
"Evan."
Evan menghentikan langkahnya. Hal yang sama yang dilakukan oleh Anggita yang sedang berjalan di sebelahnya. Mereka baru saja keluar dari gedung tempat mereka mengadakan pesta pernikahan, Adelia sudah menyambut mereka.
"Ayo," ajak Evan sambil menggenggam erat tangan istrinya. Anggita menarik tangan Evan ketika pria itu hendak melangkahkan kakinya.
"Tunggu mas, Selagi Kita masih disini. Tolong selesaikan urusan kamu dengannya," kata Anggita. Dia mengarahkan dagunya ke arah Adelia. Anggita sengaja bersikap sombong sedikit untuk memperlihatkan kepada Adelia bahwa dirinya yang akhirnya memenangkan hati Evan.
"Urusanku dengan dia sudah selesai sayang,Jadi apa lagi yang harus diselesaikan?" tanya Evan. Dia berdiri menyamping membelakangi Adelia dan menatap mesra istrinya.
"Tapi aku ingin mendengar langsung kamu menyelesaikan urusan kamu dengan dia, mas. Dengan begitu, aku bisa mengambil sikap menghadapi wanita ini jika sewaktu waktu bertemu dengan dirinya. Atau datang ke rumah kita menagih janji untuk dibahagiakan."
Anggita berkata tegas dan sengaja menyindir Adelia. Belajar dari pengalaman menghadapi Adelia. Anggita tidak ingin lagi bersikap lembut kepada wanita tersebut. Anggita terlalu sakit karena perbuatan Adelia.
"Baiklah, kalau itu keinginan kamu sayang."
"Adelia, jangan pernah menunjukkan dirimu di hadapan aku atau di hadapan keluargaku. Jika itu terjadi. Aku akan menuntut semua apa yang aku berikan kepada kamu selama ini. Karena apa yang kamu terima dari aku sebenarnya itu bukanlah hak kamu. Tapi itu adalah hak dari ibu Lastri."
Evan tidak bermain main dengan perkataannya. Selama Adelia menjadi pendonor darah palsu entah sudah berapa rupiah yang dicairkan Evan untuk dirinya. Bahkan hasil dari penyelidikan yang dilakukan oleh orang suruhan Evan ternyata Adelia sudah mempunyai sebuah rumah di Kota ini. Dan Evan sangat yakin jika uang untuk membeli rumah tersebut adalah uang pemberiannya. Evan sebenarnya tidak bermaksud mengungkit apa yang sudah dia berikan kepada wanita itu. Tapi Evan semakin muak melihat keberanian Adelia menampakan diri di hadapannya setelah kebohongan besar yang dia lakukan sudah terbongkar.
"Maka jika tidak ingin rumah kamu itu rata dengan tanah. Maka jangan pernah mengganggu aku ataupun keluarga ku," kata Evan lagi.
Adelia tentu saja terkejut dan campur takut mendengar ancaman dari Evan. Jika rumahnya rata dengan tanah. Entah dimana dirinya tinggal nantinya. Adelia hendak melangkah karena sudah terlanjur malu tapi Anggita memanggil nama Adelia.
"Adelia." Wanita itu berhenti. Melihat Anggita, belum terbersit penyesalan atas semua perlakuannya kepada Anggita. Adelia tidak merasa bersalah.Hal itu terlihat dari tatapan matanya melihat Anggita yang penuh kebencian.
"Aku rasa sudah cukup jelas ya Adelia. Kamu dan mas Evan tidak lagi ada hubungan apapun. Dan sebagai sesama wanita. Aku meminta kepada kamu untuk tidak mengganggu aku lagi. Karena jika itu terjadi, Hal itu akan merugikan dirimu sendiri. Kejahatan mu sendiri yang membuat orang yang kamu cintai menjauh dari kamu saja. Andaikan kamu memiliki sedikit saja rasa kemanusian. Mungkin saat ini, kamu yang berdiri di sebelah mas Evan. Jadi jangan pernah menganggap aku sebagai penghambat kebahagiaan kamu. Dan satu lagi, kejahatan itu dikurangi dikit ya. Biar tenang hidup kamu," kata Anggita. Akhirnya kalimatnya sengaja menasehati wanita itu.
