Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 96


__ADS_3

"Pak Evan, Anggita. Aku mohon. Apapun yang sudah kalian ketahui tentang aku dan tante Anita hari ini. Cukup hanya Kita bertiga yang mengetahui," kata Nia. Dia sedikit merasa lega karena pada akhirnya Evan dan Anggita mengetahui apa yang dilakukan oleh mama Anita kepada dirinya.


"Mengapa seperti itu Nia. Tidakkah kamu ingin memulihkan nama baik kamu?" tanya Evan. Nia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Ancaman tante Anita memang menjadi alasan utama untuk menjebak Danny. Tapi setelah aku merenung. Tidak seharusnya aku melakukan hal itu. Untuk saat ini memang hatiku hancur karena perbuatanku sendiri. Aku ketakutan menghadapi dunia luar. Tapi aku sudah sangat ikhlas menerima takdir ini," kata Nia. Dia tidak ingin dianggap membuat drama lagi. Cukup jebakan dan dehidrasi tempo hari yang membuat dirinya seperti tidak punya harga diri.


"Kamu yakin Nia?" tanya Anggita. Nia menganggukkan kepalanya. Sejak tadi. Nia sudah memikirkan jalan apa yang harus diambil untuk terhindar dari mama Anita dan terhindar dari rasa malu akibat kehamilan di luar nikah.


"Baiklah, jika itu mau kamu," jawab Evan. Pria itu juga sudah memikirkan langkah apa yang akan diambil untuk membuat mama Anita merasakan karma dunia.


"Ayo, sayang. Kita pulang," kata Evan sambil menepuk tangan Anggita pelan. Anggita menganggukkan kepalanya. Sepasang suami istri itu serentak beranjak dari duduknya.


"Pak Evan. Bisakah aku berbicara hanya empat mata dengan Anggita?" tanya Nia. Nia merasa gugup ketika Evan menatap dirinya penuh tanda tanya. Tapi beberapa detik kemudian. Nia merasa lega. Karena Evan mengijinkan dan memberikan waktu Lima belas menit untuk dua wanita itu berbicara empat mata. Dan Evan memutuskan menunggu Anggita di dalam mobil.


Setelah Evan meninggalkan ruang tamu itu. Nia tidak dapat untuk menahan tangisan. Wanita itu memeluk Anggita dengan erat. Tangisan yang dia sembunyikan dari kedua adiknya selama ini akhirnya tertumpah ruah di pundak sahabatnya Anggita.


Anggita ikut menangis merasakan kesedihan sahabatnya itu. Anggita sadar jika dirinya bukan sosok sahabat yang selalu ada bagi Nia di saat sahabatnya itu ada masalah seperti ini. Berbeda dengan Nia yang selalu ada bagi dirinya di saat Anggita ada masalah di Masa lalu.


"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Anggita setelah tangisan Nia mulai mereda. Nia menganggukkan kepalanya kemudian melepaskan pelukan itu dari tubuh Anggita.


"Anggita. Maafkan aku yang membuat kekacauan di dalam keluarga kamu."


"Ssstt, jangan berkata seperti itu. Apapun perbuatan kamu di masa lalu tidak akan bisa diubah lagi. Yang terpenting sekarang. Pikirkan jalan keluar dari masalah ini."

__ADS_1


Dua sahabat itu menggunakan waktu Lima belas menit itu sebaik mungkin. Nia menceritakan rencana yang akan dia lakukan sedangkan Anggita setuju dengan keputusan wanita itu. Nia lebih merasa nyaman bercerita kepada Anggita daripada kepada kedua adiknya itu.


"Aku mendukung hal positif apapun yang kamu lakukan," kata Anggita. Dia mengerti akan kesedihan wanita itu. Bukan hanya kesedihan Nia. Anggita juga mengerti akan situasi sang sahabat dalam hal keuangan.


"Terima ini. Jangan lihat dari statusku sebagai Anggota keluarga besar kakek Martin. Tapi lihat dari persahabatan kita," kata Anggita. Wanita itu memberikan selembar cek yang sudah dia persiapkan sebelumnya.


Anggita menganggukkan kepalanya melihat Nia yang terlihat ragu menerima cek itu. Anggita meraih tangan Nia dan meletakkan selembar cek itu ke telapak tangan Nia.


"Selagi kita masih hidup pasti membutuhkan uang. Kamu melangkah ke luar atau kemana pun dengan kantong kosong pasti akan menemui kesulitan. Tidak semua orang beruntung mendapatkan bantuan dari orang yang tidak dikenal. Ambil ini. Jika tidak ingin menggunakannya setidaknya kamu menerima ini hanya untuk berjaga jaga," kata Anggita meyakinkan Nia. Nia akhirnya menerima pemberian sahabatnya itu.


