
Dokter Angga menatap tembok tinggi itu. Sangat mustahil dirinya bisa masuk ke rumah Bronson lewat tembok yang diatas disusun kawat duri secara acak. Jika mengandalkan gerbang. Tetap juga tidak memungkinkan. Gerbang itu sudah dikunci dan tidak sembarangan masuk apalagi dirinya sudah dicap bukan lagi anggota Bronson.
Dokter Angga menarik nafas panjang sambil berpikir. Banyak cara terlintas di pikirannya tapi setelah semakin dipikirkan cara tersebut tidak tepat. Setelah berpikir beberapa menit, dokter Angga belum juga menemukan cara yang tepat untuk bisa masuk ke dalam rumah milik Bronson itu.
Dokter Angga ingin menyerah. Tapi mengingat perintah dari Evan. Dokter Angga masih bertahan di depan gerbang itu sambil mencari cara untuk bisa melewati gerbang itu tanpa menimbulkan kegaduhan.
Tidak ingin waktunya terbuang percuma. Dokter Angga terus berpikir. Hingga akhirnya dia menemukan cara yang kemungkinan bisa membuat dirinya masuk ke dalam rumah tersebut.
Dokter Angga tersenyum. Sebelum menjalankan rencananya. Dokter Angga berlalu dari depan gerbang itu. Ada beberapa hal yang harus dia persiapkan sebelum masuk ke dalam rumah tersebut. Hanya hitungan setengah jam. Dokter Angga sudah kembali berdiri di depan gerbang tersebut.
"Aku harus bisa memberikan pelajaran bagi Bronson malam ini juga," kata dokter Angga dalam hati. Dia mendekati merapatkan tubuhnya ke gerbang dan mengintip aktivitas di halaman rumah itu. Dokter Angga bisa melihat dua orang satpam sedang bermain catur.
"Semoga berhasil. Aku memang hendak berbuat jahat kepada orang yang sangat jahat. Semoga alam mendukung perbuatanku ini," gumam dokter Angga lagi. Kemudian dia berdehem lumayan kuat untuk mencari perhatian dari kedua satpam tersebut.
Seperti dugaan dokter Angga. Dua satpam itu langsung menghentikan permainannya dan sama sama mencari sumber suara.
"Pak, Pak," panggil dokter Angga. Salah satu dari satpam itu mendekati gerbang.
"Dokter Angga?" jawab sang satpam setelah melihat dokter Angga.
"Aku kebetulan lewat pak. Dan seperti biasa aku membawa bandrek untuk kalian berdua," kata dokter Angga sambil menunjukkan dua cup bandrek. Sang satpam itu terlihat senang.
"Ternyata dokter Angga masih perhatian dengan kami walau Dokter Angga bukan Anggota pak Bronson lagi."
Ini bukan yang pertama, dokter Angga memberikan sesuatu kepada para pekerja di rumah Bronson. Terutama kepada para satpam yang bertugas di malam hari. Dokter Angga sadar pekerjaan satpam dia alam terbuka seperti ini memudahkan untuk masuk angin. Itulah sebabnya Dokter Angga sering memberikan bandrek dan roti ketika dirinya masih menjadi anak angkat Bronson.
Dokter Angga hanya tersenyum. Seperti yang dia duga ternyata Bronson sudah memberikan informasi kepada para pekerja di rumah itu bahwa dirinya bukan lagi anak angkat dari Bronson.
"Pak, Aku memang memutuskan keluar dari anggota Bronson. Tapi bukan berarti aku juga memutuskan pertemanan dengan kalian. Kita tetap berteman. Buka gerbangnya!" perintah dokter Angga. Satpam itu terkekeh kemudian membuka gerbang tersebut.
__ADS_1
"Aku merindukan duduk di pos itu pak. Bolehkah aku masuk sebentar?" kata dokter Angga setelah gerbang terbuka.
"Bukan bermaksud melarang Dokter Angga. Tapi aku hanya takut ketahuan dengan pak Bronson," jawab Satpam itu tidak enak hati.
"Pak Bronson sudah pulang?"
"Sudah dokter. Itu mobilnya."
"Sudah lama?"
"Satu jam yang lalu."
"Pak Bronson sudah tidur. Kita bisa bermain catur sebentar," kata dokter Angga. Satpam itu semakin tidak enak hati. Mereka jelas mendapatkan perintah tidak memperbolehkan dokter Angga masuk ke dalam.
"Jangan takut Pak. Aku tidak akan memasukkan mobilku. Lagi pula ini sudah larut malam. Pak Bronson tidak mungkin keluar lagi kan?"
"Baiklah dokter. Tapi kita sama sama menjaga ya. Jangan sampai dokter terlihat oleh pekerja terutama pekerja yang di dalam rumah."
"Ayo diminum bandreknya supaya lancar berbunyi dari belakang," kata dokter Angga bercanda. Dua satpam itu tertawa.
