Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 108


__ADS_3

Anggita dan Oci membawa tiga orang yang sedang tertidur lelap itu ke rumah pemberian kakek Martin kepada Anggita. Rumah yang ditempati oleh Anggita dan Evan di tahun pertama pernikahan mereka sebelum bercerai. Anggita memutuskan membawa tiga orang itu ke rumah tersebut daripada ke hotel karena Anggita tidak ingin dicurigai sebagai penjahat oleh siapapun. Apalagi tangan wanita itu kini kembali terikat. Siapapun yang melihat membawa orang dalam keadaan seperti itu pasti akan dicurigai.


Anggita dan Oci harus kembali merasa kewalahan memapah orang orang itu. Anggita kembali memapah Evan ke dalam rumah sedangkan Oci harus memapah Rico. Dalam situasi seperti ini, Anggita masih bisa berpikir untuk menjaga dirinya supaya tidak bersentuhan kulit dengan pria lain yang bukan suaminya. Oci tidak protes sama sekali karena sangat maklum.


Kini Evan dan Rico sudah berada di kamar yang sama di lantai satu rumah itu. Anggita sengaja melakukan itu supaya ketika dua pria itu terbangun mereka bisa sadar bahwa mereka sudah lengah dan berhasil masuk perangkap pengkhianat.


Sedangkan wanita si pelaku itu berada di ruang tamu dengan kondisi tetap terikat. Anggita meminta Bibi Ani untuk mengawasi wanita itu. Untung saja Bibi Ani menginap malam ini di rumah ini. Tujuan awal Bibi Ani ke rumah itu hanya membersihkan rumah. Tapi karena sudah lumayan lama tidak ditempati membuat rumah itu penuh dengan debu tebal dan Bibi Ani lelah membersihkan. Bibi Ani meminta kepada Anggita untuk menginap saja di rumah itu. Anggita mengijinkan dan ternyata ijin yang dia berikan sangat berguna bagi dirinya di malam ini. Karena tidak mungkin juga membawa Evan dan Rico ke rumah nenek Rieta dalam situasi yang tidak aman seperti malam ini.


"Sebaiknya kamu tidur sebentar Anggita," kata Oci. Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua. Perkataan Oci itu sebenarnya untuk dirinya sendiri yang sangat mengantuk. Matanya sudah terlihat sangat lelah Tapi karena menghargai Anggita, Oci sengaja berkata seperti itu berharap Anggita mengerti dan menyuruh dirinya juga untuk tidur.


"Kamu saja yang tidur Oci. Kamu bisa tidur di kamar yang sebelah sana," tunjuk Anggita ke arah kamar tamu. Oci bersorak di dalam hati dan langsung menuju kamar tersebut. Oci merasa sangat lelah sedangkan Anggita tidak merasakan lelah apalagi mengantuk. Pikirannya bercabang memikirkan Rendra dan juga Gunawan. Apalagi nomor kedua kakak beradik itu tidak bisa dihubungi. Anggita merasa khawatir jika dua pria itu juga sudah masuk perangkap para pengkhianat. Sebenarnya, Anggita ingin secepatnya ke rumah Gunawan untuk memastikan keberadaan pria itu. Tapi melihat wajah Oci yang kelelahan. Anggita tidak tega akan temannya itu. Andaikan dirinya bisa menyetir. Bisa dipastikan Anggita akan meluncur ke rumah Gunawan saat ini juga. Menyadari bisa menyetir adalah hal penting. Anggita berjanji dalam hati akan belajar menyetir.


Anggita merapatkan giginya karena marah. Dia masih berada di ruang tamu. Melihat wanita yang terikat itu. Sosok Adelia terlintas di pikirannya. Bisa dikatakan jika kekacauan yang ada dalam hidupnya atau kekacauan dalam keluarga kakek Martin. Adelia lah penyebabnya.


