Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 107


__ADS_3

Malam mencekam dan malam yang penuh ketakutan yang dialami oleh Anggita dan Oci berbanding terbalik dengan malam yang dilalui oleh Adelia. Wanita itu sedang duduk santai di ruang tamu dengan asap rokok yang mengepul dari mulutnya. Di hadapannya, di atas meja berjejer minuman soda dan tiga ponsel. Adelia duduk santai dengan kaki bersilang.


Adelia menjauhkan rokok itu dari mulutnya. Bibirnya menyunggingkan senyum karena mendapatkan kabar baik dari beberapa relasinya bahwa rencana besok bisa dipastikan akan berjalan dengan baik. Semua rencana pendukung sudah berhasil dilaksanakan malam ini. Rencana itu adalah hasil tiga orang yang bekerja sama. Tapi sayang. Kerja sama mereka sangat merugikan orang lain karena kejahatan. Bronson sebagai donatur dana sedangkan Adelia dan mama Anita sebagai otak pelaksana rencana tersebut.


Tiga orang itu bersatu untuk menghancurkan keluarga Evan. Mereka bertiga satu tujuan tapi berbeda alasan. Bronson dengan alasan persaingan bisnis sedangkan Adelia dan mama Anita dengan alasan perasaan cinta yang telah dibuang. Dua wanita itu tidak sadar jika mereka dibuang karena sikap mereka tidak baik. Adelia dan mama Anita merasa diri mereka sebagai korban karena hadirnya Anggita dalam hidup Evan. Mereka tidak bisa menerima jika takdir yang sudah digariskan bahwa mereka bukan Anggota keluarga Kakek Martin.


Ingin membuat hati relasinya senang. Adelia menghubungi Bronson. Melaporkan rencana awal yang sudah berhasil untuk mendukung rencana selanjutnya. Adelia sangat yakin jika Bronson akan bangga kepada dirinya atas keberhasilan rencana awal malam ini.


"Benarkah. Aku sangat senang Adelia. Kerjakan serapi mungkin. Jangan sampai ketahuan. Aku ingin melihat Evan menangis darah. Seperti yang kamu tahu. Aku sudah lama menantikan momen itu," kata Bronson dari seberang. Bronson merasa senang atas apa yang dialami oleh Evan dan Rico.


"Benar pak. Aku sudah mengirimkan video tentang dua pria itu. Andaikan bapak meminta melenyapkan dua pria tersebut malam ini juga pasti bisa dilakukan malam ini," kata Adelia bangga. Dia membayangkan akan mendapatkan imbalan yang besar esok hari.


"Kinerja yang sangat bagus Adelia. Kamu akan mendapatkan imbalan yang banyak jika rencana besok pagi bisa berjalan baik dan tidak meninggalkan jejak. Aku belum ingin melihat Evan menutup mata selamanya. Yang aku inginkan adalah melihat Evan menangis darah dan terpuruk," jawab Bronson dari seberang. Bronson mengambil ponselnya yang satu lagi dari atas meja kemudian membuka pesan masuk. Ternyata Adelia mengirimkan video Evan dan Rico yang sedang tertidur ke ponsel tersebut. Bronson tersenyum melihat video tersebut.


Adelia mendekatkan rokok itu ke bibirnya. Mendengar jawaban Bronson dari seberang. Adelia merasa tidak puas. Adelia lebih menginginkan Evan secepatnya tiada. Adelia tidak ingin melihat Evan dan Anggita bersatu. Bagi Adelia, baik dirinya maupun Anggita harus sama sama tidak memiliki Evan. Adelia menginginkan penderitaan Anggita karena kehilangan Evan sama seperti dirinya yang menderita karena kehilangan cinta dan materi dari Evan.


"Makasih pak. Tentang imbalan. Bisa aku mendapat setengahnya saja malam ini?" tanya Adelia memberanikan diri di tengah rasa kecewa yang dia rasakan. Keuangannya sudah menipis karena memang sumber penghasilannya tidak ada. Adelia benar benar membutuhkan uang saat ini. Beberapa waktu yang lalu. Bronson memberi dirinya uang dan kini uang itu hanya tinggal beberapa lembar merah saja. Selain untuk memenuhi kebutuhannya. Uang itu juga dia gunakan untuk membayar para relasinya sebagai uang muka atas imbalan dalam menjalankan rencana jahat tersebut.


