Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Kejujuran Danny


__ADS_3

Patah hati tidak hanya dirasakan oleh kaum muda. Rendra, pria tua itu juga merasakan patah hati akibat kegagalan pernikahan itu. Tapi dia bisa menyikapi patah hati itu dengan baik. Rendra memilih mengikhlas kegagalan pernikahan itu daripada terus menghakimi Nia. Pria itu bisa menerima jika apa yang terjadi antara Nia dan Danny adalah sebagai jalan dirinya tidak berjodoh dengan Nia.


Setelah tiga hari berlalu sejak pesta pernikahan Evan dan Anggita digelar. Rendra sudah bisa terlihat lebih bersemangat. Bahkan pria itu memperlakukan Danny dengan baik seakan akan tidak ada masalah diantara mereka. Hal itu bisa membuat Danny merasa lega. Sedangkan Evan, hampir setiap hari menyempatkan waktunya untuk berkomunikasi dengan Rendra. Memastikan jika papanya dalam keadaan baik.


Dan pagi ini, hari pertama bekerja menyandang gelar suami. Evan menyempatkan diri untuk bertemu dengan Rendra. Anggita yang mengetahui jika suaminya itu akan singgah di rumah nenek Rieta juga merengek minta ikut ke rumah sang nenek.


Anggita disambut heboh oleh nenek Rieta. Wanita itu merasa surprise karena kedatangan Anggita tanpa dikabari terlebih dahulu.


"Para kesayangan nenek," kata Nenek Rieta sambil membentangkan tangannya. Anggita langsung menghambur ke pelukan sang nenek. Evan sangat senang melihat wajah ceria neneknya dan Anggita.


"Bawa Cahaya ke kamar atas. Sisil dan Danny ada di atas," kata Nenek Rieta setelah puas mencium wajah Cahaya. Evan naik ke atas sedangkan Anggita dan nenek Cahaya sudah duduk di ruang keluarga dengan pembicaraan yang sangat menarik bagi mereka.


Evan memasuki kamar yang menjadi kamar Sisil.


"Sisil, lihat. Om bersama siapa sekarang," kata Evan. Sisil menoleh dan ketika melihat Cahaya. Sisil melompat kegirangan. Beberapa hari tidak bertemu dengan Cahaya membuat Sisil sangat merindukan Cahaya.


"Om, Adek Cahaya nanti pulang ke rumah oma ya!, kata Sisil.


"Kenapa adik Cahaya harus pulang ke rumah oma?"


"Supaya mama Ita juga tinggal di rumah oma," jawab anak kecil itu polos. Sisil memang memanggil Anggita dengan mama Ita. Awalnya Anggita risih dengan panggilan itu tapi melihat kerinduan Sisil akan kasih sayang seorang mama membuat Anggita tidak tega melarang Sisil.


"Sisil. Mama Ita sudah menjadi istri om sekarang. Jadi om dan mama Ita harus tinggal di rumah yang sama. Mama Ita tidak boleh tinggal di rumah oma."


Evan mencari kata kata yang tepat untuk menjelaskan kepada Sisil.


"Om, mengapa mama Ita menikah dengan om. Mengapa tidak menikahi dengan papa aku saja?" tanya Sisil. Evan merasa kewalahan menjawab pertanyaan anak kecil tersebut.


"Om jawab donk," kata Sisil. Evan sudah berpura pura tidak mendengar perkataan keponakannya itu tapi Sisil mendesak dirinya untuk menjawab.


"Karena om sangat mencintai mama Ita," jawab Evan jujur. Dia tidak perduli Sisil mengerti atau tidak yang penting dirinya sudah memberikan jawaban yang jujur. Selain itu tidak ada jawaban lain yang cocok di jelaskan untuk anak kecil seperti Sisil.


"Mencintai itu apa om?" tanya Sisil lagi.


"Mencintai itu artinya sayang."


"Papa juga sayang mama Ita. Jadi papa bisa donk menikah dengan mama Ita. Sisil tidak sabaran tinggal bersama dengan mama Ita."


Evan tertegun mendengar perkataan keponakannya.


"Darimana Sisil mengetahui papa Danny sayang pada mama Ita."

__ADS_1


"Kan papa yang bilang."


"Kapan, papa Sisil berkata sayang dengan mama Ita."


"Sudah lama sekali om."


"Kamu pernah lihat tidak, foto mama Ita di ponsel papa Danny."


