Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Harapan Evan


__ADS_3

Evan, Danny dan Rico menjadi satu team untuk membalas perbuatan Bronson. Mereka akan bertekad menghancurkan pria itu dengan permainan yang sehat. Mereka tidak akan mengikuti jejak Bronson yang bermain licik. Danny yang pintar bermain kata kata sudah mendekatkan diri ke beberapa petinggi perusahaan milik Bronson untuk mendapatkan informasi yang bisa menyerang perusahaan itu sendiri.


Kini sudah satu bulan mereka menyelidiki perusahaan Bronson. Tapi sampai detik ini, hal yang bisa merusak citra Bronson belum juga ditemukan. Hal itu membuat Evan terkadang gelisah. Dia gelisah karena memikirkan kebebasan Anggita yang terenggut. Sejak mengetahui siapa sebenarnya dokter Angga. Anggita merasa takut untuk keluar dari rumah. Satu bulan di rumah Gunawan. Bisa dihitung, wanita itu keluar dari rumah. Jika pun keluar. Anggita harus ditemani oleh mama Feli atau salah satu pembantu yang ada di rumah Gunawan.


Dan yang paling membuat Evan gelisah adalah sikap mantan istrinya itu. Evan bisa melihat jika Anggita berubah menjadi sosok yang pendiam. Berbicara seadanya saja. Bukan hanya kepada dirinya tapi kepada semua orang termasuk mama Feli.


Anggita benar benar krisis kepercayaan kepada orang orang terdekatnya. Sebagai wanita yang melahirkan Anggita. Mama Feli sudah berusaha mengajak Anggita berbicara dari hati ke hati. Tapi wanita itu masih betah menutup mulutnya.


Anggita seakan tidak perduli terhadap sekitarnya. Dunianya hanyalah Cahaya.


"Anggita, apa yang membuat kamu seperti ini. Apa ada kata kata mama yang menyakiti kamu?" tanya mama Feli sedih. Mereka bertiga memang tidur di kamar yang sama karena Anggita tidak ingin terpisah tidur dari mama Feli dan Cahaya.


Tante Tiara sudah menyiapkan satu kamar untuk Anggita dan Cahaya. Tapi Anggita menolak dengan halus. Bukan tidak ingin mempunyai kamar sendiri. Tapi Anggita takut mengingat pelecehan yang dia terima dari Indra papa tirinya. Di rumah ini. Dia tinggal dengan keluarga mantan suami yang jelas tidak ada hubungan darah dengan dirinya. Rasa percaya kepada orang lain hilang dari hatinya. Dia menjaga dirinya dari pria seperti dokter Angga. Yang bersikap baik di depannya tapi dengan maksud tertentu.


"Katakan lah apa kesalahan mama nak. Kita berada di rumah orang lain. Jangan sampai mereka berpikir jika Kita adalah orang yang tidak tahu membalas budi. Mereka sudah berusaha melindungi kamu. Tapi kamu bersikap cuek seperti ini."


Anggita menatap mama Feli. Wanita tua yang sudah melahirkan dan banyak berkorban kepada dirinya. Tapi ketika dia terpuruk. Ada perkataan wanita itu yang membuat dirinya semakin terluka. Anggita tidak mendendam kepada mama Feli. Tapi Anggita merasa benci kepada dirinya sendiri yang hampir mendatangkan situasi yang sama tentang apa yang dia alami kepada putrinya Cahaya. Anggita sadar jika dirinya hampir mendatangkan Indra kedua di kehidupannya. Jika Dokter Angga sanggup menyakiti dirinya seperti ini tidak tertutup kemungkinan jika pria itu juga akan menyakiti Cahaya jika pernikahan itu terjadi. Seketika Anggita menyesal. Menyesal karena pernah membiarkan Cahaya dimandikan oleh pria jahat itu.


"Anggita, jangan seperti ini nak," kata mama Feli dengan wajah yang memelas. Sungguh wanita itu tersiksa dengan sikap diam yang ditunjukkan oleh Anggita.


