Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 119


__ADS_3

Semua berjalan normal kembali setelah para pengkhianat dan orang yang ingin menghancurkan dirinya mendekam di penjara. Evan dan Anggita berniat kembali ke rumah mereka sendiri. Tapi ternyata Nenek Rieta enggan untuk melepaskan keluarga kecil itu. Nenek tua itu merasa terhibur dan tidak kesepian dengan adanya Cahaya dan mama Feli di rumah itu.


"Ayolah nenek, ijinkan kami keluar dari rumah ini," kata Evan mendesak nenek Rieta memberikan ijin sekarang juga. Mereka sudah menunggu ijin hampir satu minggu tapi sampai detik ini. Nenek Rieta akan berpura pura pikun jika menyangkut kepindahan mereka.


"Nek," desak Evan lagi.


"Kamu akan buka cabang baru?" tanya Nenek Rieta. Pertanyaannya sudah jelas lari dari topik pembicaraan. Tapi beginilah cara nenek Rieta untuk menahan keluarga kecil itu tetap berada di rumahnya.


"Jangan pura pura pikun nek. Biarkan kami mandiri nek," kata Evan lagi. Evan menyentuh tangan Anggita supaya wanita itu berbicara meyakinkan sang nenek supaya memberikan ijin kepada mereka secepatnya keluar dari rumah itu.


Anggita mengerti maksud dari sentuhan suaminya. Wanita itu tersenyum kemudian menatap sang nenek.


"Nek, Cahaya akan sering sering kemari walaupun kami akan pindah rumah. Setiap pagi aku akan mengantarkan Cahaya dan mama Feli ke rumah ini," kata Anggita. Wanita itu memutuskan akan kembali aktif mengelola kafe pelangi. Karena tidak ada lagi yang ditakutkan. Bronson sudah dinyatakan bankrut dan sudah di penjara. Begitu juga dengan mama Anita. Wanita tua itu juga akhirnya dijebloskan ke penjara atas pasal penculikan. Semua bukti memberatkan mama Anita.


"Baiklah,. kalian boleh pindah dari rumah ini dengan dua syarat. Kalian boleh pilih salah satu syarat tersebut. Pertama, kalian boleh pindah setelah Rendra menikah. Kedua, kalian boleh pindah tapi Cahaya dan mama Feli tetap tinggal di rumah ini. Pilih syarat yang mana?"


"Syarat kedua nek," jawab Evan cepat. Anggita mengerutkan keningnya.


"Untuk sementara waktu sayang. Jika papa menikah nanti. Cahaya dan mama ikut Kita. Lagi pula, Kita bisa menginap kapanpun yang Kita mau di rumah ini. Ayo, Kita pulang sekarang," kata Evan sambil menarik tangan istrinya. Tapi Anggita tidak langsung berdiri. Wanita itu justru memukul tangan suaminya.


"Tidak apa apa nak. Biar kami disini saja dulu. Pergilah bersama suami kamu. Jangan khawatir Cahaya aman bersama mama dan nenek," kata mama Feli. Mama Feli justru lebih senang tinggal di rumah ini daripada tinggal di rumah Evan dan Anggita nantinya. Bukan karena ada masalah. Tapi mama Feli ingin memberikan ruang dan waktu kepada putri dan menantu untuk lebih bebas mengekspresikan kebahagiaan mereka.


Nenek Rieta tertawa melihat tingkah Evan dan Anggita. Evan yang menarik tangan Anggita hingga berdiri kemudian mendorong tubuh Anggita supaya berjalan. Sedangkan Anggita terlihat ragu dan masih menoleh ke arah sofa. Wanita itu bisa melihat nenek Rieta dan Cahaya yang melambaikan tangan kepada dirinya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah mereka sendiri, Anggita terdiam. Wanita itu sangat kesal karena harus meninggalkan Cahaya di rumah nenek Rieta. Sebagai seorang ibu, dirinya tidak ingin terpisah dengan sang anak walau Cahaya bersama dengan mama Feli. Dia ingin melihat putrinya itu sebelum tidur dan sesudah tidur.


Bukan hanya itu yang membuat Anggita kesal. Evan tidak berusaha memberikan pengertian akan keputusan suaminya itu yang bersedia meninggalkan Cahaya disana. Yang ada pria itu serius menyetir seakan Anggita tidak ada di sebelahnya.


