Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Memutuskan Hubungan


__ADS_3

Anggita menatap wanita itu beberapa saat. Wanita yang menusuk hatinya tanpa belas kasihan. Anggita tidak mengetahui apa yang menjadi alasan wanita itu membenci dirinya. Yang pasti, Anggita mengetahui semua kesalahan fatal mama Anita kepada dirinya.


Anggita menampilkan senyumnya sebelum menjawab pertanyaan mama Anita.


"Maaf Tante. Aku tidak akan pernah mengijinkan siapa pun orang masuk ke dalam rumah ini yang ingin merusak kebahagiaan kami," kata Anggita tegas tanpa basa basi.


Mama Anita menatap Anggita. Dia tidak menyangka Anggita berani mengatakan hal itu. Mama Anita bisa melihat Sikap Anggita yang sangat berani berbanding terbalik dengan sikapnya di masa lalu.


"Aku tidak bermaksud apapun Anggita. Aku hanya ingin berhubungan baik dengan kalian."


"Maaf Tante, aku berhak melarang siapapun datang ke rumah ini termasuk tante," kata Anggita lagi. Dia terlihat tidak bisa dipengaruhi oleh sikap memelas yang ditunjukkan oleh mama Anita.


Mama Anita terlihat menundukkan kepalanya. Sedangkan Rendra puas akan keputusan Anggita. Evan juga tidak mempersalahkan Anggita akan keputusan itu karena seperti yabg dia katakan sebelumnya. Anggita lah yang berhak mengijinkan atau melarang siapapun yang datang ke rumah ini.


"Pergilah Anita sebelum diusir. Kedatangan kamu tidak diharapkan di rumah ini," sindir Rendra. Mama Anita menegakkan kepalanya dan menatap tajam kepada Rendra.


"Evan, inikah balasan yang aku terima setelah membesarkan kamu penuh kasih sayang?"


Evan memijit keningnya. Dalam situasi seperti ini sebenarnya Evan merasa dilemma. Mama Anita adalah sosok seorang wanita yang mengganti peran tante Tiara dalam hidupnya. Sejak kecil dia merasakan kasih sayang mama Anita hingga dewasa. Sampai detik ini, Evan pun masih sayang kepada wanita itu. Tapi untuk mengabulkan permintaan wanita itu. Evan pun tidak berdaya. Ada hati sang istri yang dia jaga. Dia jelas melihat bagaimana mama Anita menindas Anggita dan bahkan memfitnah istrinya itu.


"Mama, maafkan aku. Apapun keputusan istriku hanya dia sendiri yang dapat membatalkan," kata Evan. Mama Anita sangat kecewa mendengar perkataan Evan.


"Ternyata cinta membuat kamu lemah putraku. Kamu bukan lagi pria tegas yang aku didik dulu melainkan pria yang takut istri."


"Diam Anita. Jangan mencampuri urusan rumah tangga mereka. Apa maksud dari perkataan kamu. Kamu bermaksud mempengaruhi Evan kan?"


Rendra marah. Dia berdiri kemudian menunjuk wajah Anita. Siapa pun yang mendengar perkataan Anita sudah jelas mengetahui bahwa perkataan itu mempunyai maksud tertentu. Evan juga bisa menangkap maksud tertentu itu. Evan merasakan kecewa kepada Anita karena terlalu lancang memberikan penilaian itu kepada dirinya.


"Evan, jangan dengarkan perkataan Rendra. Aku tidak bermaksud apapun. Mama hanya ingin kamu menjadi pria tegas dalam hal apapun termasuk dalam rumah tangga."


Anggita tersenyum sinis mendengar perkataan Anita. Wanita itu duduk tenang Dan menginginkan perdebatan itu lebih lama lagi. Anggita sangat yakin jika Sikap mama Anita yang terkadang lembut, ketus akan membongkar sifat busuknya sendiri.


"Sudahlah mama..Tidak perlu diperpanjang lagi. Kalau mama rindu kepadaku. Mama boleh menjumpai aku di kantor."


