Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Curahan Hati Evan


__ADS_3

Tante Tiara merasakan waktu berjalan lambat. Andaikan tidak ada yang ditunggu lagi. Bisa dipastikan jika tante Tiara akan cepat berlalu dari rumah Nenek Rieta. Untung saja Rendra cepat datang.


"Ada apa ma, mbak," tanya Rendra setelah duduk di sofa empuk itu.


"Ada apa dengan kamu Rendra?. Mengapa kamu mengajukan gugatan cerai kepada Anita?" tanya nenek Rieta tajam.


"Bukankah itu yang mama inginkan selama inj. Jadi mengapa mama terlihat seperti tidak setuju."


"Tapi mengapa setelah tua bangka seperti ini. Kasihan dia. Dia pasti kesulitan nantinya untuk menyambung hidup. Untuk mencari pekerjaan tidak mungkin lagi," kata Nenek Rieta. Sebenci apapun dia terhadap Anita ternyata nenek tua itu masih mempunyai rasa kasihan.


"Aku baru mengetahui sifat aslinya ma."


"Jadi bukan karena menginginkan keturunan?" tanya nenek Rieta. Rendra menggelengkan kepalanya. Akhirnya Rendra menceritakan semua sifat busuk istrinya itu kepada Nenek Rieta dan Tiara.


"Sudah lah maafkan saja. Lagipula Evan sudah mengetahui jika Gunawan dan Tiara adalah orang tua kandungnya. Kalian sudah tua. Mama juga sudah ihklas jika tidak mempunyai cucu dari kamu."


"Tidak bisa ma. Sepertinya hatiku langsung hambar. Aku tidak merasa nyaman lagi bersama Anita."


Nenek Rieta dan Tante Tiara tidak bisa mencegah perceraian itu. Rendra sudah bulat hati untuk bercerai dari Anita. Walau Perceraian itu akan terjadi setidaknya usaha Anita meminta solusi kepada mertuanya menguntungkan dirinya sendiri. Atas desakan nenek Rieta, Rendra bersedia menyerahkan rumah yang mereka ditempati kepada Anita. Sedangkan Rendra pindah ke rumah nenek Rieta.


Tante Tiara cepat cepat undur diri dari rumah itu setelah pembicaraan selesai. Dia membawa mobilnya menuju rumah Evan setelah menerima pesan dari Bibi Ani bahwa Evan Ada di rumah.


"Bibi, tolong bawa cucuku ke kamar tamu. Aku ke lantai atas dulu ke kamar Evan," kata Tante Tiara sambil meletakkan Sisil yang sedang tidur ke tangan Bibi Ani.


"Baik nyonya."


Tiara menaiki tangga itu dengan cepat. Dia ingin cepat cepat bertemu dengan putra pertamanya itu. Petunjuk keberadaan Anggita membuat tante Tiara ingin mengetahui perasaan Evan yang sesungguhnya saat ini kepada Anggita.


"Evan," panggil Tante Tiara sambil membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci.


"Boleh mama masuk Evan?" tanya tante Tiara lagi. Evan sedang duduk di sofa di kamar itu dengan laptop di depannya.


"Silahkan tante," jawab Evan. Ada rasa tidak rela dalam diri tante Tiara ketika Evan masih saja menyebut dirinya sebagai tante.


Tante Tiara melangkah masuk ke kamar itu. Selain Evan yang menyambut dirinya, Ada juga foto Anggita yang berukuran besar menyambut tante Tiara di kamar itu.


Tanpa bertanya, mama Tiara mengetahui jika foto itu pasti sebagai pengobat rindu bagi Evan. Karena sebelumnya dia masuk ke kamar ini. Foto itu belum ada. Ekor matanya juga dapat melihat jika di sudut kamar dekat pintu kamar mandi ada botol bekas minuman alkohol.