Anggita akhirnya menonton drakor dari ponselnya untuk menghilangkan kekesalannya itu. Dia tidak juga berkeinginan untuk berbicara terlebih dahulu kepada Evan. Anggita sengaja mendiamkan Evan supaya suaminya itu tahu bahwa dirinya tidak suka dengan keputusan sepihak yang diputuskan oleh Evan.


"Kamu tidak turun sayang?" tanya Evan setelah mobil berhenti di halaman rumah mereka. Anggita tidak menjawab. Terlalu larut dengan cerita drakor yang dia tonton membuat wanita itu tidak mendengar perkataan suaminya.


Melihat istrinya tidak merespon perkataannya. Evan tidak marah. Pria itu membuka pintu mobil dan keluar kemudian dia memutari Mobil dan membuka pintu mobil sebelahnya. Tanpa mengucapkan satu kata pun. Evan langsung mengangkat istrinya itu dari dalam Mobil.


"Eh mas, apa apaan ini. Turunkan aku mas," kata Anggita. Wanita itu terkejut mendapatkan perlakuan dari suaminya seperti ini. Evan tertawa. Perkataan Anggita tidak sejalan dengan tangannya yang semakin memeluk tubuhnya.


Evan akhirnya menurunkan tubuh istrinya itu. Evan memutar tubuh istrinya ke arah sesuatu yang indah di halaman rumah yang luas itu.


"Mas," pekik Anggita senang sambil menutup mulutnya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia melihatnya kebun mini bunga anggrek yang sudah tertata rapi dan indah.

__ADS_1


"Bagaimana?. Kamu suka sayang?" tanya Evan sambil meraih tubuh Anggita kemudian memeluknya.


"Sangat suka mas. Kapan kamu menyiapkan ini semua?" tanya Anggita sambil melangkah ke arah kebun mini tersebut.


"Sejak kita tinggal di rumah nenek Rieta," jawab Evan. Anggita memperhatikan satu persatu pot bunga anggrek itu. Warna bunganya yang bermacam macam membuat Anggita merasa takjub.


Evan menyunggingkan senyum melihat kebahagiaannya istrinya itu. Melihat Anggita tersenyum karena perlakuannya membuat pria itu merasa bangga dan senang.


"Terima kasih mas," kata Anggita dengan wajah yang sangat bahagia.


"Sama sama sayang. Apapun keinginan kamu jangan ragu untuk menyatakannya. Semampu yang aku bisa akan mewujudkannya untuk kamu," jawab Evan. Perkataannya bukan hanya gombal semata. Semakin hari melihat kebaikan dan ketulusan Anggita. Evan merasakan cinta bertambah setiap hari untuk istrinya itu.


"Tapi ini tidak bisa menyuap aku untuk membenarkan keputusan sepihak yang kamu buat," kata Anggita serius.


Evan kembali tertawa. Wajah serius yang diperlihatkan oleh Anggita membuat wanita itu semakin terlihat cantik.


"Jadi maksud kamu. Acara diam diamnya mau di lanjut lagi?" tanya Evan sambil mencolek pipi istrinya. Anggita menganggukkan kepalanya kemudian melangkah ke arah pintu rumah. Wanita itu berjalan cepat masuk ke rumah. Evan tidak tinggal diam. Dia bahkan berlari mengejar langkah istrinya.


"Tidak bisa seperti itu. Lebih baik kita kembali ke rumah nenek daripada diam diaman seperti di mobil tadi," kata Evan yang kini sudah memeluk tubuh istrinya.


Anggita bersorak bahagia dalam hati. Tidak ada niatnya mendiamkan suaminya itu kembali. Dia berniat mengerjai suaminya dan yang dia dapat sikap mengalah yang ditunjukkan suaminya.


Anggita menatap wajah suaminya itu. Anggita bisa merasa ada sesuatu yang diinginkan suaminya itu. Anggita terdiam beberapa saat menunggu sang suami untuk mengutarakan keinginannya. Hingga lima menit berlalu. Evan tidak juga berkata apa apa tapi mendaratkan tubuhnya di sofa.


Anggita ikut mendaratkan tubuhnya di sofa. Dia duduk merapat ke suaminya kemungkinan memeluk Evan dengan erat. Seakan ingin memanjakan suaminya itu. Anggita membantu suaminya untuk berbaring dan menjadikan pahanya sebagai bantal. Anggita kemudian mengelus kepala suaminya dengan penuh kasih sayang.


