Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Penderitaan Dokter Angga


__ADS_3

Siang hari di sebuah rumah mewah. Seorang pria setengah baya sedang terlihat murka. Dia menatap tajam kepada dua orang yang menurut dirinya telah gagal melaksanakan tugasnya. Pria itu adalah Bronson. Setelah tiga hari memberikan perintah sejak pernikahan Evan dan Anggita. Dua orang itu belum menundukkan kinerja yang bagus.


Bronson meradang. Rencananya tidak berjalan sesuai dengan yang dia inginkan. Kegagalan dokter Angga untuk menikahi Anggita membuat Bronson marah besar dan memikirkan cara lain. Tapi lagi lagi rencana itu gagal. Bronson sudah berencana sebelumnya untuk mengacaukan pesta pernikahan itu dengan memancing kemarahan Evan.


"Apa kalian bisa diandalkan?" tanya Bronson marah. Dokter Angga dan Adelia menundukkan kepalanya.


"Dan kamu juga Adelia. Aku sudah menghabisi sejumlah uang untuk menjamin kamu keluar dari penjara. Tapi ternyata kamu tidak berguna sama sekali," kata Bronson geram. Keberadaan Adelia di pesta itu sebenarnya direncanakan untuk berpura pura menjadi kekasih Evan supaya Anggita tidak terpikir untuk kembali bersama Evan lagi. Tapi rencana itu gagal karena Evan dan Anggita yang menjadi pengantinnya. Mereka mengubah rencana tapi Adelia sudah terkena mental terlebih dahulu.


Dokter Angga dan Adelia hanya bisa menjadi pendengar setia atas kemarahan sang bos.


"Dokter Angga. Mengapa kamu sangat tolol. Berpacaran dengan Anggita kamu hanya berhasil memegang tangannya. Coba kalau kamu berhubungan lebih jauh lagi. Pasti rencana Kita akan lebih mudah. Lihat lah. Evan mendapatkan kembali wanita itu. Dia pasti senang karena tidak ada yang menyentuh Anggita selain dirinya."


Bronson memang sudah berkali kali memerintahkan kepada dokter Angga untuk menyentuh Anggita layaknya sebagai suami istri. Dokter Angga menolak perintah itu dengan halus dengan alasan tidak ingin menyentuh wanita yang belum sah menjadi istrinya.


Itu hanya alasan penolakan yang masuk akal. Sebenarnya dokter Angga tidak selera melihat tubuh Anggita yang jelas sudah dewasa. Bukan dirinya yang suci dalam hubungan surga dunia. Tapi Dokter Angga memang mempunyai kelainan. Dirinya lebih tertarik kepada perempuan yang baru gede. Perempuan yang masih kuncup. Dia sudah memiliki mainan ranjang sehingga membuat dokter Angga kurang berselera dengan Anggita. Tapi demi menutupi kelainan itu. Dokter Angga bersikap seperti pria yang haus akan belaian wanita seperti Anggita.


"Adelia, berikan pendapat kamu untuk menghancurkan Evan," kata Bronson lagi.


Adelia tiba tiba gugup. Jujur, dia tidak mempunyai rencana apapun untuk menghancurkan Evan dan Anggita. Evan sudah mengancam dirinya. Adelia jelas ketakutan akan ancaman tersebut membuat dirinya sebenarnya ingin menyerah saja.


Tapi masalah yang kini yang harus dihadapi Adelia adalah dirinya mempunyai utang kebebasan kepada Bronson. Jika Bronson tidak menjamin dirinya keluar dari penjara bisa dipastikan jika dirinya masih membusuk di penjara beberapa tahun lagi.


"Aku ikut rencana pak Bronson saja," jawab Adelia. Dia tidak ingin susah susah memikirkan hal itu.


"Fuih, ternyata kamu tidak bisa diandalkan," kata Bronson marah. Pria itu meludah hampir mengenai kaki Adelia.


Adelia mengepalkan tangannya. Dia tidak terima diperlakukan seperti sampah busuk seperti itu. Lebih baik baginya menerima kata kata makian daripada diludahi seperti itu. Adelia menundukkan kepalanya tapi Giginya rapat karena tidak bisa melampiaskan kemarahan tersebut. Sedangkan Dokter Angga yang sudah terbiasa melihat Bronson memperlakukan orang orang suruhan seperti itu terlihat biasa saja.


