Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Terperangkap Hujan


__ADS_3

Dokter Angga menuntun Anggita dengan lembut menuju sofa. Anggita menurut tapi jauh di lubuk hatinya dia ingin cepat keluar dari rumah ini supaya bisa bertemu dengan Cahaya.


"Tunggu disini sebentar ya. Aku panggil papa dulu," kata Dokter Angga. Dokter Angga berdiri tepat di sebelah sofa yang diduduki oleh Anggita. Tangannya mengelus rambut Anggita dengan lembut. Perlakuan yang membuat siapa saja yang melihatnya pasti menduga jika Dokter Angga sangat mencintai Anggita.


"Iya dokter. Jangan lama lama ya," jawab Anggita sambil tersenyum. Dokter Angga menganggukkan kepalanya. Ketika Dokter Angga tidak kelihatan lagi. Anggita mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu.


Anggita merasakan keanehan. Melihat rumah mewah yang beda tipis dengan rumah mewah milik kakek Martin. Anggita merasa aneh jika seorang dokter Angga bersedia mengabdi di Kota kecil dengan segala macam keterbatasan. Seharusnya sebagai anak orang kaya, Dokter Angga tidak perlu bersusah payah hidup penuh keterbatasan fasilitas di Kota kecil itu.


Anggita berpikir jika hanya untuk hidup dan memenuhi kebutuhannya. Dokter Angga tanpa bekerja pun bisa hidup mewah mengingat Bronson adalah seorang pengusaha. Atau bisa saja berkarir di perusahaan Bronson. Tapi yang dia lihat beberapa bulan ini, dokter Angga adalah seseorang yang sangat bekerja keras layaknya seseorang yang ingin mengubah hidup untuk lebih baik lagi. Tidak seperti anak orang kaya lainnya, Anggita juga bisa melihat jika dokter Angga sangat berhati hati mengeluarkan uangnya.


Jika dokter Angga putra dari Bronson. Tidak mungkin pengusaha itu membiarkan dokter Angga dipecat hanya karena kesalahan yang membantu dirinya. Lalu, makanan yang dia terima yang katanya dari ibunya dokter Angga sewaktu dirinya hamil dan setelah melahirkan. Apakah dimasak dan dikirimkan dari rumah ini?.


Pertanyaan itu berputar putar di kepala Anggita. Anggita bukanlah wanita yang bodoh. Dia memikirkan awal bertemu dengan dokter Angga hingga saat ini dirinya berada di rumah Bronson ini.


Keanehan itu semakin nyata ketika Anggita memperhatikan bingkai bingkai foto yang berjejer di tembok ruang tamu itu. Dari sekian banyak bingkai foto. Satupun tidak ada dokter Angga di dalamnya. Anggita semakin bingung menemukan keanehan itu.


Anggita meraba isi tasnya. Dia ingin membuka ponsel dan mencari informasi yang lebih akurat lagi tentang dokter Angga Dan Bronson di media sosial. Anggita seketika panik. Ponselnya tidak ada di dalam tas tersebut. Seingatnya dia memasukkan ponsel itu ke dalam tas sebelum keluar dari rumah tiga jam yang lalu. Tiga jam perjalanan tadi, Anggita tidak terpikir sama sekali akan ponselnya.


Hampir lima belas menit Anggita menunggu dokter Angga Dan Bronson di ruang tamu itu. Hingga dokter Angga dan Bronson berjalan mendekat ke arah sofa. Anggita berdiri dan menundukkan kepalanya dengan sopan ketika Bronson berdiri di hadapannya. Tangannya terulur untuk bersalaman dengan pria itu.


"Selamat datang Anggita," sapa pria paruh baya itu sopan. Anggita membalas sapaan Bronson dengan sopan juga tapi mata Anggita memperhatikan sikap dua pria itu. Dari ekor matanya, Anggita melihat ke arah belakang dua pria itu. Sosok ibu yang sering dipuji dokter Angga di depannya tidak terlihat sama sekali.


"Silahkan duduk." Tiga orang itu duduk dengan Anggita dan dokter Angga duduk bersebelahan berhadapan dengan Bronson.


"Jadi sampai sejauh mana hubungan kalian?. Papa berharap kalian secepatnya menikah. Kalau kalian mau menikah minggu ini, papa sudah siap dalam segala hal. Sekalipun kalian


meminta pernikahan yang mewah," kata Bronson sambil menatap sepasang kekasih itu bergantian. Tatapannya teduh tapi tidak dengan hatinya yang membara. Dia ingin melihat kehancuran Evan dengan melihat mantan istrinya menikah dengan dokter Angga yang akan diperkenalkan nantinya di pernikahan itu sebagai putranya. Seperti siasat licik yang biasa dia lakukan. Pernikahan itu juga akan mengundang Evan sebagai tamu undangan istimewa. Bronson benar benar bisa membuat mimik wajah meyakinkan berbeda dengan isi hatinya.


