
Tertawa diatas penderitaan orang lain adalah ciri dari orang orang jahat. Hal itulah yang dirasakan oleh Bronson saat ini. Di tengah pikirannya yang kalut membayangkan nasib perusahaannya. Bronson merasa senang karena langkah menghancurkan Evan sudah di depan mata. Bronson tertawa dan merasa puas hanya membayangkan apa yang akan dialami oleh Evan dan keluarganya besok malam.
Tidak hanya merasa puas, Bronson juga merasa menang atas Evan. Malam ini bukan hanya awal kehancuran Evan yang membuat hatinya senang. Bronson juga senang karena atas rayuan dan bujukan dari dirinya. Oknum dari badan pengawasan makanan dan minuman bersedia menerima sejumlah uang dari dirinya. Bronson tidak perhitungan memberikan uang itu. Bahkan dia menambahkan sepuluh persen dari yang mereka sepakati. Bagi Bronson sejumlah uang yang dia berikan kepada pengawas makanan dan minuman tersebut tidak seberapa dibandingkan dengan laba bersih yang dia dapatkan setiap bulannya jika perusahaannya tetap beroperasi.
Bronson akan berusaha keras supaya perusahaan tetap bisa berdiri tegak. Dirinya sudah terlalu enak menikmati untung yang besar atas modal kecil yang dia keluarkan setiap bulannya. Terlalu sayang untuk dilepas. Keserakahan membuat Bronson gelap mata atas dampak produknya jika dikonsumsi oleh manusia. Bronson tidak pernah memikirkan itu. Bagi Bronson. Kepentingan pribadinya diatas segalanya. Sungguh sikap yang sangat egois.
Bronson bisa tersenyum puas walau uang terbuang banyak saat ini. Dia sengaja berlama lama di kantor karena Bronson ingin menyendiri. Dia butuh waktu sendiri untuk memikirkan rencana setelah perusahaan miliknya aman.
Baru saja Bronson menemukan ide akan rencana demi kemajuan perusahaannya. Ponsel miliknya berdering. Melihat nama si pemanggil Bronson langsung menjawab panggilan itu karena ingin mendengar apa yang menjadi laporan relasinya itu.
Bronson tertawa. Wanita yang menjadi lawan bicaranya dari seberang memberikan informasi yang membuat hatinya senang. Rencana awal untuk menghancurkan Evan sudah terlaksana dengan sempurna. Bronson memuji Adelia atas keberhasilan rencana awal tersebut. Tapi ketika Adelia berbicara tentang imbalan. Suasana hati Bronson berubah. Pria itu merasa kesal. Karena merasa bukan hanya dirinya yang senang melihat Evan menderita. Menurut Bronson, Adelia bersedia melakukan kerja sama menghancurkan Bronson karena wanita itu juga mempunyai motif dendam kepada Evan dan Anggita.
Bronson berpikir, jika kebebasan Adelia dari penjara atas jaminan dari dirinya sudah cukup sebagai imbalan atas kerja sama ini. Tapi Bronson berusaha bersikap lembut dan berjanji membayarkan imbalan tersebut besok pagi supaya Adelia tidak berubah pikiran menjalankan rencana tersebut. Bronson benar benar licik. Dia tidak hanya bersikap licik kepada lawan bisnisnya. Bronson juga berniat licik kepada Adelia. Setelah rencana itu berjalan lancar dan melihat Evan menderita. Bronson akan mencari cara supaya imbalan yang diharapkan oleh Adelia tidak akan pernah diterima oleh wanita itu.
Bronson mengumpat dalam hati. Suasana hatinya tidak mendukung lagi untuk berpikir jernih memikirkan rencana untuk kemajuan perusahaan miliknya. Bahkan ide yang sempat terlintas di pikirannya kini ide itu hilang dari pikirannya hanya karena muak dengan imbalan yang ditanyakan oleh Adelia.
Bronson akhirnya keluar dari gedung perusahaan miliknya. Dia berencana akan pergi bersenang senang dengan para wanita bayaran untuk menghilangkan sikap kesal akibat tuntutan imbalan dari Adelia. Pria itu bersikap dan menghubungi seseorang untuk menyediakan wanita bayaran untuk dirinya.
