Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 140


__ADS_3

Enam bulan berlalu


Selama enam bulan Danny berusaha keras mencari keberadaan Nia. Tapi satu pun usahanya tidak berhasil. Sampai saat ini, Nia belum diketahui oleh Danny atau pun salah satu dari anggota keluarganya tentang keberadaan Nia.


Danny mengetahui apa yang harus dia lakukan untuk mencari wanita itu. Tapi pengetahuanya tidak berarti apa apa. Pria itu harus menelan kecewa. Mencari Anggita di masa lalu tidak semudah mencari keberadaan Nia saat ini. Bukan hanya Danny. Evan pun berusaha membalas kebaikan adiknya itu dengan mencari keberadaan Nia. Tapi hasilnya tetap saja nihil.


Danny hampir menyerah. Tapi di saat hatinya berusaha menyerah. Ada keinginan kuat yang hinggap ke hatinya untuk tetap mencari keberadaan Nia. Sisil juga hampir bisa melupakan Nia. Tapi saat ini, justru Danny yang tidak bisa melupakan wanita itu.


Terkadang Danny hampir stress akan pemikirannya sendiri. Dia jelas tidak ada rasa cinta kepada wanita itu. Tapi di setiap nafasnya, Danny selalu mengingat Nia dan bayi laki laki mereka yang sudah meninggal.


Keluarga Danny juga sudah menyerah. Mereka sudah menerima jika kepergian Nia sebagai jalan bagi Danny dan Nia tidak berjodoh. Enam bulan bukan waktu yang singkat untuk mencari Nia. Bukan hanya waktu, tenaga yang terbuang untuk itu. Tapi Danny juga harus mengeluarkan dana untuk itu.


"Mungkin karena tidak ada ikatan di antara kalian. Sehingga kalian susah untuk bertemu. Beda dengan Anggita dan Evan dulu. Walau mereka sudah bercerai kala itu. Tapi ikatan suci sebelumnya sangat kuat memanggil dua hati yang terpisah," kata Mama Tiara kepada Danny. Pria itu baru saja mengaku lelah mencari keberadaan Nia.


"Bisa jadi ma. Aku seperti akan menghentikan pencarian ini. Aku serahkan pada yang Kuasa saja. Aku percaya jika berjodoh. Cepat atau lambat kami pasti bertemu," kata Danny. Setelah mengatakan itu. Danny merasakan hatinya berdenyut nyeri. Apa yang keluar dari mulutnya tidak sejalan dengan apa yang dirasakan hatinya. Hatinya berharap secepatnya di pertemukan dengan Nia. Hatinya juga memaksa dirinya dan Nia harus berjodoh.


"Terserah kamu nak. Aku percaya kamu mengetahui apa yang terbaik bagi kamu sendiri. Kamu benar, kamu harus menyerahkan semuanya pada yang Kuasa. Jangan terlalu percaya diri mengandalkan apa yang ada di pikiran kamu," kata mama Tiara. Dia berharap Danny bisa mengambil hikmah dari kejadian ini.


Gunawan yang juga duduk diantara mereka. Tidak terlalu berminat ikut campur pembicaraan mama dan anak itu. Gunawan diam bukan karena tidak ingin Nia menjadi menantunya. Tapi pria itu juga sedang berusaha untuk memperbaiki sikap sikap yang tidak disukainya istrinya. Jauh di lubuk hatinya, dia mengharapkan Nia dan Danny secepatnya bertemu. Penyesalan akan sikapnya kepada Nia membuat pria itu banyak termenung di hari hari terakhir ini.


"Bagaimana pun kalian nantinya. Berjodoh atau tidak. Mama berharap kalian berbahagia dengan hidup kalian," kata mama Tiara lagi. Seseorang yang baru saja muncul di ruang tamu itu membuat Danny tidak menanggapi perkataan mama Tiara.


"Rendra, duduk lah," kata Gunawan sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


Rendra duduk. Pria itu meletakkan sebuah kartu undangan di atas meja dengan terbalik.


"Sudah ada titik terang tentang keberadaan Nia?" tanya Rendra tenang. Pria itu duduk bersandar dengan kaki kanan menimpa kaki kiri.


"Belum ada om," jawab Danny lesu.


"Atau jangan jangan kedatangan kamu ke rumah ini karena mengetahui tentang keberadaan Nia," tebak Gunawan sambil menatap adiknya itu.


Rendra terlihat duduk tegak kemudian menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Kamu benar. Kedatangan aku saat ini ada kaitannya tentang Nia," jawab Rendra. Danny Gunawan dan Mama Tiara bersamaan menatap wajah Rendra. Mereka bertiga terkejut mendengar perkataan Rendra. Wajah Danny juga terlihat senang.


"Dimana dia om. Dimana kalian bertemu?" tanya Danny tidak sabaran. Lagi lagi Rendra menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Danny.