"Baik dokter," jawab dua satpam itu hampir bersamaan. Mereka juga meneguk bandrek itu dari cup hampir bersamaan.
"Dokter, ada pekerja baru yang masih belia. Wajahnya sangat cantik," kata salah satu satpam itu.
Dokter Angga menghentikan tangannya yang sedang menyusun bidak catur.
"Apa ada pekerja yang mengundurkan diri?" tanya dokter Angga. Biasanya pekerja baru ada di rumah itu jika ada pekerja lama yang mengundurkan diri.
"Tidak Ada."
__ADS_1
"Secantik apa sih rekan kerja kalian yang baru itu?" tanya dokter Angga. Otaknya cepat berpikir jika pekerja baru itu bisa saja wanita simpanannya. Hal yang mungkin jika pekerja baru itu adalah wanita yang juga dia cari saat ini. Adelia pernah berkunjung ke rumahnya tanpa sepengetahuan dirinya. Dan bisa saja kunjungan Adelia ke rumahnya adalah perintah dan niat jahat Bronson.
Dokter Angga merasakan hatinya mendidih mendengar ciri ciri pekerja itu yang sangat mirip dengan wanita simpanannya.
Kemudian dokter Angga menatap dua satpam itu. Ada pertanyaan terlintas di benaknya tapi Dokter Angga berusaha tidak bertanya kepada dua satpam itu.
"Katanya pekerja baru itu mendapatkan perlakuan khusus dari pak Bronson. Keberadaannya tidak boleh diketahui oleh ibu untuk beberapa hari ini. Mungkinkah pak Bronson memakai pekerja itu terlebih dahulu baru kemudian dipekerjakan di rumah?"
"Hush. Kamu kok jadi menggosip. Hati hati berbicara. Jika Pak Bronson mendengar perkataannya kamu. Kamu bisa dijadikan sebagai sasaran kemarahannya."
Dokter Angga semakin marah mendengar perkataan satpam itu. Tanpa disadari sang satpam. Dokter Angga sudah mengepalkan tangannya.
"Perlakuan khusus seperti apa yang didapatkan pekerja baru itu?" tanya dokter Angga.
"Dia ditempatkan di kamar lantai tiga yang ber AC. Sementara para pekerja lainnya. Kalian tahu tanpa aku menyebutkan," kata satpam itu. Perkataannya adalah kenyataan. Selain jahat. Bronson tidak begitu memperhatikan keamanan dan kenyaman para pekerjanya. Semua pekerjanya yang tinggal di rumah itu ditempatkan di sebuah kamar besar. Jangan kamar itu mempunyai AC. Kipas angin pun tak ada. Hanya pekerja wanita yang diperbolehkan tinggal di rumah sedangkan para pekerja pria tidak boleh.
"Cara meminum bandrek yang benar adalah meminum bandrek tersebut selagi masih hangat. Cepat habiskan bandreknya," kata dokter Angga. Dua satpam itu pun berusaha menghabiskan bandrek itu.
Lima belas menit kemudian. Dua satpam itu terlihat tidak bisa menahan kantuknya. Pengaruh obat tidur yang dimasukkan oleh dokter Angga ke bandrek tersebut kini sedang berproses. Dokter Angga sengaja bersenandung supaya dua satpam itu secepatnya tertidur.
Dokter Angga mengambil kunci gerbang dan memasukkan ke dalam sakunya setelah dua satpam itu tertidur pulas. Kemudian dengan setengah berlari. Dokter Angga berlari ke arah rumah. Sebagian orang yang sering keluar masuk rumah itu. Dokter Angga berlari ke arah samping. Dia akan masuk ke rumah lewat belakang karena pintu depan pasti terkunci.
Dokter Angga menaiki tangga dengan cepat. Setelah tiba di lantai tiga. Dokter Angga terlihat mengatur nafasnya karena kelelahan.
Dokter Angga merasakan jantungnya berdetak kencang. Suara dari salah satu kamar menuntun dirinya menuju kamar tersebut. Suara suara minta dikasihani terdengar dari kamar itu persis seperti suara wanita simpanan memohon kasihan kepada dirinya.
Dokter Angga terbodoh mendengar suara suara itu. Seketika itu juga dirinya merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia. Rasa kasihan itu menyelinap masuk ke dalam hatinya untuk wanita simpanannya.
Dokter Angga tidak berpikir panjang mendobrak pintu kamar asal suara itu. Dia merasa lebih kasihan lagi melihat kondisi wanita simpanannya yang sedang terikat di kepala ranjang dengan tubuh yang hampir tidak tertutup lagi.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Bronson sangat terkejut melihat dokter Angga. Dokter Angga tidak menjawab. Pria itu justru melangkah maju dan kemudian menerjang tubuh Bronson yang tidak tertutup satu helai benang pun.