"Terima kasih Gita," kata Nia dengan air mata yang bercucuran tapi bibirnya berusaha menyunggingkan senyum. Anggita mengulurkan tangannya mengusap air Mata di kedua pipinya sahabatnya. Kemudian Anggita pergi dari hadapan Nia tanpa berkata kata karena dirinya tidak tahan melihat kesedihan sang sahabat.


Sore harinya, di tempat yang berbeda. Seorang pria terlihat menunggu seseorang di dalam mobil. Pria itu sangat berharap pujaan hatinya bersedia pulang bersama hari ini.


Rendra menyunggingkan senyumnya melihat wanita pujaan hatinya sedang berjalan ke arah mobil. Rendra bersorak bahagia melihat pintu mobilnya dibuka Anna dari luar.


Rendra menjalankan mobilnya dengan bersiul. Jiwa muda yang sudah lama hilang seakan kembali hanya dengan duduk berduaan dengan Anna dalam mobil. Sedangkan Anna juga berubah menjadi gadis remaja yang bersikap malu malu.


"Sebelum pulang, apa kamu berencana untuk singgah di suatu tempat?. Misalnya swalayan atau singgah di kafe sebentar?" tanya Rendra. Pria itu ingin berlama lama berduaan dengan wanita itu. Dia berharap Anna mengerti akan tujuan pertanyaan itu.


"Langsung pulang saja pak."


"Baiklah. Lain kali. Boleh kan kalau aku mengajak kamu bukan sekedar mengantar pulang seperti ini. Makan malam misalnya."

__ADS_1


"Boleh pak. Tapi jangan mendadak ya," jawab Anna. Rendra tersenyum senang. Rendra sangat bahagia. Dia tidak mengetahui jika di belakang mobilnya. Mobil mama Anita sedang mengikuti mobilnya.


"Ternyata Nia benar. Pria tua tengik ini ternyata gerak cepat juga mencari gebetan," umpat mama Anita sambil memukul setir mobilnya. Dia merasa geram dan marah dengan sikap Rendra yang terlalu cepat melupakan dirinya. Setelah mendengar pengakuan Nia. Mama Anita merasa penasaran dengan perkataan Evan akan, rencana pernikahan Rendra. Mama Anita merasa janggal dengan apa yang dia dengar dari Evan yang berlawanan dengan pengakuan Nia. Itulah sebabnya. Mama Anita memutuskan untuk mencari sendiri tentang kehidupan Rendra saat ini.


Mama Anita menghentikan mobilnya tidak jauh dari mobil Rendra yang juga berhenti di depan rumah bercat abu abu. Dia merasa kesal karena setelah mobil itu berhenti Rendra tidak langsung keluar. Mama Anita sudah memikirkan hal hal lain yang dilakukan oleh mantan suaminya itu bersama Anna.


Mama Anita merapatkan giginya melihat Anna yang sudah turun dari mobil Rendra. Dia semakin kesal melihat Anna membalas lambaian tangan Rendra sebelum pergi dari depan rumah itu.


Setelah mobil Rendra tidak terlihat lagi. Mama Anita menurunkan kakinya dari mobil. Dia melangkah cepat ke arah ke gerbang rumah Anna.


"Permisi, permisi," kata mama Anita setengah berteriak. Rahangnya mengeras melihat Anna yang sudah terlihat membuka pintu dan berjalan ke dekat gerbang dimana dirinya sedang berdiri.


"Maaf, mencari siapa bu?" tanya Anna sopan.


"Mencari kamu," jawab mama Anita ketus. Anna mengerutkan keningnya.


"Mencari aku. Ada apa ya bu?" tanya Anna bingung tapi wanita itu masih bersikap sopan.


"Iya. Mencari Kamu."


"Ada perlu apa bu?. Maaf, aku tidak mengenal ibu."


"Sama. Aku juga tidak mengenal kamu. Aku menemui kamu saat ini hanya untuk memberikan peringatan. Jangan coba coba mendekati atau bersedia didekati oleh Rendra. Kami masih proses dalam perceraian. Jika kamu tidak memperdulikan apa yang aku katakan ini. Maka kamu akan menerima sanksi sosial dari aku karena aku akan menjuluki dan mengumumkan kami sebagai pelakor." kata mama Anita. Setelah selesai berkata kata. Mama Anita menancapkan kuku panjangnya ke punggung tangan Anggita.

__ADS_1


"Anna menarik tangannya karena merasa kesakitan akan tangannya yang tertancap kuku mama Anita.


"Ini masih permulaan. Berani kamu melawan atau tidak patuh dengan apa yang aku katakan tadi. Kamu akan melihat sendiri bagaimana kekuatan wanita tersakiti."


__ADS_2