"Dan kamu dokter Angga. Apa ide kamu untuk membuat Evan hancur?"


"Apa kita menghancurkan Evan hanya lewat Anggita saja. Bisakah dengan cara lain?" tanya Dokter Angga. Bronson terlihat berpikir akan pertanyaan Dokter Angga tersebut.


"Rencana lain seperti apa yang kamu maksud?" tanya Bronson.


"Bagaimana Kalau kita menghancurkan Evan lewat bisnis saja pak?"


"Maksud kamu?"


Dokter Angga membeberkan rencana yang sudah dia pikirkan dari tadi. Tapi apa yang dikatakan oleh dokter Angga, semuanya sudah dipraktekkan Bronson. Tapi hasil semua nihil.


"Itu rencana basi Dokter, sebelum kamu mengatakan itu. Aku sudah melakukannya. Tapi pria setan itu terlalu pintar untuk dikelabui. Jalan satu satunya untuk menghancurkan dia hanya lewat kehidupan pribadi," kata Bronson. Bronson berpikir hanya mengusik kehidupan pribadi Evan lah yang bisa menghancurkan pria itu.


"Aku punya ide pak," kata Adelia cepat.


"Ide apa," tanya Bronson. Adelia mengatakan ide yang dia maksud. Bronson terlihat menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan idenya itu. Adelia juga terlihat bangga karena idenya diterima oleh Bronson.


"Aku tidak suka menunggu lama. Secepatnya kamu melaksanakan ide itu. Untuk pembayaran. Aku akan membayar lima puluh persen dibayar di muka. Detik ini juga kamu menerima bayaran kamu," kata Bronson. Dia mengambil ponselnya dan kini menyuruh Adelia untuk mengisi nomor remind di nomor ponsel tersebut. Adelia tersenyum senang. Dia mengetikkan nomor rekening itu di ponsel Bronson dengan hati yang bersorak melihat nominal yang akan dikirimkan Bronson ke nomor rekening miliknya.


Bronson tidak main main akan keinginannya untuk menghancurkan Evan. Selain dokter Angga dan Adelia dia juga sudah mempunyai orang suruhan lainnya untuk menghancurkan Evan. Dunia bisnis itu sangat jelas membentuk Bronson menjadi setan berwujud manusia.


"Dokter Angga, berpikirlah cepat. Kita harus menyerang Evan dari berbagai sisi kehidupan pribadinya," kata Bronson lagi. Rencana Adelia masih kurang untuk menghancurkan Evan. Ambisi itu terlalu kuat sehingga Bronson memerlukan beberapa rencana jitu untuk mencapai tujuannya.


"Pak, daripada Kita larut dalam dosa Dan dendam. Aku rasa ada baiknya kita memperbaiki diri. Harta, tahta tidak dibawa mati pak. Tapi perbuatan jahat kita akan membawa kita ke neraka yang abadi. Bapak sudah melakukan berbagai rencana untuk menghancurkan Evan. Tapi usaha Dan bisnis milik Evan semakin berkembang," kata dokter Angga pelan tapi masih bisa didengar oleh Adelia dan Bronson.


Jika boleh jujur, sebenarnya Dokter Angga terpaksa melakukan pendekatan dan sandiwaranya kepada Anggita. Dokter Angga melakukan itu karena balas budi akan pendidikannya yang dibiayai oleh Bronson. Bronson adalah tipe orang pemaksa dan tidak bisa dibantah. Dokter Angga jelas mengetahui apa yang dilakukan oleh Bronson kepada dirinya jika tidak menurut.

__ADS_1


"Fuih, jangan mengajari aku bodoh. Jangan sok pintar setelah kamu menjadi dokter spesialis kandungan. Apa kamu lupa siapa yang membiayai kamu sejak sekolah menengah umum hingga sukses seperti ini?"