"Besok pagi pasti akan masuk ke rekening kamu Adelia. Tentang saja. Aku adalah orang yang pantang mengingkari janji. Bahkan akan aku transfer double. Kamu sungguh mempunyai kinerja yang sangat bagus. Aku bangga dan senang mempunyai relasi seperti kamu. Setelah rencana ini berhasil. Aku akan Memperkerjakan kamu di perusahaan milikku," jawab Bronson lembut. Tapi suara lembut dan pujian itu tidak sesuai dengan wajah sinis yang tergambar di wajahnya. Bronson mengumpat Adelia dalam hati sebagai wanita yang mata duitan. Bronson pun sebenarnya sedang menghadapi masalah perusahaan. Product milik perusahaannya terancam ditarik dari peredaran. Bronson dianggap sudah melakukan pembohongan publik karena tidak sesuai dengan bahan baku yang digunakan dengan yang tertulis di kemasan. Dan saat ini. Bronson benar benar sibuk melobi petugas pengawasan makanan supaya product tersebut tidak ditarik dari pasaran. Tidak hanya sibuk. Bronson juga harus mengeluarkan uang yang banyak demi productnya tetap bisa bersaing di pasaran. Bronson sengaja memuji Adelia supaya wanita itu yakin kepada dirinya.


"Baik Pak. Tapi seperti janji bapak. Imbalanku kali ini memang harus double. Semua pekerjaan yang bapak berikan. Aku pastikan bisa berhasil," jawab Adelia berubah senang. Bagi dirinya tidak masalah menunggu beberapa jam. Karena setelah rencana mereka itu nantinya berhasil. Wanita itu tidak tergiur dengan perkataan Bronson hendak Memperkerjakan dirinya di perusahaan milik Bronson. Adelia akan menyelamatkan diri dan pergi dari kota ini Adelia tidak ingin lagi masuk penjara. Dia sadar, kejahatan yang disusun serapi mungkin suatu saat pasti bisa terbongkar. Dan Adelia tidak ingin bertanggung jawab atas rencana kejahatan ini. Itulah sebabnya Adelia mengajak mama Anita bekerja sama karena Adelia ingin bermain cantik dan membuat mama Anita sebagai perpanjangan tangannya menjalankan rencana tersebut.


Adelia tertawa. Merasa dirinya sangat pintar karena bisa memanfaatkan mama Anita. Adelia juga melakukan ini karena ada motif dendam kepada mama Anita. Dia membenci mama Anita karena tidak berhasil mempengaruhi Evan untuk menikahi dirinya. Adelia juga dapat merasakan sikap mama Anita berbeda setelah insiden di tangga. Yang paling membuat Adelia membenci mama Anita karena mama Anita tidak mendukung dirinya yang melenyapkan janin Anggita.


"Jika rencana ini terbongkar. Maka kamu yang bertanggung jawab atas semuanya nenek tua," kata Adelia kemudian tertawa. Dia berkata seolah olah mama Anita berada di hadapannya. Bagai orang gila, Adelia tertawa terbahak bahak membayangkan mama Anita mendekam di penjara seperti dirinya dulu. Sedangkan untuk dirinya. Adelia akan bersenang senang menikmati uang dari Bronson.


Adelia berhenti tertawa. Suara sayup sayup yang memanggil dirinya arah luar membuat Adelia bertanya tanya dalam hati siapa yang berkunjung ke rumahnya malam malam begini.


Adelia melangkah ke arah pintu. Suara lembut yang memanggil dirinya membuat Adelia tidak ragu membuka pintu. Wanita itu berpikir jika orang yang sedang berada di luar pintu adalah salah satu tetangga yang mungkin membutuhkan bantuan dari dirinya malam ini.


Adelia baru saja membuka pintu, seseorang yang berada di luar langsung mendorong pintu dengan kasar sehingga Adelia hampir terjatuh dan pria itu langsung masuk ke dalam rumah.


"Aku tidak mempunyai urusan dengan kamu. Pergi dari rumahku," kata Adelia kencang sambil membuka pintu lebar lebar.

__ADS_1


"Ssst, jangan berbicara kencang kencang. Nanti semua tetangga kamu mengetahui kejahatanmu. Tutup saja pintu. Ada hal yang harus kamu pertanggungjawabkan kepada aku," kata pria itu yang tidak lain adalah Dokter Angga. Dokter Angga terlihat memyeramkan dengan sorot matanya yang terlihat sangat marah.


Tidak ingin para tetangganya mengetahui perbuatannya jahatnya Adelia akhir menutup pintu itu. Sama seperti tadi, setelah menutup pintu. Dokter Angga langsung mendorong tubuh Adelia ke dinding dan langsung meletakkan kedua tangannya di leher Adelia.


"Mana gadis itu," tanya Dokter Angga langsung ke inti dari alasan kedatangannya ke rumah ini. Dia melonggarkan lilitan tangannya dari leher Adelia supaya gadis itu bisa menjawab pertanyaannya. Gadis yang dia maksud adalah gadis yang menjadi mainannya di ranjang.


