Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Promo Novel Baru Bukan Rahim Bayaran


__ADS_3

"Aku tidak akan pernah mengijinkan kamu pergi dari paviliun ini sebelum kamu melahirkan anak itu. Setelah itu, aku tidak perduli kamu pergi entah kemana. Aku akan memberikan uang yang banyak untuk bekal kamu nanti. Asalkan kamu tidak akan kembali ke kehidupan kami," kata Arjuna tidak berperasaan.


"Ternyata kalian sejahat itu pa," kata Marissa. Marissa hanya dapat menangis mendengar kata kata menyakitkan dari mulut Arjuna. Makin ke sini. Marissa dapat melihat jika Arjuna tidak hanya bersikap dingin kepada dirinya tapi juga bersikap tega kepada dirinya. Perkataan Arjuna jelas merendahkan harga dirinya. Dia tidak mengharapkan uang yang banyak yang dikatakan oleh Arjuna. Marissa hanya ingin, Arjuna percaya bahwa dirinya tidak pernah menjebak pria itu.


"Tidurlah, aku juga tidak ingin melakukan itu dengan perempuan liar seperti kamu. Tubuh dan Cintaku hanya untuk istriku Nisa," kata Arjuna lagi.


Lagi lagi Arjuna berkata pedas. Marissa sudah berusaha berbuat baik tapi kini dirinya disebut sebagai perempuan liar.


"Satu hal yang harus papa ingat. Aku tidak pernah menjebak papa. Aku bahkan tidak pernah mengingat pernah melakukan perbuatan kotor itu," jawab Marissa sengit. Marissa merasa perlu memperjelas bahwa dirinya tidak pernah menjebak Arjuna.


"Satu lagi pa. Jika kalian masih menyebut aku sebagai perempuan liar. Maka jangan harap anak ini akan pernah bertemu dengan kalian," kata Marissa.


"Apa maksud kamu. Kamu mengancam ku?"


"Terserah papa mengartikan apa yang aku katakan tadi. Tapi aku ingin memperjelas bahwa aku bukan perempuan liar."


Arjuna berdecih. Hati pria itu masih membeku dan tidak ingin mempercayai kata kata Marissa.


"Itu pintu keluar pa. Aku mau tidur. Papa tidak perlu tidur di sini. Karena aku tidak butuh dan tidak ingin."


Marisa menunjuk pintu keluar. Marissa merasa tidak perlu lagi menjaga lisan untuk Arjuna yang sudah berubah. Marissa juga tidak perduli apakah suaminya itu tersinggung atau tidak.


"Kamu mengusir ku dari hartaku sendiri?" kata Arjuna marah. Ternyata benar pria itu tersinggung atas sikap lancang yang ditunjukkan oleh Marissa. Dia tidak sadar. Marissa seperti itu karena dirinya.


Marissa tidak menjawab. Marissa menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Marissa menyembunyikan tangisnya di dalam selimut itu.


Tersinggung karena sikap Marissa tidak membuat Arjuna langsung keluar dari paviliun itu. Dia akan keluar jika sudah larut malam nanti setelah kakek Martin masuk kamar dan tidur. Dia tidak ingin tidur di paviliun itu. Bersedia datang ke tempat ini hanya untuk mengecoh Kakek Heri. Arjuna memainkan ponselnya menunggu larut malam.


Arjuna larut dalam permainan di ponsel itu. Dia bermain ponsel kurang lebih satu jam. Ketika dirinya hendak melangkah ke arah pintu. Helaan nafas panjang dari ranjang membuat langkah Arjuna berhenti. Dia menoleh ke arah ranjang itu dan masih terlihat jika Marissa tertutup selimut.


Arjuna merasakan hatinya berdenyut nyeri. Dia mengetahui mengapa Marissa seperti itu karena kelelahan menangis. Di sela sela dirinya bermain ponsel tadi. Arjuna sesekali mendengar isak tangis Marissa.

__ADS_1


Arjuna tidak jadi melangkah ke arah pintu. Dia melangkah ke arah ranjang. Dia menatap tubuh Marissa yang tertutup selimut itu. Arjuna membuka selimut itu perlahan dari atas kepala Marissa. Dia bisa melihat air mata gadis malang itu yang belum mengering.


"Andaikan kamu tidak berbuat nekad seperti itu. Mungkin kamu masih putri ku yang manis," batin Arjuna. Dia menatap wajah Marissa yang terlihat sangat sedih sekali. Arjuna menarik nafas panjang kemudian melangkah menjauh dari ranjang itu. Keluar dari paviliun dan menuju rumah utama. Arjuna merasa lega karena rumah itu sudah sepi.


