
"Pengasuh sialan ini. Mau merebut suamiku?" kata Nia dalam hati. Tidak sadar, Nia mengakui Danny sebagai suaminya walau dalam hati.
Nia berdiri tegak menatap Sisil dengan tangan yang terkepal. Ingin rasanya dia menyumbal mulut pengasuh sialan itu yang berani menawarkan dirinya menjemput Sisil. Jika Danny setuju. Itu artinya Danny akan menjemput wanita itu terlebih dahulu ke rumah kemudian menjemput Sisil ke sekolah. Nia membayangkan Danny berduaan dengan pengasuh itu. Jika di rumah saja, sang pengasuh itu berani menunjukkan sikap menggoda suaminya. Apalagi berduaan di dalam mobil.
Nia bermain dengan pikirannya sendiri. Dia menunggu Danny untuk menjawab penawaran dari pengasuh tersebut. Dia ingin mendengar apakah jawaban Danny. Dia akan menilai jawaban Danny nantinya. Apakah pria itu layak dipertahankan atau tidak. Apakah suaminya itu tipe yang suka digoda atau tidak.
"Sisil meminta istriku untuk menjemputnya bukan kamu," jawab Danny membuat Nia spontan tersenyum.
Nia menyukai jawaban suaminya itu. Jawaban yang seharusnya membuat pengasuh itu harus malu.
"Baiklah sayang. Tante akan menjemputnya kamu nantinya. Kak Danny, aku tidak jadi ke toko," kata Nia. Wanita itu memutuskan menjemput Sisil nanti dan tidak jadi ke toko. Dia akan meminta Jessi supaya adiknya itu yang mengelola toko miliknya hari ini.
Sisil bersorak gembira dan menyuruh supir itu untuk berjalan. Anak itu mengirimkan ciuman jarak jauh kepada Nia dan Danny berkali Kali.
Danny menatap Nia dengan senang hati. Nia bersedia mengorbankan pekerjaannya hanya demi menyenangkan hati Sisil adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi dirinya.
"Baiklah, aku akan menjemput kamu nantinya supaya Kita sama sama ke sekolah Sisil."
"Jika pekerjaan kamu padat. Aku bisa menjemput Sisil sendiri kak," kata Nia. Tiga hari menjadi suami istri mereka sudah hampir berkomunikasi dengan baik tapi untuk berduaan. Nia merasa canggung. Tapi sepertinya Danny tidak akan melepaskan kesempatan itu. Pria itu mengatakan akan menjemput Sisil bersama sama.
"Ayo masuk," kata Danny membuat Nia mengerutkan keningnya. Seharusnya Danny berangkat ke kantor tapi mengapa mengajak dirinya masuk kembali ke dalam rumah.
"Kamu tidak jadi ke kantor?" tanya Nia heran.
"Tidak. Nanti saja setelah menjemput Sisil. Aku bisa meminta asisten papa untuk menghandle pekerjaan di kantor."
Nia menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan keputusan suaminya. Selain terkesan malas. Nia juga tidak ingin melihat pengasuh itu yang akan berusaha mencuri perhatian suaminya. Bahkan pengasuh itu masih berdiri di situ padahal Sisil sudah berangkat ke sekolah.
"Maaf aku melupakan sesuatu," kata pengasuh itu tiba tiba dan mendahului langkah Danny dan Nia yang sudah berbalik ke arah rumah.
Nia semakin menilai pengasuh itu sebagai wanita yang tidak beres. Selain bersikap tidak sopan. Pengasuh itu berlari masuk ke dalam rumah dan Nia baru sadar jika ternyata rok yang dikenakan oleh pengasuh itu sangat pendek. Nia langsung menatap reaksi Danny melihat pengasuh yang berlari itu.
Nia merasa lega karena Danny tidak begitu memperhatikan tubuh pengasuh itu. Tapi perasaan lega itu hanya sebentar. Setelah Danny duduk di ruang tamu dan Nia sudah berada di pertengahan tangga. Dia melihat pengasuh itu yang mondar mandir dari ruang tamu. Entah apa maksudnya yang pasti Nia menilai itu untuk mencari perhatian suaminya.
Melihat sikap suaminya yang sepertinya tidak merespon. Nia dengan tenang naik ke lantai dua. Wanita itu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai dan kemudian masuk ke kamar Sisil. Dia melihat Naya sedang tertidur membuat wanita itu merasa tidak ada pekerjaan.
