
"Kamu selalu mengungkit apa yang kamu berikan kepada aku. Aku akui kamu memberikan kehidupan kepada seorang anak yatim piatu yang bernama Angga. Kehidupan beracun. Itulah yang kamu berikan. Jadi jangan bangga," kata dokter Angga sambil menunjuk wajah Bronson.
Rasa sakit akibat lemparan vas dan gelas terasa sakit di kepalanya. Tapi Dokter Angga merasakan rasa sakit yang lebih dahsyat di ulu hatinya. Bronson memberikan kehidupan kepada dirinya tetapi juga menghancurkan kehidupannya saat ini. Jika boleh waktu diputar kembali ke belakang, dokter Angga akan memilih hidup sebatang kara daripada hidup dibiayai oleh Bronson tapi dibentuk menjadi orang jahat.
Dokter Angga sebenarnya sudah mulai bisa bersyukur atas apa yang dialami oleh dirinya terutama perkenalannya dengan Anggita. Lewat diri Anggita, Bronson bisa menilai arti ketulusan yang sesungguhnya dibandingkan dengan ketulusan yang pura pura.
"Jangan coba coba melawan Angga. Kamu sudah mengenal Bronson dan jangan sampai kekejaman Bronson yang akan menghancurkan dirimu sendiri."
"Pak Bronson ingin menghancurkan Angga. Baiklah, Kita lihat siapa yang hancur terlebih dahulu. Apakah bapak Bronson atau Angga. Dan aku pastikan bahwa kamu yang akan hancur terlebih dahulu," tantang Angga. Angga berbalik hendak meninggalkan ruangan itu karena dokter Angga sadar luka di kepalanya harus secepatnya diatasi. Tapi bagaikan kilat tangan Bronson menarik baju dokter Angga hingga pria itu hampir terjatuh. Tangan Adelia yang terulur menyelamatkan Dokter Angga.
Angga menarik dirinya keras dari tangan Bronson Angga berbalik setelah tangan Bronson terlepas dari bajunya. Angga menatap tajam Bronson yang hendak melayangkan pukulan kepada Dokter Angga. Tapi karena terhalang meja, Bronson tidak bisa mendaratkan pukulan itu dengan tepat.
Menyadari dirinya akan berbahaya jika masih berada berdekatan dengan Bronson. Dokter Angga berpikir mencari akal untuk mengalahkan pria itu tanpa menyentuh tubuh Bronson.
Dokter Angga mendorong meja itu dengan kakinya hingga bergeser dan menghimpit kaki Bronson.
"Lepaskan anak durhaka. Pantas saja kedua orang tua mu meninggalkan dirimu dengan cepat ternyata sikap kamu yang tidak tahu diri inilah yang menjadi penyebabnya. Dokter Angga tidak menghiraukan. Kedua kaki Bronson masih terjepit dan kini sudah mengaduh kesakitan.
Dokter Angga semakin marah. Dia menekan meja itu semakin kuat dengan gigi yang sangat rapat. Setelah melihat bagaimana sakitnya Bronson diperlakukan seperti itu. Dokter Angga akhirnya meninggalkan ruangan itu dan mengajak Adelia untuk keluar. Tapi Adelia tidak bersedia mengikuti.
Dokter Angga melangkah cepat menuju pintu keluar rumah itu. Dia memegang kepalanya yang masih mengeluarkan darah. Setelah berada di teras rumah. Dokter Angga berlari menuju mobil. Dia tidak memperdulikan luka dan rasa sakit itu karena yang ada dihatinya harus secepatnya keluar dari pekarangan rumah itu.
Dokter Angga membawa mobilnya keluar. Ketika mobil sudah keluar dari gerbang dia melihat Bronson yang sudah berlari terpincang dan berteriak menyuruh satpam untuk menutup gerbang. Tapi sayang Bronson terlambat memberikan perintah itu.
Di dalam mobil Dokter hampir tidak bisa menahan rasa sakit itu. Dia tidak mempunyai persediaan obat di dalam mobil. Ketika dokter Angga melihat klinik bersalin. Dokter Angga menggerakkan mobilnya ke klinik tersebut. Karena dirinya butuh penanganan yang secepatnya.
