
Ada hal berbeda yang terlihat ketika dua mobil yang dikendarai Danny dan Rico tiba di depan gerbang rumah nenek Rieta. Tempat itu lebih ramai dibandingkan dengan hari hari sebelumnya. Banyak pria yang terlihat di tempat itu dengan pakaian yang berbeda. Ada beberapa orang berpakaian seperti preman, pemulung bahkan ada beberapa pria yang duduk santai di atas motor persis seperti tukang ojek offline.
Anggita melihat pemandangan aneh itu tapi tidak begitu perduli dengan suasana yang tiba tiba berbeda itu. Dia ingin cepat cepat masuk ke dalam rumah untuk mengetahui rencana jahat yang mungkin sudah dilaksanakan para penjahat itu beberapa jam yang lalu. Sedangkan Evan terlihat sangat santai. Dia bahkan bercanda dengan seorang satpam yang sedang membuka pintu gerbang untuk mereka.
Seperti Anggita yang terlihat emosional begitu juga dengan Danny. Pria itu dari tadi menampakan wajah marah dan tidak terlihat ramah kepada sang satpam.
Begitu juga hendak turun dari mobil. Danny mengambil sesuatu dari ransel miliknya. Danny menyelipkan benda itu ke balik pakaiannya.
"Danny, apa itu penting?" tanya Anggita. Dia melihat benda yang disembunyikan Danny itu adalah benda yang harus mendapat ijin dari pihak yang berwenang untuk memiliki benda tersebut.
"Untuk jaga jaga. Kita tidak mengetahui seberapa kuat musuh kita. Aku akan menggunakan jika nyawa kita terancam."
Anggita merasakan ketakutan yang luar biasa membayangkan sesuatu yang membuat nyawa terancam. Mungkinkah akan ada perkelahian nantinya?. Anggita takut jika karena benda itu akan menambah masalah lain bagi keluarga mereka.
"Tidak apa apa. Danny sudah dapat ijin untuk itu," kata Evan melihat keraguan di wajah Anggita.
Danny terlebih dahulu turun dari mobil kemudian diikuti oleh Evan dan Anggita. Anggita mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru halaman sebelum dirinya melangkah menuju rumah. Wanita itu merasa waspada jika salah satu dari pengkhianat itu bersembunyi di suatu tempat dan mencelakai mereka. Dan sampai mereka menginjakkan kaki ke pintu rumah. Ketakutan itu tidak menjadi kenyataan.
Mereka berlima memasuki rumah itu tanpa sambutan siapapun. Rumah mewah itu tampak sepi karena para pekerja di jam seperti ini sedang sarapan di area belakang.
"Kita mulai darimana?" tanya Danny tidak sabaran. Danny hendak duduk di sofa tapi langsung ditarik Anggita supaya tetap berdiri.
Mereka saling berpandangan seakan meminta pendapat satu sama lain.
"Menurutku terlebih dahulu kita panggil Bibi si tukang masak ke rumah tanpa diketahui oleh pekerja lain," kata Oci ketika tatapan Anggita berlabuh kepada dirinya.
"Menurutku Kita lihat rekaman cctv terlebih dahulu setelah Kita meninggalkan rumah tadi malam," kata Anggita. Yang lain menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan usul Anggita.
Lima orang itu kini menatap rekaman cctv itu. Tidak ada pergerakan yang mencurigakan yang hanya saja sepertinya pemadaman lampu dari meteran itu benar benar terjadi. Itu artinya para pengkhianat itu benar benar menjalankan rencana jahat itu.
"Panggil si Bibi tukang masak ke mari. Kita uji apakah dia berkata jujur tentang pemadaman lampu ini atau tidak," kata Evan kepada Danny. Tapi ketika pria itu hendak melangkah lagi lagi Angga menarik tangan pria itu.
"Biarkan Oci yang memanggil Bibi itu," larang Anggita. Bukan tanpa sebab dirinya melarang Danny. Oci diperkenalkan sebagai baby sitter adalah hal yang wajar jika disuruh memanggil si Bibi dibandingkan Danny yang merupakan tuan muda di rumah itu.