Rendra menggerakkan tangannya meraih kartu undangan yang dia letakkan sebelumnya di atas meja. Pria itu terlihat membaca kartu undangan tersebut. Danny yang lainnya terlihat tidak sabar menunggu jawaban Rendra.


"Baca kartu undangan ini," kata Rendra. Dia mengulurkan tangannya memberikan kartu undangan pernikahan itu kepada Danny. Danny bingung, dia juga mengulurkan tangannya menerima kartu undangan tersebut.


Danny mendadak gelisah dan Wajahnya pucat hanya membaca bagian depan undangan pernikahan itu. Merasa tidak percaya dengan apa yang dia baca di bagian depan. Akhirnya Danny juga membuka kartu undangan itu. Tangannya melemas hingga kartu undangan itu terlepas dari tangannya. Nama calon mempelai wanita adalah nama wanita yang selama ini dalam pencariannya. Nama itu di perkuat dengan adanya foto pre-wedding di bagian belakang kartu undangan itu. Melihat itu mama Tiara meraih kartu undangan tersebut dan juga membacanya. Wanita itu juga terkejut membaca nama Nia di kartu tersebut. Sedangkan Gunawan tidak berniat untuk membaca kartu undangan itu. Melihat reaksi Danny dan istrinya. Pria itu sudah menduga jika kartu undangan itu adalah kartu undangan pernikahan Nia.


"Ternyata selama ini. Nia masih berada di kota yang sama dengan kita. Tapi kita tidak berhasil menemukan dia. Anggap saja itu artinya kalian tidak berjodoh," kata Rendra. Danny masih terdiam.


"Apa dia yang mengundang kamu?" tanya mama Tiara. Tanggal pernikahan yang tertera di kartu undangan itu tinggal empat hari lagi.


"Tidak mbak. Aku belum pernah bertemu dengan Nia sejak saat itu. Kartu undangan ini diantar oleh salah satu kerabat Anna. Pria yang menjadi calon suami Nia adalah kerabat jauh Anna," jawab Rendra.


"Nia datang di pernikahan kami dulu karena wanita itu sebagai patner dari desainer gaun pengantin Anna saat itu. Tapi jangan salah sangka. Selama enam bulan ini. Anna sama sekali tidak pernah bertemu dengan Nia dan juga Alex," kata Rendra menambahkan. Rendra mengetahui hal itu dari Anna setelah menerima kartu undangan pernikahan ini. Rendra juga tidak ingin jika Danny dan Gunawan berpikir jika Anna istrinya mengetahui keberadaan Nia selama ini. Anna dan Nia hanya satu kali bertemu di pernikahan mereka. Sedangkan dengan Alex, tentu saja bertemu berkali kali. Tapi Alex tidak pernah menceritakan apapun tentang calon istrinya. Bahkan bisa saja jika Alex tidak mengetahui jika Anna adalah bagian dari keluarga yang menjadi ayah dari bayi calon istrinya.


Gunawan terdiam. Danny juga begitu. Kartu undangan itu tentu saja jawaban dari pencarian dan harapan mereka.


"Aku tidak mengetahui Danny. Sudah aku bilang sebelumnya jika kartu undangan ini bukan Nia atau Alex yang memberikan kepada Anna."


"Tapi istri mu pasti mengetahui alamat kerabatnya itu kan?" tanya Gunawan. Dia tidak secara langsung mengajari Danny untuk meminta alamat Alex dari istri Rendra.


"Lagi pula, untuk apa Danny harus bertemu dengan Nia lagi. Kan tidak ada yang harus di selesaikan. Tujuan aku memberitahukan ini kepada kalian bukan bermaksud supaya Danny mengacaukan pernikahan mereka. Tapi supaya Danny menghentikan usahanya mencari Nia," kata Rendra. Dia tidak setuju jika Danny berusaha menemui Nia menjelang pernikahan wanita itu. Bagi Rendra, keputusan Nia menikah dengan pria lain sudah cukup jelas menghentikan langkah Danny. Ini adalah takdir bahwa Danny dan Nia tidak berjodoh.


"Maaf om. Sepertinya aku harus bertanya kepada Tante Anna tentang ini. Jika om mengatakan tidak ada alasan. Mungkin bisa jadi seperti itu. Tapi entah mengapa. Aku ingin bertemu dengan Nia. Jadi aku mohon. Jangan halangi aku untuk meminta alamat pria calon suami Nia," kata Danny. Pria itu kemudian beranjak dari duduknya.


"Mau kemana kami?" tanya Rendra sambil mendongak menatap Danny.


"Ke rumah Nenek. Aku harus secepatnya bertemu dengan Nia," jawab Danny. Rendra sudah mengetahui maksud perkataan Danny. Danny mengetahui jika Anna berada di rumah Karena saat ini. Wanita itu mengandung tujuh bulan dan tidak diperbolehkan oleh Rendra lagi bekerja.