"Aku tidak setuju mas. Jika kalian bertemu maka aku juga harus ada," kata Anggita cepat. Anggita tidak akan membiarkan mama Anita menghasut suaminya lagi. Evan terlihat mengerutkan keningnya akan perkataan istrinya itu.


"Loh kak seperti itu sayang?" tanya Evan bingung.


"Kalau kamu memang benar benar menghargai aku sebagai istri kamu. Aku tidak ingin ada lagi hasut menghasut kemudian kamu terpengaruh. Aku diabaikan lagi, diceraikan lagi. Gak kerjaan itu mas."


"Jadi maksud kamu, aku yang menghasut Evan supaya menceraikan kamu. Anggita, aku tidak pernah menghasut Evan. Adelia lah pemicu perceraian kalian. Jangan berpikiran seperti itu Anggita. Aku mengakui bahwa aku pernah salah kepada kamu. Itu dulu. Saat ini,.aku hanya ingin melihat Evan bahagia. Aku pernah mendukung Evan menceraikan kamu karena aku berpikir bahwa Evan hanya bahagia dengan Adelia. Melihat Evan bahagia bersama kamu sekarang. Otomatis aku juga mendukung kamu tetap jadi istrinya selamanya."


Mama Anita menatap Anggita ketika mengatakan hal itu. Jika dibandingkan dengan perkataan perkataannya yang sebelumnya. Perkataan mama Anita lebih meyakinkan saat ini.

__ADS_1


"Kalian berdua, jangan percaya dengan perkataannya. Aku sangat yakin jika kedatangannya kali ini karena maksud tertentu."


Rendra terus membuat mama Anita resah dengan segala tuduhannya.


"Sudahlah, kalau kalian tidak percaya. Sebaiknya aku pulang saja," kata mama Anita ketus. Rendra semakin curiga akan kedatangan mantan istrinya itu.


"Duduk lah dulu Anita. Ada hal yang ingin aku sampaikan kepada kamu," kata Rendra ketika wanita itu hendak beranjak. Anita menurut karena dia yakin jika Rendra sudah mempercayai perkataannya.


"Evan, ada sesuatu yang harus kamu ketahui tentang kasih sayang Anita kepada kamu," kata Rendra memulai pembicaraan itu. Mama Anita tersenyum dalam hati mendengar perkataan Rendra. Dia sangat yakin jika Rendra akan menceritakan bagaimana dirinya dulu merawat Evan dengan tulus.


"Apa itu pa."


"Kasih sayang Anita kepada kamu sejak kecil hingga dewasa memang tidak diragukan lagi Evan. Tapi ada hal yang harus kamu tahu. Kasih sayangnya tidaklah sempurna. Hal itu sangat wajar bukan?. Di dunia tidak ada yang sempurna."


Evan menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Rendra.


"Dan satu hal yang harus kamu ketahui juga. Kasih sayang tidak ada yang sempurna dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya ketidak sengajaan, kurang pengetahuan, dan banyak faktor lainnya. Tapi ketidak sempurnaan kasih sayang Anita kepada kamu adalah unsur kesengajaan. Dia mengetahui banyak hal tentang Adelia termasuk tragedy jatuhnya Adelia di tangga. Dia melihat kejadian itu. Adakah niatnya untuk menjadi saksi supaya Anggita tidak dibawa ke kantor polisi saat itu. Dia mengetahui Adelia mencelakai Anggita. Adakah dia cerita kepada kamu. Jadi bisa disimpulkan jika kasih sayangnya kepada kamu adalah palsu," kata Rendra membuat Evan terkejut.


Rendra tidak asal bicara. Keputusan menceraikan Anita adalah keputusan terbaik sepanjang perjalanan hidupnya. Dia mengetahui informasi itu dari Nia berdasarkan cerita Anggita kepada sahabatnya itu. Rendra juga tidak asal percaya. Dia juga mencari bukti sendiri dan ternyata benar adanya. Satu hal yang disesali Rendra saat itu adalah informasi itu diketahui setelah Anggita pergi dari rumah Evan.


Evan menatap wanita itu dengan kecewa. Dia tidak menyangka jika mama Anita menyembunyikan informasi kejahatan Adelia itu serapi mungkin. Jika tidak dideritakan Rendra saat ini. Mungkin selamanya dia tidak mengetahui sifat busuk mama Anita.