Evan tersenyum sambil menikmati elusan tangan istrinya. Entah mengapa beberapa hari ini. Dirinya menginginkan hal seperti ini. Ingin berduaan saja dengan Anggita dan dimanja sang istri. Anggita terus melakukan hal yang membuat suaminya itu merasa nyaman. Hingga Evan tertidur di pangkuannya. Anggita tidak menghentikan tangannya.


Di tempat yang lain. Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Seorang gadis langsung menghampiri mobil tersebut yang sepertinya sudah dia tunggu sejak tadi.


"Kita langsung jalan pak?" tanya Salsa kepada Rendra. Rendra menggelengkan kepalanya kemudian turun dari Mobil.


"Aku ingin minum teh buatan kamu. Apa aku bisa masuk?" tanya Rendra. Salsa menganggukkan kepalanya dengan senang.


"Silahkan duduk Pak. Bapak mau minum teh, jus, susu atau jamu kuat," tawar Salsa membuat Rendra tertawa.


"Terserah kamu saja. Apa yang menurut kamu baik untuk pria tua ini," kata Rendra.


"Sebenarnya ya Pak. Yang terbaik untuk bapak itu ya Salsa. Kalau Salsa sudah sama bapak. Hidup bapak akan lebih berwarna seperti pelangi," kata Salsa sambil tersenyum menggoda kepada Rendra.

__ADS_1


"Aku mau teh," kata Rendra cepat supaya Salsa tidak menggodanya lagi.


"Serius nih pak. Bapak tidak menginginkan Salsa. Sayang loh Pak kalau ditolak," kata Salsa.


"Jangan menggoda terlalu berlebihan Salsa. Buat dirimu berharga sedikit. Mengobral diri sendiri itu tidak bagus," kata Rendra. Salsa tidak menggoda lagi. Gadis itu justru melangkah ke dapur dan membuat teh seperti keinginan Rendra semula.


"Diminum Pak. Tapi tunggu dingin sedikit lagi," kata Salsa. Setelah meletakkan gelas itu di atas meja. Salsa duduk di sofa yang agak jauh dari Rendra. Wanita itu duduk sangat sopan.


"Sendiri tinggal di sini?" tanya Rendra.


"Tidak Pak. Bersama mama Saya. Tapi mama lebih sering di luar Kota."


"Berdua berarti ya!. Salsa menganggukkan kepalanya.


"Papa kamu?" tanya Rendra lagi.


"Sudah meninggal sejak saya bayi Pak."


Rendra langsung menatap kasihan kepada Salsa yang sudah menundukkan kepalanya. Rendra bisa merasakan perubahan wanita itu setelah membuatkan dirinya teh. Wanita itu tidak seceria tadi sejak kedatangannya.


"Maaf Salsa. Bukan maksudku mengungkit kesedihan kamu."


"Tidak apa apa Pak."


Suasana ruang tamu itu mendadak hening. Salsa hanya mau berbicara jika Rendra bertanya kepadanya.


"Kita berangkat sekarang," kata Rendra setelah teh buatan Salsa berpindah tempat ke dalam perutnya.


"Maaf Pak. Tiba tiba aku tidak niat untuk keluar rumah."


Rendra mengerutkan keningnya mendengar perkataan Salsa. Hari ini mereka sudah berencana untuk makan siang di luar sesuai dengan permintaan Salsa atas balas jasanya yang sudah membantu Evan dan Anggita melepaskan dirinya dari mama Anita satu minggu yang lalu.


"Kenapa mendadak tidak berniat?" tanya Rendra tajam. Pria itu terlihat kesal karena merasa dipermainkan oleh Salsa.


"Aku takut tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda dan mengobral diriku kepada bapak."


Rendra tertegun. Ternyata Salsa tersinggung dengan perkataannya.


"Jadi kamu serius supaya aku menerima kamu?" tanya Rendra yang sudah berdiri di hadapan Salsa. Salsa tidak menjawab.

__ADS_1


"Aku akan menerima kamu jika kamu bisa membuktikan dirimu masih suci. Karena bagiku. Lebih baik menikahkan janda yang sudah jelas tidak suci tapi suci bukan karena dosa daripada menikahi seorang gadis yang tidak suci karena tidak bisa menjaga dirinya," kata Rendra. Melihat bagaimana Salsa sangat agresif menggoda dan mendekati dirinya. Rendra sangat yakin jika Salsa bukan lagi seorang gadis yang masih suci. Apalagi tidak Ada peran seorang ayah yang mengawasi wanita tersebut.


__ADS_2