"Pernah. Foto di supermarket," jawab Sisil membuat Evan semakin tidak tenang. Pria itu memanggil pengasuh Sisil dan menitipkan Cahaya kepada pengasuh tersebut.


Evan keluar dari kamar Sisil itu dengan perasaan campur aduk. Dia langsung mencari Danny di kamarnya. Dan benar saja, pria itu berada di kamar tersebut dengan penampilan kurang rapi bahkan bisa dikatakan belum membersihkan diri.


"Danny, apa kamu tidak bekerja?" tanya Evan setelah pintu terbuka. Danny yang sedang berdiri dekat jendela langsung membalikkan tubuhnya.


"Apakah ada gunanya merokok?" tanya Evan tajam. Danny spontan membuang puntung rokok itu ke luar jendela. Pria itu berjalan mendekati Evan dan duduk di sofa panjang yang ada di kamar itu.


"Apa yang kamu pikirkan hingga harus merokok seperti tadi?" tanya Evan tajam. Kakek Martin semasa hidupnya mengingatkan Evan dan Danny tidak boleh merokok. Kakek Martin tidak ingin Evan dan Danny seperti dirinya yang harus merasakan dampak dari merokok yaitu menderita kanker paru paru.


"Aku hanya ingin melupakan masalah hidupku sebentar bro," jawab Evan kemudian menyandarkan punggung ke sandaran sofa.


"Masalah yang mana yang ingin kamu lupakan. Apa masalah kamu berkaitan dengan Anggita istriku atau masalah kamu dengan Nia?.


"Maksud kamu?"


"Untuk apa?" tanya Danny bingung.


"Buka atau aku pecahkan ponsel kamu itu." Danny tidak mau ribut. Evan terlihat tidak main main dengan perkataannya. Danny membuka layar ponselnya walau hatinya penuh tanda tanya akan perintah kakaknya itu. Kini jari jari Evan bergerak lincah di atas layar ponsel milik Danny.


"Jelaskan tentang foto ini," kata Evan setelah mengirimkan foto itu terlebih dahulu ke ponselnya. Danny mengulurkan tangannya mengambil ponsel itu dari tangan Evan. Dia melihat foto yang terpampang di layar ponselnya.


"Darimana kamu mengetahui jika foto Anggita ini ada di ponselku," tanya Danny heran.


"Itu tidak penting. Aku hanya butuh penjelasan saat ini."


"Foto itu aku ambil ketika kami bertemu pertama kali di supermarket. Mengapa aku mengambil fotonya. Karena pertama kali aku bertemu dengan wanita yang sama penyuka Kiwi. Kami memperebutkan buah Kiwi dan Anggita mengatakan dirinya hamil untuk mendapatkan kiwi tersebut. Aku tidak mengalah. Tapi setelah dia hilang dari pandangan aku. Aku merasa kasihan. Aku sengaja menunggu dirinya di area kasir. Aku mengambil foto itu disana. Aku memberikan akhirnya memberikan Kiwi itu. Supaya kamu tidak salah paham. Sebenarnya aku sudah tertarik pertama kalinya melihat Anggita. Tapi sayang, rasa tertarik itu berubah menjadi rasa sayang ke saudara sendiri setelah mengetahui bahwa Anggita adalah istri yang tidak kamu inginkan saat itu," jawab Danny jujur.


"Ini kejujuran atau usaha untuk menutupi perasaan yang sebenarnya."


"Jangan salah paham kamu bro. Anggita memang istri kamu. Tapi kamu tidak bisa melarang orang jatuh cinta kepada dirinya. Jika kamu ingin langgeng. Pastikan kamu membuat Anggita hanya mencintai kamu tanpa menoleh ke pria lain. Ingat, banyak yang antri jika kamu kembali menyakiti Anggita."


"Termasuk kamu."

__ADS_1


"Kok tahu," jawab Danny menjahili kakaknya. Evan memukul jidat adiknya itu dengan jari telunjuknya.


"Masalah apa sebenarnya yang kamu pikirkan?" tanya Evan. Dia tidak menperpanjang foto yang ada di ponsel adiknya itu. Evan percaya jikapun Danny mencintainya istrinya. Danny tidak akan tega merusak rumah tangganya.