Arjuna membuka pintu kamar dengan perlahan. Dia mendapati istrinya yang sudah terlelap di ranjang. Arjuna ingin membangun Nisa tapi dia urungkan karena dirinya masih terbayang dengan wajah sedih Marissa.


Sepanjang malam itu, Arjuna tidak bisa memejamkan matanya. Permohonan Marissa ingin pergi dari rumah itu terngiang di telinganya. Arjuna berkali kali memejamkan matanya tapi wajah sedih Marissa yang terbayang di wajahnya.


Besok paginya, Arjuna juga bangun dengan cepat. Dia terlelap hanya sekitar dua jam tapi itu tidak membuat dirinya bangun terlambat. Hari ini adalah hari minggu. Biasanya di Hari libur seperti ini. Arjuna akan bermalas malas di tempat tidur.


"Mana istriku ma," kata Arjuna kepada nenek Rosa yang sudah terlihat sibuk di dapur. Biasanya Nisa yang mempersiapkan sarapan untuk mereka dibantu pekerja di rumah itu.


"Nisa ke paviliun mengantarkan sarapan untuk Marissa."


"Entah terbuat dari apa hati Nisa ya. Aku benar benar tidak salah memilih istri," puji Arjuna. Dia mengagumi sikap Nisa yang masih bersikap baik kepada Marissa Setelah apa yang dilakukan perempuan itu.


Nenek Rosa tidak menanggapi pujian Arjuna kepada istrinya itu. Justru wanita tua itu merasa heran dengan sikap perduli yang ditunjukkan oleh Nisa kepada Marissa. Karena pada umumnya wanita yang tersakiti oleh orang yang sangat dia percaya akan lebih membenci daripada tersakiti oleh orang lain. Tapi yang nenek lihat dari diri Nisa ketika hendak mengantarkan sarapan Marissa justru Nisa terlihat senang.


"Marissa sayang. Dia tidak mau makan sama sekali. Padahal kata Bibi. Tadi malam dia hanya makan sedikit sekali," kata Nisa terlihat sangat khawatir.


"Lalu mengapa makanannya dibawa kembali ke mari. Letakkan saja disana. Sewaktu waktu dia lapar kan bisa tinggal ambil," kata Arjuna. Baki berisi sarapan dan susu masih di tangan Nisa.


Nenek Rosa menatap wajah Arjuna dan Marissa. Arjuna bisa bersikap tenang sedangkan Nisa terlihat sangat khawatir. Bagi nenek Rosa. Sikap yang ditunjukkan oleh Nisa adalah sikap yang tidak wajar ditunjukkan oleh istri tua ke istri muda. Pada umumnya, istri tua tidak akan perduli dengan apapun yang terjadi dengan istri muda apalagi iistri muda dinikahi karena alasan berselingkuh dan sedang mengandung.


"O iya benar. Kalau begitu kamu saja yang mengantarkan ini sayang. Kasihan janinnya jika tidak ada nutrisi masuk ke dalam tubuh Marissa."


Arjuna terlihat ragu akan perkataan istrinya itu. Berhadapan dengan Marissa. Arjuna sadar tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak marah. Dia tidak ingin memulai hari ini dengan marah karena Arjuna sangat yakin jika Marissa akan meminta ijin untuk pergi dari rumah ini. Arjuna juga yakin jika tindakan tidak mau makan itu adalah tindakan yang sengaja dilakukan oleh Marissa.


"Benar Arjuna. Sebaiknya kamu saja yang mengantarkan makanan itu kepada Marissa," kata nenek Rosa. Sebagai wanita yang sudah mempunyai pengalaman mengandung. Nenek Rosa berpikir jika Marissa butuh perhatian dan kasih sayang suaminya.


"Baiklah," kata Arjuna. Dia mengulurkan tangannya meminta baki itu dari tangan Nisa.

__ADS_1


"Demi calon anak kita," bisik Arjuna di telinga istrinya. Nisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia merasa senang Arjuna mengatakan itu.


Arjuna belum sampai di pintu paviliun itu. Dia sudah mendengar suara Marissa. Marissa sedang.berperang melawan rasa mual dan muntah itu di kamar mandi paviliun itu.


Arjuna meletakkan baki itu di atas meja kecil. Dia . melangkah cepat ke arah kamar mandi yang pintu terbuka. Di dalam kamar mandi sederhana itu. Arjuna dapat melihat Marissa sedang berjongkok yang membelakangi dirinya sedang berusaha memuntahkan isi perutnya tapi tidak ada yang keluar. Arjuna merasa jijik setelah melihat apa yang dimuntahkan Marissa. Bukan makanan memainkan cairan berwarna hijau kekuningan. Namun demikian. Arjuna tetap berdiri di pintu kamar mandi itu.