"Bagaimana Anggita. Apa harapan papa bisa Kita kabulkan?. Dari sekian banyak wanita yang aku perkenalkan kepada papa. Hanya kamu yang mendapatkan restu. Kamu adalah wanita yang baik dan sempurna. Sehingga papa tidak butuh waktu yang lama untuk mengenal kamu."


Dokter Angga mengeluarkan rayuan maut yang sudah diajari oleh Bronson sebelum ke ruang tamu itu.


Anggita nampak berpikir. Dia menatap dokter Angga yang sedang tersenyum. Kemudian menatap wajah Bronson yang terlihat penuh harap akan jawaban memuaskan dari dirinya.


"Begini Pak. Sebenarnya sebelum pertemuan kita hari ini. Aku dan dokter Angga sudah pernah membicarakan pernikahan. Kami sepakat akan menikah tahun ini tapi tidak dalam bulan ini atau bulan depan. Sebelum menikah. Aku tentunya harus meminta restu kepada mamaku."


Dokter Angga dan Bronson saling berpandangan mendengar jawaban Anggita.


"Ternyata kamu seorang gadis yang sangat menghormati orang tua nak. Aku semakin kagum kepada kamu. Kamu benar. Restu itu sangat penting. Tapi ada yang harus kamu sadari secepatnya. Jika kalian saling mencintai. Menikah hari ini, besok atau kapanpun itu. Restu dari orang tua itu pasti ada. Dan alangkah baiknya jika pernikahan itu secepatnya terjadi. Karena menikah itu selain bahagia yang didapat, menikah itu juga ibadah."


Anggita menunduk, mendengar perkataan Bronson. Walau kata kata itu terdengar lembut di telinganya tapi Anggita menangkap sebagian dari kata kata itu yang bertentangan dengan hatinya. Tapi kalimat dan kata yang mana membuat hatinya menentang Anggita tidak tahu.


"Maaf pak. Sebenarnya aku bukan seorang gadis lagi. Aku adalah ibu dari seorang putri. Tujuan kami sebenarnya ke Kota ini bukan untuk membahas pernikahan melainkan menjemput putriku yang dibawa paksa mantan suamiku."

__ADS_1


Anggita merasa harus jujur tentang statusnya saat ini kepada calon mertuanya. Tapi untuk menyebut nama mantan suaminya di depan Bronson. Anggita merasa janggal.


"Dokter Angga sudah menceritakan semua tentang kamu nak. Bagaimanapun dirimu saat ini. Aku merestui hubungan kalian. Dan satu Hal yang harus kamu tahu. Supaya putri kamu tetap berada di sisimu. Kamu perlu dukungan orang orang hebat seperti kami. Aku sangat yakin. Mantan suami kamu itu sangat menyayangi putri kalian dan pasti ingin selalu berdekatan dengan putrinya. Jika dia berani membawa paksa putrinya dari kamu. Percayalah. Dia tipe pria yang egois. Pria seperti itu adalah tipe pria pendendam yang ingin melihat mantan istrinyanya susah dan menderita. Aku pernah punya teman seperti itu. Kasihan mantan istrinya itu. Sampai gila karena tidak mendapatkan hak asuh anak. Padahal kalau di pikir pikir. Si ibulah yang berhak mengasuh anak yang sudah mempertaruhkan nyawa melahirkan anaknya. Tapi Karena itu tadi. Kurang dukungan keluarga dan orang orang hebat."


Bronson sudah berubah profesi hari ini. Dari seorang pengusaha menjadi pengarang cerita. Wajahnya yang serius memperhatikan mimik Anggita yang sepertinya terpengaruh dengan semua perkataannya.


"Anggita, kamu memang anugerah untuk keluarga ini. Lihatlah kedatangan kamu di rumah ini seperti hujan yang sedang turun saat ini. Kamu sama seperti hujan itu. Sama sama menjadi penyejuk."


Bronson melebarkan senyumnya mendengar suara hujan lebat dari luar. Sedangkan Anggita sudah duduk gelisah. Keinginannya untuk segera bertemu Cahaya sepertinya tertunda beberapa jam lagi karena hujan.


"Papa,. sebaiknya Anggita istirahat di kamar sebentar sebelum kami pulang."