"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu kapok mengacaukan keluarga aku Adelia," kata Anggita pelan. Anggita berpikir keras tindakan apa yang harus dia lakukan nantinya terhadap Adelia. Bagaimana pun Anggita berpikir akan membalas perbuatan wanita itu supaya tidak menganggap dirinya lemah.


"Dikirim ke sekolah dasar lagi non. Biar wanita jahat itu belajar agama dan norma hidup. Mungkin waktu sekolah dulu. Wanita itu sering mengantuk sehingga pelajaran tidak bisa diserap oleh otaknya," kata Bibi Ani yang ternyata mendengar perkataan pelan Anggita.


Mendengar perkataan Bibi Ani. Anggita terkekeh. Dia menatap wanita tua yang banyak memberikan pelajaran hidup kepada dirinya. Termasuk saat ini dimana Bibi Ani tidak langsung memberikan pendapat yang bisa menyulut amarahnya. Justru Bibi Ani terkesan bercanda sehingga rasa benci akan Adelia sedikit teralihkan dalam diri Anggita.


"Ada saran yang lain Bibi?" tanya Anggita. Anggita mengetahui jika saran yang baru saja dikatakan oleh Bibi Ani hanya sebagai candaan saja.


"Menurut Bibi non. Sebaiknya Adelia dilaporkan saja ke polisi. Biarkan pihak yang berwajib yang memutuskan hukuman apa kepada wanita itu. Jujur, Bibi takut dengan apa yang non lakukan kepada wanita ini. Aku takut wanita ini akan membalikkan kejadian yang sesungguhnya sehingga non sendiri yang diduga sebagai penjahat."


Bibi Ani memang sebagai pelayan di keluarga kakek Martin. Tapi nasehat nasehat baik wanita tua itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Bibi Ani takut jika nantinya wanita yang terikat itu akan membalikkan fakta bahwa dirinya adalah korban penculikan Anggita yang akan menperpanjang masalah. Bibi Ani sangat menyayangi Anggita seperti putri kandungnya sendiri. Bibi itu tidak ingin Anggita dalam mendapatkan masalah baru hanya karena wanita terikat itu.


'Terima kasih atas nasehatnya Bibi."


Anggita beranjak dari duduknya. Bukan dirinya tidak mendengarkan saran dari Bibi Ani. Tapi saat ini, Anggita lebih percaya pada dirinya sendiri untuk menghadapi Adelia atau para pengkhianat.


Anggita masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Evan dan Rico. Suasana hati yang kurang baik membuat Anggita tidak sadar menutup pintu dengan kencang. Suara dentuman kuat dari pintu itu akhirnya bisa membuat Evan terjaga dari tidur yang nyenyak itu.


"Mas Evan. Kamu sudah bangun?" tanya Anggita senang. Evan seketika duduk dan mengucek matanya. Pengaruh obat tidur itu membuat matanya ingin tidur lagi. Ketika dia menoleh dia terkejut melihat asisten yang sedang tertidur di sofa di kamar itu. Evan berusaha melawan kantuk itu supaya tidak tertidur lagi.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya pria itu bingung. Anggita mendekati Evan dan menuntun suaminya itu ke kamar mandi. Anggita menyuruh Evan untuk membasuh wajahnya supaya rasa kantuk itu berkurang.


"Mengapa kita di rumah ini dan mengapa Rico juga ada di rumah ini?" tanya Evan setelah mereka kembali ke kamar.


Anggita kini menceritakan apa yang dia alami di rumah sepanjang malam ini dan termasuk kedatangannya ke kantor sang suami. Mendengar cerita dari Anggita. Evan seketika memeluk istrinya itu. Berbagai upaya dia dan Rendra lakukan untuk menangkap pengkhianat itu tapi hasilnya nihil. Kali ini Evan mengakui dalam hati jika istrinya itu benar benar wanita yang pintar.


"Terima kasih sayang. Kamu benar benar wanita yang bisa diandalkan. Kamu bisa menjaga keluarga Kita di saat aku lengah," kata Evan tulus. Pria itu mencium kening dan punggung tangannya istrinya sebagai ungkapan kasih sayangnya yang tulus. Evan merasa bangga akan istrinya itu dan merasakan rasa cintanya semakin bertambah.