"Apa tidak sebaiknya kita duduk?" tanya Rico.
"Kamu mau duduk Rico. Silahkan," kata Evan sambil menggerakkan tangannya menyuruh Rico untuk duduk di sofa. Tapi Rico tidak langsung duduk karena Evan dan Anggita masih betah berdiri di ruang tamu itu.
Beberapa menit kemudian. Oci dan Bibi tukang masak tiba di ruang tamu itu. Anggita mengajak Evan dan yang lainnya masuk ke kamar Feli.
"Silahkan duduk," kata Anggita. Oci dan Anggita duduk di tepi ranjang. Danny, Rico Dan Evan duduk di sofa. Sedangkan Bibi duduk di bangku dekat meja rias.
"Bibi, tadi malam entah mengapa. Aku dan yang lainnya tertidur sangat pulas. Apa pemadaman lampu itu benar benar terjadi?" tanya Anggita.
"Benar nyonya. Pemadaman itu benar benar terjadi. Dan lumayan lama. Mulai dari jam empat sampai ke jam enam. Aku sendiri harus mengandalkan ponsel sebagai penerangan untuk memasak tadi."
"Lalu, mengapa Bibi tidak menyuruh pekerja laki laki untuk menghidupkan generator set?" tanya Evan. Rumah itu dilengkapi dengan generator set yang aman dipakai Lima sampai enam jam. Walau pemakaian generator set itu tidak berpengaruh ke cctv setidaknya suasana rumah tenang dan bisa terlihat aktivitas para pekerja.
__ADS_1
"Seandainya aku tidak mengetahui sebelumnya rencana tentang pemadaman itu. Mungkin aku akan meminta salah satu dari pekerja laki laki untuk menghidupkan generator set. Sejujurnya, aku sangat takut ketika pemadaman itu benar benar terjadi tuan. Aku pura pura tidak mengetahui rencana pemadaman itu selain karena keamanan aku sendiri. Aku juga tidak ingin mereka menjadi curiga jika aku sudah mengetahui jika Indy lah yang memakai ponselku tanpa ijin," kata Bibi itu jujur.
Sampai saat ini, Bibi itu merasa tidak tenang karena belum mengetahui rencana apa sebenarnya yang telah dilakukan teman temannya. Bahkan, tadi malam. Bibi itu juga sulit memejamkan matanya.
"Apa Bibi menjalankan perintahku tadi malam?" tanya Anggita. Bibi itu menundukkan kepalanya.
"Mengapa Bibi tidak menjawab?" tanya Anggita mendesak jawaban Bibi itu.
"Maaf nyonya," jawab Bibi itu tidak berani menatap Anggita. Bibi itu meremas tangannya pertanda dirinya sedang ketakutan.
"Kenapa?" tanya Anggita lagi penuh tuntutan. Anggita merasa marah karena Bibi itu tidak mematuhi perintahnya.
"Jawab Bibi," kata Anggita melihat sang Bibi tidak ada niat menjawab pertanyaan dan justru menatap dirinya dan Evan bergantian dengan ketakutan yang jelas terlihat di wajahnya.
"Kenapa Bibi. Mengapa kamu tidak menurut dengan perintah istriku. Kamu tidak menurut kepadanya itu artinya kamu juga tidak menurut kepadaku," kata Evan tenang tapi kata kata itu penuh dengan kekecewaan dengan sikap sang Bibi. Danny dan yang lainnya menatap curiga kepada Bibi itu.
"Maaf tuan, nyonya. Sebenarnya tidak ada niat aku membantah perintah nyonya Anggita. Aku merasa sungkan masuk ke dalam kamar tuan dan nyonya. Ketika aku membuka pintu. Aku merasa sungkan karena melihat nyonya tidur dengan...."
