Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 134


__ADS_3

"Alat untuk memompa asi ka," jawab Nia. Nia berhasil memberikan jawaban yang sejujurnya akan fungsi alat itu setelah berhasil mengusai dirinya dari kegugupan yang tidak diperhatikan oleh Danny.


"Aku tahu, fungsinya untuk memompa asi. Tapi asinya nanti untuk siapa?.


"Bukan untuk siapa siapa. Karena aku tidak akan menggunakan pompa ini. Ini pemberian dari salah satu tetangga yang tidak mengetahui jika bayiku sudah tiada. Mungkin karena tidak enak hati membawa pulang kembali pompa tersebut. Dia meninggalkannya begitu saja. Aku membuka bungkusan kado itu hatiku kembali bersedih sehingga bungkusan itu terjatuh dari tanganku."


Nia berkata dengan sangat sedih. Kesedihannya bukan pura pura tapi sungguhan. Mulutnya mengeluarkan kata kata menyangkal tentang tujuan pompa itu tapi hatinya berkata jika pompa itu untuk bayi perempuannya.


Danny menatap Nia dengan sedih. Dia mendengar suara Nia yang bergetar. Apa yang dikatakan Nia bisa diterima oleh akalnya. Tapi bukan hanya itu yang membuat Danny sedih. Tadi sebelum masuk ke dalam rumah. Danny mendengar suara suara para ibu ibu tetangga Nia yang membicarakan Nia. Tentunya pembicaraan itu adalah hal negative yang ditujukan untuk Nia menyangkut kehamilannya. Mendengar sendiri, pembicaraan para wanita itu. Danny sadar jika perjuangan Nia sangat berat mempertahankan kehamilannya. Nia dibenci oleh ibu ibu di sekitar tempat itu karena dianggap memberikan contoh yang tidak baik kepada anak gadis lainnya.


"Apa Ada pria lain yang sering mengunjungi kamu di saat kamu masih hamil?" tanya Danny. Pertanyaan itu berkaitan dengan suara suara para tetangga yang didengar oleh Danny. Salah satu dari tetangga itu menyebutkan jika seorang pria sering berkunjung ke rumah itu tapi bukan dirinya. Danny mengetahui bahwa dirinya yang dimaksudkan karena tetangga tersebut menunjuk dirinya.


"Mengapa kamu menanyakan hal itu kak?"


"Aku mendengar salah satu tetangga


mengatakan seperti itu tadi."


"Apa yang mereka katakan itu benar. Pria itu adalah sahabat aku. Aku mau istirahat kak" jawab Nia jujur. Untuk kedua kalinya. Nia mengusir Danny dengan halus. Selain itu, Nia juga tidak ingin mendapatkan pertanyaan lain dari Danny tentang pria sahabat yang sudah banyak membantu dirinya selama ini.


"Baiklah, aku pulang. Besok atau lusa. Aku akan datang dan akan membawa Sisil jika kamu tidak keberatan. Kita akan menikah sebentar lagi. Aku rasa kamu perlu melakukan pendekatan dengan Sisil karena bagaimana pun. Setelah kita menikah nanti, otomatis Sisil juga akan menjadi anak kamu walau hanya ibu sambung."


Nia tidak menjawab tapi dia tidak melarang Danny melakukan apapun keinginan karena Nia mempunyai keinginan sendiri.


"Kamu tidak keberatan kan?"


"Terserah kamu kak. Aku percaya kamu bisa memutuskan yang terbaik."


"Baiklah. Aku pergi." Nia hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak menatap Danny sama sekali. Bahkan sebelum pria itu mencapai pintu. Nia sudah masuk ke dalam kamar.


Besok harinya, Danny benar benar membawa Sisil ke rumah itu. Danny bahkan memperkenalkan Nia sebagai mama baru bagi Sisil tapi belum boleh memanggil dengan sebutan mama sampai pernikahannya itu tiba. Sisil menurut. Anak kecil itu memanggil Nia dengan sebutan tante.


"Kenapa tante sakit?" tanya Sisil kepada Nia yang masih terlihat terkadang meringis karena rasa sakit di area jalan lahir anaknya. Nia terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa karena jika dirinya menjawab yang sesungguhnya, Nia takut akan ada pertanyaan lainnya yang akan menginginkan dirinya akan kesedihan itu bahkan bisa keceplosan tentang keberadaan bayi perempuannya.


Tidak ingin menjawab pertanyaan anak itu. Nia sengaja menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tante baru saja dioperasi. Sisil main saja ya. Jangan tanya yang macam macam sama Tante," kata Danny. Pria itu juga tidak ingin menceritakan yang sesungguhnya karena dia tidak ingin Sisil bingung jika mengetahui Nia baru melahirkan. Apalagi jika mengetahui bahwa bayi laki laki yang mereka kuburkan dua hari yang lalu adalah adiknya dan Nia adalah ibu dari bayi tersebut. Bukan tidak ingin memberitahukan yang sebenarnya kepada Sisil tapi Danny merasa hal itu akan membuat anak itu kebingungan. Danny akan menceritakan pengalaman pahit itu kepada Sisil jika waktunya sudah tiba dimana Sisil sudah dewasa nanti.


