Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
163


__ADS_3

Hari persalinan Anggita sudah hampir tiba. Karena persalinan melahirkan Cahaya secara Caesar maka untuk persalinan kedua ini juga harus Caesar. Jarak kehamilan antara Cahaya dan baby boy tergolong dekat sehingga Anggita tidak bisa melahirkan normal.


Walau persalinan Caesar itu sudah dijadwalkan. Evan tetap memposisikan dirinya menjadi suami yang siaga. Bahkan hari hari terakhir ini. Evan tidak membiarkan istrinya itu untuk bergerak banyak. Bisa dikatakan jika Evan lah yang melayani Anggita.


"Berlebihan," kata Anggita kepada suaminya itu. Evan membantu dirinya membersihkan tubuhnya bahkan memakaikan pakaian ke seluruh tubuhnya.


"Ini tidak seberapa dibandingkan pengorbanan kamu melahirkan anak untukku sayang. Ini di bedah, ini diperas," kata Evan sambil menunjuk bekas Caesar yang ada dibawah pusar istrinya dan juga menunjuk gunung kembar istrinya. Anggita tertawa. Dia menangkap tangan suaminya yang mencari kesempatan memainkan gunung kembar miliknya.


"Kamu mau?" tanya Anggita sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Sebenarnya mau. Tapi aku takut hilang kendali karena keenakan," jawab Evan jujur. Dua bulan terakhir ini, mereka melakukan hubungan suami istri hanya beberapa kali. Anggita tertawa mendengar perkataan suaminya.


"Jawabannya iya dan tidak."


"Tidak mau karena tidak ingin menyakiti kamu dan jagoanku," kata Evan. Biarlah dirinya menahannya keinginan itu asalkan istrinya dan anaknya baik baik saja.


"Yakin. Kamu akan puasa loh lebih dari enam bulan setelah melahirkan," kata Anggita.


"Enam bulan?. Kan kata dokter kemarin bisa Setelah dua bulan."


"Itu kata dokter. Kata ku kan enam bulan," jawab Anggita. Dia ingin sebenarnya melayani suaminya itu sampai persalinan itu tiba. Karena bagaimana pun. Evan harus puasa cukup lama setelah dirinya melahirkan.


"Rasanya tidak sanggup puasa enam bulan sayang. Dua bulan saja ya." Anggita menggelengkan kepalanya. Wanita hamil itu tersenyum melihat wajah lesu suaminya. Dia hanya berniat mengerjai suaminya. Dia pun tidak ingin membuat Evan puasa selama itu.


"Suamiku ini bodoh atau gimana sih. Untuk apa berdebat tentang berapa lama puasa ranjang kalau saat ini kita bisa melakukannya," kata Anggita. Evan tersenyum mendengar perkataan istrinya tapi tidak langsung bergerak cepat atas sinyal yang diberikan oleh Anggita.


"Kamu tidak menginginkan ku?" tanya Anggita cemberut. Entah mengapa keinginan itu timbul dalam dirinya.


"Menginginkan sayang. Tapi takut," bisik Evan.


"Selagi aku tidak mengaduh kesakitan itu berarti aman," bisik Anggita juga di belakang telinga suaminya. Evan tidak dapat lagi menahan keinginan itu. Hembusan nafas Anggita yang dapat dia rasakan menghilangkan rasa takut itu dari hatinya. Dengan pelan dan kehati hatian. Mereka berlayar mengarungi samudera cinta. Pakaian yang baru saja menempel di tubuh Anggita kini sudah berserakan di lantai.


Anggita tersenyum setelah permainan itu usai. Memberikan kebahagiaan kepada pria yang sangat dicintainya membuat hatinya merasa tenang. Evan berkali kali mencium kening Anggita karena pelayanan istrinya itu. Evan mengetahui jika Anggita sebenarnya kurang nyaman berhubungan dengan perut buncit itu. Evan mengetahui jika apa yang dilakukan Anggita saat ini untuk membahagiakan dirinya.


Seperti biasa setelah permainan itu usai. Evan akan membersihkan dirinya di kamar mandi tanpa membawa baju kotornya yang masih berserakan di lantai. Anggita menggelengkan kepalanya. Inilah salah satu kekurangan Evan. Tapi hal itu tidak akan membuat rasa cintanya berkurang.


"Sayang, ada yang minta tolong," kata Anggita setelah Evan keluar dari kamar Mandi dengan handuk terlilit di pinggangnya.


"Minta tolong apa sayang?" tanya Evan khawatir. Dia bahkan mendekat ke ranjang dimana Anggita masih duduk bersandar di ranjang itu. Evan menduga, Anggita meminta pertolongan untuk memapah dirinya ke kamar mandi.

__ADS_1


"Itu, pakaian kamu minta tolong dari tadi supaya dipindahkan ke tempat kain kotor," kata Anggita sambil menunjuk pakaian Evan yang berserakan di lantai.