Bibi tidak sanggup meneruskan perkataannya. Dia merasa malu kalau mengatakan yang sejujurnya. Tadi pagi ketika dirinya hendak menata makanan di kamar itu sesuai dengan perintah Anggita, Bibi melihat Anggita tidur di ranjang itu dengan selimut hanya menutupi bagian pinggang ke bawah sedangkan bagian dada tidak tertutup sama sekali. Dan dari arah kamar mandi terdengar aktivitas seperti orang yang sedang mandi. Bibi menduga jika tuannya yang sedang mandi di kamar mandi itu dengan bantuan lilin sebagai penerangan karena di kamar itu juga terlihat ada Lilin. Bibi merasa sungkan ketika dirinya menata makanan. Tuannya keluar hanya berlilitkan handuk atau sama sekali tidak mengenakan apapun karena kamar itu adalah area pribadi.
"Melihat aku tidur dengan apa?" tanya Anggita bingung. Yang lainnya juga terlihat bingung karena mereka mengetahui dengan jelas jika Anggita tidur di rumah yang berbeda. Akhirnya Bibi mengungkapkan semua yang dia lihat.
Anggita dan lainnya berpandangan. Anggita tidak bertanya apapun lagi karena dengan informasi itu. Anggita bisa menduga hal yang dilakukan oleh para pengkhianat itu. Anggita mengerti jika Bibi berpikir jika dirinya yang tidur di kamar itu karena suasana yang remang membuat Bibi itu tidak dapat melihat dengan jelas siapa sebenarnya yang tertidur di kamar itu.
"Panggil semua teman teman kamu Bibi. Tanpa terkecuali ke ruang tamu," kata Anggita cepat supaya yang lainnya tidak banyak bertanya tentang hal itu.
Baru setelah Bibi itu keluar dari kamar itu. Mereka membahas tentang informasi yang mereka dapatkan dari Bibi si tukang masak.
"Benar. Siapapun dia. Aku tidak akan memberikan ampunan kepada pengkhianat tersebut," kata Danny. Pria itu paling anti akan pengkhianatan dalam bentuk apapun. Termasuk pengkhianatan para pekerja kepada majikan seperti ini.
"Tapi rencana jahat apa Kira Kira yang mereka kerjakan sehingga harus masuk ke kamar kalian," tanya Oci. Dari tadi mencerna apa yang dia dengar tapi belum bisa menebak apa rencana jahat para pengkhianat itu.
"Dari informasi yang berikan dokter Angga. Sasaran mereka adalah Cahaya. Maka hal yang harus kita selidiki adalah hal hal yang berkaitan dengan Cahaya. Makanan yang sudah diolah untuk Cahaya hari ini. Sebaiknya kita test. Aku takut mereka memberikan racun ke makanan dan minimum Cahaya. Dan pengkhianat itu masuk ke kamar kalian untuk membuat kalian mungkin terlelap seperti yang Kita alami tadi malam supaya penanganan Cahaya terlambat," kata Rico. Pria itu menghubungkan rangkaian kejadian yang mereka alami dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Benar Rico. Aku juga sudah menduga hal itu. Mereka berani bertindak sejauh ini karena mereka kira kita lemah. Tapi lihat saja nanti," kata Evan. Pria itu selalu menunjukkan sikap yang tenang bahkan terkesan santai.
Mereka keluar dari kamar ketika melihat rekaman cctv yang menunjukkan para pekerja sudah memasuki rumah. Mereka langsung menuju ruang tamu. Dan para pekerja itu yang terlebih dahulu tiba di ruang tamu tersebut.
"Silahkan duduk," perintah Evan. Dia mempersilahkan para pekerjanya duduk di sofa sedangkan mereka masih berdiri semua.
Para pekerja tentunya merasa sungkan duduk di sofa mewah itu apalagi para majikan masih berdiri.
"Mana pekerja yang satu lagi," tanya Evan setelah memperhatikan satu persatu para pekerja itu.
"Pak tukang kebun sedang keluar sebentar pak," jawab pekerja yang merupakan satu kamar dengan si tukang kebun.
"Oo begitu. Sekarang silahkan duduk," bentak Danny tajam. Para pekerja itu terlihat terkejut mendengar suara Danny yang tiba tiba membentak.
__ADS_1
"Duduk," bentak Danny lebih kencang. Mendengar perintah untuk duduk di sofa yang ketiga kalinya. Sebagian dari pekerja itu dengan sungkan terlihat bergerak untuk duduk di sofa termasuk Bibi si tukang masak. Dan satu pekerja yang tidak bersedia sama sekali untuk duduk di sofa itu.
