
Seperti keinginan Danny. Salsa dan Nia akhirnya bisa dan semakin dekat. Nia tidak kuasa menolak kedatangan papa dan putri itu di rumah miliknya. Setiap datang. Sisil terlihat sangat senang dan akan merasa berat jika tiba waktunya pulang. Sikap perduli yang ditunjukkan oleh Nia dan kesabarannya menghadapi Sisil yang sangat manja. Membuat anak kecil itu selalu menginginkan berada di dekat Nia.
Danny sangat senang. Harapannya mendapatkan seorang wanita yang bisa menerima Sisil dan bisa diterima Sisil ada pada diri Nia. Hampir setiap hari mereka bertemu di dalam tiga minggu ini.
"Papa, Kita ke rumah tante Nia sekarang," kata Sisil. Hari ini adalah hari minggu. Mereka sedang berada di rumah nenek Rieta. Cahaya juga ada di rumah itu tapi tidak membuat Sisil betah seperti sebelum sebelumnya.
"Kok, ke rumah tante Nia. Adek Cahaya ada disini loh?" kata Anggita sambil menunjuk Cahaya yang sedang berada di pangkuan tante Tiara.
"Tadi sudah main sama adek. Tapi adeknya Mana bisa diajak main. Tante Nia bisa diajak main," jawab Salsa dengan gerak gerik tubuhnya yang menggemaskan.
"Emang di rumah tante Nia. Main apa saja?" ? tanya Nenek Rieta. Dia sudah mendengar dari Tante Tiara jika Danny selalu membawa Sisil ke rumah Nia. Nenek Rieta penasaran apa yang membuat Sisil betah disana.
"Banyak. Main boneka. Main masak. Main bedak."
"Main masak. Main bedak?" tanya Nenek Rieta semakin penasaran.
Danny akhirnya menceritakan apa yang dimaksudkan oleh Sisil. Sisil membawa satu set mainan masak masakan ke rumah Nia. Dan disana Nia ikut menemani Sisil bermain masak masakan. Nia juga bersedia menjadi korban Sisil dalam permainan main bedak.
"Nia sesabar itu menghadapi Sisil?" tanya Nenek Rieta. Danny menganggukkan kepalanya. Karena Setiap dia dan Sisil ke rumah Nia. Dirinya menjadi penonton bagi Nia dan Sisil.
"Nia memang orangnya sabar nek," kata Anggita. Anggita pun menceritakan bagaimana Nia sangat sabar merawat dirinya ketika ngidam di kehamilan pertama. Saat itu, dirinya menginap beberapa hari di kafe pelangi dan Nia yang selalu membuatkan sarapan pagi kepada dirinya dan terkadang juga membuat susu hamil kepada dirinya.
"Ternyata Nia sangat cocok menjadi ibu sambung bagi Sisil. Mengapa aku langsung menolaknya begitu saja dulu," kata nenek Rieta dalam hati. Sungguh dirinya menyesal karena langsung menuduh Nia dengan kata kata hina yang keluar dari mulutnya tanpa menyelidiki terlebih dahulu. Apalagi setelah mengetahui jika Nia melakukan itu karena tekanan dari mama Anita.
"Nia juga bukan orang yang pendendam. Atas sakit hati dari keluarga kita dan hinaan dari tetangganya tidak membuat Nia mendendam kepada Danny. Bahkan Nia bersedia memaafkan Danny dan keluarga kita. Nia adalah sahabat dari Anggita. Dari awal aku sudah menilai wanita itu baik karena istriku pasti berteman dengan orang yang baik," kata Evan sambil merangkul bahu Anggita yang duduk di sofa bersebelahan dengan dirinya.
Diantara Anggota keluarga itu. Bisa dikatakan jika Anggita dan Evan sangat senang mengetahui jika Danny dan Nia akan menikah. Anggita menginginkan Nia bahagia, dan wanita itu sangat yakin jika Danny pasti perlahan lahan akan mencintai Nia nantinya. Anggita juga menilai Danny adalah sosok pria baik. Danny sudah membuktikan kebaikannya ketika Anggita terpisah dari Evan. Jika kenyataannya seperti ini. Anggita sangat yakin jika keadaan yang membuat mereka harus mengalami kisah pahit itu. Karena sejatinya manusia tidak ada yang sempurna. Manusia yang baik pun akan menghadapi cobaan bahkan cobaan bagi orang baik akan lebih terasa berat.
Nenek Rieta setuju dengan apa yang dikatakan oleh Evan. Jika mengingat perlakuan mereka di masa lalu. Harusnya Nia mengusir mereka sewaktu di klinik kemarin. Nia bersikap baik atas kedatangan mereka itu walau pemberiannya ditolak. Dalam hati, Nenek Rieta akan memperlakukan Nia dengan baik sama seperti memperlakukan Anggita jika Nia sudah resmi menjadi bagian dari Anggita keluarga mereka.
"Pa, ayo berangkat."
Pembicaraan tentang Nia harus teralihkan karena rengekan Sisil yang mendesak Danny untuk berangkat sekarang juga. Bahkan anak kecil itu sudah menarik tangan Danny supaya pria itu berdiri.
