
Tanpa persetujuan Nia. Mama Anita masuk ke salah satu kamar di rumah itu. Nia mengetahui hal itu. Tapi wanita itu tidak melarang karena dirinya juga tidak menginginkan jika Anggita ataupun Evan mengetahui bahwa dirinya dan mama Anita saling mengenal.
Nia menyambut sahabatnya itu dengan senyuman manis. Seperti biasa Anggita memeluk Nia. Sebagai sahabat, Nia bisa melihat kesedihan Nia yang sepertinya tidak berkesudahan.
"Mobil siapa itu Nia?" tanya Evan. Kini Evan dan Anggita sudah memasuki rumah.
"Mobil tetangga pak," jawab Nia. Evan menganggukkan kepalanya. Pria itu menganggukkan kepalanya bukan karena percaya jika mobil yang dia tanyakan itu adalah mobil tetangga. Evan menganggukkan kepalanya karena merasa ada yang janggal dengan kebohongan Nia. Evan masih mengenali mobil itu adalah mobil mama Anita.
"Mungkin tante Anita menjual mobil ke tetangga kamu ya Nia," kata Evan. Dia menatap wajah sahabat istrinya. Melihat wajah Nia yang terkejut Evan menyimpulkan jika mama Anita sedang ada di rumah itu. Tapi Evan bersikap tidak mau tahu.
Evan mendaratkan tubuhnya di sofa tapi matanya berkeliling. Dia berharap menangkap bayangan mama Anita di dalam rumah itu. Dia ingin menangkap basah Nia dan mama Anita dan ingin mengetahui sejauh mana dua wanita itu saling mengenal. Dan melihat bagaimana kebohongan Nia saat ini. Evan sangat yakin jika Nia dan mama Anita menyembunyikan sesuatu.
"Kan banyak Mobil yang sama mas. Mungkin kebetulan saja Mobil tetangga Nia dan Mobil mama Anita sama hanya nomor flat yang membedakan," kata Anggita.
"Mungkin saja," jawab Evan. Dia tidak ingin menperpanjang pembicaraan tentang mobil itu.
"Apa Danny tidak pernah menemui kamu Nia?" bisik Anggita kepada Nia. Mereka duduk bersebelahan sehingga Evan tidak mendengar bisikan itu. Nia senang Anggita menanyakan hal itu. Pertanyaan Anggita akan digunakan oleh Nia untuk meyakinkan mama Anita yang ada di kamar supaya percaya jika dirinya benar benar tidak berhubungan lagi dengan Rendra.
__ADS_1
"Pak Rendra tidak pernah lagi menemui aku sejak kegagalan rencana pernikahan itu Anggita. Pak Rendra benar benar sudah tidak menganggap aku lagi sebagai calon istri. Pak Rendra benar benar sudah membenci aku," kata Nia pura pura sedih.
Evan mengerutkan keningnya mendengar apa yang diucapkan oleh Nia. Evan bertanya dalam hati apa mengapa Nia mengatakan hal itu. Walau dirinya tidak mendengar pertanyaan bisikan itu. Tapi Evan yakin bukan itu jawaban atas pertanyaan Anggita. Karena perkataan Nia bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
Sementara di kamar. Mama Anita percaya jika Nia dan Rendra bukan lagi sepasang calon suami istri. Wanita itu menarik nafas panjang. Mama Anita merasa lega karena Evan belukm juga menikah. Seperti dirinya yang sudah mempunyai umur tua tentu saja sulit menemukan pasangan. Dan mama Anita menginginkan Rendra akan menderita di masa tuanya. Seperti janji mereka di Masa muda. Akan hidup bersama sampai menua. Rendra sudah mengingkari janji itu dengan menceraikan dirinya.
"Yang ditanya apa. Yang dijawab apa," kata Anggita sambil menggelengkan kepalanya. Wanita itu menduga jika Nia mempunyai beban pikiran yang berat sehingga tidak konsentrasi mendengar pertanyaan dari dirinya.