"Mengapa kamu tidak duduk?" tanya Danny.
"Karena aku tidak pantas tuan?" jawab wanita itu pelan dan menundukkan kepalanya.
"Menurut kamu tidak pantas. Mengapa?" tanya Evan.
"Karena aku hanya pekerja di rumah ini," jawab wanita itu lagi. Mendengar jawaban wanita itu. Para pekerja yang duduk di sofa itu merasa tidak enak hati. Jawaban wanita itu mengingatkan mereka akan status mereka sendiri.
"Begitu kah menurut kamu?" tanya Evan lagi.
"Iya tuan."
"Bagus. Jawaban kamu benar," kata Evan. Para pekerja itu semakin terlihat gelisah setelah mendengar pujian Evan akan wanita itu. Para pekerja itu merasa jika wanita itu lah pekerja yang paling mengerti etika kerja.
"Apa kamu senang bekerja di rumah ini?" tanya Evan lagi.
"Senang tuan."
"Mengapa. Bisa kamu jelaskan apa alasan kamu mengatakan senang bekerja di rumah ini."
"Bekerja di rumah ini tidak tinggi tekanan tuan. Imbalan yang diterima lebih besar dari imbalan pelayan di rumah orang kaya lainnya. Kami dihargai dan diberikan waktu libur secara bergantian," kata wanita itu mengatakan sebagian hal yang menyenangkan bekerja di rumah itu.
Mendengar jawaban wanita itu. Anggita memandang wanita itu dengan sinis. Wanita itu merasakan nyaman bekerja di rumah itu tapi masih sanggup sebagai pengkhianat.
Evan mendekati wanita itu dengan tatapan tajam. Baru saja dirinya hendak berbicara. Gerak gerik salah satu pekerja di sofa itu membuat Evan menoleh ke arah para pekerja tersebut.
"Ada apa dengan kamu?" tanya Rico.
"Tidak tahu pak," kata pria itu sambil menggaruk bagian belakang tubuh dan tangannya. Melihat hal itu. Anggita mengerti. Dari tadi dia menduga ada sesuatu yang tidak beres di sofa itu karena matanya menangkap sedikit serbuk putih di paling sudut sofa tersebut. Itulah sebabnya ketika Danny hendak duduk tadi. Anggita menarik tangan pria tersebut.
"Apa yang lain merasakan hal yang sama?" tanya Danny. Para pekerja lainnya terlihat menggelengkan kepala.
"Menurut kamu. Mengapa dia merasakan gatal seperti itu?" tanya Evan kepada wanita yang masih berdiri itu.
"Mungkin dia mempunyai banyak panu di tubuhnya tuan," kata wanita itu sedikit gugup mungkin karena tidak menyangka jika pertanyaan seperti itu diajukan kepada dirinya.
"Apa benar kamu mempunyai banyak panu?" tanya Evan kepada pria yang masih sibuk menggaruk tangannya dan duduk gelisah.
"Tidak tuan. Itu tidak mungkin," jawab pria itu.
"Apa kamu yakin dia merasakan gatal seperti itu karena banyak panu atau karena ulah kamu sendiri?" tanya Danny yang kini berdiri di hadapan wanita itu.
"Maaf tuan. Apa maksud pertanyaan tuan?" tanya wanita itu.
"Jangan pura pura bodoh. Pengkhianat."
__ADS_1
Danny tidak dapat menahan amarah melihat keberhasilan rencana jahat itu. Tadi pagi dia mendapatkan informasi jika wanita ini lah yang dicurigai sebagai pengkhianat berdasarkan penyelidikan Anggita dan Oci.
"Indi, tidak ada gunanya kamu berpura pura polos. Pengkhianatan kamu sudah kami ketahui. Jujur adalah jalan terbaik untuk meringankan hukuman kamu," kata Evan. Pria itu masih berbicara tenang supaya Indi bersedia memberitahukan rencana jahat yang sudah mereka kerjakan tadi.