Bronson marah. Bronson kembali meludah seperti yang dilakukannya kepada Adelia tadi. Tapi Kali ini air ludahnya itu tidak jatuh ke lantai melainkan mendaratkan sempurna di wajah dokter Angga. Tidak cukup meludahi wajah dokter Angga. Bronson juga mengungkit semua yang diberikan kepada dokter Angga selama ini.


Dokter Angga hanya bisa memendam marah karena selalu direndahkan seperti ini. Dokter Angga mengulurkan tangannya mengambil tissue dan mengusap wajahnya menghilangkan air ludah itu. Dokter Angga juga tidak berani menatap wajah Bronson yang sudah memerah karena perkataannya.


"Satu lagi dokter Angga. Jangan pernah menceramahi aku. Apa aku perlu mencuci otak kamu supaya kamu lupa semua ilmu kedokteran itu?.


Dokter Angga memberanikan diri menatap Bronson. Dia muak selalu diperlakukan seperti ini.


"Kamu menantang aku?" tanya Bronson marah. Baru Kali ini dokter Angga berani menatap dirinya ketika marah.


"Aku tidak mau tahu. Kalian berdua harus secepatnya membuat Evan hancur. Kamu Adelia, jalankan rencana tadi. Dan kamu dokter Angga. Pikirkan rencana apa yang bisa menghancurkan Evan. Pikirkan dan Kerjakan. Aku beri kalian satu minggu untuk menjalankan rencana itu. Jika tidak berhasil Adelia kembali ke penjara sedangkan kamu dokter Angga. Kamu siap siap dengan pencucian otak," perintah Bronson tegas.


Kini dokter Angga menundukkan kepalanya. Dia marah tapi tidak bisa bersuara melampiaskan kemarahannya. Pencucian otak yang dikatakan oleh Bronson bukan Hari ini yang pertama. Hampir setiap gagal menjalankan rencana yang diperintahakan Bronson. Bronson selalu mengancam dirinya seperti itu.


"Kalian sudah boleh bubar dari tempat ini," kata Bronson.


Pria itu bangkit dari duduknya bersamaan dengan Adelia yang juga beranjak dari duduknya. Adelia pamit kepada pria itu tapi tidak terdengar suara menjawab. Bronson berjalan semakin masuk ke dalam rumah sedangkan Adelia menuju pintu keluar.


Dokter Angga masih duduk di sofa itu dengan menundukkan kepalanya. Bukan karena betah tapi karena masih mengusai amarahnya. Dokter Angga tertekan. Jika mulutnya berani bersuara. Evan akan menantang Bronson untuk mencuci otaknya. Dia sudah muak diperlakukan seperti ini. Sebenarnya dirinya sudah siap jika gelar dokter itu lepas dari dirinya. Itulah sebabnya dirinya selalu berjaga jaga dengan berhemat dan menabung. Karena dokter Angga yakin cepat atau lambat suatu saat Bronson akan bertindak untuk mematikan karirnya jika tidak berhasil menjalankan rencana jahat Bronson.


"Maaf dokter Angga, Pak Bronson berpesan supaya anda secepatnya pergi dari rumah ini," kata salah satu asisten rumah itu kepada dokter Angga.


"Iya bi. Terima kasih," jawab dokter Angga. Bronson tidak hanya memaki dirinya tapi juga mengusir. Dokter Angga bangkit dari duduknya. Dengan amarah tertahan keluar dari rumah itu.


Dokter Angga melajukan mobilnya dengan kencang. Dia menuju rumah pribadinya yang tidak diketahui oleh Bronson. Bronson mengetahui dokter Angga menempati sebuah apertemen pemberiannya.


Sepanjang perjalanan itu, dokter Angga menderita karena amarah itu. Perlakuan Bronson yang meludahi wajahnya membuat amarah itu enggan berlalu dari pikirannya. Dia ingin membalas perlakuan itu tapi nyalinya untuk itu tidak ada. Dokter Angga butuh pelampiasan supaya dirinya tidak gila.


Dokter Angga kini seperti orang gila.Wajah memerah karena masih marah tapi bibirnya menyunggingkan senyum melihat mainannya sedang duduk menghadap televisi dengan wajah ketakutan setelah menyadari kedatangannya.


