Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 123


__ADS_3

"Salsa, boleh kita berbicara sebentar?" tanya Anna yang baru saja keluar dari ruangan Rendra. Sejak Anna masuk dan kini keluar dari ruangan Rendra. Salsa pura pura tidak melihat wanita itu. Kini wanita itu berdiri di hadapannya dan mengajak berbicara berdua.


Salsa menatap wanita itu sebentar. Wanita yang sudah memenangkan persaingan untuk mendapatkan Rendra. Satu bulan terakhir ini, sejak mama Anita masuk penjara. Salsa bisa melihat Rendra dan Anna semakin dekat. Hampir setiap hari kerja. Rendra selalu mengantar Anna pulang. Dan Rendra seakan menjaga jarak dengan dirinya.


"Membicarakan hal apa ibu. Ini masih jam kerja. Kita akan mendapatkan peringatan jika mencuri jam kerja," jawab Salsa menolak halus ajakan wanita itu.


"Pak Rendra sudah memberi ijin untuk itu."


Salsa menundukkan kepalanya. Mendengar nama pria itu membuat hatinya merasakan hal aneh. Ada rasa sakit menyelinap ke hatinya. Anna sudah sudah mendapatkan hal istimewa seperti itu berarti hubungan mereka sudah semakin dekat.


"Apa tidak bisa waktu jam istirahat bu. Sebenarnya masih banyak yang harus aku kerjakan."


"Aku sudah mempunyai janji makan siang dengan pak Rendra di jam istirahat nanti."


Lagi lagi Salsa merasakan hatinya berdenyut nyeri. Dirinya yang sangat ingin makan siang dengan Rendra tapi Anna yang mendapatkan kesempatan itu. Salsa menunggu Rendra menepati janjinya. Tapi sampai saat ini, Rendra seakan lupa akan janji makan siang atas bantuan Salsa yang menyelamatkan pria itu dari mama Anita.


Salsa sengaja tidak menagih janji itu karena dirinya ingin menjaga harga dirinya seperti yang diucapkan Rendra. Dan selama satu bulan ini juga, Salsa bersikap professional dengan pekerjaannya. Dia tidak seperti dulu yang senang menggoda Rendra. Salsa berkomunikasi dengan Rendra hanya sebatas pekerjaan.


"Baiklah bu," jawab Salsa akhirnya. Salsa tidak mempunyai alasan lain untuk menolak ajakan wanita itu. Salsa beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Anna yang menuju tangga. Mereka menaiki tangga itu tanpa sepatah kata pun. Salsa terlihat canggung berdekatan dengan Anna. Jika boleh memilih dia tidak ingin situasi seperti ini. Salsa merasa malu karena kekalahannya mendapatkan Rendra.


"Mau minum apa?" tanya Anna setelah mereka duduk berhadapan. Mereka kini berada di kantin perusahaan. Sikap Anna jauh berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh Salsa. Anna bersikap sangat tenang sedangkan Salsa terlihat canggung.


"Jus jeruk," kata Salsa. Salsa memalingkan wajahnya ke arah penjuru kantin supaya tidak bertatapan dengan Anna. Sedangkan Anna memanggil pelayan dan kemudian memesan minuman yang berbeda jenis untuk mereka berdua.


Salsa memilih diam daripada bertanya hal apa yang ingin dibicarakan oleh Anna dengan dirinya.


"Salsa. Ini menyangkut tentang pak Rendra."


"Pak Rendra. Kenapa kita harus membicarakan tentang pak Rendra?" tanya Salsa. Dia sudah menduga arah pembicaraan itu. Tapi salsa sengaja mengatakan itu karena dirinya tidak ingin disangkutpautkan dengan pria itu.


"Salsa. Maafkan aku. Sebelumnya aku mengatakan tidak ingin dekat dengan pak Rendra karena ancaman mantan istrinya. Dan kamu ingin memanfaatkan peluang itu bukan?"


Salsa menganggukkan kepalanya. Sebelum dirinya berani mengejar Rendra. Dia sudah meminta kepastian perasaan Anna kepada Rendra. Saat itu Anna tidak berani mengambil resiko karena ancaman mama Anita. Salsa sengaja meminta kepastian perasaan Anna karena tidak mau disebut sebagai wanita yang menikung rwkay kerja. Bukan hanya dirinya yang mengetahui jika Rendra mempunyai rasa kepada Anna. Hampir semua karyawan yang di divisi keuangan mengetahui hal tersebut.


