasukkan tangannya ke mulut.

__ADS_1


Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa menonton apa yang diperbuat Sisil kepada Naya. Sisil terlihat sangat menyayangi Naya walau kali ini baru bertemu. Sisil merelakan tangannya digigit oleh Naya. Jika diperhatikan lebih teliti. Sisil terlihat lebih menyayangi Naya daripada Cahaya. Tapi hanya mama Tiara yang bisa memperhatikan hal itu.


"Sisil, kemari," panggil Tante Tiara. Wanita itu tidak ingin Sisil semakin berharap banyak setelah melihat Nia kembali di rumah ini. Tinggal hitungan hari Nia akan berganti status menjadi istri dari Alex. Membiarkan Sisil terlalu lama dan akrab kepada Nia saat ini. Mama Tiara khawatir Sisil mengalami kekecewaan atau bahkan luka batin jika harapannya sampai kapanpun tidak bisa terwujud. Anak kecil itu menurut. Dia menghampiri mama Tiara dan duduk di pangkuannya.


Seketika Nia merasa kakinya berat melangkah. Bukan karena ingin duduk kembali di sofa itu atau ingin lebih lama di ruangan itu. Tapi Nia merasa bingung, dia tidak tahu harus mengucapkan apapun kepada Sisil supaya Sisil mengetahui jika dirinya akan pergi dari rumah itu sekarang juga.


"Tante Nia, duduk donk. Oya tante Ita, adik Cahaya sudah bangun juga loh," kata Sisil dengan gerak gerik bibir dan tubuhnya yang sangat terlihat lucu. Anggita tertawa dan yang lainnya termasuk Alex tersenyum melihat gerakan Sisil yang lucu itu. Jika tidak ada Nia di tempat itu. Anggita pasti akan ke kamar untuk melihat putrinya itu. Tapi kali ini, Anggita mempercayakan putrinya itu kepada mama Feli dan pengasuh. Nia adalah sahabatnya. Anggita ingin mengantarkan Nia sampai naik ke Mobil.


"Tante pulang dulu sekarang ya Sil," kata Nia.


"Yeaah gak seru. Kita gak main dulu?" tanya anak kecil itu polos.


" Tante ada kerjaan. Lain kali saja ya Sil."


"Janji ya tante."


Nia akhirnya terjebak dengan perkataannya sendiri. Dia berpikir jika menolak Sisil bermain dengan dirinya di lain waktu akan membuat anak kecil itu percaya begitu saja. Tapi kini, Sisil meminta dirinya untuk berjanji.


"Kalau Ada waktu ya Sil."


Nia semakin bingung mendapatkan pertanyaan bernada tuntutan itu.


"Sisil, nanti tante Ita yang akan bawa kamu ke rumah tante Nia kalau ingin bermain ya. Kita bawa adik Cahaya juga," kata Anggita. Anggita akhirnya memilih menjawab karena dirinya dapat melihat ketidaknyamanan Nia mendapatkan pertanyaan itu dari Sisil.


"Horee. Janji ya tante Ita," kata Sisil senang. Anggita menganggukkan kepalanya. Sedangkan Nia menarik nafas lega. Jawaban Anggita serasa menyelamatkan dirinya dari ujian yang sulit.


Setelah merasa waktunya sudah tepat. Nia dan Alex pun akhirnya melangkah dari ruang tamu itu. Begitu juga dengan Anggita. Evan membantu istrinya itu beranjak dari duduknya untuk mengantarkan Alex, Nia dan Naya sampai ke mobil.


"Nek, kapan Tante Nia menjadi mama aku?"


Beberapa langkah berjalan dari ruang tamu itu. Alex dan Nia masih bisa mendengar pertanyaan Sisil kepada mama Tiara. Nia sengaja membuat langkahnya lambat karena ingin mendengar jawaban mama Tiara.


Mama Tiara memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan Nia itu. Tanpa air Mata. Wanita itu menangis dalam hati. Pertanyaan Sisil jelas menunjukkan dirinya sangat merindukan sosok ibu. Dalam hati, mama Tiara tidak menyalahkan Nia. Mama Tiara justru mengumpat mama kandung Sisil karena lebih memilih harta dan berselingkuh.