"Buka, buka baju kamu," kata dokter Angga sambil menghampiri perempuan muda itu. Dengan ketakutan perempuan muda itu merapatkan dirinya ke sandaran sofa dengan memeluk tubuhnya sendiri.


Dokter Angga mendekati perempuan itu. Dia menarik perempuan itu hingga berdiri. Dokter Angga mendorong wanita itu hingga masuk ke dalam kamar. Perlakuannya memang tidak kasar tapi tidak bisa dikatakan juga lembut. Walau demikian perempuan muda itu, terlihat menurut tapi ketakutan.


Setelah mereka di kamar. Dokter Angga membuka semua benang yang melekat di tubuh wanita muda. Perempuan muda itu terlihat pasrah dengan tatapan kosong. Baginya, melawan juga tidak ada artinya. Perempuan muda itu juga terlihat duduk tenang di tengah ranjang walau dokter Angga sudah meraba sebagian inti tubuhnya.


Beberapa menit kemudian dokter Angga terlihat sudah buas menggerayangi tubuh wanita itu. Dengan wajah yang penuh kemarahan dia meremas gunung kembar milik perempuan muda itu. Dokter Angga bahkan membayangkan dirinya meremas mulut Bronson yang sudah meludahi dirinya tadi.


"Sakit, sakit," kata perempuan muda itu sambil menahan tangan dokter Angga. Sepertinya hati nurani dokter Angga masih berfungsi walau tidak sepenuhnya. Pria itu melepaskan tangannya dari gunung kembar itu kemudian Bibirnya menyambar bibir perempuan itu.


Dokter Angga menggigit bibir wanita itu sampai wanita itu menjerit. Tapi itu tidak membuat pria itu berhenti. Bibirnya merambat ke leher. Tidak puas menggigit bibir perempuan itu. Dokter Angga juga menggigit pundaknya.


Perempuan muda itu menangis merasakan sakitnya akibat gigitan itu. Lagi lagi dokter Angga tidak puas. Hatinya belum sembuh mengingat semua perlakuan Bronson kepada dirinya.


"Tolong, jangan sakiti aku dokter," kata perempuan itu memohon. Saat ini dokter Angga sedang meraba kedua pahanya dan bahkan menekan dengan nafas memburu. Pria itu tidak memperdulikan permohonan perempuan itu. Seakan perbuatannya itu hal biasa dan bukan dosa, pria itu kembali meremas gunung kembar mainnya.


Entah karena masih terlalu muda atau tidak menikmati. Perempuan itu sama sekali tidak ada keinginan untuk melanjutkan permainan sepihak itu. Kini dokter Angga memang sudah mulai lembut meraba seluruh kulitnya. Yang dirasakan wanita itu bukan kenikmatan melainkan ketakutan.


Ketakutan itu semakin menjadi jadi ketika dokter Angga sudah melepaskan semua benang dari tubuhnya. Perempuan itu menangis sesunggukan dan menyembunyikan wajahnya dengan menelungkupkan kepalanya ke dua lututnya yang ditekuk.


"Tolong, jangan lakukan itu," kata perempuan itu ketika dokter Angga hendak membaringkan tubuhnya. Pria itu tentu saja tidak memperdulikan permohonan perempuan itu.


Kini perempuan itu sudah berbaring telentang. Walau tubuhnya terlihat seperti tubuh orang dewasa tapi sebenarnya wanita itu masih sangat muda. Usianya belum genap berusia enam belas tahun. Dia terperangkap menjadi perempuan mainan dokter Angga karena faktor ekonomi. Sedangkan dokter Angga memperlakukan perempuan itu seperti ini karena faktor tertekan dari Bronson. Hanya dengan seperti ini dirinya bisa lepas dari rasa marah yang tidak bisa dilampiaskan kepada Bronson.

__ADS_1


Dokter Angga Angga menindih perempuan muda itu. Dia menekan tubuhnya ke tubuh lawan mainnya. Tubuh mereka saling menempel. Tak puas hanya seperti itu. Pria itu bangkit dan memposisikan dirinya untuk memasuki lawan mainnya.