Salsa pun dengan percaya diri memanfaatkan peluang ini karena perasaannya kepada Rendra tidak bisa dibendung lagi. Tapi usaha keras yang dia perlihatkan tidak mendapatkan balasan. Rendra justru memperingatkan dirinya untuk tidak terlalu murahan dan bahkan hendak menguji dirinya apakah masih suci atau tidak. Salsa merasa direndahkan oleh Rendra dengan perkataannya itu.


"Satu bulan ini, pak Rendra terus memberikan perhatian dan menyakinkan diriku bahwa semuanya sudah baik baik saja. Jujur, aku tidak bisa menolak lagi. Karena aku sudah mulai merasa nyaman."


"Jadi apa hubungannya aku?" tanya Salsa pura pura bodoh. Dia tidak suka dengan pembicaraan ini yang membuat hatinya memanas. Situasi ini seakan menegaskan jika dirinya sudah benar benar kalah. Perjuangan dirinya sia sia.


"Jangan berprasangka buruk Salsa. Aku sengaja mengatakan ini supaya tidak ada salah paham diantara kita. Aku tahu usaha kamu untuk mendapatkan pak Rendra. Tapi satu hal yang harus kamu mengerti cinta tidak bisa dipaksakan. Aku hanya ingin kita tetap berhubungan baik ke depannya bagaimanapun nantinya hubungan aku dan Pak Rendra."

__ADS_1


"Jika Pak Rendra bukan jodoh kamu. Aku berharap dan sangat yakin jika ada pria lain yang jauh lebih baik yang menjadi jodoh kamu. Jangan berkecil hati karena perasaan kamu tidak berbalas dari pak Rendra. Sebagai wanita. Kita harus lebih memilih pria yang mencintai Kita daripada yang kita cintai. Jika Kita memilih pria yang kita cintai. Kita akan lelah sendiri mengejar cintanya. Tapi jika kita memilih pria mencintai kita. Kita hanya melakukan yang terbaik saja, bahagia pasti di depan mata. Kamu masih muda dan cantik Salsa. Pasti ada pria di luar sana yang benar benar mencintaimu dengan tulus."


Salsa berusaha mencerna nasehat Anna dengan baik. Kata kata yang terdengar sangat benar. Otaknya bisa menerima setiap kata kata itu tapi tidak dengan hatinya. Salsa tetap merasakan hatinya sangat sakit.


"Terima kasih atas nasehatnya bu," kata Salsa. Tidak ada artinya dirinya berdebat tentang perasaannya yang tidak berbalas. Rendra sudah menjatuhkan pilihan dan Anna sudah menerima. Hanya saja, Salsa merasa tidak adil. Dia yang berani melawan mantan istri Rendra tapi Anna yang mendapatkan cinta dari Rendra. Dirinya yang berani berjuang tapi Anna yang mendapatkan Rendra tanpa berjuang.


"Aku harap kamu bisa berbesar hati menerima hubungan kami," kata Anna. Salsa kembali menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia tidak suka cara Anna ini tapi Salsa berusaha berpikiran positif jika niat Anna benar benar baik.


Salsa meminum jus jeruknya dengan sekejap. Pesanan Anna belum tiba di meja itu. Jus jeruk milik Salsa sudah habis tidak bersisa. Hanya dengan seperti itu dirinya bisa menunjukkan protes atas pembicaraan ini. Karena bagaimana pun dirinya berjuang, Rendra sudah menjadi milik Anna.


"Bolehkah aku yang duluan ke bawah bu?" tanya Salsa. Salsa tidak ingin berlama lama di tempat itu karena sejujurnya Salsa sudah sangat malu. Anna hendak melarang tapi melihat wajah sedih Salsa. Akhirnya wanita itu menganggukkan kepalanya. Anna berpikir Salsa butuh waktu sendiri saat ini.


Salsa menuruni tangga itu dengan pandangan kabur. Air matanya akhirnya tumpah juga. Dengan berpegangan ke railing tangga. Salsa berjalan sambil mengusap air mata dengan tangan kirinya. Satu bulan ini, dirinya berusaha mengikhlaskan perasaannya. Tapi setelah mengetahui kepastian hubungan Anna dan Rendra. Hatinya tidak bisa menolak untuk tidak bersedih. Perjuangannya tidak membuahkan hasil. Tapi Salsa akan menerima kenyataan ini karena tidak mungkin dirinya memaksa Rendra untuk memilih dan mencintai dirinya. Hal itu hanya membuat dirinya semakin malu dan tidak berharga.