"Jangan sekarang ya, sayang. Besok saja," kata Danny. Mereka berkumpul di rumah nenek Rieta saat ini bukan untuk berkumpul biasa tapi ada hal yang mereka bicarakan menyangkut pernikahan Danny dan Nia yang sudah tinggal satu minggu lagi sesuai kesepakatan Nenek Rieta, Gunawan dan Danny yang akhirnya setuju menggelar pernikahan itu di akhir bulan depan yang artinya tinggal satu bulan lagi.
Sisil merajuk. Wajahnya sudah hampir menangis karena keinginannya tidak dituruti. Tante Tiara sudah berusaha membujuk anak kecil itu tapi tidak berhasil. Keinginan hanya satu yaitu ke rumah Nia.
__ADS_1
"Bagaimana, kalau Nia saja dijemput kemari. Aku rasanya kondisinya pasti sudah membaik. Sudah tiga minggu lepas persalinan," kata Gunawan. Melihat bagaimana keinginan Sisil ke rumah Nia. Gunawan harus memberikan pendapat itu supaya pembicaraan tentang pernikahan dan keinginan cucunya bisa terlaksana bersamaan.
"Setuju. Biarkan Danny yang menjemput Nia. Ditemani Sisil juga tidak apa apa," kata nenek Rieta. Yang lain setuju tapi tidak Rendra. Pria itu terlihat menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu yakin menikahi Nia Danny. Jikapun yakin, aku rasa itu sudah terlambat. Bayi kamu sudah meninggal. Hanya aku takut, kamu menikahi Nia tanpa cinta. Yang nantinya akan menyakiti wanita itu. Jangan buat Nia sebagai pelarian kamu karena tidak mendapatkan Salsa," kata Rendra.
Entah mengapa beberapa hari ini, Rendra memikirkan Nia. Bukan karena ada rasa yang lain. Tapi Rendra merasa sangat kasihan kepada wanita itu. Menjalani kehamilan tanpa suami dan diluar nikah bukanlah hal mudah. Apalagi menikah dengan orang yang menjadikan dirinya sebagai pelarian. Rendra khawatir Nia nantinya akan tertekan batin.
"Aku sangat yakin om. Jikapun belum ada cinta. Aku rasa Nia pasti akan maklum. Yang terpenting yang bisa aku pastikan aku tidak akan mempermainkan pernikahan itu," kata Danny. Melihat kedekatan Sisil dan Nia. Tidak ada keraguan di dalam hati Danny. Dan Danny yakin jika Nia menjebak dirinya karena wanita itu mempunyai rasa cinta kepada dirinya.
"Evan dan Anggita juga dulu menikah tanpa cinta. Tapi lihat sekarang. Mereka saling mencintai. Sebentar lagi mereka akan mempunyai dua anak," kata nenek Rieta. Dia sudah mulai jatuh hati kepada Nia setelah melihat perjuangan wanita itu dan mendengar bahwa Sisil dan Nia bisa dekat.
"Sudah, tunggu apa lagi. Jemput calon mantuku sekarang juga," kata Gunawan. Pria itu bahkan menggelengkan tangannya menyuruh Danny secepatnya menjemput Nia. Melihat Danny berani dari duduknya. Sisil bersorak senang. Anak kecil itu berlari dan mendahului langkah Danny. Suaranya terdengar di penjuru rumah itu menyuruh Danny cepat berjalan.
Sepanjang perjalanan itu. Sisil terlihat bahagia. Anak kecil itu bernyanyi riang dan terkadang menyebutkan permainan apa yang hendak dimainkan oleh dirinya dan Nia nantinya.
Perjalanan itu akhirnya berakhir di depan rumah Nia. Rumah tak berpagar itu terlihat sepi dan pintu rumahnya tertutup. Danny merasa heran karena rumah itu tidak seperti itu biasanya. Danny langsung cepat cepat menurunkan kakinya dari mobil tanpa memperdulikan Sisil yang belum juga membuka mobil.
"Nia," panggil Danny sambil mengetuk pintu rumah itu. Tidak ada sahutan membuat Danny berkali Kali mengetuk dan memanggil namanya Nia.
"Nia," panggil Danny lagi lebih kencang. Berharap ada yang menjawab dan harapannya itu menjadi kenyataan. Tapi sayang bukan Nia yang menjawab melainkan orang yang muncul dari rumah sebelah.
"Cari Nia Pak?" tanya wanita itu. Bersamaan dengan itu tetangga yang lain juga muncul dari rumah masing masing.
"Ya bu. Kemana mereka ya?" tanya Danny.
"Mereka bertiga sudah pindah pak," jawab wanita itu. Seketika itu juga Danny merasakan sendi sendinya tidak bertulang.
"Pindah kemana bu?" tanya Danny. Dia berharap Nia menitipkan pesan kepadanya lewat para tetangga itu.
"Mungkin ke luar Kota. Mereka menjual semua perabotannya," jawab wanita itu membuat Danny semakin lemas.