"Gadis mana?" tanya Adelia sok polos. Tapi pertanyaan itu seperti ejekan bagi dokter Angga karena Adelia kemudian tersenyum sinis. Adelia pura pura tidak mengetahui tentang gadis yang dimaksudkan oleh Evan.


"Jangan pura pura tidak tahu kamu Adelia. Gadis itu pernah bercerita jika kamu pernah ke rumah dan mengajak dirinya pergi."


Dokter Angga berkata tajam sambil menunjuk wajah Adelia. Dia sudah berusaha keras supaya gadis yang menjadi mainannya tidak berinteraksi dengan siapapun selain dirinya tapi ternyata Adelia sudah berhasil masuk dan memprovokasi gadis tersebut. Dokter Angga sebenarnya sangat marah mengetahui kedatangan Adelia. Saat itu dirinya hendak langsung memberikan Adelia pelajaran. Tapi karena ada urusan yang lebih penting dan tidak bisa ditunda. Dokter Angga mengurung niat itu. Amarahnya tidak bisa ditahan lagi setelah hilangnya gadis tersebut.


"Ooo itu. Perempuan muda simpanan kamu itu ternyata alasan kedatangan kamu kemari karena itu. Dengar ya dokter Angga. Aku tidak pernah membawa dia pergi dari rumah kamu. Jika dia kabur dari rumah kamu. Itu artinya dia memang benar benar kabur. Lagipula kamu sangat jahat sekali. Kejahatan kamu ternyata tidak hanya bekerja sama dengan Bronson tetapi juga pedofil. Ternyata kamu penjahat perempuan juga. Kamu..."


"Diam Adelia. Aku tidak butuh mendengar ceramah kamu. Yang aku inginkan adalah gadis itu," bentak dokter Angga cepat.


"Kamu salah alamat. Aku tidak mengetahui dimana dia," jawab Adelia. Adelia berusaha mendorong tubuh dokter Angga.


'Jangan salahkan aku berbuat kasar kepada kamu. Aku bertanya baik baik. Dimana gadis itu?" ulang dokter Angga. Perubahan wajah dokter Angga jelas terlihat lebih marah tapi Adelia sepertinya tidak takut.


Dokter Angga merasakan darahnya mendidih mendengar perkataan Adelia. Melihat sikap menantang dari Adelia. Bukannya takut. Dokter Angga justru ingin mendaratkan pukulan di wajah wanita itu.


"Biarlah aku dikatakan banci karena memukul wanita. Aku pastikan kamu wanita pertama yang merasakan nikmatnya kepalan tanganku ini," kata Dokter Angga. Setelah itu, dokter Angga menggerakkan tangannya ke arah wajah Adelia. Berniat mengancam supaya Adelia memberikan informasi tentang keberadaan gadis simpanan miliknya. Tapi sikap Adelia yang masih terlihat menantang membuat kepalan tangan itu akhirnya mendarat sempurna di bibir Adelia.


Adelia merasakan bibirnya sangat sakit. Adelia tidak tahan menahan rasa sakit itu


sehingga wanita itu menangis meraung raung. Dokter Angga terlihat tidak perduli dan tidak menyesal karena membuat wanita itu sudah merasakan kesakitan yang sangat dahsyat.


"Hal yang perlu kamu ketahui Adelia. Tanganku bisa mendarat beberapa kali lagi jika kamu tidak juga berbicara dimana gadis itu berada," ancam dokter Angga. Tapi Adelia tetap pada pendiriannya. Jawaban sama seperti tadi bahwa dia tidak mengetahui dimana keberadaan gadis yang dimaksud oleh dokter Angga.


Melihat Adelia tidak takut dengan ancamannya. Dokter Angga sedikit percaya dengan perkataan wanita itu. Tapi mengingat hanya Adelia orang asing yang pernah datang ke rumahnya membuat dokter Angga tidak percaya sepenuhnya kepada Adelia.


Dokter Angga merampas ponsel yang sedari tadi ada di tangan Adelia. Dokter Angga ingin melihat informasi dari ponsel itu tapi ponsel itu dilengkapi dengan sandi pengaman.

__ADS_1


Adelia berusaha merampas ponsel itu. Tapi tidak berhasil. Hal itu membuat dokter Angga semakin curiga jika di ponsel tersebut ada informasi tentang perempuan yang dia maksud.


Tidak ingin kedatangannya sia sia ke rumah ini. Dokter Angga akhirnya bermain main sedikit dengan Adelia. Dia membuka hoodie dari tubuhnya kemudian mengikat tangan Adelia. Membuat wanita itu duduk di sofa tanpa bisa berbuat apa apa karena kedua tangannya terikat ke belakang sedangkan kakinya diinjak oleh dokter Angga.