Nia tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Nia. Wanita itu sadar jika jawabannya tidak nyambung dengan apa yang ditanyakan oleh Anggita. Tapi Nia tidak perduli. Baginya saat ini yang terpenting adalah mama Anita percaya jika dirinya tidak mempunyai hubungan lagi dengan Rendra. Sungguh, Nia tidak ingin berurusan lagi dengan wanita itu.
Merasa tidak nyaman membicarakan tujuan kedatangan mereka hari ini ke rumah Nia. Evan akhirnya undur diri setelah beberapa menit duduk di kamar itu.
"Ada pekerjaan mendesak sayang. Rico baru saja mengirim pesan bahwa aku harus secepatnya ke kantor."
"Bagaimana kalau mas ke kantor dulu, nanti pulangnya jemput aku di rumah ini," kata Anggita senang. Dia masih ingin berlama lama di rumah itu untuk bercerita panjang dengan sahabatnya itu. Evan menggarukkan kepalanya untuk mencari alasan yang tepat kecurigaan dirinya tentang mama Anita tidak terbongkar hari ini.
Evan mencurigai jika mama Anita ada di dalam rumah itu. Rumah milik Nia tergolong sederhana. Tidak Ada tempat persembunyian yang paling aman selain di kamar. Evan sudah menduga jika mama Anita berada di salah satu kamar tersebut.
__ADS_1
"Tidak bisa sayang. Kamu juga harus ikut ke kantor."
"Jangan donk mas. Kalau mas tidak bisa menjemput aku. Aku bisa pulang taksi. Kasih ijin ya mas. Please!.
Anggita menangkupkan kedua tangannya memohon kepada Evan supaya diijinkan untuk tinggal sebentar di rumah Nia. Anggita benar benar rindu dan ingin bicara dari hati ke hati dengan sahabatnya itu.
Evan menatap istrinya itu dengan sedih. Dia mengulurkan tangannya dan menurunkan tangan Anggita dari dadanya. Melihat bagaimana Anggita memohon untuk bisa tinggal sebentar di rumah Nia membuat Evan merasa sangat kasihan. Tapi mengingat yang dia curigai adalah mama Anita. Evan takut terjadi sesuatu yang buruk pada Anggita jika membiarkan istrinya bisa bertemu dengan mama Anita tanpa ada dirinya.
"Maaf sayang. Untuk saat ini. Aku tidak bisa mengijinkan. Lain kali jika ada waktu yang tepat aku akan memberi ijin untuk itu.
Anggita kesal dengan memajukan bibirnya beberapa senti. Sedangkan Nia merasa lega. Ketika Anggita meminta ijin untuk tinggal di rumah itu, Nia sudah merasa cemas. Nia cemas mama Anita dan Anggita bertemu nantinya. Selain tidak ingin dirinya ada perjanjian dengan mama Anita. Nia juga tidak ingin Anggita tersakiti oleh tindakan dan lisan mama Anita.
"Kenapa ganti mobil mas?" tanya Anggita heran setelah mereka berdua duduk di mobil yang baru. Evan menyuruh salah satu supir dari rumah nenek Rieta mengantarkan mobil ke tempat ini. Mereka saat ini sedang di ujung persimpangan jalan.
"Nanti kami akan mengetahui sendiri sayang," kata Evan. Dia kembali membawa mobil itu ke arah rumah Nia. Tapi Evan memarkirkan mobil itu tidak jauh dari rumah Nia tapi masih bisa melihat pergerakan di halaman rumah Nia.
Beberapa menit kemudian, Evan dan Anggita melihat mama Anita keluar dari rumah Nia. Mama Anita tersenyum puas keluar dari rumah itu karena tujuan berhasil.
__ADS_1
"Mas, bukankah itu tante Anita. Mengapa dia bisa berada di rumah Nia?" tanya Anggita heran.
"Nanti Kita akan tanya sendiri sayang. Biarkan wanita licik itu pergi terlebih dahulu dari rumah itu. Kita akan ke sana sebentar lagi setelah wanita itu pergi," jawab Evan. Dari mobil itu mereka bisa melihat Anita memundurkan mobilnya. Setelah mobil mama Anita benar benar tidak terlihat lagi. Evan membawa mobil itu masuk kembali ke pekarangan rumah Nia. Dia ingin mengungkap hubungan mama Anita dan Nia hari ini juga.