Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 125


__ADS_3

"Semoga ini awal yang baik," gumam Anna. Wanita itu berdiri di depan pintu kamar nenek Rieta. Seperti perkataan Rendra. Anna siap berjuang mendapatkan restu tulus dari calon sang ibu mertua. Anna berpikir, sudah saatnya dirinya harus mengubah pola berpikir dalam menjalani hidupnya. Rendra sudah tulus menyayangi dirinya. Anna pun berpikir akan membalas kebaikan pria itu semampu yang dia bisa.


Anna berdiri di depan pintu kamar nenek Rieta. Mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum berbicara dengan nenek Rieta. Anna menggerakkan tangannya, mengetuk pintu kamar itu sambil menajamkan pendengarannya.


"Nenek," panggil Anna. Dia ikut memanggil wanita tua itu dengan sebutan nenek karena tidak percaya diri memanggil nenek Rieta dengan sebutan ibu. Dia belum sah menjadi bagian dari keluarga besar. Dia tidak ingin dianggap terlalu percaya diri jika langsung memanggil nenek Rieta dengan sebutan ibu.


"Masuk."


Anna membuka pintu itu perlahan bersamaan dengan nenek Rieta yang sedang menatap ke arah pintu. Tapi ketika melihat Anna yang muncul di depan pintu Nenek Rieta langsung menarik selimut hendak menyelimuti tubuhnya. Nenek Rieta masih menunjukkan sikap tidak suka akan Anna.


"Nenek, bolehkah aku masuk?" tanya Anna.


"Masuk lah."


Anna melangkah kakinya masuk ke kamar itu dengan sungkan karena nenek Rieta menyuruh dirinya masuk dengan sikap dingin. Menginjakkan kaki di kamar orang yang pertama kali dikenal sekaligus calon ibu mertua tidaklah mudah bagi Anna. Tapi desakan Rendra membuat Anna melakukan hal ini. Melihat Nenek Rieta bangkit dari tempat tidur dan menuju sofa. Anna mengikuti langkah wanita tua itu dan duduk setelah nenek Rieta menyuruh dirinya untuk duduk.


"Nenek, maafkan aku jika sikapku ada yang kurang berkenan di hati nenek," kata Anna sambil meremas jari jarinya. Dia takut nenek bersikap ketus kepada dirinya.


"Apa kamu benar benar mencintai putraku?" tanya Nenek Rieta tanpa mengiyakan permintaan maaf dari Anna. Nenek Rieta memang menginginkan Rendra menikah secepatnya dan tidak menginginkan pernikahan itu hanya sementara melainkan pernikahan kekal di dunia.


"Iya nek,"


"Anna. Kamu sudah dewasa. Apa arti cinta bagi kamu," tanya nenek Rieta lagi.


Anna tidak menjawab. Wanita itu menundukkan kepalanya. Setelah gagal menjalani pernikahan pertamanya, dia sebenarnya ragu arti cinta pada umumnya. Katanya cinta itu sumber kebahagiaan. Tapi yang dia dapat adalah cinta membuat dirinya terluka. Jika dirinya, menerima Rendra menjadi calon suaminya yang kedua. Itu karena dirinya merasa nyaman dengan pria itu. Dan rasa nyaman itulah yang dia artikan sebagai jawaban atas pertanyaan nenek Rieta.


"Nyaman belum tentu cinta," kata nenek Rieta seperti bisa membaca alasan Anna menerima putranya. Nenek Rieta mengatakan itu hanya karena dirinya berpikir apa adanya. Wanita mana yang tidak nyaman dengan pria seperti Rendra. Nyaman secara financial dan nyaman atas sikap sopan Rendra. Rendra adalah pria yang baik.


Anna menundukkan kepalanya. Nenek Rieta sudah menebak jika dugaannya benar.


"Aku tidak melarang hubungan kalian Anna. Putraku sudah memilih kamu dibandingkan dengan wanita yang jauh lebih muda dengan kamu. Itu artinya, Rendra sudah berpikir matang matang ketika menjatuhkan pilihannya kepada kamu. Jika suatu saat rasa nyaman itu memudar dalam diri kalian berdua. Aku harap kamu berjuang mempertahankan rumah tangga kalian," kata nenek Rieta. Tidak ada gunanya menentang hubungan itu. Usia Rendra bukan usia pria yang baru menginjak dewasa begitu juga dengan usia Anna. Nenek Rieta berpikir jika dua manusia itu hanya perlu berjuang, menerima kelebihan dan kekurangan pasangan masing masing.


