Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Diskusi Pengantin Baru


__ADS_3

Sesuai kesepakatan antara Evan dan Anggita. Sore hari ini setelah pesta pernikahan, mereka pulang ke rumah yang diberikan Evan sebagai mahar untuk istrinya. Sebenarnya bisa saja mereka menginap di hotel yang sudah dipesan oleh Rendra untuk malam pengantinnya yang gagal bersama Nia. Tapi baik Evan dan Anggita memilih untuk pulang ke rumah tersebut.


Seakan mengerti akan pengantin baru itu, mama Feli dan tante Tiara memutuskan menginap di rumah nenek Rieta dan berencana membawa Cahaya bersama mereka.


Evan tentu saja keberatan. Dia juga mengetahui maksud mama Feli dan tante Tiara hendak membawa Cahaya bersama mereka supaya dirinya dan Anggita tidak terganggu melakukan ritual malam pertama.


"Mama, bagaimanapun Cahaya harus pulang bersama kami," kata Evan.


"Sudah lah. Pulang Sana!. Cahaya aman bersama kami. Tiga hari lagi, Cahaya akan kami kembalikan ke rumah kalian."


"Tidak boleh seperti itu mama. Lihat tuh Cahaya. Dia ingin bersama kami bukan bersama kalian," kata Evan. Cahaya memang menggerakkan tangannya ke arah Evan.


"Ya mama, Cahaya bersama kami saja," bujuk Anggita. Mama Feli dan tante Tiara saling berpandangan. Di saat itulah Evan mengulurkan tangannya kepada Cahaya yang disambut ceria oleh bayi itu. Hal itu terlihat dari Cahaya yang mencondongkan tubuhnya ke arah Evan.


"Kasih saja bi," perintah tante Tiara kepada Bibi Ani yang saat itu sedang menggendong Cahaya.


Cahaya sudah berpindah tangan. Bayi itu terlihat senang seakan ikut bahagia dengan pernikahan kedua orang tuanya. Evan membawa bayi itu ke dalam mobil.


"Evan, tunggu. Bibi Ani bagaimana?" tanya tante Tiara lagi. Tante Tiara hanya memikirkan ritual malam pertama pengantin baru itu tidak terganggu. Melihat Evan dan Anggita tidak mengajak Bibi Ani bersama mereka. Tante Tiara khawatir pengantin itu tidak bisa menjalankan malam pertama ini dengan baik.


"Bibi Ani libur selama tiga hari mama," jawab Evan tenang. Setelah mengucapkan itu, Evan dan Anggita masuk ke dalam mobil.


Perjalanan dari hotel itu menuju rumah baru mereka hanya memakan waktu tiga puluh menit. Rico yang mengantarkan pasangan itu sampai ke rumah langsung pamit pulang karena tidak ingin mengganggu keluarga kecil itu.


Anggita masuk kamar terlebih dahulu. Tidak ada drama membuka gaun pengantin seperti pasangan pengantin baru lainnya. Anggita bukan tipe orang yang suka merepotkan orang lain termasuk suaminya sendiri. Dia membersihkan tubuhnya secepat mungkin karena setelah ini, dia harus mengganti Evan untuk menjaga Cahaya.


"Mas, mana Cahaya?" tanya Anggita setelah keluar dari kamar. Tampilan dirinya yang baru selesai mandi sangat menyegarkan mata Evan. Evan bahkan tidak berkedip melihat istrinya yang terlihat sangat polos dan segar.


"Mas."


"Ah, iya. Sayang," jawab Evan sedikit gugup. Terlalu menikmati pemandangan indah di depannya membuat Evan terpesona dengan kecantikan alami istrinya itu. Anggita jauh terlihat lebih cantik jika tidak memakai polesan. Kulit wajahnya yang bening dan lembut menyejukkan Mata bagi yang memandangnya.


"Cahaya Mana?" tanya Anggita lagi. Evan hanya menggerakkan tangannya menunjuk kamar di sebelah kamar mereka. Anggita membalikkan badannya menuju kamar yang ditunjukkan oleh Evan. Wanita itu tidak mengetahui jika di belakangnya Evan memandangi tubuhnya dengan senyuman manis karena merasa bangga bisa memiliki seorang istri yang cantik. Anggita memang bukan wanita yang memilih postur tubuh yang tinggi. Tapi pakaian dengan dengan model apapun sangat pas di tubuhnya. Tidak heran jika semasa kuliah dirinya dijuluki sebagai manekin hidup. Karena tubuhnya seperti manekin yang cocok pakai baju apapun.