Salsa menerima kekalahannya dengan besar hati. Dia akan menjadikan pengalaman ini sebagai pelajaran berharga di masa depan. Sebesar apapun mencintai pria sebaiknya berusaha menyembunyikan dan mengumbar rasa cinta itu secara berlebihan seperti yang sudah dia lakukan. Pengalaman ini membuat hatinya terluka dan malu.


Salsa tiba di meja kerjanya setelah terlebih dahulu merapikan riasanya di kamar Mandi. Bersamaan dengan itu. Rendra juga keluar dari ruangannya.


Salsa menyadari itu tapi dirinya pura pura sibuk. Dia tidak berniat menyapa atasannya itu supaya wajah sedihnya tidak diketahui oleh Rendra. Tapi ternyata Rendra keluar dari ruangannya untuk menjumpai dirinya. Kini Rendra berdiri tegak di hadapannya dengan meja kerja sebagai penghalang.


"Salsa."


"Ada klien yang mengajak makan siang hari ini. Aku mengutus kamu untuk makan siang dengan klien tersebut. Aku tidak bisa karena sudah ada janji dengan Anna," kata Rendra.


"Siap Pak. Dimana pak?" tanya Salsa. Rendra menyebutkan tempat dan nomor meja tempat makan siang tersebut.


"Jangan terlambat ya Salsa. Kamu boleh keluar dari kantor setengah jam sebelum jam istirahat."


"Siap Pak."


Salsa memandangi Rendra yang semakin menjauh dari tempatnya berada. Melihat Rendra menuju tangga ke lantai atas. Dia menduga jika Rendra hendak menemani Anna di kantin perusahaan. Salsa merasa Anna adalah wanita yang paling beruntung yang kini sudah menjadi prioritas hidup Rendra. Pria itu memilih makan siang bersama dengan Anna dibandingkan dengan klien. Itu berarti jika Anna adalah prioritas pria itu dibandingkan perusahaan.


Setengah jam sebelum jam makan siang telah tiba. Salsa merapikan meja kerjanya sebelum keluar dari kantor. Sebenarnya suasana hatinya tidak mendukung untuk melakukan perintah ini. Tapi Salsa harus bersikap professional. Menunjukkan bahwa dirinya mampu untuk mengatasi masalah tanpa mengabaikan tugas kantor.


Dengan lesu. Salsa masuk ke dalam Mobil taksi yang dia pesan secara online. Dia merasa kasihan dengan dirinya sendiri yang belum bisa lepas dari kesedihan itu. Berkali kali dirinya menghibur dirinya sendiri tapi melepaskan perasaan itu terasa sulit dari hatinya.


Setelah tiba, di tempat yang disebutkan Rendra. Salsa diarahkan pelayan menuju meja yang sudah dipesan. Salsa melangkah ke arah meja itu yang masih terlihat kosong.


Salsa duduk tenang menunggu klien. Menjaga sikap sebaik mungkin demi nama perusahaannya. Dia tidak ingin nama perusahaannya tercemar hanya karena dirinya kurang baik menyambut klien yang dimaksudkan oleh Rendra. Salsa mengesampingkan perasaan sedihnya demi terlihat baik baik saja di hadapan klien itu nantinya.


Salsa sudah menunggu hampir lima belas menit. Klien yang hendak makan siang dengan dirinya belum muncul juga. Hingga suara menyebut namanya membuat Salsa tidak langsung menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


Dia mengenali Pemilik suara itu. Hingga si Pemilik suara berdiri di hadapannya dan menarik bangku. Salsa memberanikan diri untuk menatap klien tersebut.


Salsa terkejut. Si Pemilik suara itu benar benar orang yang sangat dikenalnya.


"Aku punya hutang makan siang dengan kamu. Dan hari ini aku akan melunasinya," kata pria itu santai. Perkataannya menegaskan jika dirinya yang hendak makan siang dengan Salsa. Pria itu duduk tenang dan tersenyum. Tapi Salsa tidak berniat membalas senyuman itu.


"Aku sudah melupakan dan tidak mengharapkannya lagi Pak," jawab Salsa juga berusaha tenang. Pria yang ada di hadapannya adalah Rendra.


"Tapi aku tetap melunasinya sebelum aku menikah dengan wanita yang aku inginkan," jawab Rendra membuat luka di hati Salsa semakin menganga. Tidak cukup hanya Anna yang menegaskan hubungan itu, kini Rendra ikut juga menegaskan hubungan mereka. Dan bahkan mengumumkan sebuah Pernikahan.