"Danny, duduk lah. Jangan pernah berusaha mengacaukan pernikahan Nia," kata mama Tiara. Wanita itu semakin yakin jika putranya tidak berjodoh dengan Nia. Sungguh tidak masuk akal, mereka masih satu Kota dengan Nia. Tapi wanita itu seperti pergi ke benua lain sehingga tidak bisa ditemukan oleh Danny dan orang orangnya.

__ADS_1


"Inilah yang dinamakan tidak berjodoh nak. Jika kamu berjodoh dengan Nia. Di belahan bumi manapun wanita itu berada. Kalian pasti bertemu. Tapi lihat, takdir menyembunyikan wanita itu dari kamu dan mempertemukan pria yang mau menerima Nia apa adanya. Jangan menambah dosa mu karena mengacaukan pernikahan mereka," kata mama Tiara menasehati Danny yang masih berdiri mendengar mama Tiara berbicara.


Tapi setelah mama Tiara berhenti berbicara. Danny melangkahkan kakinya menjauh dari ruang tamu. Pria itu tidak memperdulikan suara Rendra dan mama Tiara yang memanggil dirinya.


"Sudah biarkan saja. Biarkan Danny berusaha sampai hari h pernikahan Nia dan pria itu," kata Gunawan. Dia justru setuju jika Danny dan Nia bertemu terlebih dahulu sebelum pernikahan itu terjadi. Itu lebih baik daripada tidak Ada penyesalan kedua bagi Danny.


"Jangan gila kamu Gunawan. Harusnya kamu menasehati Danny bukan mendukungnya seperti ini," kata Rendra kesal. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran Rendra.


"Itulah namanya kekuatan cinta. Danny melakukan itu karena dia sudah mulai jatuh cinta dengan Nia. Jadi biarkan dia memperjuangkan cintanya. Jika Nia tetap menikah dengan pria itu. Itu baru dinamakan takdir. Kalau saat ini yang dilakukan Danny adalah mencari takdirnya."


"Terserah kamu ah. Kalian berdua sama saja," kata Rendra. Dia juga beranjak dari duduknya dan pergi dari rumah itu.


"Semoga perjuangan Danny berakhir seperti perjuangan Evan ya ma," kata Gunawan kepada mama Tiara setelah hanya mereka berdua di rumah itu.


"Jangan samakan mereka berdua pa. Evan dan Danny memperjuangkan wanita dengan status yang berbeda. Jadi tidak boleh dinamakan. Evan memperjuangkan Anggita di saat Anggita tidak ada hubungan dengan pria lain .Nah, yang ini. Nia sudah menebar undangan. Yang ada bukan memperjuangkan melainkan mengacaukan," kata mama Tiara.


"Kamu aneh ya ma. Kamu tidak senang Danny bertanggung jawab dan menikahi Nia. Bayi mereka memang tidak ada lagi. Tapi wanita itu tidak gadis lagi kan karena Danny."


"Nah itu kamu tahu. Baru tahu sekarang ya. Atau sudah tahu sejak dulu tapi tidak mau tahu," sindir mama Tiara.


"Belajar lah menilai dengan objektif pa. Jangan karena Danny putra Kita. Kamu menyetir dirinya seperti keinginan kamu sendiri," kata mama Tiara.


Gunawan terdiam. Bukan karena membenarkan perkataan istrinya tapi karena pria itu tidak ingin berdebat. Berusaha mengikhlaskan kepergian Nia sebelumnya tapi setelah mengetahui kabar Nia saat ini. Gunawan kembali berharap Danny dan Nia bisa bersatu.


Di dalam mobil. Danny membawa mobil dengan sangat kencang. Pria itu sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Anna. Kabar pernikahan Nia sangat mengejutkan hatinya tapi juga melegakan hatinya. Setelah ini, Danny sangat yakin akan bertemu dengan Nia.


"Tante, aku minta tolong. Tolong berikan aku alamat dan kontak nomor pria yang akan menikahi Nia," kata Danny setelah Anna turun dari lantai dua. Anna masih berjalan pelan tapi Danny sudah mengajukan pertanyaan. Danny tidak sabaran menunggu wanita hamil itu untuk duduk.


"Alex, maksud kamu?" tanya Anna. Danny menganggukkan kepalanya. Anna pun mendaratkan tubuhnya di sofa berhadapan dengan Danny.


"Aku tidak keberatan memberikan alamat atau kontak Alex kepada kamu. Tapi maaf, aku tidak bisa memberikan apa yang kamu minta tanpa persetujuan yang bersangkutan," kata Anna. Anna tentu saja tidak ingin pernikahan kerabat kacau hanya karena Danny. Anna perlu meminta persetujuan apa yang diminta oleh Danny karena Anna tidak mau disalahkan Alex dan keluarga lainnya jika Danny membuat kekacauan.


"Kenapa harus seperti itu tante. Tante tinggal menyebutkan saja. Apa itu salah?"

__ADS_1


"Mungkin bagi kamu tidak salah. Tapi bisa saja bagi Alex dan Nia itu adalah kesalahan," kata Anna.


__ADS_2