Tapi kemudian Bronson membatalkan pesanannya. Pria itu baru mengingat jika ada barang baru di rumahnya. Akhirnya Bronson mengubah rencananya untuk pulang saja ke rumah.
"Mana gadis itu?" tanya Bronson kepada salah satu pelayannya setelah Bronson tiba di rumahnya.
"Di kamar lantai tiga pak," jawab pelayan itu. Bronson tersenyum licik mendengar jawaban pelayan itu.
"Ibu sudah tidur?" tanya Bronson lagi. Ibu yang dia tanyakan adalah istrinya sendiri. Bronson mengedarkan pandangannya ke arah penjuru rumah berharap istrinya tidak ada di tempat itu.
"Sudah Pak," jawab pelayan itu.
"Kembali lah ke kamar kamu. Jangan beritahu ibu bahwa aku sudah pulang. Bilang sama ibu bahwa mobil, supir yang mengantar. Aku masih ada pekerjaan dan tidak bisa diganggu," kata Bronson sambil menggerakkan tangannya supaya pelayan itu cepat berlalu dari hadapannya. Pelayan itu menganggukkan kepalanya dan Bronson berjalan ke arah ruang kerjanya. Tapi ketika melihat sang pelayan berlalu dari ruang tamu itu. Bronson tidak jadi masuk ke ruang kerjanya melainkan berjalan ke arah tangga. Bronson berkali kali mengedarkan pandangannya dan hampir saja pria itu terjatuh dari tangga. Pria itu mempercepat langkahnya ketika sudah di pertengahan tangga.
__ADS_1
Bronson memasuki sebuah kamar tempat gadis yang dia tanyakan kepada sang pelayan tadi. Dia langsung bisa mengetahui kamar tempat wanita itu karena penempatan wanita itu di lantai tiga dan di kamar itu adalah perintah. Bahkan wanita itu sudah dua malam di rumah itu dan istrinya belum mengetahui tentang wanita itu sama sekali. Tentang makanan dan minimum serta keperluan lainnya. Bronson meminta para pelayannya mengantarkannya secara diam diam.
Bronson langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk. Tapi ternyata pintu itu terkunci sehingga Bronson tidak bisa langsung masuk begitu saja. Bronson akhirnya memanggil nama wanita tersebut dengan meniru suara seperti suara perempuan.
Bronson tersenyum karena mendengar jawaban dari dalam dan bahkan mendengar kunci yang diputar pertanda jika pintu itu sedang dibuka. Bronson langsung menyelinap masuk ketika pintu itu terbuka sedikit. Wanita itu terkejut kemudian hanya terlihat bingung berdiri di pintu itu. Bronson berhasil membuat wanita muda itu tertipu.
"Tutup pintunya Elena," perintah Bronson. Tapi wanita itu masih terlihat mematung dan belum juga menutup pintu. Bronson akhirnya mendekati pintu kamar itu dan menutup pintu itu. Dia mencabut kunci dan memasukkan ke dalam saku celananya. Wanita yang dipanggil sebagai Elena itu semakin bingung. Tapi beberapa detik kemudian. Wanita itu ketakutan karena menyadari dirinya sudah dalam bahaya dan merapatkan tubuhnya ke pintu kamar.
"Duduklah, aku tidak akan berbuat hal buruk kepada kamu. Aku hanya ingin informasi sedikit tentang Dokter Angga dari kamu," kata Bronson sambil menepuk ranjang yang juga sudah dia duduki sendiri.
Wanita itu menoleh ke pintu kemudian menatap Bronson dengan takut. Wanita itu seakan ragu akan perkataan Bronson. Sikap ragu ragu yang dia tunjukkan sebagai bentuk protes karena pintu itu dikunci. Tapi akhirnya wanita itu menurut. Dia duduk di tepi ranjang yang agak jauh dari Bronson.
"Apa benar kamu simpanan dokter Angga?" tanya Bronson. Wanita itu terlihat menundukkan kepalanya dan tidak lama kemudian menganggukkan kepalanya. Dia memang wanita simpanan milik Dokter Angga.