"Apa kamu masih mengantuk?" tanya Anggita penuh perhatian melihat Evan yang baru saja menguap. Evan menganggukkan kepalanya.


"Tidur lah. Besok pagi Kita harus ke rumah nenek Rieta untuk melihat kegagalan rencana para pengkhianat itu," kata Anggita. Evan kembali menganggukkan kepalanya. Dia berdiri dan menarik tangan Anggita dengan lembut hingga keluar dari kamar. Evan menuntun Anggita untuk berjalan menaiki tangga hingga suami istri itu kini sudah berada di kamar mereka berdua dulu.


"Tidur lah," kata Evan setelah membantu Anggita tidur di ranjang. Evan sangat sadar jika istrinya itu belum terlelap satu menit pun sepanjang malam ini.


"Gantian. Aku sudah tidur sejak sore tadi. Kamu juga harus beristirahat. Aku tidak mau kamu sakit karena kurang tidur," kata Evan penuh perhatian. Tangannya mengelus rambut Anggita dengan lembut. Dan benar saja. Hanya hitungan menit Evan mengelus rambut istrinya. Anggita sudah terlelap. Evan mencium kening istrinya kemudian beranjak dari ranjang itu. Dia meraih ponsel dari atas nakas yang dia letakkan setelah tiba di kamar itu.


Wajah lembut yang dia perlihatkan di hadapan Anggita kini berubah menjadi wajah marah dengan Mata memerah. Rahangnya mengeras karena kemarahannya terhadap Bronson dan Adelia. Kali ini, Evan tidak akan memberikan ampunan lagi kepada dua musuhnya itu.


"Pak Evan. Apa anda baik baik saja. Dimana posisi," tanya Dokter Angga penuh kekhawatiran. Dari tadi dirinya berusaha menghubungi Evan tapi tidak bisa tersambung.


" Di suatu tempat Aku baik baik saja. Bisakah kamu membuat Bronson tidak berkutik besok?" kata Evan. Mengingat kemarahannya sebenarnya malam ini dia ingin menghabisi Bronson. Tapi mengingat keluarganya juga dalam keadaan bahaya saat ini, Evan memilih melindungi keluarganya terlebih dahulu. Untuk menyuruh para pengawal. Evan terkontaminasi dari Anggita yang menjadi krisis kepercayaan kepada para orang orang yang bekerja dengan dirinya.


"Tidak berkutik seperti apa maksudnya pak Evan?.


"Buat dia tidak bisa beraktivitas beberapa minggu. Dokter Angga jangan takut. Jika perbuatan kamu tercium oleh yang berwajib. Aku akan menjamin kebebasan kamu. Aku juga akan memperhatikan kesejahteraan kamu. Aku menjamin, jika kamu tidak menyesal nantinya setelah mengetahui lebih banyak hal tentang Bronson," kata Evan serius. Dia tidak ingin Bronson tertawa besok jika rencana para pengkhianat itu terlanjur berhasil. Bagi Evan. Besok dirinya dan Bronson harus merasakan hal yang tidak terduga bersama sama. Dirinya tidak bisa menduga rencana apa yang akan dijalankan para pengkhianat itu. Maka Bronson juga tidak bisa menduga serangan dari dokter Angga.


"Aku akan melakukan yang kamu inginkan pak Evan. Bantu doa supaya Bronson lengah malam ini," jawab dokter Angga. Bukan tanpa alasan dokter Angga menyanggupi permintaan Evan. Alasan kesejahteraan dan jaminan jika tercium dari pihak berwajib hanya alasan yang kesekian. Dokter Angga setuju membuat Bronson tidak berkutik besok karena dirinya juga mencurigai sesuatu yang berkaitan dengan kedua orang tuanya.