Jam menjemput Sisil akhirnya tiba juga. Nia berniat hendak mengingatkan Danny yang sepertinya bekerja dari rumah. Satu jam yang lalu, dia melihat Danny berkutat dengan laptopnya di ruang tamu. Tapi ketika dirinya tiba di ruang tamu itu. Nia merasakan darahnya mendidih melihat kelakuan sang pengasuh. Tidak jauh dari tempat Danny duduk dan sedang fokus menatap layar laptop. Nia dapat melihat sang pengasuh itu duduk santai di sofa dengan mengangkat satu kakinya hingga pangkal pahanya bisa terlihat dengan jelas.
"Kak, Kita menjemputnya Sisil sekarang," kata Nia dengan kesal. Dirinya tidak hanya kesal kepada pengasuh itu tapi juga kepada Danny. Seharusnya pria itu melarang pengasuh itu duduk di ruangan itu yang jelas jelas merusak pemandangan.
"Sudah jam berapa?" tanya Danny tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Jam sebelas kurang tiga puluh menit kak," jawab Nia. Tapi matanya memandang tajam kepada sang pengasuh yang masih duduk seperti pertama kali Nia melihatnya. Sang pengasuh itu tidak juga memperbaiki cara duduknya meskipun sudah mengetahui dirinya sudah ada di ruangan itu.
"Baiklah. Kita pergi sekarang," kata Danny. Pria itu menutup layar laptopnya dan beranjak dari duduknya.
"Pak, boleh kah saya ikut menumpang. Saya ada keperluan ke supermarket," kata pengasuh itu. Melihat Danny berdiri. Pengasuh itu juga berdiri.
Danny tidak menjawab tapi menatap Nia. Pria itu tidak ingin memutuskan sendiri apakah pengasuh itu bisa menumpang ke mobilnya atau tidak.
"Tidak boleh. Seharusnya kamu mengerti batasan kamu. Melihat kelakuan kamu seperti ini. Sepertinya kamu tidak sungguh sungguh bekerja sebagai pengasuh," jawab Nia ketus. Dia tidak bisa menahan diri menghadapi pengasuh gatal itu. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja tapi sudah membuat Nia was was dan naik darah.
Mendengar jawaban istrinya. Danny tidak mengatakan apapun. Pria itu justru menarik tangan Nia supaya cepat keluar dari rumah. Walau Danny tidak mengatakan apapun. Tapi pria itu menyukai tindakan Nia. Perkataan istrinya itu membuat Danny yakin jika Nia memperingatkan pengasuh itu supaya menjaga sikap kepada dirinya.
Tiba di sekolah Sisil. Nia dan Danny bersama sama turun dari Mobil menjemput Nia sampai ke pintu ruangan anak itu. Dari dalam ruangan. Sisil sudah bisa melihat Nia dan Danny. Anak itu langsung berlari ke pintu kelas dimana gurunya sudah berdiri di tempat itu menunggu orang tua yang menjemput anaknya.
"Papa, tante," teriak anak itu senang. Sisil langsung mengulurkan tangannya ke guru. Setelah mencium punggung tangan gurunya. Sisil berlari ke arah Nia dan Danny. Anak itu langsung menggandeng tangan Danny dan Nia setelah terlebih dahulu menyerahkan tas miliknya kepada Dann. Sisil berteriak memanggil satu persatu teman temannya yang juga sudah di jemput oleh orang tua masing masing. Sisil melakukan itu supaya teman temannya bisa melihat jika dirinya juga dijemput oleh seorang wanita yang sudah dia anggap seperti mamanya sendiri. Sisil dengan bangga memamerkan Nia dan Danny kepada teman temannya itu.
"Tante, gendong," kata Sisil manja. Nia langsung membentangkan tangannya dan menggendong putri sambungnya itu. Sisil tertawa bahagia ketika Nia mencium pipinya. Perlakuan Nia sangat sederhana tapi bisa membuat Sisil bahagia dan bersemangat.
"Terima kasih tante," kata Sisil dengan sorot Mata yang bersinar.
__ADS_1
"Iya sayang."
Sisil bernyanyi riang. Apa yang dilakukan Nia saat ini persis seperti yang dilakukan oleh mama dari temannya. Sedangkan Danny hanya menjadi penonton melihat dua perempuan itu.
"Tante, kita jalan jalan ya."
Dijemput Nia dan Danny tidak membuat Sisil merasa puas. Anak itu menginginkan yang lebih lagi.
"Jalan jalan kemana?.
"Ke mall."
"Tanya papa kamu sayang."
"Hari minggu saja ya Sil. Papa harus ke kantor setelah mengantar kalian pulang. Kalau hari minggu. Adik Naya juga ikut."
"Janji ya pa."