"Tolong dokter, tolong jangan dimasukkan," kata perempuan itu juga sudah duduk. Dia memohon kemudian menangis kencang. Dokter Angga menatap perempuan itu kesal. Tapi melihat air mata yang berlinangan itu lagi lagi hati nuraninya berfungsi dengan baik. Dia berdiri di ranjang itu tepat di hadapan perempuan itu. Dia menarik rambut wanita itu ke belakang hingga mendongak menatap dirinya. Dokter Angga memasukkan alat tempurnya ke mulut wanita itu seperti sebelum sebelumnya.


Perempuan itu menurut. Dia bisa bermain sebaik mungkin karena sudah belajar dari video yang diberikan dokter Angga untuk dia pelajari. Perempuan itu memberikan servis terbaiknya. Dokter Angga tidak memasuki dirinya saat ini sudah hal keberuntungan bagi dirinya.


Perlahan lahan wajah dokter Angga berubah. Wajah marah itu tidak terlihat lagi. Kini pria itu memejamkan mata menikmati permainan perempuan muda itu. Ternyata perempuan muda itu adalah seseorang yang pengertian. Tidak ingin melihat dokter Angga berdiri. Dia menarik tangan dokter Angga kini sudah berbaring. Perempuan muda itu lebih leluasa memainkan perannya. Hingga lidahnya merasakan rasa asing baru dia menghentikan permainan itu.


Dokter Angga bangkit. Dia turun dari ranjang. Sekilas dirinya bisa melihat air mata yang masih tersisa di pipi perempuan muda itu. Dia berlalu dari kamar itu. Setelah hatinya membawa. Dirinya semakin tidak tahan melihat air mata wanita.


Dokter Angga masuk ke kamar mandi yang terpisah dari kamar itu. Dia menatap wajahnya di cermin. Dia sadar jika Bronson tidak melepaskan dirinya dari penderitaan. Tapi Bronson justru memasukkan dirinya ke dalam jurang penderitaan.


Setelah membersihkan dirinya dokter Angga kembali ke dalam kamar dimana perempuan muda itu berada. Dia menatap perempuan muda itu yang sudah berpakaian lengkap. Perempuan muda itu tidur meringkuk di tengah ranjang dengan suara tangisan yang jelas terdengar oleh dokter Angga


Dokter Angga masih berdiri di tempat semula. Memandangi baju perempuan muda itu yang terguncang karena menangis. Ada rasa kasihan yang menyelinap hinggap di hatinya. Dia ingin melepaskan perempuan muda itu tapi hati kecilnya melarang. Dokter Angga takut tidak bisa mengontrol amarahnya jika tidak ada mainan ketika dirinya marah karena Bronson.


Tidak ingin terpengaruh karena tangisan perempuan muda itu. Dokter Angga keluar dari kamar. Dia menuju dapur dan melihat stok makanan di kulkas. Dokter Angga menarik nafas lega ketika melihat stok makanan itu sudah berkurang. Itu artinya dalam tiga hari ini perempuan muda itu tidak mogok makan. Seperti yang dilakukan ketika dokter Angga membuat perempuan muda itu sebagai permainan ranjangnya. Dokter Angga akan datang ke rumah ini sekali dalam satu minggu termasuk ketika dirinya bekerja di


Kota kecil tempat bekerja dan menjalankan sandiwara mendekati Anggita.


Setelah memastikan perempuan muda itu tidak kelaparan dalam tiga Hari ini. Dokter Angga masuk ke dalam kamar. Dia ingin beristirahat sebentar sebelum bekerja di rumah sakit di Kota ini. Bronson mencari rumah sakit untuk dokter Angga bekerja supaya bisa menjalankan rencana rencana jahatnya menghancurkan Evan.


Dokter Angga membaringkan tubuhnya. Walau dirinya berkomplot dengan Bronson jauh di lubuk hatinya ingin menjalani kehidupan dengan normal tanpa berbuat jahat kepada siapapun. Dia ingin lepas dari Bronson tapi sepertinya jalan untuk keluar dari kehidupan Bronson menemui jalan buntu.


Dokter Angga merasa bersalah kepada perempuan muda itu. Tapi dia tidak bisa melepaskan perempuan muda itu karena hanya perempuan muda itu yang bisa meredam kemarahannya kepada Bronson.