"Aku akan membantu kamu mendapatkan keadilan. Kamu bisa melaporkan dokter Angga ke pihak yang berwajib karena menjadikan kamu simpanan padahal usia kamu masih tergolong usia remaja," kata Bronson lagi. Wanita itu menatap Bronson sebentar kemudian kembali menundukkan kepalanya. Wanita itu berpikir jika Bronson bukan orang lain. Jika tujuannya hanya mengetahui sedikit tentang dokter Angga mengapa pintu harus dikunci dan dirinya dikurung di kamar ini. Wanita muda itu menyadari dirinya dalam bahaya tapi tidak bisa berbuat apa apa.
Itulah sebabnya Bronson menyuruh Adelia untuk mengawasi pergerakan dokter Angga. Bronson merasa tertipu karena ternyata dokter Angga memiliki sebuah rumah tanpa sepengetahuan dirinya. Bronson kembali berbuat licik kepada Adelia. Setelah mengetahui informasi tentang rumah dan wanita simpanan milik dokter Angga. Bronson menyuruh anak buahnya menculik wanita itu tanpa sepengetahuan Adelia. Hal iti dilakukan oleh Bronson supaya Adelia lah yang menjadi sasaran dokter Angga.
"Bagaimana, kamu ingin mendapatkan keadilan kan?" tanya Bronson lagi. Wanita itu terlihat berpikir. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dokter Angga memang menjadikan dirinya sebagai simpanan. Tapi sampai detik ini, wanita itu masih bisa menjaga kesuciannya karena Dokter Angga memang tidak langsung merenggut harta berharga tersebut. Setiap Kali dirinya memohon maka dokter Angga tidak memaksa dirinya. Selain itu, Dokter Angga masih rutin membantu kedua orang tuanya sampai detik ini.
"Aku tanya ibu dan bapakku dulu ya om," jawab Elena polos.
"Bertanya kepada kedua orang tua kamu hanya untuk membuang waktu. Dokter Angga bisa bisa kabur Apa yang kamu takutkan. Biaya. Aku yang akan menanggung semuanya. Bagiku yang terpenting kamu mendapatkan keadilan karena itu adalah hak kamu?" kata Bronson. Kata katanya terdengar baik dan meyakinkan.
Wanita itu tidak menjawab. Dia hanya takut mengambil keputusan tanpa melibatkan orang tuanya. Kalau dirinya masih tergolong remaja. Dia bisa mengerti jika dirinya sudah menandatangtangani Surat perjanjian dengan dokter Angga. Isi surat perjanjian itulah yang memberatkan Elena mengambil keputusan. Tapi perkataan Bronson seakan mendesak dirinya untuk mengambil keputusan malam ini juga. Kata kata Bronson juga terdengar benar di telinganya. Dia berhak mendapatkan keadilan dengan tidak menjadi simpanan Dokter Angga. Tapi bagaimana dengan kehidupan keluarganya?.
"Kalau begitu. Biarkan aku memikirkannya malam ini om. Besok pagi aku akan mengambil keputusan."
Elena jelas sangat ragu. Bronson berhasil membuat dirinya mengalami pergumulan batin. Jika hanya memikirkan diri dan kebebasnya. Elena tidak akan berpikir panjang. Dirinya menjadi simpanan Dokter Angga atas persetujuan kedua orang tuanya di atas kertas ber materai. Jika Elena melaporkan Dokter Angga. Bagaimana dengan orang tuanya?"
__ADS_1
"Mengapa harus pagi kalau bisa malam ini?" tanya Bronson mendesak dan menuntut.
"Sama saja om. Kalau pun aku setuju melaporkan Dokter Angga. Tetap saja kantor polisi tutup malam ini dan harus besok pagi juga membuat laporan."
Bronson tertawa mendengar perkataan polos wanita itu. Dia berdiri dan berpindah duduk lebih dekat dengan Elena.