"Iya nek," jawab Anna. Sama seperti pemikirannya yang sebelumnya. Anna juga tidak akan mendahului kata kata dibandingkan perbuatan. Anna berjanji dalam hati akan menjaga rumah tangganya baik baik nantinya.


"Kamu berteman dengan Salsa kan?" tanya Nenek Rieta membuat Anna bingung tapi menganggukkan kepalanya.


"Tolong hubungi dia untuk datang ke rumah ini sekarang juga."


"Untuk apa ma?" tanya Rendra yang baru muncul di kamar itu. Rendra hendak membantu Anna mendapatkan restu dari Nenek Rieta. Tapi sesudah dirinya tiba di kamar itu. Topik pembicaraan sudah berganti. Rendra juga heran, mengapa Nenek Rieta mengetahui tentang Salsa dan bahkan meminta dirinya untuk menghubungi wanita itu.


"Jangan banyak bertanya. Hubungi sekarang juga," kata nenek Rieta tegas penuh tekanan.


Rendra dan Anna saling berpandangan. Mereka sama sama mempunyai nomor kontak milik Salsa. Dan Rendra benar benar bisa memposisikan dirinya sebagai calon suami. Dia meminta Anna yang menghubungi gadis pemberani itu. Karena Rendra tidak ingin Anna salah paham jika dirinya yang menghubungi Salsa.


Anna menunjukkan protes dengan wajah bingung yang sengaja dia perlihatkan. Tapi desakan nenek Rieta membuat Anna akhirnya menghubungi Salsa. Anna akhirnya pun menghubungi wanita itu walau terpaksa.


Salsa terdengar tidak menolak karena Anna memanggil gadis itu ke rumah nenek Rieta karena masih berhubungan dengan pekerjaan.


Suasana hati nenek Rieta membaik setelah kedatangan Anna ke kamarnya. Walau Anna tidak menjanjikan banyak hal kepada dirinya untuk membahagiakan Rendra. Nenek tua itu menghargai sikap Anna. Nenek Rieta menilai jika sikap yang ditunjukkan oleh Anna adalah perjuangan awal bagi hubungannya dengan Rendra. Nenek Rieta memang menghargai orang yang bisa diarahkan ke arah yang lebih baik.

__ADS_1


Nenek Rieta, Rendra dan Anna kembali bergabung di ruang tamu. Tapi bergabungnya nenek Rieta di ruang tamu itu sudah dengan tujuan lain. Dia menunggu kedatangan Salsa. Mereka kembali berbincang bincang santai. Nenek Rieta berkali kali mengembangkan senyumnya membayangkan kehidupan anak dan cucunya penuh kebahagiaan dengan keluarga yang lengkap. Minggu depan, Rendra akan menikahi Anna itu artinya beban pikiran Nenek tua itu akan berkurang. Dia menanyakan Danny dan membayangkan cucunya itu menemukan pendamping hidup yang baik.


Setengah jam menunggu. Akhirnya Salsa tiba di rumah itu. Gadis cantik nan pemberani itu terpaksa membatalkan janji dengan sahabatnya yang hendak menghabiskan weekend bersama.


Salsa terlihat kebingungan ketika seorang pekerja mengantarkan dirinya ke ruang tamu. Apalagi melihat Ada Anna di tengah tengah keluarga besar Rendra membuat gadis itu tidak bisa menyembunyikan kebingungan. Sedangkan Evan dan yang lainnya juga terkejut melihat kedatangan wanita itu. Mereka tidak mengetahui sebelumnya jika Anna menghubungi wanita itu untuk datang atas permintaan Nenek Rieta.


"Nenek yang menyuruhnya untuk datang ke rumah ini. Duduk Salsa. Nama kamu Salsa kan?" tanya Nenek Rieta. Sang nenek langsung bersikap akrab kepada Salsa. Dia senang karena Salsa terlihat sangat sopan.


"Benar nek, namaku Salsa," jawab Salsa. Gadis itu langsung menghampiri nenek Rieta dan mengulurkan tangannya. Dia juga membungkukkan badannya hormat kepada yang lainnya.


"Duduk disini nak," kata nenek Rieta sambil menggeser duduknya. Salsa menurut. Gadis itu duduk di sebelah nenek Rieta.


"Kamu sekretaris Rendra kan?" tanya Nenek Rieta lagi. Salsa menganggukkan kepalanya. Sejak duduk, Salsa terlihat salah tingkah ditambah dengan pertanyaan nenek Rieta yang menyebut nama yang membuat hatinya patah. Dia tidak berani menatap Rendra yang sedang menatap dirinya.


"Minggu depan. Rendra dan Anna akan menikah. Acaranya tidak terlalu besar. Aku menunjuk kamu secara khusus untuk membantu persiapan pernikahan itu bersama dengan Danny."