Evan tertawa terbahak bahak. Dia memungut pakaian miliknya satu persatu. Dan kemudian memasukkan ke keranjang pakaian kotor. Evan menyukai cara Anggita untuk mengingatkan dirinya di setiap kekurangannya. Anggita tidak langsung mengomel di setiap kekurangannya.


"Kamu tidak mandi lagi?" tanya Evan.


"Tidak mas. Takut masuk Angin," jawab Anggita. Anggita baru saja keluar dari kamar mandi. Evan juga sudah terlihat sudah rapi dengan pakaian kantor. Evan menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar menuju meja makan.


"Mau makan apa sayang. Biar aku yang melayani kamu," kata Evan setelah mereka duduk bersebelahan di meja makan. Bagi Evan, tidak selamanya harus istri yang melayani suaminya di meja makan. Ada kalanya sang suami yang melayani Istrinya di meja makan seperti situasi saat ini. Perut Anggita yang membuncit pasti sedikit kewalahan berdiri di sela sela kursi dan meja hanya untuk melayani dirinya.


"Itu saja mas," kata Anggita sambil menunjuk nasi goreng buatan mama Feli. Nasi goreng itu tersaji di meja saat ini karena permintaan Anggita. Evan pun mengambilkan makanan itu dan memberikannya kepada Anggita. Sedangkan dirinya memilih roti dan susu sebagai sarapan. Walau pun Anggita dan Evan saling mencintai tapi mereka banyak perbedaaan dalam segala hal. Cinta tidak memaksakan mereka untuk menyukai sesuatu yang sama termasuk sarapan mereka seperti pagi ini.


"Aku berangkat dulu sayang," kata Evan setelah mereka berbincang sebentar setelah sarapan. Evan membantu Anggita untuk berdiri. Anggita tidak pernah melupakan kewajibannya untuk mengantarkan Evan hingga masuk Mobil.


"Mama, Mana tuan putriku yang tercinta?" tanya Evan kepada mama Feli yang bersantai di ruang tamu. Setiap berangkat kerja, Evan juga tidak pernah lupa untuk tidak menggendong Cahaya terlebih dahulu.


"Mana ya. Tadi disini loh," kata mama Feli. Mereka bertiga berpura pura tidak melihat Cahaya yang bersembunyi di dekat meja kayu sofa itu.


"Cahaya, Cahaya," panggil Evan. Cahaya sangat suka dengan permainan seperti ini. Anak itu akan merasa bangga jika papanya tidak langsung melihatnya. Anak itu juga terlihat menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya ketika Anggita menatap Cahaya. Anggita tersenyum melihat putrinya itu. Di Usianya yang masih satu tahun tiga bulan. Cahaya termasuk anak yang bijak dan pintar.


"Papa," kata Cahaya sambil tertawa. Dia senang melihat Evan yang pura pura mencari dirinya ke balik sofa dan ke kamar terdekat di ruang tamu itu.


"Cium papa dulu. Papa mau kerja cari uang," kata Evan. Dengan riang, Cahaya mencium kedua pipi papanya itu.


Evan juga mencium Kedua pipi putrinya itu. Seperti nama putrinya. Evan akan lebih bersemangat bekerja jika melihat keceriaan putrinya itu terlebih dahulu.


"Pa, num cucu," kata Cahaya. Cahaya belum terlalu lancar berbicara. Tapi kata katanya sudah bisa dimengerti.


"Putri papa mau minum susu?" tanya Evan. Cahaya menganggukkan kepalanya dengan senang. Jika seperti ini, Evan mengerti apa yang menjadi kemauan putrinya itu. Cahaya akan mau minum susu jika Evan yang memegang dot.


"Baiklah tuan putriku," kata Evan. Dia akhirnya mendaratkan tubuhnya di sofa dan memberikan Cahaya minum susu.


"Jangan terlalu dimanja Evan. Sebentar lagi. Cahaya akan mempunyai adik. Bagaimana pun kasih sayang kalian akan terbagi nantinya," kata mama Feli. Mama Feli bisa melihat jika Evan terlalu memanjakan Cahaya. Seperti saat ini, seharusnya Evan sudah berangkat bekerja sejak satu jam yang lalu tapi Evan masih mengiyakan permintaan Cahaya.


"Tidak apa apa ma. Aku sadar waktuku tidak banyak untuk keluarga. Aku tidak ingin Cahaya kecewa hanya karena waktu lima menit memberikan dia minum susu," jawab Evan. Mama Feli tidak berkata apapun lagi karena bagaimana pun jika berkaitan dengan anaknya Evan akan mengusahakan apapun keinginan putrinya. Tapi di satu sisi lain, mama Feli juga merasa bangga melihat Evan yang selalu mengutamakan keluarga.


Setelah keinginannya Cahaya terpenuhi. Evan pun akhirnya berangkat bekerja. Dia mencium punggung tangan mertuanya terlebih dahulu kemudian menggandeng tangan Anggita dan di tangannya yang satu lagi memegang Cahaya.