"Aku sangat yakin kamu bisa dokter Angga. Tolong lakukan demi kamu sendiri dan demi keluargaku."


Pembicaraan itu diakhiri dengan kesanggupan dokter Angga melaksanakan keinginan Evan. Dua pria yang akan melakukan balas dendam itu saling tersenyum walau tidak bisa saling menatap.


"Setiap manusia ada batas sabarnya Bronson. Selama ini aku berusaha menjaga sikap menghadapi kamu. Karena niat jahat kamu. Maka kamu juga harus menerima imbalan yang setimpal," gumam Evan dalam hati.

__ADS_1


Evan mengepalkan tangannya. Dia dan Rico boleh lengah malam ini tapi untuk besok. Dirinya tidak boleh kalah. Evan melangkahkan kakinya ke arah ruang tamu. Melihat wanita terikat itu. Evan tersenyum sinis. Orang orang yang tidak berpikir panjang demi rejeki nomplok yang membahayakan dirinya dan pekerjaannya.


"Jangan sampai lepas Bibi. Jika perlu. Tambah ikatannya supaya Bibi bisa tidur," kata Evan melihat Bibi yang terlihat mengantuk menjaga wanita terikat itu.


"Sampai kapan dia harus terikat seperti itu tuan?" tanya Bibi Ani.


"Sampai dia dikirim ke pihah yang bisa menghukumnya tanpa ampun."


"Polisi maksudnya tuan?"


Evan menggelengkan kepalanya. Dia tidak akan melaporkan para pengkhianat itu karena dirinya sudah memikirkan hukuman apa yang harus diterima Adelia dan para pengkhianat lainnya.


"Mengapa bukan ke polisi saja tuan?" tanya bibi Ani lagi.


"Karena aku tidak menginginkan hal itu bi," jawab Evan. Tapi jawaban itu pastinya tidak membuat bibi Ani merasa puas.


Bibi Ani terduduk lemas mendengar jawaban Evan. Karena rasa sayangnya kepada keluarga kakek Martin. Bibi Ani takut, Evan bermain hakim sendiri untuk menghukum para pengkhianat itu.


"Sebaiknya dilaporkan ke polisi saja tuan," kata Bibi Ani dengan lesu. Rasa kantuknya hilang hanya membayangkan Evan dan Anggita akan mendapatkan masalah baru jika bermain hakim sendiri.


Evan tidak menjawab lagi. Dia berlalu dari ruang tamu dan masuk ke kamar yang ditempati oleh Rico. Evan memanggil nama Rico dan memukul lengan asistennya itu supaya terbangun. Tapi pengaruh obat tidur itu lebih terasa kuat kepada Rico dibandingkan Evan. Rico sama sekali tidak terbangun bahkan tidak terganggu padahal Evan sudah memukul kakinya dengan kuat.


"Dasar orang orang tak tahu diri," umpat Evan. Dia mengumpat bukan kepada Rico melainkan kepada wanita yang sudah mengkhianati dirinya. Dia merasa sangat kesal atas orang orang yang tidak tahu diri itu.


Evan kembali mengeluarkan ponsel dari sakunya. Kali ini, Evan menghubungi Danny.


"Kamu dimana?.


"Kamu ke rumah papa sekarang. Pastikan mereka aman baru kemudian kamu ke sini," kata Evan kepada Danny yang katanya sudah tiba di Kota itu.


Papa yang dimaksudkan oleh Evan adalah Gunawan. Evan mengkhawatirkan pria tua itu karena ponselnya tidak bisa dihubungi. Tidak hanya menghubungi Danny. Evan juga menghubungi beberapa orang yang bisa melakukan pekerjaan malam ini untuk melumpuhkan salah satu musuhnya.


"Kalian benar benar menguji kesabaranku. Maka lihat hasil dari perbuatan jahat kalian. Kalian yang akan menderita. Dan pada akhirnya aku lah pemenang atas permainan yang kalian inginkan. Permainan ini bukan keinginan aku," kata Evan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2