Tante Tiara tentu sedih melihat putra sulungnya itu. Evan pasti meminum minuman terlarang itu demi menenangkan jiwanya sejenak. Sebanyak apapun dia memberi kasih sayang kepada Evan, tante Tiara merasa tetap itu tidak cukup, mengingat kebersamaan dengan Evan hanya sebentar. Dan yang pasti kenangan masa kecil Evan tanpa dirinya membuat Evan merasa ada jarak dengan dirinya. Tante Tiara jelas merasakan jarak itu.


"Duduk tante," kata Evan sambil bergeser. Di kamar itu hanya ada satu sofa panjang.


"Evan, Ada yang ingin mama tanyakan," kata Tante Tiara. Evan mengalihkan perhatian dari laptop itu dan menatap mamanya. Walau Evan menyebut dirinya tante. Tante Tiara selalu menegaskan bahwa dirinya adalah seorang mama bagi Evan.


"Tanyakan lah mama," kata Evan. Tante Tiara tertegun mendengar sebutan Evan untuk dirinya. Tante Tiara terharu. Dia menangis bahagia karena Evan akhirnya mengakui dirinya sebagai mama kandungnya.


"Terima kasih sayang," kata Tante Tiara menghambur ke pelukan putranya itu. Evan membalas pelukan itu dengan erat juga. Sama seperti tante Tiara, Evan juga menitikkan air mata bahagia. Selama ini, dirinya juga bisa merasa kasih sayang tante Tiara. Di Masa anak anak dan masa remaja. Evan bisa mengingat jika tante Tiara dan Gunawan selalu memberikan perhatian kepada dirinya. Hanya tempat yang terpisah. Tapi dari pakaian, mainan apa yang didapatkan Danny. Evan juga mendapatkannya dari tante Tiara dan Gunawan.


Mereka berpelukan sangat lama dengan air Mata bahagia yang masih mengalir dari mata masing masing. Jika ditanya, apakah Evan bahagia mempunyai mama kandung seperti tante Tiara. Evan sangat senang. Apalagi mengingat keakraban antara tante Tiara dan Anggita. Hubungan dua wanita itu terlihat natural. Mereka mempunyai banyak kesamaan sifat.


"Maafkan mama," kata Tante Tiara setelah mereka saling melepaskan pelukan itu.


"Tidak Ada yang perlu dimaafkan mama. Aku sudah ihklas menjalani hidup ini. Apapun itu," jawab Evan.


Mendengar perkataan Evan. Tante Tiara bukannya merasa senang tapi hatinya masih diliputi kesedihan. Sebenarnya, jika diperhatikan. Hidup seorang Evan itu termasuk hidup yang penuh cobaan. Mulai dari kecil dia sudah terpisah dari orang yang seharusnya menyayangi dirinya. Dan setelah dewasa seperti ini. Dia harus menghadapi liku liku kehidupan yang tidak biasa.

__ADS_1


"Semoga keikhlasan kamu mendatangkan kebahagiaan yang sejati bagi dirimu nak."


"Amin. Semoga ma," jawab pria itu sambil menganggukkan kepalanya.


"Evan, mama ingin bertanya tentang perasaan kamu kepada Anggita saat ini. Maaf, jika pertanyaan mama membuat kamu kembali bersedih," kata Tante Tiara pelan. Dia takut jika pertanyaan membuat Evan tersinggung atau kembali bersedih.


"Aku yang bodoh ma. Aku tidak bisa mengenali diri sendiri. Aku tidak bisa mengenali perasaan aku sendiri. Dan itu membuat aku Dan Anggita tersakiti."


"Maksud kamu apa nak?"


"Ternyata sudah lama aku menginginkan dirinya tetap bersama aku. Tapi aku selalu dihantui oleh Adelia. Aku bodoh. Aku tidak bisa tegas kepada Adelia dan diriku sendiri. Ditambah desakan mama Anita membuat aku semakin menginginkan perceraian itu. Tapi lihatlah setelah kami bercerai ma. Aku seperti kehilangan separuh jiwaku."