Mama Anita duduk gelisah dan terlihat ketakutan. Wanita itu hendak membantah perkataan mantan suaminya tapi gerakan tangan dan tatapan tajam Rendra membuat mama Anita tidak berkutik.


"Mama, aku tidak menyangka mama bisa berbuat seperti itu kepadaku. Mama sudah mengetahui kejahatan Adelia. Mengapa mama masih mendukung wanita itu menjadi istriku. Apa ada sesuatu yang kalian rencanakan?" tanya Evan. Dirinya tersadar jika Adelia juga datang menemui dirinya hingga tidak bersemangat bekerja hari ini.


"Tadi juga Adelia menemui aku ke kantor," kata Evan pelan. Evan benar benar kecewa. Untuk yang kedua kalinya dia mengetahui jika wanita yang dia anggap sebagai wanita yang berjasa dalam hidupnya ternyata adalah orang yang ingin melihat dirinya hancur.


"Evan, aku tidak berniat sama sekali menyembunyikan informasi itu dari kamu. Tentang kejadian di tangga. Aku tidak bersedia menjadi saksi karena yang aku lihat adalah Adelia yang terjatuh. Dan memang akui aku tidak melihat Anggita mendorong Adelia. Tentang mencelakai Anggita yang menyebabkan keguguran itu juga mama tidak melihat secara langsung."


"Sudahlah mama, jangan membela diri lagi. Pergilah dari rumah ini sekarang juga," kata Evan pelan. Karena terlalu kecewa. Evan tidak bisa berkata keras kepada wanita itu.


"Maafkan mama Evan."


"Dari tadi aku sudah menyuruh kamu pergi. Dan sekarang kamu tidak bisa seenaknya pergi dari rumah ini," kata Rendra. Pria itu semakin yakin jika kedatangan mama Anita saat ini erat kaitannya dengan kedatangan Adelia ke kantor Evan tadi pagi.


"Maksud papa apa?" tanya Anggita.


"Dia harus jujur akan tujuan datang ke rumah ini. Aku sangat yakin jika wanita ini pasti bermaksud jahat kepada kalian berdua. Jangan jangan kamu sudah bersengkongkol dengan Adelia dan Bronson kan?" tanya Rendra. Dia menebak asal tapi perkataannya itu berhasil membuat Evan berpikir lebih keras lagi tentang kedatangan Adelia dan Anita saat ini.


"Jangan asal menuduh kamu Rendra?" kata Anita. Dia melirik ke arah Anggita yang beranjak dari duduknya.


"Mau kemana sayang?" tanya Evan.

__ADS_1


"Sepertinya jus jeruk pesanan kamu sudah datang mas. Aku mendengar klakson motor," kata Anggita. Wanita itu berjalan cepat menuju ke gerbang karena tidak enak hati membuat sang kurir menunggu lama.


Benar saja dari celah celah susunan besi gerbang, Anggita dapat melihat sang kurir yang masih duduk di motor tapi pandangannya ke dalam pekarangan rumahnya.


Anggita menyodorkan uangnya melalui celah susunan besi itu. Dia juga mengulurkan tangannya untuk menerima jus jeruk tersebut. Ketika jus jeruk itu sudah berada di tangannya. Anggita melihat motor yang terparkir di seberang jalan. Anggita penasaran dimana Pemilik sang empunya motor. Di seberang jalan di depan rumahnya adalah lahan kosong. Anggita merasa jika Pemilik motor itu tidak mungkin tamu dari tetangga Kira kanan rumahnya.


Suasana remang akibat lampu jalan membuat Anggita melihat bayangan seseorang di balik tembok. Anggita penasaran dia mengambil ponsel dan membuka kamera. Ketika hendak mengambil kembalian dari pesanan jus jeruk itu. Anggita juga menjulurkan tangannya yang dengan kamera yang sudah mode merekam. Anggita sengaja menggerakkan tangannya supaya kamera bisa menangkap seseorang di balik tembok.


