
Nia dan Jessi tidak langsung beristirahat setelah tiba di rumah kontrakan yang baru. Jessi langsung membuka toko kecil kecilan itu dan.Nia belajar menyusui bayi perempuannya langsung dari sumber. Selama tiga minggu. Sang bayi hanya bisa menikmati susu kehidupan itu dari dot. Sedangkan hari ini, Nia langsung menyusui bayi perempuannya. Nia benar benar berusaha siap lahir dan batin menjadi seorang ibu bagi bayi itu.
"Pintar putri bunda," puji Nia ketika bayi itu sudah mulai pintar menyedot asi dari sang bunda. Walau ada terasa sakit dan geli. Nia tidak berniat sama sekali melepaskan benda itu dari mulut sang bayi. Kesedihannya lenyap hanya melihat putrinya bersemangat menyusu.
Sambil menyusui bayinya, Nia memikirkan hal hal apa saja yang harus dia lakukan di hari esok dan hari hari berikutnya. Di saat itulah ponsel miliknya berdering. Nia menyunggingkan senyumnya ketika melihat nama dari seorang pria yang banyak membantu dirinya selama ini.
"Halo lex," sapa Nia.
"Halo lex, halo lex. Dasar sahabat tidak punya perasaan. Sudah pindah tidak bilang bilang. Tapi masih tega tidak sopan kepada sahabatnya. Hey, Nia. Aku itu lebih tua dari kamu ya. Panggil abang kek, panggil mas kek. Dan kalau bisa panggil honey."
Nia tertawa mendengar ocehan sahabatnya itu. Sahabat yang lebih tua satu tahun dari dirinya sehingga Nia tidak sungkan memanggil pria yang bernama Alex itu dengan sebutan namanya sendiri.
"Dipanggil om. Mau?" goda Nia membuat Alex kembali menggerutu.
"Aku belum setua itu untuk kamu panggil om, Nia kedondong," kata Alex dari seberang.
"Maksud aku. Putriku yang memanggil kamu dengan sebutan om. Kalau aku tetap memanggil kamu dengan sebutan Alex nenas."
Alex terdengar tertawa dari seberang. Begitu juga dengan Nia. Mereka memang biasa bercanda dengan menyebut nama disertai dengan buah.
"Aku sih maunya dipanggil ayah. Karena aku sangat yakin jika kamu dan aku akan bertemu di pelaminan seperti kedondong dan nenas yang selalu bersatu di dalam nama yang disebut dengan rujak."
Nia kembali tertawa. Perkataan Alex seperti candaan bagi dirinya yang bisa membuat Nia merasa terhibur.
"Woi Nia kedondong. Aku serius. Sekarang juga. Aku harus tahu alamat kamu dimana. Aku tidak terima cara kamu ini," kata Alex dari seberang pura pura marah. Nia hanya tertawa mendengar perkataan Alex. Nia memang belum memberitahu kepada sahabatnya itu tentang kepindahan ini. Dia berencana akan memberitahu pria itu setelah beberapa hari tinggal di tempat ini. Tapi karena mungkin pria itu berkunjung ke rumah Nia yang lama sehingga pria itu mengetahui kepindahan itu lebih cepat dari yang direncanakan oleh Nia. Setelah melahirkan. Nia belum bertemu dengan sahabatnya itu karena Alex ada pekerjaan di luar kota membuka cabang butik yang baru. Tapi Nia sudah menceritakan apa yang dia alami termasuk dengan bayi kembarnya.
Nia akhirnya memberitahukan alamatnya kepada pria itu karena tidak ada alasan untuk menyembunyikan diri dari sang sahabat. Alex adalah pria Pemilik butik tempat bekerja selama beberapa bulan ini dan banyak membantu dirinya dalam hal membuat desain pakaian.
Setelah menutup panggilan dari Alex. Nia menatap wajah bayinya yang sudah terlelap. Setelah beberapa kali Alex bercanda mengajak dirinya untuk menjalin hubungan yang serius lebih dari sekedar. Entah mengapa kali ini. Nia merasakan hal aneh dalam hatinya. Nia menerka dalam hati perasaan apa yang baru saja dia rasakan.