"Dan satu lagi Adelia. Kamu boleh bersyukur karena Anggita bersedia rujuk denganku. Kami pernah resmi bercerai karena kamu yang mendaftarkan gugatan itu atas nama Anggita.Jika tidak, mungkin kamu sudah berganti nama menjadi perempuan tuna netra. Mencopot kedua Mata kamu adalah hukuman yang tepat bagi perempuan jahat dan serakah seperti kamu."
Adelia menelan ludahnya kasar. Perkataan Evan penuh ancaman dan membuat dirinya sakit hati. Rencana yang dia susun bersama Bronson tidak berjalan sebagaimana mestinya. Seharusnya saat ini dirinya meminta maaf kepada Evan dan Anggita. Berpura pura sudah berubah dan menawarkan pertemanan. Setelah Evan dan Anggita lengah dia akan menusuk bahkan menghancurkan kebahagiaan pengantin baru itu bahkan jika boleh menghancurkan perusahaan Dinata.
Tapi jangankan menawarkan permintaan, meminta maaf pun belum, Evan sudah membuat jantungnya hampir copot. Adelia dapat melihat jika ancaman Evan tidak main main. Adelia tidak ingin berlama lama berhadapan dengan pengantin baru itu. Dia takut jika masih bertahan di tempat itu. Evan akan semakin membeberkan semua kebusukannya.
__ADS_1
Ketakutan Adelia semakin menjadi jadi ketika Danny sudah berdiri tepat di belakangnya. Pria jangkung itu belum mengatakan apapun, Adelia sudah merasakan hawa aneh si sekitarnya.
"Masih berani kamu datang ke sini wanita laknat?" tanya Danny. Pria itu adalah sosok pria yang sangat membenci wanita jahat seperti mantan istrinya dan juga Adelia. Adelia marah mendengar dirinya disebut sebagai wanita laknat tapi tidak bisa menunjukkan rasa marah tersebut.
"Aku hanya ingin meminta maaf, mengucapkan selamat bahkan ingin berteman dengan mereka. Apa aku salah?" tanya Adelia pura pura polos. Evan bahkan menatap Adelia karena perkataannya itu.
"Sangat jelas. Kak Evan dan mbak Anggita tidak menyukai dan tidak mengundang kamu. Hal yang mustahil jika kamu berbuat baik. Kamu adalah setan berwujud manusia. Jadi pergilah sebelum aku mendaur ulang kamu."
"Hei, Danny, apa maksud kamu dengan daur ulang? tanya Anggita menahan untuk tidak tertawa. Evan pun terlihat penasaran dengan maksud adiknya itu mendaur ulang Adelia.
"Untuk mengubah hatinya membutuhkan waktu yang sangat panjang. Tapi untuk mengubah tampilan wajahnya adalah hal tercepat. Melihat kamu Adelia di sini. Aku ingin mengubah kamu menjadi seorang bayi polos tanpa Gigi. Hingga Gigi itu tumbuh kemudian kamu bisa lebih berhati hati untuk menjaga hati kamu supaya tidak selalu di perbudak kejahatan."
"Maksud kamu ingin mencabut giginya dan menjadikan dia ompong?" tanya Evan. Danny menganggukkan kepalanya. Evan tertawa. Bersamaan dengan itu melihat situasi yang memungkinkan, Adelia perlahan mundur dan kemudian dengan setengah berlari menjauh dari hadapan Evan. Evan, Anggita dan Danny tertawa melihat Adelia yang lari seperti kambing yang terkena hujan..
"Kak, sepertinya aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku ingin ke rumah Nia untuk menyelesaikan urusanku dengan dirinya," kata Danny. Dia sengaja hanya minta ijin kepada Evan karena jika minta ijin kepada kedua orang tuanya atau keluarga lainnya. Pasti tidak mengijinkan.
"Pergilah Danny. Jika saat ini tanggung jawab kamu terhadap kehamilan Nia hanya sekedar materi. Lakukan lah yang terbaik," kata Evan.
Danny menganggukkan kepalanya. Dia melangkah cepat menuju parkir Mobil. Dia tidak ingin berlama lama membiarkan Nia dalam ketidak pastian.