Berpikir beberapa detik tidak membuat mama Tiara menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Mama Tiara tidak ingin menjawab bahwa Nia tidak akan pernah menjadi mamanya karena akan menikah dengan pria lain. Mama Tiara takut jawaban itu membuat Sisil sangat kecewa. Mama Tiara juga tidak ingin


menjawab bahwa Nia menjadi mamanya masih lama lagi. Mama Tiara takut, Sisil akan terus menunggu hal itu terjadi.

__ADS_1


Tidak ingin mengarang jawaban yang bisa membuat dirinya terjebak oleh pertanyaan Sisil akhirnya mama Tiara tidak menjawab pertanyaan Sisil itu.


"Sil, ajak adik Cahaya mandi bola yuk," kata mama Tiara mengalihkan pertanyaan Sisil. Sisil terlihat sangat senang. Anak kecil itu langsung berdiri.


Di luar ruang keluarga. Nia merasa lega karena mama Tiara mengalihkan pertanyaan Sisil.


"Hati hati ya," kata Anggita setelah Nia dan Naya di dalam mobil. Alex juga sudah siap dengan kemudinya.


"Terima kasih Gita." jawab Nia.


Anggita memandangi mobil yang semakin menjauh itu. Sebelum masuk ke dalam Mobil, Anggita sengaja menyinggung tentang hari pernikahan Nia dan Alex. Anggita melakukan itu karena dirinya ingin diundang dan ikut menghadiri pesta pernikahan sahabatnya itu. Tapi lagi lagi. Nia tidak mengundangnya. Anggita dapat merasakan jika Nia memang sengaja tidak mengundang dirinya.


"Sepertinya anak kecil yang bernama Sisil itu sangat menginginkan kamu jadi mama sambungnya?" tanya Alex setelah mobil sudah melaju kencang di jalan raya.


Nia sengaja berpura pura tidak mendengar perkataan Alex. Alex menduga yang sebenarnya tapi Nia tidak ingin membenarkannya. Nia mengetahui keinginan Sisil itu. Tapi hatinya sudah memilih Alex dan tidak ingin berpaling lagi.


"Nia, kamu mendengar aku?"


"Kamu bilang apa tadi?.


"Tidak ada siaran ulang," kata Alex bercanda. Tapi Nia kembali terdiam dan menanggapi candaan itu seperti biasanya.


"Nia."


"Ya."


"Tiga hari lagi kita akan menikah. Jika kamu disuruh meminta sesuatu hal beberapa jam sebelum Kita jadi suami istri. Hal apa yang kamu minta dari aku," tanya Alex. Nia mengerutkan keningnya dan menoleh ke Alex.


"Ayo jawab," desak Alex yang melihat Nia seakan tidak ingin menjawab pertanyaan Alex.


"Aku hanya meminta kamu bisa memberikan apa yang aku mau. Dalam hal ini bukan materi. Tapi lebih ke arah kamu bisa mengerti aku dan keinginan aku," jawab Nia. Jawaban yang samar samar menurut Alex. Selama ini dirinya sangat pengertian dan bahkan mengerti keinginannya. Lalu untuk apa lagi Nia meminta hal itu. Alex menginginkan Nia meminta yang lain meskipun itu materi.


"Mengapa kamu tidak meminta kesetiaan dan cinta," tanya Alex.


"Jauh sebelum hari inj saat ini. Aku sudah memiliki dan menerima cinta kamu itu lex. Tentang kesetiaan. Aku juga sudah merasakan itu dari kamu. Kamu adalah sahabat yang setia yang sudah membantu aku baik suka dan duka," jawab Nia.


Beberapa jam kemudian. Di belahan bumi lainnya. Danny merasakan tangannya bergetar membaca kenyataan yang dia baca baru saja. Danny sampai mengusap wajah dengan kasar membaca dan melihat foto seorang bayi yang sedang di pangkuann mama Tiara. Danny bahkan berkali kali membaca pesan karena masih kurang percaya.

__ADS_1


__ADS_2