__ADS_1
Tidak berselang lama kemudian. Ponsel Nia kembali berdering. Kalau tadi nama si pemanggil adalah pria yang selalu memberikan semangat pada dirinya ketika hamil. Kini nama si pemanggil di ponsel itu adalah nama pria yang membuat mentalnya seperti terbunuh. Nia menarik nafas panjang melihat nama itu. Nia sama sekali tidak berniat untuk menjawab. Setelah panggilan itu terhenti. Nia menonaktifkan ponsel miliknya kemudian mencabut sim card itu dari ponselnya. Tidak tanggung tanggung. Nia langsung mematahkan sim card tersebut. Kalau dulu kontak milik Nia yang diblokir oleh Danny. Kini Nia tidak hanya memblokir kontak milik Danny tapi langsung merusak sim card miliknya sendiri. Nia benar benar tidak ingin berurusan dengan Danny dan keluarganya lagi.
"Kenapa sim card itu kamu rusak?" tanya Jessi sambil menuang gula ke dalam plastik satu kiloan. Dia mendengar pembicaraan Nia dan Alex tapi tidak mengetahui jika orang yang baru saja memanggil nomor Nia adalah Danny.
"Seenaknya saja dia membuka blokir kontak ku setiap ada maunya," jawab Nia kesal.
"Maksud kamu. Pria itu adalah Danny?" tanya Jessi. Nia menganggukkan kepalanya.
"Apa maksud dari perkataan kamu itu?" tanya Jessi. Nia berusaha menutupi pertemuannya dengan Danny beberapa bulan yang lalu dengan wanita gebetan Danny. Tapi karena pertanyaan Jessi penuh selidik akhirnya Nia tidak bisa menyembunyikan pertemuan itu.
"Kurang ajar," maki Jessi sambil menghentikan tangannya dari aktivitas semula. Pantas saja, dalam dua bulan ini. Nia terlihat pendiam dan lebih suka menyendiri. Ternyata Danny tidak mempunyai otak hanya demi mendapatkan wanita impiannya tidak memikirkan perasaan saudaranya.
"Sudah lah. Aku sudah melupakannya," kata Nia supaya amarah adiknya itu surut.
"Kamu memang sudah melupakannya mbak. Tapi pria itu harus tahu jika perbuatannya itulah yang membuat kamu terbeban pikiran. Dia harus tahu bahwa bayi laki laki itu meninggal Karena keegoisannya."
"Sudah Jessi. Jangan diperpanjang lagi. Dengan menyembunyikan bayi perempuan ini sudah cukup membalas perbuatan kak Danny dan keluarganya," kata Nia tegas. Dia tidak ingin mengenang masa masa menyakitkan itu. Nia ingin fokus ke masa depan karena tanggung jawabnya sudah bertambah satu orang.
Tiga jam kemudian. Nia dan Jessi kedatangan tamu. Pria yang menjadi sahabat Nia itu kini sedang berdiri di depan pintu dengan bungkusan yang hanya dibungkus dengan plastic putih bening di tangannya.
"Halo, adakah seseorang di dalam yang bertangan baja yang bisa membantu aku?" tanya pria bernama Alex itu sambil berjalan masuk ks dalam rumah. Pria itu melangkah dengan yakin masuk ke dalam rumah karena ciri ciri rumah dan nomor yang dikirimkan oleh Nia ke ponselnya adalah rumah ini.
Di dalam kamar. Nia terkejut mendengar suara sahabatnya itu. Dia baru saja menidurkan bayinya. Nia langsung turun dari tempat tidur. Nia menutup mulutnya melihat Alex lengkap dengan bungkusan besar yang sangat diimpikan wanita itu sebelum bayi kembarnya lahir. Benda itu adalah satu set perlengkapan bayi yaitu baby bed.
"Alex kamu datang. Dan ini untuk aku?" tanya Nia senang dan mendekati Alex.