"Silahkan. Papa juga butuh jawaban secepatnya tentang pernikahan kalian. Ingat Anggita. Ini demi putri dan kebahagiaan kalian nantinya, kata" kata Bronson sambil menggerakkan tangannya. Senyuman selalu mengembang di sudut bibirnya. Ketika dokter Angga dan Anggita sudah membelakangi dirinya. Senyum itu hilang yang ada kini di wajahnya yang terlihat hanya kelicikan.


"Dokter, apa tidak sebaiknya kita langsung menjemput Cahaya?" tanya Anggita sebelum dokter Angga membuka pintu kamar tamu itu. Selain itu Anggita juga takut. Takut jika dokter Angga ikut masuk ke kamar itu dan melakukan hal yang tidak tidak pada dirinya. Selama ini, Dokter Angga memang sopan kepadanya. Tapi mengingat tempat ini adalah rumah orang tuanya. Anggita takut jika dokter Angga melewati batas memperlakukan dirinya.


"Masuklah Anggita. Jika hujan reda. Kita akan menjemput Cahaya secepatnya. Papa tidak akan membiarkan anak anaknya menyetir dalam keadaan hujan seperti ini. Karena berbahaya juga karena papa pernah kecelakaan lalu lintas pas hujan seperti ini."


Mendengar penjelasan dokter Angga. Anggita tidak enak hati untuk memaksa Dokter Evan menemani dirinya.


"Bagaimana kalau aku pergi sendiri saja. Aku bisa naik taksi. Kamu menunggu disini saja. Kita bisa bertemu di kafe pelangi dua jam lagi. Ponselku sepertinya ketinggalan di rumah. Aku tidak bisa menghubungi kamu nantinya."


"Jangan, pria macam apa aku yang membiarkan kamu berjuang sendiri. Tenang saja. Hujan ini tidak akan lama. Paling hanya satu jam dan paling lama dua jam," kata dokter Angga sambil membuka pintu kamar itu. Dia menatap wajah Anggita yang dia pikir sangat gampang ditipu. Ponsel Anggita sebenarnya tidak tinggal di rumah melainkan ada di dalam mobilnya tadi. Ketika Anggita lengah. Dokter Angga mengambil ponsel itu ketika Anggita tadi turun sebentar dari dalam Mobil sebelum mereka berangkat. Tasnya yang dia tinggalkan di dalam mobil memudahkan dokter Angga mengambil ponsel itu dan menyimpannya di belakang sandaran kursinya.


"Kamu kedinginan?" tanya Danny melihat Nia yang memeluk dirinya sendiri.


"Dingin dan takut kak," jawab wanita itu dengan bibir yang bergetar. Hujan lebat dan angin kencang membuat Nia kedinginan dan ketakutan. Di sisi kiri dan kanan jalan. Pohon pohon besar bergerak kencang tertiup angin.


"Pakai ini," kata Danny setelah melepaskan jaket dari tubuhnya. Nia ragu mengambil jaket tersebut. Dan Danny langsung meletakkan jaket itu di pangkuan Nia. Nia akhirnya memakai jaket tersebut. Ajakan Danny yang tiba tiba tadi pagi membuat Nia lupa membawa jaket.


Nia merapatkan jaket itu di tubuhnya. Kini bukan hanya tubuhnya yang menghangat tapi juga hatinya. Perhatian Danny membuat detak jantungnya berdetak kencang.


"Kita cari tempat berteduh yang aman," kata Danny sambil menjalankan mobilnya. Karena hujan lebat suasananya menjadi gelap padahal masih jam enam sore. Mobil itu berjalan pelan karena hujan menghalangi pandangan Danny melihat jalanan.


"Kok disini kak?" tanya Nia. Danny menghentikan mobilnya di depan sebuah penginapan sederhana.


"Ini yang terdekat. Kita di dalam mobil saja. Setelah hujan reda kita lanjutakan perjalanan."


Itulah yang ada dalam pikiran Danny ketika melihat penginapan itu. Niatnya benar benar hanya untuk berlindung dari hujan dan pepohonan yang tertiup angin dengan kencang.


Tapi niat itu tidak seperti yang Danny pikirkan ketika petugas penginapan datang menghampiri mobilnya.


"Sebaiknya pesan kamar saja pak. Hujan ini pasti lama. Musim hujan seperti ini pengunjung akan banyak karena tidak ingin mengambil resiko meneruskan perjalanan."

__ADS_1


Danny berpikir sebentar mendengar perkataan petugas penginapan itu. Awal awal pertama dia ke Kota ini. Danny sudah pernah mengalami terperangkap hujan seperti ini. Danny meneruskan perjalanan alhasil perjalanan tiga jam berubah menjadi perjalanan tujuh jam karena Danny harus membawa mobilnya pelan pelan dan harus sangat hati hati.