Danny tersenyum. Sebenarnya kalau ada waktu hari ini. Danny pun ingin membawa keluarga kecilnya itu jalan jalan. Tapi karena ada tanggung jawab yang harus dia kerjakan membuat Danny harus menunda permintaan putrinya itu.
Tiba di rumah. Nia kembali Naik darah dibuat sang pengasuh. Pengasuh itu bukannya langsung mengurus Sisil tapi pengasuh itu belum pulang dari supermarket. Nia merasa jika wanita itu tidak mempunyai etika kerja sama sekali.
"Mbak, bukankah berniat menjelekkan ya. Tadi malam, wanita itu minta nomor kontak pak Danny kepadaku," kata pengasuh Naya kepada Nia. Pengasuh Naya itu memanggil Nia dengan sebutan mbak karena itu keinginan Nia. Usia mereka yang tidak terpaut jauh membuat Nia merasa risih jika dipanggil dengan sebutan ibu.
"Kamu memberikannya?.
"Tidak lah mbak. Kan harus seijin pak Danny."
Pembicaraan Nia dan pengasuh Naya berhenti disitu karena pengasuh Sisil sudah muncul dari pintu utama dengar kantong plastik berwarna putih.
"Meresahkan," kata pengasuh Naya. Ketika pengasuh Sisil itu melewati Nia dan pengasuh Naya di ruang tamu. Pengasuh tersebut tidak mengucapkan salam atau tersenyum kepada Nia sebagai nyonya muda di rumah itu. Nia tidak begitu memperdulikan sikap pengasuh itu. Walau dirinya terkesan tidak dihargai. Nia tidak ambil pusing.
Ternyata apa yang dikatakan oleh pengasuh Naya tentang rekan kerjanya itu benar benar meresahkan hati Nia. Setelah dua minggu bekerja di rumah itu. Pengasuh itu semakin terang terangan menunjukkan rasa sukanya kepada Danny. Mungkin karena mengetahui Danny dan Nia pisah ranjang. Wanita itu berniat masuk dan semakin menghancurkan rumah tangga majikannya.
"Bagaimana rasanya Pak?" tanya pengasuh itu dengan senyuman manja. Sarapan yang dibuat olehnya sudah habis tidak bersisa.
"Lumayan enak," jawab Danny. Pengasuh itu terlihat senyum dan tidak memperdulikan wajah masam yang diperlihatkan oleh Nia. Tidak hanya sampai disitu. Ketika Danny beranjak dari duduknya dan pamit kepada Nia. Sang pengasuh itu juga mengikuti langkah Danny. Sang pengasuh bahkan berani mengantarkan Danny hingga masuk ke dalam mobil. Melihat itu, Nia juga mengikuti langkah pengasuh itu. Hari ini, Nia tidak berangkat bekerja karena hari ini jadwal Naya untuk imunisasi.
"Hati hati ya Pak."
"Terima kasih."
Nia meremas ujung bajunya melihat apa yang dilakukan oleh pengasuh itu. Nia mengintip dari jendela kaca apa yang dilakukan oleh pengasuh itu. Nia sangat kesal dan marah karena sang pengasuh seakan tidak menghargai dirinya sebagai istri Danny. Bukan hanya itu yang membuat Nia kesal. Danny tidak bertanya mengapa dirinya tidak pergi bekerja.
"Tunggu!" kata Nia kepada pengasuh itu yang sudah masuk ke dalam rumah. Pengasuh itu berhenti dan membalikkan tubuhnya dan menatap Nia. Tidak ada sikap yang menunjukkan jika pengasuh itu menghargai atau takut kepada majikannya itu. Pengasuh itu bersikap biasa seakan akan apa yang dilakukan oleh dirinya barusan bukan kesalahan. Nia memperhatikan penampilan pengasuh itu. Ternyata, wanita itu belum memakai pakaian dinas.
"Aku tidak menyukai cara kamu," kata Nia. Nia bahkan menunjuk pengasuh itu.
"Cara yang Mana?" tanya pengasuh itu tenang.
"Cara kamu mendekati suamiku."
Pengasuh itu tertawa meremehkan Nia. Bukan hanya meremehkan. Sang pengasuh juga menatap Nia dengan sinis. Pengasuh itu tidak menjawab tuduhan Nia. Dia membalikkan badannya kemudian meninggalkan Nia. Nia menghentakkan kakinya karena kesal.
"Aku akan membujuk kak Danny supaya memecat wanita sialan ini," kata Nia dalam hati. Tanpa sadar. Nia merasa jika pengasuh itu adalah ancaman bagi dirinya.