"Terima kasih ya Pak, Ambil saja kembalinya," kata Anggita. Dia berlari ke dalam rumah dengan kamera yang masih on.


"Mas, lihat ponsel aku. Aku melihat ada yang mencurigakan di depan rumah Kita," kata Anggita langsung memberikan ponsel itu kepada Evan. Jus jeruk diletakkan begitu saja diatas meja.


"Jangan jangan itu Adelia," tebak Rendra lagi. Video itu belum dilihat oleh mereka tapi Rendra sudah menebak sembarangan. Rendra menatap sinis kepada mama Anita dan mengawasi pergerakan mama Anita.


Evan dan Anggita memutar video itu. Kecurigaan Anggita ternyata terbukti. Ada seseorang di balik tembok. Tapi mereka tidak bisa mengenali seseorang itu karena memakai masker dan kaca Mata.


"Mama, jujur sekarang. Mama tidak sendiri kan?" tanya Evan. Pria itu menyesal di dalam hati karena tidak memperkerjakan beberapa satpam di rumahnya. Dia berpikir jika tinggal di tempat ini adalah aman karena Evan merasa jika hanya keluarga dan Rico lah yang mengetahui rumah ini.


"Aneh pertanyaan kamu Evan. Sudah jelas jelas mama sendiri yang datang. Masa, kamu bertanya lagi?" kata mama Anita kemudian terkekeh. Dia menyambar jus jeruk itu kemudian menyedot dengan santai.


"Cctv mas," kata amggy cepat. Evan langsung membuka ponselnya. Mereka memeriksa Cctv yang ditempatkan untuk merekam di luar rumah.


Mereka tidak menemukan jika mama Anita membawa seseorang bersama dirinya. Dan seseorang yang katakan Anggita itu juga pergi bersamaan dengan sang kurir meninggalkan pekarangan rumah tersebut.


"Percaya padaku nak," kata Anita.


"Maaf ma, aku tidak bisa percaya lagi kepada orang lain. Termasuk mama. Mulai saat ini aku memutuskan jika Kita adalah orang lain. Tante Tiara," kata Evan. Di akhirnya kalimatnya , Evan menekankan jika mereka bukan lagi hubungan ibu dan anak. Evan sangat yakin jika seseorang yang tertangkap kamera itu ada kaitannya dengan mama Anita.


"Evan, mengapa seperti ini nak?. Mengapa kamu memperlakukan mama seperti ini?" tanya mama Anita dengan terisak. Dia merasakan sakit hati yang dahsyat mendengar Evan sudah memutuskan hubungan mereka. Wanita itu merasa sia sia membesarkan Evan selama ini.


"Ini yang seharusnya kamu pikirkan sebelum berbuat jahat Anita. Ini sudah keputusan yang tepat. Jika kamu meminta imbalan karena mengurus Evan sejak kecil. Silahkan!. Sebutkan nominal jika kamu tidak tahu malu. Kamu harus ingat. Setiap apa yang ada dalam diri Evan sejak kecil itu adalah hasil jerih payahku," kata Rendra lagi membuat Anita semakin tidak berharga di hadapan Evan dan Anggita.


"Ini gara gara kamu, wanita sialan!. Akhirnya mama Anita tidak bisa menahan amarahnya kepada Anggita.


"Tante Anita. Jangan berkata kasar kepada istriku. Sebaiknya tante pergi dari rumah ini sekarang juga," perintah Evan tegas.


"Evan, jangan terburu buru mengusir wanita ini," kata Rendra. Hal itu membuat mama Anita semakin tidak tenang.


"Tante Anita. Kedatangan tante ke rumah ini hanya membongkar semua


kejahatan tante Sendiri. Asal tante tahu ya, sebenarnya jika aku mau. Aku sudah sejak dulu menceritakan semua kejahatan tante kepada keluarga. Tapi karena aku menghargai papa aku hanya berdoa supaya waktu yang menjawab. Hari ini adalah waktu yang tepat itu."


"Sok agamis kau."

__ADS_1


"Evan, apa Kita tidak perlu melihat isi ponselnya Kali saja ada informasi yang lebih akurat," kata Rendra lagi.


__ADS_2