"Boleh masuk?" tanya Danny. Nia membuka pintu lebar lebar sebagai pertanda jika dirinya setuju Danny masuk ke dalam rumah.
Danny mendaratkan tubuhnya di sofa sederhana itu. Di wajahnya tidak ada kebahagiaan sama sekali walaupun dirinya baru saja dari pesta pernikahan Evan dan Anggita. Di wajahnya tergambar jelas beban berat yang sedang dia hadapi. Danny bahkan menarik nafas panjang pertanda dirinya terbebani dengan masalah kehamilan Nia.
Mempunyai anak dari wanita yang tidak dicintai dan tidak dinikahi oleh dirinya bukan hal perkara mudah bagi Danny. Banyak hal yang harus dia hadapi nantinya setelah anak itu lahir. Bukan hanya karena status anak tersebut juga, Bagaimana memperkenalkan anak itu nantinya kepada Sisil. Pasti lebih akan membingungkan bagi Sisil. Dan Danny takut jika besar nanti, Sisil menganggap dirinya sebagai pria yang tidak bertanggung jawab.
"Nia, tanpa aku jelaskan. Pasti kamu mengetahui maksud dari kedatangan aku ini," kata Danny pelan. Dia sadar jika perkataannya nanti akan menyakiti hatinya. Tapi itu adalah keputusan mutlak dari pihak keluarga. Dan Danny tidak ingin menikah tanpa restu dari keluarganya.
"Jujur aku tidak tahu kak," jawab Nia. Nia tidak ingin menebak kedatangan Danny hari ini. Ada dua kemungkinan tujuan kedatangan pria itu. Kabar baik atau kabar yang menghancurkan hatinya. Dan Nia berharap jika kabar baiklah yang akan dia dengar. Tapi Nia tidak ingin terlalu percaya diri until mengungkapkan harapannya itu
"Aku tidak bisa menikahi kamu. Tapi aku menjamin semua kebutuhan kamu dan janin itu." Nia merasakan hatinya berdenyut nyeri. Walau Danny bersedia bertanggung jawab secara materi kepada dirinya. Tetap saja Nia sangat sedih. Saat ini, Nia sadar jika hamil di luar nikah dan tanpa suami ternyata sangat berat dan menyakitkan.
"Kak, jangan seperti ini. Di hadapan pak Evan Dan Anggita. Kamu sudah berjanji akan menikahi aku. Tolong ubah pemikiran kamu itu kak," kata Nia memohon. Tidak apa dirinya mengemis pertanggungjawaban sekarang yang penting dirinya tidak menanggung malu jika kehamilan itu sudah membesar.
__ADS_1
"Itu benar. Tapi apa artinya Kita menikah tanpa restu. Keluargaku sudah mengetahui jebakan yang kamu buat. Mereka sangat sangat tidak setuju. Jadi maafkan aku Nia. Tentang kamu dan janin itu,. kamu tidak perlu khawatir.Aku akan mentransfer uang bulanan kalian. Lagi pula kamu akan menderita nantinya jika aku nekat menikahi kamu. Maafkan aku Nia. Aku tidak bisa. Menikah dengan mamanya Sisil saja yang direstui oleh sebagian keluarga aku bisa berakhir perceraian. Apalagi menikah tanpa restu."
Nia menundukkan kepalanya. Bayang bayang hamil sendirian di Masa depan terlintas di pikirannya. Hamil tanpa suami bukan hal biasa di masyarakat. Nia pasti akan menjadi bahan gosip para tetangga nantinya. Nia menggelengkan kepalanya membayangkan dirinya akan dicap sebagai wanita buruk di masyarakat.
"Kak, tolong pertimbangkan aku lagi. Kita bisa menikahi siri," kata Nia pelan. Ucapannya seperti ratapan.
"Tidak Nia. Restu orang tua adalah Hal penting dalam pernikahan. Sekarang mari Kita berdamai dengan keadaan supaya kita menjalani situasi ini dengan ihklas. Apapun keputusan kamu untuk janin itu aku menerima dengan ihklas. Tapi tolong jangan paksa aku dalam situasi seperti ini."