"Baik pa," jawab Sisil menurut. Anak itu kembali bermain dengan boneka kesayangannya yang sengaja dibawa Danny dari rumah.


"Sisil kemari dek," panggil Nia. Sisil duduk di ujung sofa dan agak jauh dari tempat Nia duduk. Sisil menurut. Anak kecil itu mendekati Nia dengan boneka kesayangan berada tetap di tangannya.


Nia membersihkan sisa sisa coklat di sekitar mulut Sisil dengan memakai tissue. Kemudian Nia merapikan rambut Sisil yang terlihat menutupi mata anak itu jika menunduk sedikit saja. Menjepit rambut Sisil dengan jepitan rambut yang dia pakai sendiri.


"Terima kasih tante."


"Sama sama dek. Tante perhatikan sejak datang. Kamu belum minum air putih. Minum air putih donk supaya jangan gampang sakit," kata Nia lagi. Danny dan Sisil sudah hampir dua jam di rumah itu. Sisil menggelengkan kepalanya. Di usia yang sudah lewat empat tahun. Sisil termasuk salah satu anak yang sangat payah minum air putih. Sisil hanya minum susu dan jus. Bahkan selesai makan saja, Sisil harus dipaksa dengan banyak rayuan supaya mau minum air putih itupun hanya sedikit.


"Kenapa?.


"Gak suka."


"Kalau gak suka air putih. Kasihan donk air putih ga diminum. Padahal air putih ini senang sekali kalau kita minum," kata Nia sambil memegang air mineral yang dibawa Danny tadi. Sisil menatap air mineral di tangan Nia.


"Mau gak. Nih, air putihnya sudah minta tolong untuk diminum," kata Nia lagi. Sisil menganggukkan kepalanya. Nia membuka tutup botol air mineral berukuran sedang itu kemudian memberikan kepada Sisil.


"Lagi dek, sedikit lagi," kata Nia lagi. Sisil menurut. Anak kecil itu meminum air mineral hampir seperempat dari isinya. Mungkin kalau tante Tiara Ada di tempat itu. Dia akan senang melihat Sisil yang meminum seperempat isi botol itu.


"Ga ada rasa."


Nia tertawa mendengar jawaban polos Sisil. Sedangkan Danny hanya tersenyum.


"Tapi nanti nanti di minum ya. Misalnya selesai makan. Harus minum air putih. Mengerti adik manis?" tanya Nia tersenyum.


"Mengerti tante," jawab Sisil polos. Nia mengelus kepala Sisil kemudian menyuruh anak itu kembali bermain dengan boneka kesayangannya.


Nia menatap Sisil yang sudah asyik bermain boneka. Nia melakukan hal baik kepada anak kecil itu. Karena bagaimana pun Sisil adalah saudara dari bayi kembarnya. Nia berharap, bayi perempuan mampu berjuang hidup dan bisa bertumbuh seperti Sisil yang sangat cantik, imut Dan pintar. Membayangkan bayi perempuannya bisa seperti Sisil. Nia menyunggingkan senyum.


Danny memperhatikan interaksi Nia dengan putri kesayangannya itu. Sisil terlihat patuh kepada Nia karena wanita itu berkata lembut dan bisa membujuk Nia untuk minum air putih dengan pemahaman yang sangat sederhana yang mungkin akan diingat oleh Sisil seumur hidupnya sebagai awal dirinya minum air putih tanpa paksaan.


Melihat Nia memperlakukan Sisil dengan baik dan bahkan memperhatikan kesehatan putrinya. Timbul penyesalan ke dalam hatinya. Sisil butuh sosok ibu yang bisa membuat dirinya tumbuh dan berkembang dengan kasih sayang dari seorang wanita yang disebut sebagai ibu. Dan melihat Nia bisa berinteraksi dengan baik dengan Sisil. Wanita itu memenuhi kriteria calon ibu sambung. Danny menyesali sikapnya yang tidak memberikan kesempatan kepada Nia untuk membuktikan dirinya layak bagi dirinya dan Sisil. Andaikan dirinya sudah menikahi Nia jauh jauh hari sebelumnya. Sisil juga sudah pasti merasakan kasih sayang lengkap dari orang tua walau kasih sayang dari wanita bukan ibu kandungnya.

__ADS_1


Suasana hati Danny mendadak sedih mengingat semua perlakuannya kepada Nia. Dia takut Nia tidak bersedia menikah dengan dirinya. Tapi mengingat bagaimana Nia tidak menolak tanggal rencana yang telah ditetapkan. Danny merasa lega. Karena dirinya tidak hanya mendapatkan seorang istri tapi juga ibu sambung bagi Sisil. Ya. Danny menilai sikap diam Nia itu sebagai jawaban.