Hampir dua jam, dokter Angga ditangani oleh tenaga medis. Luka di kepalanya lumayan dalam dan harus dijahit. Sedangkan lengannya hanya dikompres karena hanya membengkak dan lebam.
Dokter Angga keluar dari klinik bersalin itu setelah merasa dirinya sedikit membaik. Dia menitipkan mobilnya di klinik itu karena merasa tidak mampu menyetir dengan jarak tempuh yang jauh. Hari ini, Dokter Angga berencana akan menghancurkan Bronson. Dokter Angga merasa harus bergerak cepat melihat bagaimana kejamnya pria itu.
Di Perusahaan Dinata Berlian Sejahtera
Evan dan Rico sedang tertawa puas melihat pencapaian mereka bulan ini. Penjualan product meningkat tajam yang berarti akan membuat laba perusahaan itu akan meningkat juga.
"Terima kasih Rico," kata Evan tulus. Walau dirinya adalah pimpinan tertinggi di perusahaan itu. Evan tidak segan segan berterima kasih kepada para bawahannya atas kinerja dan loyalitas. Evan termasuk orang yang tahu berterima kasih kepada orang orang yang berjasa kepada dirinya.
"Seharusnya aku yang berterima kasih, Kamu yang memberikan kesempatan kepada aku untuk bekerja di perusahaan ini," jawab Rico tulus. Sikap inilah salah satu yang sikap yang disukai oleh Evan dari asistennya itu. Rico tidak langsung besar kepala jika mendapatkan pujian.
__ADS_1
"Rico, aku berencana untuk merekrut satu asisten untuk dirimu sendiri. Selama ini aku sudah banyak menyusahkan kamu. Aku harap, dengan adanya asisten yang membantu kamu. Kamu mempunyai waktu untuk diri sendiri terutama waktu untuk mencari Pacar."
"Asisten?. Tujuan kamu merekrut asisten baru bukan untuk menyingkirkan aku secara halus kan?" tanya Rico. Mendapatkan pertanyaan seperti itu Evan merasa kesal. Dia menatap sahabatnya itu kemudian mengulurkan tangannya memukul kening Rico dengan jari telunjuknya.
"Kebanyakan mencari informasi tentang Bronson. Otak kamu jadi begini. Negative thinking," kata Evan.
Rico tertawa. Sebenarnya dia sangat senang mendengar jika dirinya akan mempunyai asisten. Selama ini, dia juga menginginkan seorang asisten. Tapi untuk mengusulkan kepada Evan. Rico merasa enggan.
"Kamu merekrut dari luar atau memberikan promosi kepada karyawan yang sudah ada?" tanya Rico. Pertanyaannya mengisyaratkan jika dia tidak menolak akan rencana Evan.
"Menurut kamu bagaimana?"
"Menurut aku, lebih baik memberikan promosi kepada karyawan yang berprestasi dan loyal."
"Sependapat. Masuk," kata Evan. Evan memerintahkan orang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk.
"Maaf Pak, Ada seseorang yang ingin bertemu dengan bapak."
"Apa dia tidak menyebutkan namanya?" tanya Evan.
"Namanya Angga Pak."
"Angga Pak."
"Apa ini orangnya? tanya Evan sambil menunjukkan foto dokter Angga yang ada di ponselnya. Pria itu menganggukkan kepalanya.
"Suruh dia masuk," kata Evan cepat. Pria itu menunduk dan undur diri.
"Mengapa kamu menyuruh Dokter Angga masuk?" tanya Rico heran.
"Kenapa? kamu takut?" tanya Evan balik.
"Untuk apa takut. Tempat ini area Kita. Berani dia macam macam akan Kita buat dia jadi satu macam."
"Nah, itu kamu tahu," kata Evan. Tidak ada rasa takut dalam hatinya akan kedatangan Dokter Angga sebentar lagi. Baginya, Dokter Angga bukan tandingannya..Dia siap menerima apa maksud kedatangan pria itu.