Nia berjalan sambil memikirkan kemungkinan jika Danny tidak bersedia memecat pengasuh itu. Hingga terbersit di pikirannya akan mengurus Naya sendirian. Dia juga berencana akan menyerahkan urusan toko kepada Jessi. Keinginannya untuk tidak melihat sang pengasuh itu di rumah ini tidak terbendung lagi.
"Mbak, tadi malam. Pengasuh Sisil bercerita kepada aku tentang perasaan ke pak Danny," kata pengasuh Naya. Nia dan pengasuh Naya itu saat ini sedang di kamar Sisil.
"Cerita apa."
__ADS_1
"Wanita itu sangat menyukai Pak Danny mbak. Rasa suka itu ada sejak pertama Kali bertemu pak Danny di rumah ini. Katanya, dia akan berjuang mendapatkan pak Danny dari mbak."
"Dia mengatakan seperti itu?" tanya Nia dengan raut wajah yang marah.
"Iya mbak. Dan dia sangat yakin bisa mendapatkan Pak Danny."
Sang pengasuh itu semakin menyulut api kemarahan di hati Nia. Nia menghubungkan perkataan pengasuh itu dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu tadi pagi. Wanita itu melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Nia selama beberapa minggu ini sebagai istri Danny. Nia tidak pernah membuat sarapan khusus untuk Danny. Nia juga tidak menunjukkan perhatiannya kepada Danny.
"Apa juga dia berniat akan Naik ke ranjang suamiku?" tanya Nia dalam hati. Melihat sikap pengasuhnya yang berani. Tidak tertutup kemungkinan wanita itu bersedia memberikan tubuhnya kepada Danny. Hanya membayangkan saja. Membuat Nia merapatkan giginya karena marah.
Akhirnya kesabaran wanita itu ada batasnya. Lebih dari dua minggu hidup bersama dengan Danny dan sebagai majikan dari pengasuh itu. Dia sudah cukup sabar melihat tingkah sang pengasuh. Tapi ketika dia mengetahui bahwa pengasuh itu berniat jahat dan akan berencana merebut Danny dari dirinya. Nia tidak bisa tinggal diam lagi.
Nia menuruni tangga dengan tergesa. Tujuannya adalah mencari sang pengasuh yang dia duga sedang berada di kamarnya.
Tanpa mengetuk, Nia mendorong pintu kamar itu. Dia melihat sang pengasuh itu tidur telentang dengan ponselnya di tangannya. Sikapnya bukan seperti seorang pekerja.
"Susun pakaian kamu. Dan pergilah dari sini," kata Nia kepada pengasuh itu. Pengasuh itu langsung duduk dan menatap Nia dengan tajam.
"Kamu Kira. Karena kamu majikan di rumah ini. Kamu bisa memecat aku tanpa alasan?" tanya wanita itu berani.
"Aku tidak akan memakai jasa pengasuh untuk putriku Naya. Jadi untuk apa kamu disini. Pengasuh Naya yang sekarang akan kembali menjadi pengasuh Sisil. Jadi tidak ada alasan kamu untuk tetap tinggal di rumah ini. Cepat lah berkemas. Aku menunggu kamu di ruang tamu."
Nia tidak main main dengan perkataannya. Dia sudah memikirkan konsekuensi dari apa yang dilakukannya saat ini. Dia tidak sabar menunggu Danny untuk memecat wanita itu.
"Tidak bisa. Pak Danny sudah menandatangtangani surat kontrak dengan yayasan tempatku bernaung. Jikapun di pecat. Harus pak Danny yang memecat aku. Dan tidak asal pecat. Kalian juga akan membayar sejumlah kompensasi karena memecat aku tanpa alasan."
"Tanpa alasan kamu bilang?. Kamu secara terang terangan berusaha menggoda suamiku dengan rok pendek kamu itu dan perhatian yang tidak berguna itu. Aku bisa menjelaskan itu kepada yayasan kamu nanti."
"Tidak segampang itu memecat aku. Apapun kamu bilang aku tidak akan keluar dari rumah ini," kata wanita itu percaya diri. Nia semakin terpancing emosi.
"Dan asal kamu tahu. Sepertinya suami kamu itu sudah tertarik dengan aku. Kalau tadi pagi aku sudah memberikan dia sarapan di meja makan. Maka aku akan memberikan di santapan lezat di tempat tidur. Maka kamu yang akan bye bye dari rumah ini. Tenang saja, aku akan menjadi ibu sambung untuk kedua putri pak Danny."
Nia tidak menyangka jika pengasuh itu sangat berani mengatakan itu. Tidak ingin hatinya semakin tersakiti karena perkataan dan keberanian pengasuh itu. Nia meninggalkan kamar itu dengan amarah tertahan.