"Terima kasih Nia," kata Danny membuat wanita itu terlihat terkejut. Nia tersadar perhatian kepada Sisil membuat Danny berterima kasih kepada dirinya. Nia memang sangat menyukai anak anak termasuk Sisil yang baru pertama kalinya dia lihat. Sisil sangat menggemaskan bukan hanya Karena anak kecil itu cantik nan imut. Sisil juga sangat bijak. Tapi setelah mendengar ucapan Terima kasih dari Danny. Nia khawatir jika Danny melihat perlakuannya kepada Sisil hanya untuk memberikan kesan baik untuk membuat Danny semakin yakin untuk menikahinya.


"Dalam proses pemulihan seperti ini. Sebenarnya aku membawa kamu ke rumah saja. Di rumahku banyak pekerja yang akan membantu kamu," kata Danny kemudian. Pria itu bisa melihat jika Nia melakukan hal sendiri meskipun dirinya sebenarnya harus dirawat saat ini. Ke kamar mandi sendiri, dan mengambil makan juga pasti sendiri. Walau Nia masih berjalan sangat pelan dan hati hati. Wanita itu tidak menerima bantuannya walau hanya memapah Nia ke kamar mandi. Dulu, ketika Sisil lahir, sang mantan istri benar benar beristirahat dan sangat manja. Kesakitan yang sama karena melahirkan darah daging milik tapi keadaan dan situasi yang sangat berbanding terbalik yang dialami oleh sang mantan istri dan calon istri.


Nia tidak menanggapi perkataan perkataan Danny. Wanita itu hanya menatap sebentar kemudian sekali kali mengintip layar ponselnya.


"Pa,.aku ga mau pulang. Aku mau di sini saja sama Tante," tolak Sisil setelah Danny mengajak anak kecil itu hendak pulang. Mereka sudah lewat dua jam di rumah itu ternyata membuat Sisil betah sedangkan Nia kurang nyaman. Danny juga mengajak Sisil pulang karena melihat sikap tidak nyaman yang ditunjukkan oleh Nia. Wanita itu tidak mengusir Danny karena enggan menyuruh Sisil yang masih betah bermain.


"Tapi kita harus pulang sayang, tante Nia mau istirahat," bujuk Danny.


"Tante Nia istirahat saja. Aku disini main main," jawab anak kecil itu polos. Baginya istirahat itu adalah tidur di kamar. Sudah terbiasa baginya bermain sendiri di kala tante Tiara istirahat dan dirinya hanya ditemani oleh seorang pengasuh.


"Tapi papa juga masih ada kerjaan. Kita pulang sekarang ya."


"Ga mau pa. Papa kerja saja. Aku disini main main."


Sisil masih bersikeras akan kemauanya. Dia terbiasa ditinggal kerja oleh Danny dan menurut anak kecil itu dirinya bisa bersama Nia di rumah ini.


Danny .menggaruk kepalanya melihat keras kepala putrinya itu. Sisil memang seperti itu. Jika dirinya menyukai sesuatu. Maka dia harus mendapatkan itu. Kalau tidak dituruti bisa menangis seharian. Anak kecil itu betah di rumah Nia. Itu tandanya anak kecil itu menyukai Nia.


Danny berusaha membujuk anak kecil itu supaya bersedia pulang termasuk mengatakan jika Cahaya ada di rumah mereka sekarang. Tapi dengan enteng. Sisil berkata bahwa hari Sabtu mereka akan bertemu di rumah nenek Rieta. Danny sungguh benar benar pusing memikirkan tingkah putrinya itu. Melihat itu akhirnya Nia juga turun tangan membujuk Sisil untuk bersedia pulang. Sama seperti tadi. Nia memanggil Sisil ke dekat dirinya terlebih dahulu.


"Sisil punya apa saja di rumah.. Mainan lain ada kan."


"Banyak," jawab Sisil. Di rumahnya memang banyak sekali mainan miliknya.


"Masih ada boneka yang lain?."


Sisil menganggukkan kepalanya.


"Boneka boneka milk kamu dan mainan lainnya pasti sudah menunggu kamu di rumah. Boneka boneka itu pasti ingin dimainkan oleh Sisil."


"Tapi besok besok. Aku bisa datang kemari lagi ya tante," kata Sisil menyanggupi bujukan Nia untuk pulang tapi memberikan permohonan yang membuat Nia ragu untuk menjawab.

__ADS_1


"Terserah Sisil. Kalau mau datang. Datang saja." akhirnya Nia mengucapkan jawaban itu. Sisil bersorak senang dan berkata akan datang besok.


Akhirnya atas bujukan Nia. Sisil akhirnya bersedia pulang. Danny juga semakin mengagumi Nia dalam hati.


__ADS_2