Arjuna terkejut melihat wajah Marissa yang terlihat sangat pucat dan berkeringat. Marissa juga terkejut melihat Arjuna berdiri di pintu itu.


"Kamu pucat Sa," kata Arjuna. Sikap Arjuna berubah lembut seperti dulu ketika Marissa masih putri angkatnya dulu.


Marissa tidak menjawab. Marissa berjalan ke arah ranjang dan langsung berbaring di sana. Setelah rasa mual itu berkurang. Marissa merasakan kepalanya seperti mau pecah. Ini bukan yang pertama dia rasakan tapi sepertinya ini yang paling parah. Mungkin karena perut yang terisi sedikit tadi malam ditambah beban pikiran yang berat membuat Marissa harus mengalami morning sickness lebih parah hari ini dibandingkan beberapa hari yang lalu.


"Makan dulu Sa. Kamu harus banyak makan supaya janin itu sehat," kata Arjuna khawatir. Marissa tetap tidak menjawab. Jika tidak makan bisa membuat dirinya terlepas dari janin itu. Maka Marissa ingin melakukannya. Karena sampai detik ini, Marissa belum rela mengandung.


Arjuna menarik meja kecil itu supaya dekat ke ranjang Marissa.


"Marissa, tolong jangan keras kepala. Janin itu butuh nutrisi," bentak Arjuna. Ternyata sikap lembut yang ditunjukkan oleh pria itu tidak dapat bertahan lama.


"Terjadi sesuatu dengan janin itu. Kamu bisa aku masukkan ke dalam penjara. Karena kamu sengaja tidak mau makan untuk mencelakai janin itu kan. Ingat Marissa. Aku tidak main main dengan perkataan ku. Siapapun tidak bisa menolong kamu jika sampai itu terjadi," ancam Arjuna. Arjuna bahkan memaksa Marissa untuk duduk.


Marissa tidak menangis lagi. Ketika Arjuna memasukkan dengan paksa sarapan itu ke dalam mulutnya. Marissa pun berusaha untuk mengunyah. Tidak ada air mata atas sikap kejam yang dia terima dari Arjuna. Hingga sarapan itu tersisa sedikit. Arjuna yang menyuapi Marissa tapi dengan cara paksa.


"Bisa minum susu sendiri. Atau harus dipaksa?" tanya Arjuna masih. Marissa tidak menjawab tapi mengulurkan tangannya untuk minum susu itu. Dia harus menurut karena tidak ingin masuk penjara. Marissa sadar dirinya tidak mempunyai siapa siapa di dunia ini. Dulu dirinya sangat bersyukur mempunyai orang tua angkat seperti Arjuna dan Nisa. Dan sekarang, Marissa ingin memutar waktu ke masa lalu. Andaikan itu bisa. Marissa tidak akan bersedia menjadi putri angkat bagi Arjuna dan Nisa.


"Marissa, aku rasa kamu sudah dewasa. Untuk hal tentang makan ataupun yang lainnya. Jangan sampai menyusahkan orang lain. Ingat yang aku katakan. Aku tidak akan membiarkan kamu lolos jika terjadi sesuatu pada janin itu. Kamu juga harus ingat. Janin itu milikku dan Nisa," kata Arjuna sinis.


"Iya. Akan aku ingat," jawab Marissa pelan. Kemudian Marissa kembali berbaring di ranjang. Sakit kepala itu belum juga hilang.


Arjuna merasa lega mendengar jawaban Marissa. Dia tidak mengetahui jika seseorang tersenyum senang di luar pintu paviliun itu. Wanita itu adalah Nisa. Dia merasa senang bisa mendengar semua perkataan Arjuna kepada Marissa. Arjuna bersikap kasar kepada Marissa itu artinya jika Arjuna membenci Marissa. Nisa merasa tidak ada lagi yang harus dia takutkan. Nisa berpikir jika Arjuna adalah miliknya dan tidak seorang pun yang bisa merebut Arjuna dari dirinya meskipun itu Marissa.


Nisa bersembunyi di balik paviliun ketika mendengar langkah Arjuna mendekati pintu. Nisa juga tidak mengetahui jika apa yang dia lakukan diperhatikan oleh nenek Rosa dari pintu penghubung rumah dan bagian belakang rumah.

__ADS_1


__ADS_2