"Anggita, ternyata kamu sangat cantik sayang," gumam Evan pelan. Sebagai pria normal dia tidak sabar menunggu malam untuk mengajak istrinya itu olahraga ranjang.


Tidak ingin berfantasi liar. Evan cepat cepat membersihkan tubuhnya. Dia merasa malu kepada dirinya sendiri karena hampir saja dirinya tidak bisa mengontrol keinginan itu. Itulah sebabnya dia membawa Cahaya pulang bersama dirinya. Setidaknya jika Anggita belum bersedia menjalankan kewajibannya malam ini,. wanita itu mempunyai alasan dengan keberadaan Evan. Evan sungguh tidak ingin istrinya berdosa jika tidak bersedia melayani dirinya karena masih belum cinta.


Evan terlalu berpikir jauh dan terlalu memikirkan perasaan Anggita. Setelah malam tiba, apa yang dipikirkan oleh Evan tidak benar adanya. Walau Anggita terlihat canggung berduaan di kamar dengan dirinya. Tapi Evan dapat melihat jika istrinya itu adalah istri yang baik.


"Cahaya sudah tidur?" tanya Evan sambil meletakkan tangannya di pinggang Anggita. Posisi Anggita berhadapan dengan Cahaya dan Evan di belakangnya.

__ADS_1


"Sudah mas," jawab Anggita dengan suara yang terdengar sedikit gugup. Pelukan Evan di pinggangnya mengingatkan Anggita bagaimana dirinya dulu melayani Evan tanpa cinta dan seenak pria itu tanpa menunggu dirinya sudah siap.


"Kenapa gugup?" tanya Evan tepat di belakang telinga istrinya membuat Anggita merinding. Evan tersenyum di belakang Anggita.


"Jika kamu belum siap. Kita bisa menundanya sampai kamu siap menjalankan kewajibanmu."


Anggita tersenyum mendengar perkataan Evan. Sungguh, perkataan itu merasa dirinya sebagai seorang istri yang dihargai oleh suaminya. Dulu, Evan tidak pernah bersikap seperti ini.


"Aku istri kamu mas. Dulu tanpa pernyataan cinta aku bisa melayani kamu sepenuh hati. Malam ini adalah malam pertama kita sebagai suami istri. Aku siap menjalankan kewajiban aku. Tapi aku harap kamu melihat kondisi. Cahaya ada di kamar ini. Tidak mungkin kita melakukan hal itu di sampingnya."


Evan tersenyum, dia semakin mengeratkan pelukan itu. Ternyata dia salah menduga. Anggita ternyata wanita yang penuh tanggung jawab.


"Aku tidak salah memilih kamu menjadi istriku sayang. Maafkan aku yang pernah tidak menginginkan kamu."


Entah sudah berapa kali Evan meminta maaf atas kesalahan di Masa lalu. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana dirinya dulu mengabaikan Anggita di malam pertama bahkan bersikap sinis dan dingin kepada wanita itu.


"Jangan menghukum diri kamu dengan mengingat kesalahan di masa lalu mas. Tapi jadilah sebagai suami yang baik mulai saat ini. Dan Jadi ayah baik untuk Cahaya."


"Itu pasti sayang."


"Mas, rumah tangga kita sudah pernah ternoda dengan adanya wanita lain. Aku mendefinisikan perceraian kita dulu karena perselingkuhan. Ada satu hal yang harus kamu tahu mas. Perselingkuhan itu ibarat membuang sampah sembarangan di sungai. Awalnya kamu hanya membuang sampah sedikit. Ketika tindakan kamu itu tidak membahayakan kamu kemudian membuang sampah lebih banyak lagi. Andaikan kamu berprinsip jika membuang sampah sembarangan di sungai adalah satu sikap yang tidak baik dan bisa membahayakan rumah kamu ketika hujan datang. Maka kamu tidak membuang sampah sembarangan."