"Baiklah, besok pagi juga tidak apa apa. Tentang biaya dan keperluan yang lain tidak perlu kami pikirkan. Aku yang menanggung semuanya. Aku juga akan memberikan uang yang banyak kepada kamu supaya keluarga kamu tidak lagi susah. Lebih banyak yang diberikan oleh Dokter Angga. Kamu mau kan?" tanya Bronson dengan tersenyum. Senyum yang menginginkan sesuatu dari atas apa yang dia tawarkan.
Elena bergeser menjauh dari Bronson. Walau dirinya masih remaja, Elena bisa menangkap arti perkataan pria itu. Elena bisa menangkap arti senyum dari pria tua itu.
"Layani aku malam ini seperti kamu melayani dokter Angga. Aku tidak hanya menuntut kepuasan dari kamu. Aku juga akan memberikan kepuasan kepada kami," kata Bronson sambil menggapai wajah Elena. Elena bergeser dan mengibaskan tangan Bronson tapi Bronson malah tertawa. Dia mengelus barang miliknya membuat Elena merasa jijik.
"Jangan om."
"Mengapa. Bukankah kegiatan ranjang adalah hal biasa bagi kamu. Jangan takut, hanya pemain prianya yang berbeda. Kepuasan pasti sama atau kamu mendapatkan lebih bermain dengan aku." Bronson terus mendekatkan dirinya ketika Elena berusaha menjauh. Pria tua nan licik itu berpikir jika sikap yang ditunjukkan oleh Elena hanya puta pura jual mahal. Melihat wajah Elena yang masih sangat muda membuat Bronson merasa tertantang untuk bermain dengan wanita itu. Selama ini dirinya hanya bermain dengan perempuan dewasa.
Elena hampir menangis mendengar perkataan Bronson itu. Menyadari dirinya terlepas dari dokter Angga kini dihadapkan dengan pria tua yang tidak ingat umur. Baru saja pria itu menawari dirinya untuk mendapatkan keadilan kini pria itu yang memposisikan dirinya sebagai pria yang sepantasnya juga dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Tentu saja Elena tidak percaya kepada pria itu. Ternyata apa yang dikatakan oleh Bronson sejak tadi hanya sebagai bualan semata saja.
Elena memeluk dirinya sendiri. Dia ketakutan. Ketakutannya lebih besar saat ini dibandingkan ketika bersama dengan dokter Angga. Elena berdoa dalam hati berharap ada yang menolong dirinya. Membayangkan pria itu akan mengambil kesuciannya. Elena merasakan ketakutan yang luar biasa.
"Aku mohon om. Jangan lakukan itu dengan aku. Aku masih remaja," kata Elena dengan suara yang bergetar. Dia tidak pantang menyerah untuk mempertahankan kesuciannya.
"Jangan menolak Elena. Aku tidak suka ditolak. Jika kamu tidak bersedia maka aku bisa juga memaksa," ancam Bronson dengan mata yang memerah. Wajah Elena terlihat sudah memucat mendengar perkataan Bronson. Bronson semakin mendekati Elena dan Elena terlihat terus bergeser untuk nenjauh.
Penolakan Elena membuat Bronson murka. Bronson menggerakkan tangan kanannya meraih Elena kemudian memeluk wanita itu dengan erat. Mendekatkan bibir ke bibirnya wanita itu tapi tidak berhasil. Elena terus meronta bahkan berusaha menendang Bronson. Bronson tidak tinggal diam. Semakin kuat wanita itu meronta. Semakin kuat juga Bronson memeluk Elena. Hingga ada kesedihan dimana Bronson berhasil mencium bibir wanita muda. Bronson kalap. Dia mulai berlaku kasar supaya wanita itu terdiam dan menikmati sentuhan.
"Diam. Suara kamu tidak akan terdengar ke bawah," kata Bronson sambil menarik paksa pakaian atas milik Elena. Bronson menikmati pemandangan indah di hadapan dengan tangan yang merayap.
Dia tidak mengetahui jika luar gerbang rumahnya. Dokter Angga sudah berusaha masuk ke rumah. Tapi karena gerbangnya terkunci membuat dokter Angga harus memutar otak supaya bisa masuk ke gedung tersebut. Seperti perintah Evan. Dokter Angga akan membuat Bronson tidak berkutik malam ini.
__ADS_1