"Aku merasa bersalah kepada janin itu kak. Aku sangat perhatian bahkan berusaha keras menjaga Cahaya sejak di kandungan. Aku tidak ingin terjadi apa apa kepada putri kandung kamu itu tapi situasi yang sama kini harus dialami oleh darah dagingku. Aku sebagai papa kandungnya tidak bisa menjaganya sejak di kandungan. Nasib Cahaya dengan janin itu hampir sama. Sama sama tidak mendapatkan kasih sayang papanya sejak di kandungan."


"Jadi apa rencana kamu. Apa kamu ingin menentang orang tua kita demi memberikan kasih sayang kepada janin itu sejak di kandungan?"


"Tidak kak.. Itulah yang aku bingungkan. Menentang orang tua tidak ada dalam daftar hidupku. Tapi untuk berusaha dekat dengan Nia hanya untuk memberikan rasa sayangku kepada janin itu rasanya tidak mungkin. Aku takut Nia berharap lebih," kata Danny. Pertemuan terakhir dirinya dengan Nia. Danny merasa jika Nia terobsesi pada dirinya sehingga melakukan perbuatan kotor itu.


"Danny, aku ada saran. Aku rasa saran ini bisa menguntungkan kalian berdua. Bagaimana kalau kamu menikahi Nia secara siri tanpa sepanjang keluarga besar. Kamu bisa melindungi Janin kamu dan Nia juga terselamatkan dari gosip gosip tetangganya. Dan ini rahasia Kita."


Evan akhirnya menyarankan saran itu. Dia sudah mendengar dari Anggita tentang apa yang ditakutkan Nia dengan adanya kehamilan itu.


"Nia memang harus mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Setelah bayi itu lahir. Terserah kamu. Memperjuangkan Nia atau menceraikannya," kata Evan lagi. Danny masih terdiam mencerna saran dari Evan.


"Pikirkan saran aku Danny, jika kamu sudah mantap. Beritahu aku apa yang menjadi keputusan kamu," kata Evan kemudian berdiri. Dia menepuk lengan Danny sebelum meninggalkan pria itu. Setelah Evan keluar dari kamar itu, Danny merenungkan kata kata kakaknya.


"Papa, Kita pergi bareng," kata Evan kepada Rendra. Setelah keluar dari kamar Danny. Evan dan yang lainnya menyempatkan diri berkumpul sebentar di ruang keluarga.


"Baik nak," kata Rendra. Pria itu sangat senang dijemput oleh Evan. Rendra terlebih dahulu mencium wajah Cahaya sebelum masuk ke dalam mobil. Sedangkan Evan, terlebih dahulu mencium kening istrinya sebelum masuk ke dalam Mobil. Benar benar pemandangan yang indah bagi nenek Rieta melihat hubungan Anggita dan Evan yang sangat berbanding terbalik dengan pernikahan pertama dulu.


"Papa, nanti aku akan mengirimkan beberapa wanita secara bergantian ke ruangan papa. Papa tinggal memilih wanita mana yang sanggup menggetarkan hati papa. Aku siap menjadi agen jodoh untuk papa," kata Evan setelah mereka sudah berada di dalam Mobil.


"Agen jodoh. Ada ada saja kamu nak," jawab Rendra kemudian terkekeh. Evan hanya tersenyum. Dia sudah mempunyai beberapa daftar wanita yang cocok jadi ibu tirinya kelak dan siang ini Evan akan memperkenalkan beberapa wanita tersebut kepada Rendra dengan caranya sendiri.


Rendra tentu saja tidak menolak. Pria itu juga ingin bahagia dengan pasangan baru. Perbuatan Nia dan mantan istrinya tidak membuat Rendra menilai wanita itu sama semua.


"Papa, bagaimana komunikasi papa dengan mama Anita?" tanya Evan. Rendra berdehem sebelum menjadi pertanyaan Evan. Dia memikirkan jawaban jika Evan meminta dirinya kembali ke mama Anita.


"Sudah lama tidak berkomunikasi," jawab Rendra.


"Mungkinkah mama Anita akan menikah lagi?" tanya Evan.


"Papa tidak tahu nak. Jika pun dia menikah lagi. Itu bukan urusan Kita lagi."


"Apa papa tidak ingin memberikan kesempatan kedua pada mama?.


"Tidak, tidak pernah terpikir kan untuk kembali kepadanya."


"Mengapa pa?"

__ADS_1


"Karena dia hanya mencintaiku dan harta. Andaikan aku mengetahuinya lebih lama. Mungkin saat ini aku sudah bahagia dengan wanita lain."


__ADS_2