"Mama tidak salah apa apa ma. Aku yang salah." Anggita ternyata tidak tahan melihat wajah mamanya yang memelas.


"Mama minta maaf," kata mama Feli sambil memeluk Anggita. Mama Feli sangat senang karena Anggita sudah mau berbicara dengan dirinya.


"Aku yang minta maaf ma. Tidak seharusnya aku menutup diri hanya karena terluka karena dokter Angga."


"Kembali lah seperti Anggita ku yang dulu nak. Anggita yang baik, ramah dan ceria."


Anggita menganggukkan kepalanya. Di pintu kamar itu sahabatnya Nia sudah berdiri.


"Masuk Nia."


Anggita berdiri menyambut sahabatnya itu. Kedatangan Nia di pagi hari ini menimbulkan banyak tanya di kepala Anggita. Seharusnya wanita itu tidak boleh keluar rumah karena kata sebagian orang pamali calon pengantin yang akan menikah tiga hari lagi.


"Mama bawa Cahaya keluar ya. Supaya kalian enak curhat curhatan." Mama Feli membawa Cahaya keluar dari kamar. Wanita tua itu memberikan waktu dan tempat kepada dua sahabat itu untuk bercerita tanpa ada dirinya di kamar tersebut.


"Apa calon pengantin bisa berkeliaran seperti ini menjelang hari H?" tanya Anggita sambil tersenyum menggoda kepada sahabatnya itu.


"Sepertinya pernikahan itu tidak akan pernah terjadi Anggita," kata Nia dengan berwajah muram. Tidak Ada binar kebahagiaan sedikit pun di wajahnya. Sedangkan Anggita sangat terkejut mendengar perkataannya sahabatnya itu.


"Jangan bercanda kamu. Apa om Rendra membatalkan?.


"Tidak. Aku yang membatalkan."


"Tapi, mengapa?" tanya Anggita heran. Nia memang tidak pernah menceritakan apa yang menjadikan dirinya bersedia menikah dengan Rendra.


"Karena aku mengandung benih pria lain."


Anggita menatap sahabatnya tidak percaya. Anggita mengenal Nia adalah sosok wanita yang baik dan sangat menjaga harga dirinya. Tapi beberapa bulan ini. Anggita seakan tidak mengenal sahabatnya itu. Bersedia menikah dengan pria yang jauh lebih tua dan bahkan lebih pantas menjadi ayah baginya. Dan kini membatalkan pernikahan itu karena mengandung benih pria lain. Hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Anggita sama sekali.


"Dan kamu akan menikah dengan pria itu," tebak Anggita. Nia menggelengkan kepalanya dengan lesu dengan wajah yang masih muram.


"Belum tahu. Sepertinya dia tidak akan bersedia. Aku yang sengaja menjebaknya. Aku ingin terlepas dari pak Rendra."

__ADS_1


Anggita semakin terkejut mendengar pengantin wanita itu. Tapi Anggita tidak bertanya jebakan seperti apa yang dilakukan oleh Nia supaya mereka melakukan perbuatan dosa itu. Anggita merasakan kekecewaan kepada Nia yang melakukan perbuatan kotor itu. Dan melihat wajah sahabatnya, Anggita berusaha bersikap seperti biasa.


"Tapi tak seharusnya seperti itu jalannya Nia. Kamu sudah melakukan kesalahan yang besar."


"Ya. Aku tahu. Karena hal itulah aku bersedia menanggung kesalahan itu sendirian."


Nia terdengar pasrah akan apa yang dialami saat ini. Tapi hal itulah yang membuat Anggita semakin penasaran siapakah pria itu.


"Siapa pria itu. Apa dia sudah mengetahui jika kamu sudah hamil?.


Nia menggelengkan kepalanya lemah. Dia takut untuk memberitahukan kehamilan itu karena takut mendapatkan penolakan.