Salsa menundukkan kepalanya. Ada sayatan halus terasa di hatinya mendengar rencana pernikahan laki laki yang selama ini dia mimpikan. Berusaha ihklas dan menghibur diri sendiri ternyata tidak membuat hatinya baik baik saja mendengar pernikahan itu. Akhirnya dirinya mendengar kabar bahagia itu.


"Kenapa harus Salsa nek?" tanya Anggita protes. Sebagai sesama wanita. Anggita bisa merasakan sakit hati Salsa yang sangat jelas terlihat. Membantu mempersiapkan pernikahan dari pria yang dicintainya tidak mudah bagi Salsa. Anggita bisa melihat hal iti dalam diri Salsa.


Rendra menggaruk kepalanya atas keputusan sepihak yang diambil nenek Rieta. Sejujurnya Rendra menyesal karena pernah menyakiti hati Salsa yang melarang wanita itu jangan terlalu murahan. Tapi untuk ikut andil dalam persiapan pernikahannya. Rendra tidak setuju karena dia tahu akan membuat wanita itu semakin terluka. Rendra tidak tega melihat wanita itu semakin sedih. Dia sadar jika keputusannya memilih Anna adalah hal yang berat bagi Salsa. Rendra hanya mengikuti hati nuraninya sehingga Anna yang terpilih menjadi pendamping hidupnya.


"Karena Salsa adalah sekretaris Rendra. Salsa pasti mengetahui siapa saja relasi bisnis Rendra yang harus diundang. Bukankah pesta pernikahan Rendra yang gagal kemarin. Salsa ikut serta dalam persiapan itu. Benar kan Salsa?" tanya Nenek Rieta.


"Baik Nenek. Akan aku kerjakan apapun perintah nenek," kata Salsa. Semua mata memandang wanita itu termasuk Anna. Salsa menganggukkan kepalanya pertanda keputusanya bukan masalah bagi dirinya. Wanita itu tidak ingin terlihat lemah di hadapan Rendra.


"Sekalian saja kalian pendekatan. Anggap saja pekerjaan ini sebagai sarana bagi kalian berdua untuk saling mengenal," kata Gunawan cepat menyambung perkataan Nenek Rieta.


Semua mata kini menatap Salsa dan Danny bergantian. Yang ditatap baik Salsa dan Danny terlihat biasa saja. Salsa tidak salah tingkah. Wanita itu kini bersikap jauh lebih tenang dibandingkan dirinya sejak duduk di sebelah nenek Rieta.


Mendengar cerita tentang Salsa dan melihat Salsa langsung. Gunawan langsung menyukai wanita itu. Dia berharap Salsa bisa menjadi menantunya.


"Papa, jangan berkata seperti itu. Danny memang tidak menikahi Nia. Tapi setidaknya kita harus menghargai Nia selama kehamilannya. Jikapun Danny harus dekat dengan seseorang. Biarkan itu terjadi setelah Nia melahirkan," kata Evan. Dia tidak suka dengan perkataan Gunawan yang asal bicara.


Gunawan, Danny dan Rendra menatap Evan dengan tajam. Secara tidak langsung. Evan sudah menceritakan masalah keluarga mereka di hadapan Salsa.


"Salsa. Apapun pembicaraan saat ini. Aku harap tidak bocor keluar," kata Evan kepada Salsa menyadari tatapan tajam dari tiga pria itu.


"Baik Pak. Tidak perlu khawatir," jawab Salsa. Tanpa dijelaskan wanita itu sudah bisa menarik kesimpulan dari perkataan Evan.


Danny menatap Salsa. Memperhatikan wanita itu dengan seksama.


"Aku rasa, sekarang kalian sudah bisa mulai menjalankan apa yang aku katakan tadi. Minggu depan hanya tinggal hitungan jari," kata nenek Rieta kepada Salsa dan Danny.


"Ayo Salsa," ajak Danny dan berdiri. Semua menatap Danny yang langsung sok akrab dengan Salsa. Nenek Rieta menyentuh tangan Salsa supaya wanita itu mengikuti langkah Danny ke ruangan yang berbeda.


Danny dan Salsa kini sibuk di ruang kerja milik Rendra. Dua manusia itu bekerja sama dengan baik seakan mereka sudah lama saling mengenal. Salsa sedikitpun tidak terlihat canggung. Dia sangat fokus dengan pekerjaannya.


"Total Tiga ratus orang undangan pak," kata Salsa sambil menunjuk layar laptop kepada Danny. Dia sudah menuliskan nama nama yang hendak diundang dalam pernikahan Rendra.