"Masuk."
__ADS_1
Evan dan Rico terkejut melihat tampilan Dokter Angga yang sudah berdiri di hadapan mereka. Perban di kepala adalah menjadi tanda tanya bagi dua sahabat itu. Tapi untuk bertanya. Evan dan Rico tidak mempunyai Niat akan hal itu karena masih memandang Dokter Angga sebagai musuh.
Dokter Angga duduk setelah Evan mempersilahkan untuk duduk.
To the point saja, apa maksud dan tujuan kedatangan kamu," kata Evan tegas. Dokter Angga terlihat menarik nafas panjang.
"Sebelumnya aku minta maaf kepada pak Evan dan ibu Anggita. Aku melakukan semua itu karena terpaksa dan balas budi kepada Bronson. Hari ini aku memutuskan untuk pergi dari kehidupan Bronson. Sebelum pergi jauh. Aku ingin kalian hati hati."
"Apa maksud kamu?" tanya Evan. Dia belum berniat memaafkan pria itu.
"Aku ingin memberikan informasi yang sangat berguna kepada kalian."
"Informasi apa?"
"Bronson dan Adelia sedang menjalankan rencana dengan melibatkan wanita yang bernama Anita," kata dokter Angga membuat Evan sangat terkejut. Dia langsung mengingat kedatangan mama Anita ke rumah pribadinya. Evan mengepalkan tangannya mengingat kedatangan wanita itu yang ternyata tidak beritikad baik. Evan bersyukur dalam hati. Karena dirinya tidak mengijinkan wanita itu untuk tidur atau berkunjung kerumahnya.
"Katakan secara detail tentang rencana antara Bronson.
Dokter Angga menceritakan secara detail.
"Adelia berencana mengajak Anita untuk bekerja sama. Adelia menyuruh Anita untuk membuat keluarga pak Evan dan ibu Anggita tidak betah di rumah yang baru. Adelia sangat yakin jika Evan dan keluarganya akan tinggal di rumah sang nenek dibandingkan di rumah Pak Gunawan. Di rumah nenek Rieta, Adelia sudah mempunyai orang kepercayaannya yang siap menerima perintah apapun.. Termasuk perintah untuk mencelakai Cahaya."
Evan sangat marah mendengar persengkolan Adelia dan Anita yang ternyata melibatkan salah satu art yang berada di rumah nenek Rieta. Evan mempercayai informasi itu karena sebagian dari informasi tersebut sudah menjadi kenyataan. Dia menghubungi nenek Rieta setelah menghubungi Anggita beberapa kali tapi tidak diangkat. Evan meminta kepada nenek Rieta untuk tetap memperhatikan Cahaya sampai dirinya pulang sebentar lagi.
"Terima kasih dokter Angga," kata Evan tulus.
"Bolehkah aku meminta maaf langsung kepada ibu Anggita?" tanya dokter Angga. Evan menggelengkan kepalanya cepat. Dia tidak akan membiarkan istrinya dalam celaka. Rasa percaya nya kepada dokter Angga sudah menipis bahkan hampir tidak ada.
"Baiklah tidak apa apa," kata dokter Angga tidak mendapatkan ijin dari Evan. Dokter Angga berharap suatu saat lagi nanti dirinya bisa dengan Anggita tanpa sengaja.
"Dokter Angga, apa jaminanya kamu sudah. berubah?"
"Lihat Luka ini kan. Ini adalah kekejaman Bronson karena aku tidak bersedia beke,rja sama dengan dirinya," kata dokter Angga. Seketika itu juga Evan dan Dokter Angga langsung melihat perban dia atas kepala Dan juga di lengannya.
"Dokter Angga, apa Kamu tidak berniat mengetahui siapakah sebenarnya yang membunuh kedua orang tua kamu?"
Dokter Angga terkejut mendengar pertanyaan Evan.
__ADS_1
'Pak, Evan. Kalian mengetahui siapa yang membunuh kedua Orang tua Kita?" tanya dokter Angga balik.