"Berani sekali dia," kata Nia kepada pengasuh Naya. Wanita itu menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan kasar.
"Kenapa mbak?" tanya pengasuh Naya ingin tahu.
"Aku baru saja menjumpai dan hendak memecat wanita kurang ajar itu. Ternyata bukan hanya pakaian yang kurang bahan. Mulutnya juga kurang diajar," kata Nia kesal. Dia pun menceritakan pembicaraan dirinya dan pengasuh itu tadi.
"Menurut kamu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Nia. Pengasuh itu juga terlihat kesal dengan tingkah rekannya itu.
"Menurut aku ya mbak. Sebaiknya mbak tidak memberikan kesempatan kepada pengasuh Sisil itu untuk mendekati pak Danny. Mungkin, dia berani bersikap seperti itu karena merasa ada peluang. Mbak dan Pak Danny kan pisah ranjang. Suami istri yang akur dan saling mencintai saja mbak. Bisa dilakor apalagi yang pisah ranjang seperti kalian. Maaf ya mbak. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Maaf jika aku lancang."
Nia memikirkan kata kata pengasuh itu. Benar apa yang dikatakan oleh pengasuh tersebut. Sungguh, dirinya menyadari semakin berani pengasuh Sisil menggoda suaminya. Nia juga semakin takut suaminya itu tergoda.
Mereka masih berumah tangga seumur touge. Akankah hancur hanya karena pelakor. Dan pelakor itu berhasil karena dirinya yang tidak berperan sebagai istri yang baik.
Nia menggelengkan kepalanya Karena tidak menginginkan perceraian di rumah tangganya. Menjadi istri Danny beberapa minggu membuat wanita itu semakin dewasa. Melihat Naya perlahan lahan semakin akrab dengan Danny. Nia tidak ingin putrinya kehilangan kasih sayang dari Danny. Nia mengakui jika Danny adalah ayah yang hebat bagi Sisil dan Naya. Nia melihat sendiri, bagaimana Danny sangat menyayangi Sisil dan Naya. Danny tidak hanya sekedar menyayangi. Danny juga mengajarkan Sisil banyak hal yang berkaitan dengan etika dan Norma kehidupan. Sungguh, Nia mengharapkan Naya mendapatkan didikan yang sama seperti yang diajarkan Danny kepada Sisil jika usia Naya sudah cukup nantinya.
"Aku harus mempertahankan apa yang menjadi milik ku," kata Nia dalam hati. Dia berniat membangun rumah tangga yang bahagia bersama Danny.
Niat itu tidak hanya niat semata. Setelah memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk mempertahankan rumah tangganya. Nia menitipkan Sisil kepada pengasuh Naya. Sedangkan dirinya akan tidur di kamar Danny bersama Naya juga.
Di kamar Danny itu. Nia merasakan hatinya berdegup kencang. Sudah jam sembilan tapi tanda tanda kepulangan Danny tidak terlihat. Naya sudah tertidur di ranjang milik Danny sedangkan Nia berdiri dekat jendela memantau kepulangan Danny.
Berkali kali Nia melihat jam dinding. Biasanya jam tujuh, Danny sudah pulang dari kantor. Itu artinya jika pria itu sudah terlambat dua jam dari biasanya.
Nia tidak hanya memantau Danny dari jendela itu. Dia juga terkadang turun ke bawah dan memeriksa garasi apakah suaminya itu sudah pulang atau tidak. Sikap berani yang ditunjukkan oleh pengasuh Sisil membuat pikirannya tidak hanya khawatir, kesal dan marah. Dia juga mencurigai pengasuh itu mencegat Danny di lantai bawah dan menggoda suaminya.
Tapi melihat di garasi mobil milik Danny belum ada. Wanita itu merasa lega. Nia akhirnya memutuskan menunggu Danny di ruang tamu setelah membuat bantal dan guling di sekeliling Naya.
__ADS_1
Hampir satu jam. Nia menunggu Danny di ruang tamu itu tapi yang ditunggu tidak kunjung muncul. Tidak ingin hatinya diliputi rasa khawatir. Akhirnya Nia memberanikan dirinya mengirim pesan kepada suaminya itu. Baru saja Nia mengirimkan pesan itu. Nia mendengar suara gerbang yang di buka. Nia buru buru menghapus pesan yang sudah centang dua itu tapi belum berwarna biru.
Nia berlari menaiki tangga dengan jantungnya yang dag dig dug. Dia hampir masuk ke kamar Sisil tapi mengingat Naya dan niatnya. Nia berlari ke kamar Danny. Nia langsung masuk ke dalam selimut dan berpura pura tidur.