"Bagaimana Nia. Memang beresiko jika Kita melanjutkan perjalanan dan tidak tahu berapa jam lagi hujan ini akan berhenti."


"Terserah kakak saja. Kamu yang lebih tahu jalanan kak."


"Baiklah. Kami pesan dua kamar ya," kata Danny kepada petugas penginapan itu yang setia menunggu keputusan dari Danny.


"Baik Pak." Petugas penginapan itu memberikan payung yang sedari tadi di tangannya. Danny dan Nia mengikuti pria itu.


"Maaf pak. Ternyata kamar kosongnya tinggal satu," kata pria itu menundukkan kepalanya.


"Ya sudah. Tidak mengapa. Lagipula kami hanya ingin berteduh saja bukan untuk menginap," jawab Danny. Dia mengambil dompet dari saku celananya dan melakukan pembayaran.


"Nia, aku istirahat sebentar ya. Kalau kamu mau makanan atau minuman. Kamu pesan sendiri saja ya. Ini uangnya," kata Danny setelah mereka di kamar. Melihat tempat tidur kantuknya datang . Satu hari ini, dia banyak duduk membuat pinggang sedikit pegal.


"Oke kak," kata Nia tapi tidak mengambil uang itu dari tangan Danny. Tapi Danny meletakkan uang itu ke telapak tangan Nia. Danny tersenyum melihat Nia tidak kuasa menolak uang tersebut.


Entah karena suasana yang dingin atau Karena kelelahan, Danny cepat terlelap di tempat tidur itu. Sedangkan Nia masih duduk di kursi rotan dekat jendela kamar tersebut. Matanya memperhatikan wajah tampan Danny yang terlelap itu.


Nia mengingat semua perkataan Danny tentang pernikahan sepanjang perjalanan mereka menuju Kota ini. Hatinya seketika resah membayangkan pernikahan dengan pria tua yang sama sekali tidak dia cintai. Untuk membatalkan pernikahan itu juga rasanya tidak mungkin. Persiapan pernikahan itu sudah Lima puluh persen. Dan juga alasan dibalik pernikahan itu membuat Nia tidak berdaya.


Nia bangkit dari duduknya. Di tengah hujan yang menggelegar Nia memikirkan bagaimana caranya terbebas dari pernikahan itu. Hingga terbersit satu cara di pikirannya. Nia keluar dari kamar tersebut. Dia memesan makanan dan minuman untuk dirinya seperti perintah Danny tadi. Tapi Nia juga memesan makanan dan minimum yang sama untuk Danny.


Satu jam kemudian. Makanan dan minuman yang dipesan oleh Nia sudah tertata di atas meja kecil di kamar itu. Nia merasa ragu untuk membangunkan Danny. Tapi keraguannya itu sirna melihat Danny yang kini sudah bangun dari tidurnya.


"Hujannya sudah reda?" tanya Danny sambil mengucek matanya.


"Belum kak. Malah bertambah deras."


"Untung saja Kita memesan kamar."


"Kak, aku pesan makanan dan minuman untuk Kita."


"Kebetulan sekali Nia. Aku juga lapar," jawab Danny. Dia masuk ke dalam kamar mandi sebentar kemudian kini duduk berhadapan dengan Nia.


Danny makan sangat lahap sekali. Makanan itu adalah makanan biasa tapi Karena pengaruh hujan makanan pedas itu terasa enak di lidah. Danny tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan makanan dan minuman itu.


"Kenyang. Terima kasih Nia," kata Danny tulus. Nia menganggukkan kepalanya. Makanannya belum habis membuat dirinya masih tetap duduk di tempat itu. Sedangkan Danny duduk ke tepi tempat tidur sambil membuka ponselnya.


"Jaringan tidak Ada," kata pria itu sambil memasukkan kembali ponsel itu ke saku celananya. Nia tidak menjawab.


Beberapa menit kemudian. Danny merasa gerah. Dia membuka Kemejanya. Melihat itu Nia semakin menundukkan kepalanya. Hingga beberapa menit kemudian. Danny membuka kaos dalam yang melekat di tubuhnya. Kini pria itu sudah bertelanjang Dada.

__ADS_1


"Ada apa ini," gumam Danny pelan. Rasa panas itu kini berganti menjadi rasa yang butuh pelampiasan. Kini Danny menatap Nia dengan tatapan pria lapar akan kehangatan seorang wanita.


__ADS_2