"Begitu juga dengan perselingkuhan. Awalnya kamu berselingkuh hanya menggunakan hati yang mungkin tidak ketahuan kepada orang lain. Tapi kemudian perselingkuhan itu berlanjut dengan sentuhan fisik yang lebih dalam. Rumah tangga yang kamu bangun pun akhirnya berakhir dengan sia sia. Kamu tidak ingin bertanya mengapa aku bersedia kembali kepada kamu mas?" tanya Anggita sambil menatap wajah suaminya yang terlihat serius mendengar perkataannya.


"Apa yang membuat kamu memberikan kesempatan kedua kepada aku sayang?" tanya Evan. Penjelasan Anggita tadi masuk akal baginya. Dia semakin mengagumi Anggita akan kepintarannya.


"Tidak ada wanita yang rela melihat suaminya membagi hati apalagi membagi tubuhnya dengan wanita lain. Aku bersedia rujuk dengan kamu karena pengakuan kamu yang tidak pernah menyentuh wanita manapun selain aku," kata Anggita jujur. Seandainya Evan sudah melangkah jauh dalam hubungannya dengan Adelia atau wanita manapun. Anggita sampai kapanpun tidak bersedia menikah kembali dengan Evan. Tapi pengakuan jujur Evan tentang siapa sebenarnya Adelia dan sejauh mana hubungannya dengan wanita itu membuat Anggita bersedia menikah secepat ini.


Evan bersyukur dalam hati. Setidaknya dia bisa menjaga kesucian dirinya walau tidak bisa menjaga hatinya saat itu. Menjaga diri dari perzinahan mengantarkan Evan memperistri wanita yang sangat baik dan tulus.


"Anggita, Sekarang Kita sudah kembali menjadi suami istri. Menurut kamu apa yang harus aku lakukan sebagai suami yang bisa menyenangkan hati kamu."


Evan ingin mendengar keinginan istrinya itu atas dirinya.


"Mas, sebenarnya untuk hal itu kamu harus bertanya kepada hati kamu sendiri. Apa yang harus kamu lakukan untuk membuat keluarga ini harmanis tanpa ada gangguan wanita lain. Asal kamu tahu wanita pelakor itu tidak akan berhasil merebut pria dari istrinya jika pria tidak mengijinkan dirinya masuk. Jadi sebagai pria yang bergelar suami sebaiknya menjaga pandangannya kepada wanita lain. Jangan bercanda dengan sembarangan wanita dan jangan membicarakan hal yang tidak penting dengan wanita lain."


"Baiklah sayang. Aku akan dengar dan patuhi semua nasehat kamu ini," kata Evan sambil menggenggam erat tangan istrinya. Kini mereka sama sama tidur terlentang menatap langit langit kamar.


"Sekarang giliran kamu mas. Kamu menginginkan aku seperti apa dalam pernikahan kita ini?" tanya Anggita. Dia juga ingin menjadi seseorang sesuai dengan keinginan Evan. Jika dia sanggup melakukan yang menjadi keinginan suaminya itu. Anggita akan patuh Dan jika tidak sanggup. Anggita akan berusaha. Ini adalah awal pernikahan mereka atas dasar menerima satu sama lain. Anggita ingin di awal pernikahan ini mereka saling mengungkapkan harapan akan masing masing demi kelangsungan rumah tangga mereka nantinya.


"Aku hanya ingin istri yang setia dan baik hati seperti itu. Kemudian aku juga suka istri yang manja tapi sedikit galak. Kemudian aku juga suka istri yang perhatian dan pencemburu tapi tidak berlebihan. Hanya itu yang aku suka."

__ADS_1


"Tidak suka istri yang pandai masak?" tanya Anggita sambil menggerakkan kepalanya menatap wajah suaminya.


"Tidak. Aku punya uang banyak untuk membeli makanan yang aku suka atau yang kamu sukai. Tapi aku tidak bisa membeli orang hanya untuk bermanja atau mencemburi, perhatian atau galak karena rasa sayangnya."


"Kalau begitu aku akan bermanja manja dengan kamu mas," kata Anggita sambil menggeser tubuhnya menjadi rapat dengan Evan. Anggita melingkarkan tangannya di dada Evan dan meletakkan kepalanya di lengan suaminya itu.


Evan tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Evan menggerakkan tubuh Anggita supaya duduk begitu juga dengan dirinya. Evan juga mengangkat tubuh istrinya itu untuk duduk di pangkuannya.