Dokter Angga akhirnya tertidur setelah memikirkan jalan kehidupan yang kini berada di jalur yang salah. Kini pria itu tertidur setelah lelah berpikir. Wajahnya yang terlihat sangat tampan tidak menunjukkan jika dirinya saat ini berada di dalam kubangan dosa yang sang menyesatkan.


Di kamar sebelah. Perempuan muda itu sudah tidak menangis lagi. Dia duduk di tepi ranjang. Setelah lelah menangis, dia sadar jika dirinya masih beruntung hari ini karena masih bisa mempertahankan kesuciannya.


Perempuan muda itu beranjak dari tepi ranjang itu. Dia berjalan ke luar kamar dengan langkah yang pelan. Dia sangat yakin dokter Angga masih berada di rumah itu karena tidak mendengar suara Mobil yang meninggalkan pekarangan rumah.


Tapi untuk memastikan dugaannya. Dia berjalan ke arah pintu. Dia menyibak gorden dan melihat mobil milik dokter Angga masih ada di halaman rumah tersebut.


Perempuan muda itu kembali berjalan sangat pelan. Ketika dia hendak kembali ke kamarnya. Dia melihat dokter Angga tertidur. Perempuan muda itu mendekati pintu kamar yang terbuka sedikit. Melihat dokter Angga yang tertidur sangat nyenyak. Perempuan muda itu masuk ke dalam kamar. Dia melihat ke atas meja terlebih dahulu. Atas meja itu kosong.. Kemudian membuka laci meja tapi apa yang dia cari juga tidak ada dalam laci tersebut.


Perempuan muda itu tidak menyerah. Dia ingin kabur karena tidak ingin lagi menjadi mainan ranjang dokter Angga. Dia tidak perduli jika kedua orang tuanya nanti marah. Yang dia inginkan keluar dari rumah ini. Dia merindukan teman temannya seusianya yang saat ini mungkin sedang di sekolah. Sedangkan dirinya di rumah ini harus bekerja menjadi mainan ranjang dokter Angga.


Kini sasaran perempuan muda itu adalah saku celana dokter Angga. Dia sangat yakin jika kunci gerbang rumah itu berada di saku pria itu.


Perempuan muda itu terlihat menggerakkan tangannya di wajah dokter Angga. Memastikan pria itu memang benar benar tidur. Yakin jika dokter Angga benar benar tidur. Perempuan muda itu mulai mendekatkan tangannya ke saku celana dokter Angga.


Dia berhasil meraba saku itu. Tapi kunci gerbang tidak ada di saku celana tersebut. Perempuan muda itu kembali menggerakkan tangannya ke saku yang lain. Dengan hati hati dia memasukkan tangannya ke saku tersebut. Benar saja, ada sesuatu berada di saku tersebut tapi perempuan itu tidak mengetahui secara pasti jika itu adalah kunci gerbang yang dicarinya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya dokter Angga tiba tiba. Perempuan muda itu tersentak dan spontan menarik tangannya keluar dari saku. Wajahnya juga pucat karena ketakutan. Takut jika Dokter Angga melakukan hal sama seperti tadi. Walau tidak sampai melakukan layaknya suami istri, perempuan muda itu tidak mau mengulangnya lagi.


Dokter Angga duduk dan menatap tajam perempuan itu. Dia meraba sakunya memastikan jika kunci mobil dan kunci gerbang masih berada di saku celananya.


"Kamu mau kabur. Jangan mimpi kami," bentak dokter Angga marah. Dia juga menekan kening wanita itu karena marah.


"Dokter, aku mohon. Tolong lepaskan aku," kata perempuan muda itu dengan menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Tidak akan. Bukankah perjanjian dengan orang tua kamu. Kamu harus tiga tahun melayani aku. Jangan harap pergi dari rumah ini jika waktunya belum tiba."


"Aku mohon dokter, lepaskan aku. Aku akan mengingat punya utang kepada dokter. Jika suatu saat aku mempunyai uang. Aku akan mengembalikan uang yang dokter berikan kepada kedua orang tuaku."

__ADS_1


Dokter Angga menatap perempuan muda itu yang sudah berlinangan air mata.


__ADS_2