"Aku bisa percaya jika kamu tidak mengetahui dimana gadis itu. Tapi aku tidak mungkin percaya jika kamu mengatakan tidak mengetahui Sandi pengaman ponsel ini kan?" tanya dokter Angga sambil menyodorkan ponsel itu supaya Adelia menekan sandi pengaman.


"Sampai kiamat pun. Aku tidak akan memberitahu kamu Sandi pengaman ponsel itu."


"Kalau begitu. Mana kamu pilih. Pemantik ini akan membakar rambut kamu atau wajah kamu," ancam Dokter Angga. Di tangannya sudah ada pemantik milik Adelia yang siapa membakar wajah ataupun rambut Adelia.


"Jangan gila kamu dokter Angga. Bukankah gadis itu tidak berharga bagi kamu dan dia hanya mainan kamu. Jangan karena gadis itu kamu masuk penjara. Pergilah dari rumah ini tanpa menyiksa atau mengancam aku. Aku akan menganggap kejadian ini tidak pernah ada jika kamu pergi secepatnya dari tempat ini. Dokter Angga..."


Belum selesai Adelia berbicara. Dokter Angga mendekatkan pemantik berapi itu ke wajah Adelia. Wanita itu berteriak dan berusaha menjauhkan wajahnya dari api pemantik. Tapi dokter Angga semakin senang bermain main dengan wanita jahat itu. Dokter Angga mendekatkan api pemantik itu ke rambut Adelia.


"Baik. Baik dokter Angga. Aku akan memberitahukan Sandi pengaman ponsel itu."


Dokter Angga langsung menjauhkan api pemantik dari wajah Adelia. Dia menekan Angka yang menjadi sandi pengaman yang disebutkan Adelia.


Dokter Angga membuka aplikasi di ponsel itu. Dia tidak menemukan informasi apapun yang berkaitan dengan wanita yang dia cari. Tapi chat Adelia kepada beberapa orang membuat Dokter Angga marah. Dia membaca chat yang memberikan informasi tentang Evan dan Rico yang sudah dilumpuhkan. Dokter Angga juga membaca tentang rencana yang akan dilaksanakan besok.


"Kurang ajar kamu Adelia," kata dokter Angga marah. Dia memasukkan ponsel milik Adelia ke sakunya dan berlalu dari tempat itu tanpa membuka ikatan di tangan Adelia.


"Maling," teriak Adelia. Adelia tidak akan membiarkan dokter Angga pergi membawa ponsel berisi rahasia itu. Dia berharap para tetangganya mendengar teriakannya untuk menangkap dokter Angga. Tapi Seketika itu juga dokter Angga berbalik dan kemudian mendaratkan kepalan tangannya di bibir Adelia. Adelia merasakan kesakitan yang luar biasa.


"Mulut kamu ini perlu dirusak. Karena mulut kamu ini tidak pernah berkata jujur. Berani kamu teriak maling sekali lagi. Maka mulut kamu tidak hanya rusak. Tapi aku pastikan akan bisu selamanya. Jadi sayangi nyawa dan bibir kamu ini. Bibir kamu ini mungkin penting bagi Bronson nantinya setelah pria laknat itu bankrut. Kamu dan Bronson cocok jadi pasangan. Sama sama laknat."


Dokter Angga kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Adelia yang masih menangis tertahan karena sakit yang luar biasa itu. Dan wanita itu juga tidak sanggup lagi untuk berteriak memaki dokter Angga.


Dokter Angga masuk ke dalam mobil dengan tergesa gesa. Dia membawa ponsel itu sambil berusaha menghubungi Evan. Panggilan tidak terjawab kemudian dokter Angga berusaha menghubungi Anggita. Tapi ternyata wanita itu sudak memblokir nomornya.


Hanya beberapa menit berkendara. Akhirnya dokter Angga tiba di depan kantor Evan. Pria itu langsung masuk dan langsung menuju pos satpam.


"Pak, apa Pak Evan masih di gedung?" tanya dokter Angga kepada satpam itu. Dokter Angga benar benar khawatir akan Evan.

__ADS_1


"Baru beberapa menit yang lalu ibu Anggita dan temannya menjemput pak Evan dan Pak Rico," jawab satpam itu.


"Apa terjadi sesuatu kepada pak Evan dan Pak Rico sehingga harus dijemput?" tanya dokter Angga. Satpam itu juga akhirnya menceritakan apa yang terjadi kepada dokter Angga.


__ADS_2