"Kalau ada sesuatu. Cepat hubungi aku ya," kata Evan. Persalinan Anggita tinggal sepuluh hari lagi. Segala kemungkinan bisa terjadi sebelum hari persalinan itu. Evan tidak akan membiarkan Anggita sendirian apalagi pergi sendiri ke rumah sakit jika terjadi sesuatu dengan kehamilannya.

__ADS_1


"Iya sayang. Fokuslah bekerja. Tidak akan terjadi apa apa sebelum hari persalinan tiba," jawab Anggita. Dia meraih tangan suaminya dan menciumnya kemudian setelah itu. Evan juga terlihat mencium kening istrinya kemudian mengelus perut buncit istrinya itu.


"Atu pa?" kata Cahaya tidak mau ketinggalan. Anak kecil itu merasa tidak sabar menunggu papanya untuk mencium dirinya.


"Siap tuan putri," jawab Evan. Dia pun mencium putrinya itu.


Anggita menatap Mobil suaminya yang perlahan meninggalkan pekarangan rumah. Dia merasa bahagia berumah tangga dengan Evan di pernikahan kedua ini. Anggita merasa jika dirinya beruntung Dan tidak menyesal memberikan Evan kesempatan kedua. Setiap masalah di rumah tangga itu selalu ada. Tapi sampai sejauh ini mereka tidak pernah bermasalah sama sekali. Terkadang mereka berdebat tentang sesuatu hal tapi hal itu tidak menjadikan alasan bagi mereka untuk tidak cocok.


Persalinan yang ditunggu tunggu Evan dan Anggita pun akhirnya tiba juga. Evan berdoa di dalam hati di depan pintu kamar operasi itu memohon kepada sang Pemilik hidup akan keselamatan istri dan putrinya.


"Berjuang lah untuk keluarga Kita. Untuk Cahaya, untuk ku dan juga untuk baby boy kita. Kami sangat mencintai kamu," kata Evan sambil memegang tangan Anggita dengan erat.


Anggita tersenyum. Dia pun berharap bukan di depan pintu operasi itu sebagai pertemuan terakhir dirinya dengan Evan. Melahirkan adalah pertaruhan nyawa meskipun melahirkan lewat Caesar. Anggita tetap memberikan senyum manisnya kepada Evan ketika dua perawat semakin membawa dirinya menjauh dari Evan.


Tidak henti hentinya Evan berdoa sepanjang persalinan itu. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh Evan. Meskipun dirinya mempunyai banyak harta. tapi Evan sadar jika hartanya itu tidak bisa membeli nyawa. Hanya berdoa dan memohon keselamatan kepada sang Pemilik Hidup lah kekuatanya saat ini.


"Bagaimana istri saya dok?" tanya Evan yang baru saja melihat seorang dokter keluar dari ruangan Caesar. Evan bahkan tidak bertanya tentang putranya yang sedang dibawa oleh dokter itu.


"Istri bapak baik baik saja. Dan ini putra bapak," kata dokter itu sambil menunjukkan wajah sang bayi kepada Evan.


Evan mengelus wajah putranya itu dengan penuh kasih sayang. Dia merasa bangga dan terharu melihat putranya itu. Dan untuk saat ini, Evan belum bisa memandangi wajah putranya itu dengan sepuasnya karena bayi itu harus secepatnya dimasukkan ke inkubator.


Evan kembali berdoa. Mengucap syukur atas keselamatan istri dan putranya itu.


"Mas," panggil Anggita yang kini keluar dari ruang operasi. Evan membuka matanya Setelah menyelesaikan doa doanya.


"Sayangku. Terima kasih karena sudah berjuang," kata Evan. Evan ikut berjalan sejajar dengan bed yang di dorong seorang perawat.


"Kamu minta kado apa sayang. Aku akan memberikan hadiah kepada kamu atas kelahiran putra Kita," kata Evan.


"Tidak meminta kado apa apa mas. Tapi kalau boleh berbagi. Sebagai ucapan syukur Kita. Aku ingin kamu berbagi dengan anak yatim, jompo dan orang orang yang saat ini sedang kesulitan ekonomi," kata Anggita.


Evan pun menganggukkan kepalanya dengan setuju. Dia juga menghubungi Rico sang asisten untuk memberikan bonus kepada semua karyawannya. Dia juga meminta Rico untuk mengantarkan sejumlah bantuan kepada beberapa panti asuhan dan panti jompo.


"Anggita tersenyum. Dan senyum itu kemudian semakin mengembang setelah Evan menyematkan sebuah gelang yang indah di pergelangan tangannya. Ternyata Evan sudah menyiapkan hadiah atas kelahiran putra mereka.


End


Para pembaca setiaku. Terima Kasih karena membaca novel ini sampai akhir. Author berharap, dimana pun kalian berada selalu dalam keadaan sehat dan rejekinya lancar. Sekali lagi, terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2