"Selamat dulu donk. Selamat jadi ibu ya sobat," kata Alex sambil mengulurkan tangannya kepada Nia. Nia menerima uluran tangan itu. Ucapan selamat jadi ibu itu seperti cambuk semangat bagi Nia. Nia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ini semua untuk aku?" tanya Nia senang sambil menunjuk bungkusan itu.
__ADS_1
"Bukan. Untuk Jessi. Yang melahirkan siapa dan pertanyaannya apa. Ya jelas lah untuk kamu dan bayi Kita," kata Alex. Dia mendapatkan pukulan di lengan karena percaya diri menyebut bayi Nia dengan bayi kita.
"Mana bayi Kita?. Aku ingin melihatnya segera," kata Alex lagi membuat Nia kembali melayangkan tangannya ke lengan sahabat. Alex hanya tertawa.
Nia melangkah ke kamar setelah menyuruh Alex duduk di lantai. Alex duduk sementara Nia masuk ke kamar untuk mengambil bayinya.
"Sedang tidur," kata Nia pelan sambil menunjukkan wajah bayinya kepada Alex. Pria itu terlihat senyum melihat bayi itu kemudian mengelus pipi sang bayi sebentar.
"Tidurkan lagi di kamar. Tidak nyaman baginya tidur seperti itu," kata Alex menyuruh Nia untuk menidurkan bayi itu di kamar saja. Alex bukan tidak ingin berlama lama menatap wajah bayi itu. Tapi Alex tidak egois. Dia ingin bayi itu tidur di tempat tidur dari pada di tangan Nia. Nia pun menuruti kata sahabatnya itu.
"Sebagai bentuk suka cita ku atas kelahiran bayi perempuan itu. Aku memberikan ini kepada kalian berdua," kata Alex sambil mendorong bungkusan itu mendekati kaki Nia.
"Terima kasih lex."
"Buka donk."
Nia membuka bungkusan plastic dengan semangatnya. Nia sangat senang.
Bungkuan perlengkapan bayi itu akhirnya oleh wanita itu. Dia sudah tentu bisa menduga isinya. Nia sudah berniat akan membuat satu set perlengkapan bayi itu untuk dirinya. Bahan bahannya sudah ada. Polanya juga sudah ada. Nia tidak terburu buru mengerjakan perlengkapan bayi itu karena tidak menyangka bayi kembarkan lahir prematur.
Nia mengagumi perlengkapan satu persatu perlengkapan itu. Ada sofa bayi, selimut, baby bed dilengkapi kelambu anti nyamuk hingga bantal menyusui untuk Nia. Yang membuat Nia lebih terkejut lagi adalah merek perlengkapan bayi itu serupa dengan nama butik pemiliknya.Itu artinya, jika perlengkapan hayi itu adalah salah satu pekerja butik yang membuat.
"Kamu memang sahabat aku yang terbaik Alex ,"puji wanita itu. Alex tersenyum bangga sambil menepuk Dadanya.
"Aku sudah mengetahui jika kamu tidak sempat mengerjakan perlengkapan itu," jawab pria itu. Mendengar Nia melahirkan bayi prematur. Alex menyuruh salah satu karyawannya membuat satu set perlengkapan bayi itu dan harus siap sebelum dirinya kembali dari luar kota.
"Terima kasih Alex. Tidak seharusnya kamu repor repot memberikan ini," kata Nia. Nia merasa tidak enak hati karena terlalu sering menerima kebaikan pria itu.
"Segala sesuatu yang berhubungan dengan masa depan. Segala sesuatunya itu butuh perngorbanan dan perjuangan. Salah kah aku jika berkorban waktu dan berjuang mengejar Masa depanku sendiri?"
__ADS_1
"Jangan sok serius Alex," kata Nia untuk mengalihkan pembicaraan. Nia mengetahui arah perkataan sahabatnya itu.
"Kamu kira aku bercanda?" tanya Alex serius. Nia bisa menangkap keseriusan itu sekarang dibandingkan dengan yang sebelumnya.