"Jangan begini Nia. Pria itu berhak tahu."


"Tapi aku takut." Nia sudah hampir menangis.


"Beritahu aku siapa pria itu. Aku akan berusaha membantu kamu."


"Kak Danny."


Anggita menutup mulutnya tidak percaya. Masalah ini akan rumit jika keluarga besar kakek Martin mengetahui Nia membatalkan pernikahan dengan Rendra karena mengandung benih dari Danny. Anggita ingin memberikan solusi kepada sahabatnya itu tapi Anggita bingung hendak memberikan solusi apa. Anggita sadar, setelah ini pasti akan ada masalah setidaknya masalah kegagalan pernikahan mantan mertuanya.


"Kamu, pulang dulu Nia. Jangan berbicara apapun dulu sebelum ada keputusan Danny setelah mengetahui kehamilan kamu ini," kata Anggita. Dia merasa harus membicarakan hal itu terlebih dahulu dengan Tante Tiara. Anggita tidak ingin Rendra atau Anggota keluarga lainnya terkejut karena permasalahan rumit ini.


Nia menurut. Wanita itu keluar dari rumah Gunawan. Andaikan Gunawan dan tante Tiara tadi di rumah itu sudah pasti Nia sudah menggagalkan pernikahan itu. Niat awal Nia memang membatalkan pernikahan itu lewat tante tiara. Dia merasa tidak sanggup untuk berhadapan langsung dengan Rendra.


Setelah Nia keluar dari rumah. Anggita merasakan kepalanya pusing. Dia memikirkan jalan keluar dari masalah yang dihadapi oleh sahabatnya itu. Anggita sampai merasa lapar hanya karena memikirkan masalah tersebut padahal dirinya tadi baru sarapan satu jam sebelum kedatangan Nia.


"Iya." Anggita berbalik untuk melihat siapa yang memanggil dirinya. Anggita tiba tiba gugup melihat Evan yang sudah berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Bisa minta tolong?.


"Minta tolong apa mas?. Anggita menundukkan kepalanya. Melihat Evan berdiri dengan santai di hadapannya membuat Anggita tidak ingin terlihat gugup di hadapan mantan suaminya itu.


"Buatkan aku teh."


"Baiklah." Anggita berbalik. Dia menarik nafas lega karena sudah mengetahui bahwa Evan hanya meminta tolong membuatkan teh. Di belakang tubuhnya. Evan tersenyum. Sebelum dirinya berdiri di tempat itu, dia sudah melihat dan mengikuti langkah Anggita ke dapur itu.


"Terima kasih." Evan mengambil teh dari tangan Anggita. Seakan tujuan hanya untuk teh itu. Evan berbalik dan melangkah hendak meninggalkan dapur.


"Mas, tunggu." Evan menghentikan langkahnya yang hendak berjalan menuju ruang tamu. Bibirnya menyunggingkan senyuman manis karena Anggita menahan dirinya. Dalam hati Evan berharap ada hal baik akan sikap Anggita yang berangsur angsur membaik demi hubungan mereka.


"Ada apa?. Evan berpura pura cuek.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan mas."


"Tentang?.


"Rahasia."


"Kalau begitu. Cepat ambilkan cemilan. Kita berbicara di rooftop." Anggita bergerak cepat mengambil cemilan yang cocok dengan teh itu.


"Minta sini. Biar aku saja yang bawa," kata Evan mengambil baki dari tangan Anggita.

__ADS_1


"Kamu berjalan di depan." kata Evan lagi. Mereka kini sudah berada di tangga dasar. Anggita langsung berjalan di depan Evan.


Evan menaiki tangga itu dengan tersenyum. Anggita bersedia berbicara dengan dirinya sudah membuat Evan bahagia.


"Apa yang ingin kamu bicarakan Anggita," tanya Evan setelah mereka duduk berhadapan di depan meja bulat.


"Mas Nia Hamil." Anggita langsung berbicara tanpa basi basi.