"Anggita istriku. Ada satu kesalahan fatal yang kamu lakukan di masa pernikahan kita dulu. Jangan pernah mengulangi kesalahan itu ," kata Evan serius sambil menatap wajah istrinya.


"Kesalahan apa mas?" tanya Anggita bingung. Otaknya berusaha mengingat setiap perbuatan yang dia lakukan dia pernikahan yang dulu.


"Jangan pernah membiarkan wanita manapun tidur dengan suami kamu ini. Bagaimana pun Kondisinya. Walau mau mati sekali pun dan dengan alasan apapun," kata Evan. Anggita seketika mengingat dirinya pasrah ketika Adelia bersikeras tidur di ranjang yang sama dengan Evan saat itu.


"Iya mas. Maafkan aku," jawab Adelia tulus. Perkataan Evan membuat dirinya sadar jika membiarkan suaminya tidur dengan sepengetahuanya adalah suatu kesalahan.


"Anggita, Mari sama sama berjuang membuat rumah tangga Kita menjadi rumah tangga yang harmonis sampai kepala kita memutih. Saling menjalankan peran, tanggung jawab dan kewajiban dengan sepenuh hati. Dan tolong belajarlah mencintai aku sayang," kata Evan. Dia mendekatkan pipinya ke pipi istrinya.


"Mas, kunci kebahagiaan dalam rumah tangga itu adalah cinta. Jika istri kamu bahagia. Percayalah. Sang istri akan berusaha membuat seisi rumahnya bahagia. Karena pada umumnya. Kunci kewarasan seorang istri itu ada dalam diri suaminya, begitu juga sebaliknya."


Evan sangat setuju dengan perkataan istrinya itu. Di jaman sekarang banyak istri istri di luar sana yang bertindak tidak waras karena tingkah suaminya. Dan pada umumnya para wanita yang berpikir pendek itu karena tidak tahan dengan tingkah suaminya yang seenaknya bermain hati dengan wanita lain.


"Aku ternyata memiliki istri yang sangat pintar, baik, cantik dan pekerja keras," puji Evan atas kecerdasan istrinya itu. Evan tidak asal memuji. Anggita adalah seorang sarjana yang dengan lulusan terbaik yang mengantarkan dirinya bisa bekerja di perusahaan Dinata Berlian Sejahtera. Anggita juga terbukti sangat baik dari orang orang yang menyayangi dirinya.


Anggita tertawa mendengar pujian suaminya itu.


"Selama ini kemana saja bung?" tanya Anggita menyindir suaminya itu atas Sikap yang pernah mengabaikan dirinya.


"Tersesat di sungai ketika membuang puntung rokok, sayang,"


Anggita dan Evan tertawa terbahak bahak. Jawaban Evan mempunyai makna jika dirinya tersesat akan kebaikan palsu Adelia sehingga tidak bisa melihat kebaikan Anggita di masa pernikahan terdahulu.


"Ssat, malaikat kita sedang tidur," kata Evan pelan sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Anggita. Anggita terdiam dan menoleh ke arah Cahaya yang tertidur pulas. Bayi kecil itu seakan memberikan waktu dan kesempatan kepada kedua orang tuanya untuk berdiskusi.


Ketika Anggita menggerakkan kepalanya, bibir suaminya sudah menempel sempurna di bibirnya. Anggita tersenyum, seperti ini lah impiannya berumah tangga. Berdiskusi tentang apa saja sebelum tidur atau sebelum menunaikan tugas suami istri.


Anggita menunggu suaminya beraksi di bibirnya. Tapi sedetik kemudian. Tubuhku terangkat karena Evan sudah menggendongnya keluar dari kamar.


"Kita kemana mas?" tanya Anggita bingung tapi mengacungkan kedua tangannya di leher suaminya. Evan terus membawa Anggita hingga masuk ke dalam sebuah kamar.


"Tidak mungkin kita olahraga ranjang di samping Cahaya," bisik Evan sambil membaringkan Anggita di ranjang empuk itu. Anggita tersenyum malu malu dan menahan tubuh Evan. Dia juga membisikkan sesuatu di telinga suaminya yang membuat jantung Evan berdetak kencang.

__ADS_1


__ADS_2