Nia merasakan hatinya berdenyut nyeri mendengar penolakan Danny. Selama dua hari ini dia menunggu Danny dan berharap Danny berjuang mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. Tapi kedatangan Danny sore hari ini menghancurkan hati Nia. Dia seketika merasa tidak berharga. Dua hari ini dia menyesali perbuatannya. Kebaikan kebaikan selama ini lenyap hanya karena satu kesalahan fatal.
"Kamu mudah menyerah kak. Bayi ini butuh status yang jelas setelah lahir nanti. Seharusnya kamu bisa bertindak bijak sana. Jika tidak ada restu, Nikah Siri adalah jalan yang terbaik. Janin ini memang ada karena kesalahanku. Tapi sebesar apapun kesalahan aku yang menyebabkan dia ada. Janin ini tetap lah tidak bersalah dan berhak mendapatkan orang tua yang lengkap dan lahir dari pernikahan yang resmi.
"Nia, jangan terlalu menuntut. Jalani hidup kamu. Jika menjebak aku adalah keinginan kamu supaya kita menikah. Banyaklah berdoa supaya janin itu lahir dengan status yang jelas. Satu hal yang harus kamu ingat, aku tidak akan menikah tanpa restu kedua orang tuaku. Dan kesalahan kamu tidak bisa diterima akal begitu saja. Jangan menuntut atas kesalahan yang tidak aku buat. Ini murni kesalahan kamu."
"Aku butuh tanggung jawab mas. Bukan ceramah. Jangan menjadi pria pengecut kak."
Nia akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak marah.
"Nia, jaga perkataan kamu. Jika aku adalah pria pengecut mengapa kamu menginginkan aku hingga menjebak aku," bentak Danny sudah mulai ikut marah. Nia semakin menundukkan kepalanya karena menyembunyikan kesedihannya. Suara Danny yang membentak membuat hati Nia menciut.
"Kak, tolong. Aku sabar sampai menunggu beberapa bulan ke depan. Tapi tolong perjuangkan aku dan janin ini. Aku mengakui bahwa aku bersalah. Tapi jangan biarkan aku menanggung aib ini sendirian. Sungguh aku tidak sanggup kak. Aku menyesal tapi janin ini membuat penyesalanku tidak berarti."
Nia berharap, Danny memberikan harapan kepadanya. Tapi Nia tidak mendengar apapun yang keluar dari mulut pria itu. Dia menatap Danny dengan air mata yang hendak keluar dari kedua pelupuk matanya. Nia mendongak menatap langit langit rumah supaya air mata itu tidak meluncur bebas.
"Setidaknya kita menikah siri sampai janin ini lahir kak. Aku siap diceraikan setelah kelahirannya. Aku tidak menuntut apapun. Aku hanya tidak ingin menanggung malu," kata Nia pelan. Suaranya bergetar menahan tangis. Nia berharap, kali ini Danny memikirkan permintaannya.
"Aku tidak bisa memberikan harapan kepada kamu Nia. Kita jalani saja seperti ini," kata Danny. Dia meletakkan sebuah amplop yang berisi uang di atas meja.
"Jaga nutrisinya sejak dalam kandungan. Aku pamit," kata Danny sambil berdiri. Nia mendongak menatap Danny yang sudah berdiri. Tidak kurang dari satu menit, pria itu melangkah tegap menuju pintu utama.
Nia akhirnya menangis. Hanya dengan cara menangis Nia bisa melepaskan sedikit beban di hatinya. Cara Danny meninggalkan dirinya seperti ini seakan menunjukkan tidak ada harapan lain selain menanggung rasa malu itu sendirian.
Nia berkali kali memukul kepalanya karena kebodohan itu. Andaikan waktu bisa diputar, Nia akan mengatakan langsung kepada Rendra bahwa dia tidak ingin melanjutkan pernikahan itu. Nia menyesal. Nia menyesali tindakan yang salah itu.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku nak. Kehadiran kamu bukan hal yang diharapkan tapi karena kesalahan wanita bodoh ini. Apa yang harus aku lakukan supaya kamu bisa terlahir seperti bayi bayi lainnya?" tanya Nia kepada janinnya.
Nia mengusap wajahnya kasar. Dia sadar menangis tidak akan mendapatkan solusi dari permasalahan ini.