"Hamil?" tanya Evan terkejut mendengar Nia hamil. Di pikirannya tidak ada hal lain selain berpikir jika ayah dari janin yang di kandung oleh Nia adalah papanya sendiri yaitu Rendra.


"Sebentar lagi, Cahaya akan punya om atau tante yang lebih muda dari dia," kata Evan kemudian terkekeh. Evan merasa lucu hanya membayangkan Cahaya memanggil om atau tante kepada yang lebih muda dengan putrinya itu.


"Penanam benihnya bukan om Rendra melainkan adalah Danny." Evan semakin terkejut. Dia menatap Anggita tidak percaya dengan pendengarannya. Selama ini antara Danny Dan Nia tidak menunjukkan sikap yang mencurigakan dari keduanya. Evan mengusap wajah kasar karena merasa merasa khawatir. Khawatir jika dengan ini Rendra akan membenci Nia nantinya. Atau bahkan membenci Danny. Bagaimana pun, Danny maupun Nia sudah bisa dikategorikan sebagai pengkhianat.


"Bagaimana ini," gumam Evan mengusap wajahnya dengan kasar untuk kedua kalinya. Dia terdiam memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan. Anggita juga terlihat berpikir. Dari wajah keduanya terlihat kecemasan yang luar biasa.


"Anggita. Ayo pergi sekarang. Temani aku menemukan pria itu," ajak Evan.


"Oke mas."


Evan dan Anggita menghabiskan teh dan cemilan itu sebelum beranjak dari duduknya.


Evan mengembangkan senyumnya di tengah masalah yang menimpa Danny dan Nia. Sikap Anggita jauh berubah kepadanya. Anggita sudah bersedia berbicara banyak dengan dirinya dan bahkan bersedia menemani dirinya.


"Dari masalah Danny dan Nia ini. Solusi apa yang kamu harapkan," tanya Evan. Kini mereka sudah berada di dalam mobil menuju kantor Danny. Mereka berbicara seperti teman.


"Aku berharap mereka bersatu mas.Hidup bahagia bersama anak anak Mereka nantinya," kata Anggita. Tapi hatinya juga sedih mengingat jika harapan itu akan menghancurkan seseorang yaitu Rendra.


"Harapanku juga begitu Anggita." Sama seperti Anggita. Evan juga berharap Danny dan Nia bersatu walau ada pihak yang tersakiti nantinya. Evan bisa merasakan kesedihan Rendra nantinya jika mengetahui masalah ini tapi demi janin yang tidak berdosa Evan berharap Danny dan Nia bisa menikahi nantinya.


"Semoga saja ya mas?.


"Semoga apa. Semoga Kita bersatu kembali?.


"Semoga mereka bersatu." Anggita memperjelas perkataannya.


"Dan harapan kamu untuk kita bertiga?" tanya Evan membuat Anggita menundukkan kepalanya.


"Aku sih berharap ada Jalan untuk membuat Kita tetap bersama walau banyak tantangan yang sudah Kita lalui selama ini. Jikapun tidak ijinkan aku menganggap kamu sebagai adik untuk diriku."


Evan memelankan laju mobilnya ketika mengatakan harapan akan hubungan mereka berdua. Dia menoleh menatap Anggita yang duduk dengan tenang seakan perkataan itu bukan sesuatu yang harus di jawab.


"Anggita."


"Hmmm."


Evan sengaja memanggil nama mantan istrinya itu. Mengingatkan wanita itu bahwa harapan belum mendapatkan jawaban.


"Bagaimana tanggapan kamu?" tanya Evan lagi.


Anggita tidak menjawab. Dia menoleh sebentar kepada Evan kemudian kembali menatap jalanan.


Melihat sikap Anggita. Evan tidak berani lagi untuk mengatakan apapun. Mereka sama sama terdiam dengan pikiran masing masing. Hingga mereka sampai di tempat tujuan. Evan belum mendapatkan jawaban dari mantan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2