"Tapi kenapa dengan cara seperti ini Pak. Bukankah bapak yang menugaskan aku untuk mewakili bapak sendiri makan siang dengan klien?"


"Kalau bukan seperti ini. Aku sangat yakin jika kamu pasti tidak bersedia makan siang dengan aku lagi setelah mengetahui hubungan aku dengan Anna."


Salsa kini tersenyum. Dia menatap pria itu sebentar kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk. Dia berpikir jika tidak mungkin Rendra makan siang berdua dengan dirinya tanpa Anna.


"Aku harus menepati janji ku kepada kamu Salsa. Mungkin bulan depan. Aku dan wanita yang aku inginkan akan menikah. Sebelum itu terjadi aku harus menyelesaikan urusanku dengan wanita yang bukan istriku. Aku tidak ingin kamu menagih janji makan siang itu setelah aku sudah menjadi suami dari wanita lain. Aku tidak ingin ada kesalahan pahaman nantinya."


"Begitu ya pak. Terima kasih karena masih mengingat janji makan siang itu. Tapi untuk saat ini dan selanjutnya. Aku tidak bisa makan berduaan dengan pria yang sudah menjadi milik wanita lain. Aku memang wanita murahan pak. Tapi aku tahu kepada pria seperti apa aku memposisikan diri murahan. Bukan kepada pria milik wanita lain. Permisi pak."


"Salsa, tunggu," kata Rendra cepat sambil menangkap tangan Salsa supaya tidak pergi dari tempat itu.


"Apa lagi Pak," tanya Salsa dengan malas. Dia menepis tangan Rendra dengan halus. Tangan itu terlepas dan Salsa mendorong kursinya.


"Aku minta maaf karena mengatakan hal itu kepada kamu. Tapi untuk saat ini. Jangan biarkan aku mempunyai hutang janji."


"Hutang bapak lunas Pak. Seperti yang aku katakan tadi. Aku menginginkan makan siang itu saat status bapak bukan milik siapa siapa. Sekarang, bapak milik ibu Anna. Jadi wanita yang seharusnya makan siang dengan bapak adalah ibu Anna. Seharusnya bapak menjaga perasaan ibu Anna."


"Anna sudah mengijinkan. Sekarang, duduklah. Pesan makanan apa saja yang kamu mau," bujuk Rendra. Pembicaraan mereka tidak menjadi perhatian bagi pengunjung lain karena Salsa berbicara dengan pelan. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian di tempat umum itu. Hatinya sebenarnya masih sedih dan ingin menangis. Tapi Salsa berusaha supaya air matanya tidak tumpah.


Salsa tersenyum kecut. Dia tidak bodoh. Dia tidak akan membiarkan hatinya mempunyai kenangan dengan Rendra di Masa depan dengan bersedia makan siang dengan pria itu. Dia tidak ingin mengenang kenangan indah sesaat di masa depan. Menolak adalah salah satu cara untuk menjaga hatinya supaya tidak semakin terluka.


"Maaf Pak. Aku tetap tidak bisa. Terima kasih karena sudah menolak aku. Terima kasih atas pelajaran ini," kata Salsa. Perkataan Rendra di


beberapa waktu lalu membuat dirinya sadar jika hanya untuk mendapatkan Rendra dirinya sampai melampaui batas. Salsa memundurkan bangkunya dan cepat berlalu dari tempat itu. Beberapa pasang mata memandang dirinya kemudian menoleh ke arah meja tempat Rendra masih berdiri memandangi tubuh Salsa yang semakin menjauh. Salsa tidak perduli. Jika dengan situasi ini, Rendra merasa malu terhadap pengunjung lain. Salsa siap menerima konsekuensinya termasuk jika dirinya dipecat karena itu.


Salsa tidak langsung memesan taksi online. Dia melangkah menyusuri jalan dengan menggerutu.


"Aku tidak rugi jika kamu tidak memilih aku pak. Tapi kamu yang rugi karena menolak gadis serba bisa seperti aku. Aku bisa bawa mobil. Bisa bawa motor. Bisa kerja cari uang. Aku masih muda," kata Salsa menghibur dirinya sendiri.


Sementara di dalam restoran itu. Rendra terduduk. Dia merasa menyesal hanya karena berniat mengingatkan Salsa dirinya mengucapkan kata kata yang menyakiti wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2