"Kapan mereka pindah," tanya Danny lagi pelan. Kesedihan dan terkejut akan situasi ini membuat Danny merasa tidak berdaya hanya untuk berbicara kuat.
"Apa Pak?"
"Kapan mereka pindah?" ulang Danny.
__ADS_1
"Tadi pagi kira Kira jam sembilan pak."
Danny terduduk di bangku kayu di depan rumah Nia. Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Yang pasti lebih sedih dibandingkan dengan melepas kepergian bayi laki lakinya.
"Aku rasa. Ini yang terbaik bagi Nia dan adik adiknya. Hanya karena perbuatan buruk Nia. Adik adiknya juga dicap menjadi wanita murahan seperti Nia. Padahal kan belum tentu. Nia juga mungkin terpaksa menjual diri demi menghidupi adik adiknya."
Danny merasakan hatinya berdenyut nyeri mendengar perkataan salah satu tetangga Nia itu. Ternyata penjebakan Nia yang dilakukan kepadanya jauh lebih buruk dari pandangan para tetangga kepada wanita itu.
"Aku rasa juga memang lebih baik Nia pindah dari tempat ini. Aku kasihan kepada dia yang selalu menjadi bahan gosip diantara kita. Padahal kan belum tentu Nia sebagai wanita bayaran. Bisa saja, dia dihamili oleh pacarnya sendiri tapi sang pacar tidak bertanggung jawab."
"Aku sangat yakin. Nia adalah wanita panggilan. Bayinya yang meninggal itu adalah teguran bagi dia supaya tidak berdosa lagi."
"Benar, untung saja wanita itu cepat pindah dari tempat ini. Bahkan setelah melahirkan pun. Banyak tetangga yang menginginkan dia pergi. Kenapa gak dari dulu saja ya."
"Mungkin Nia masih menunggu hati nurani ayah dari bayi itu untuk bertanggung jawab. Setelah bayi meninggal tidak ada alasan apa lagi meminta pertanggungjawaban kepada laki laki Pemilik benih. Karena sudah terlanjur malu ditempat ini. Makanya dia pindah. Itu sih menurut analisaku. Benar atau tidak. Hanya Nia yang tahu."
Danny sengaja duduk mendengar perkataan perkataan para tetangga itu. Ternyata Nia tidak nyaman selama mengandung hanya karena perkataan perkataan para tetangganya. Danny mengepalkan tangannya ketika salah satu dari ibu ibu itu menyebut Nia sebagai wanita panggilan. Tapi ketika mendengar pendapat salah satu dari ibu itu yang mengatakan jika Nia bertahan di rumah itu menunggu tanggung jawab dirinya sebagai Pemilik benih. Danny merasa sangat sedih. Walau perkataan itu hanya sekedar pendapat. Danny menyakini pendapat wanita itu. Hanya karena menunggu tanggung jawabnya. Nia rela merasakan ketidaknyaman itu.
"Ibu, ibu. Ada satu hal yang harus kalian ketahui. Nia bukan wanita panggilan atau bayaran. Akulah ayah dari janin yang dia kandung."
Danny akhirnya membuat pengakuan yang sejujurnya karena tidak ingin para ibu itu memandang Nia negative. Para ibu ibu itu tentu saja terkejut mendengar pengakuan itu
"Kalau kamu ayah dari janin yang dikandung Nia. Mengapa kamu tidak bertanggung jawab. Laki laki seperti apa kamu?" tanya seorang wanita sinis. Danny tiba tiba gugup. Tidak mungkin dirinya mengatakan tentang penjebakan itu. Jika dia mengatakan itu. Penilaian para tetangga itu akan tetap negative kepada Nia.
"Itu bukan urusan kalian. Yang pasti aku tidak akan terima mendengar kalian mengatakan Nia sebagai wanita bayaran. Kami sudah merencanakan pernikahan beberapa minggu lagi," kata Danny. Tapi setelah mengatakan itu. Danny tidak dapat mengatakan apa apa lagi. Hatinya kembali bersedih karena mungkin pernikahan itu tidak akan pernah terjadi. Nia pergi tanpa pamit. Itu artinya wanita itu tidak ingin menikah dengan dirinya.
"Dan satu lagi. Aku minta tolong kepada kalian. Siapa pun diantara kalian yang mengetahui kemana Nia pindah. Tolong beritahu aku. Aku akan memberikan hadiah jika informasinya akurat," kata Danny setelah beberapa menit terdiam. Dia mengulurkan kartu nama kepada salah satu wanita itu.
"Tolong ya bu." Para ibu ibu mengangguk kepala.
"Papa, tante Nia kemana?" tanya Sisil sedih yang sudah berdiri di hadapan Danny. Anak kecil itu sudah hampir menangis. Sisil mengerti jika Nia tidak ada di rumah itu.
"Tante Nia pergi belanja sayang. Ayo kita susul."
Danny belum melangkah dari tempat itu. Para ibu ibu tetangga itu sudah menduga duga jika Nia dihamili oleh pria beristri.
"Berarti Nia adalah pelakor," bisik salah satu ibu ke ibu lainnya.
__ADS_1