__ADS_1


"Ditambah undangan dari pihak keluarga calon pengantin pria seratus orang. Dari pihak ibu Anna belum bisa dipastikan," kata Danny menunjukkan kertas yang sudah berisi nama nama orang yang hendak diundang.


"Tentang undangan dari pihak wanita. Nanti aku tanya ibu Anna, Pak." kata Salsa sambil mengetikkan nama nama yang tertulis di kertas itu ke layar laptop. Danny mengacungkan jempolnya tanda setuju dengan perkataan Salsa. Supaya pekerjaan cepat selesai. Danny berinisiatif membacakan nama nama tersebut dan Salsa yang mengetikkannya.


"Kira Kira kamu kasih kado apa ke om Rendra dan ibu Anna?" tanya Danny. Hampir satu jam bersama di ruangan itu. Danny dan Salsa bekerja sambil bercanda. Mereka tidak canggung walau baru bertemu.


"Coba tebak pak. Kira kira aku kasih kado apa kepada mereka?"


"Mana aku tahu kamu akan kasih kado seperti apa. Biasanya kan wanita yang patah hati itu akan kasih kado tidak tidak. Kado semacam teror."


"Salah Pak. Aku justru akan memberikan kado yang akan mendukung malam pertama mereka lancar."


"Kado apa itu?"


"Balsem. Aku memberikan mereka balsem supaya encok pak Rendra tidak kambuh malam harinya supaya malam pertama mereka lancar tanpa encok."


Danny tidak dapat menahan untuk tidak tertawa. Pria itu tertawa terbahak bahak. Begitu juga dengan Salsa. Membayangkan Rendra bau balsem di malam pertama membuat Salsa tertawa.


"Kado yang sangat bagus Salsa. Kado yang sangat pas karena om Rendra sudah lelah satu harian," kata Danny setelah lelah tertawa.


"Kalau pak Danny. Mau kasih kado apa?.


"Rahasia. Yang pasti bukan balsem karena kamu sudah memberikan benda itu," kata Danny sambil tertawa.


"Gak adil ah. Tadi pak Danny nanya aku. Aku kasih tahu. Giliran dia, main rahasia rahasiaan."


Danny tersenyum. Dia langsung menyebutkan sebuah nama dan Salsa mengetikkannya.


"O ya Pak. Nia belum masuk daftar. Apa wanita itu diundang atau tidak?" tanya Salsa. Dia hanya menuliskan nama nama relasi dan para petinggi perusahaan sebagai tamu undangan. Dan setelah meneliti tamu undangan yang didata oleh Danny. Nama Nia tidak ada disana.


"Tidak tahu, nanti kita tanya yang punya pesta," jawab Danny datar. Wajah cerianya berubah setelah mendengar nama Nia.


Salsa dan Danny kembali ke ruang keluarga dengan membawa beberapa lembar kertas berisi nama nama tamu undangan.


"Om Rendra, ibu Anna. Apa Nia di undang ke pernikahan kalian," tanya Danny kepada calon pengantin itu. Rendra dan Anna saling berpandangan.


"Tidak perlu. Kita cari amannya saja," jawab Gunawan. Rendra dan Anna belum menjawab tapi Gunawan sudah berprasangka buruk kepada Nia. Perkataan Gunawan seakan akan jika mengundang Nia akan menjadi ancaman bagi mereka.


"Menurut Nenek juga tidak perlu. Kita hendak berpesta dan berbahagia. Jangan mengundang yang nantinya bisa membuat sesuatu yang tidak diinginkan terjadi."


Sama seperti Gunawan. Nenek Rieta sudah berprasangka buruk.


"Menurut aku juga begitu pa. Nia tidak perlu diundang. Ya kan mas?" kata Anggita. Dia ingin suaminya itu setuju. Bukan karena Anggita tidak menginginkan sahabatnya itu datang ke pesta pernikahan Rendra dan Anna. Tapi Anggita tidak ingin melihat Nia terluka nantinya hanya melihat Danny. Selain itu, Anggita masih dapat melihat kebencian dalam diri Gunawan dan Nenek Rieta jika mendengar nama Nia. Anggita takut jika Nia diundang dan hadir dalam pesta pernikahan tersebut. Nenek Rieta dan Gunawan menunjukkan kebencian itu langsung kepada Nia.


"Aku rasa juga begitu pa," kata Evan.


Para pembacaku yang baik. Yang bertanya Tentang kisah Nia, pasti akan ditulis.


Bab ini akan berhubungan dengan bab bab selanjutnya yang berhubungan dengan Nia.

__ADS_1


__ADS_2