Tante Tiara bisa melihat kesedihan putranya itu. Walau Evan tidak mengatakan secara jelas. Tante Tiara bisa menangkap jika Evan ternyata benar benar kehilangan Anggita.


"Kalau kamu bertemu, apa yang akan kamu lakukan?"


Tante Tiara menanyakan itu supaya Evan lebih terbuka lagi.


"Aku tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan wanita baik seperti Anggita ma. Jika mama bertanya apa yang aku lakukan. Aku pun tidak bisa mengetahuinya. Yang pasti di setiap tarikan nafasku. Aku ingin bertemu dengan dirinya."


Tante Tiara menganggukkan kepalanya. Dia sudah mengetahui perasaan putranya itu yang sesungguhnya. Tapi untuk memberitahukan penunjuk keberadaan Anggita yang dari Sisil, Tante Tiara masih menundanya terlebih dahulu. Tante Tiara berencana menyelidiki penunjuk itu terlebih dahulu. Jika penunjuk itu jelas. Tante Tiara akan memberitahukan kepada Evan. Tante Tiara masih ragu. Anak kecil memang tidak pintar berbohong. Tapi informasi dari anak kecil seperti Sisil belum tentu akurat. Itulah sebabnya tante Tiara masih menyembunyikan penunjuk itu. Dia tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Evan jika ternyata penunjuk itu tidak akurat.


"Mama mendoakan yang terbaik untuk hubungan kamu dan Anggita sayang. Banyak rumah tangga yang bercerai tetapi rujuk kembali. Mama berharap hubungan kalian salah satunya."


"Terima kasih ma, semoga doa mama terkabul. Dan aku juga menginginkan seperti itu. Aku dan Adelia sudah tidak ada hubungan. Ternyata wanita itu adalah iblis betina yang tidak bertanduk."


"Banyak banyaklah bersyukur Evan. Apa yang kamu alami Ada hikmahnya. Kedatangan Anggita di keluarga kita bisa membuat kamu mengetahui sifat asli dari wanita yang kamu anggap baik selama ini. Tidak tahu apa yang terjadi jika seandainya wanita itu menjadi istrimu."


"Benar ma," jawab Evan singkat. Dia juga memikirkan hal yang sama dengan yang dikatakan oleh tante Tiara.


Pembicaraan putra dan mama itu semakin berkembang bukan hanya seputar tentang Anggita. Ada Ada saja topik pembicaraan membuat dua orang itu lupa waktu. Mereka seakan menebus waktu yang terlewat karena jarang berbicara berdua seperti ini dengan waktu yang lumayan lama.


"Pekerjaanku sudah selesai tadi mama. Ayo, aku antar kalian pulang," kata Evan. Tante Tiara mengembangkan senyumnya mendengar perhatian dari putra pertamanya itu.


"Aku bawa Mobil sayang."


"Ya sudah. Aku yang bawa mobil mama. Aku akan menginap di rumah mama malam ini."


"Terima kasih sayang," kata Tante Tiara senang. Karena terlalu senang. Tante Tiara kembali memeluk Evan.


"Ma..ma, siku tangan kamu menyakiti aku. Augh....augh..."


Evan merintih kesakitan. Tante Tiara juga langsung melepaskan pelukan itu. Dia merasa heran. Siku tangannya tidak menyentuh perut Evan. Tapi Evan benar benar terlihat kesakitan.


"Ada apa nak?" tanya tante Tiara masih terlihat heran.


"Sakit ma."


"Masih sakit?"


"Tidaklah ma. Kan tangan mama sudah terlepas dari tubuhku. augh..."


"Sakit lagi?"


"Sedikit ma. Tapi kok aneh gini ya mama. Tangan mama sudah tidak memeluk aku lagi. Tapi mengapa masih sakit."

__ADS_1


"Rasanya bagaimana?"


"Rasanya seperti ada yang meninju perut aku ma."


"Ah, kamu halu itu. Hanya Kita berdua yang disini. Mana ada yang meninju perut kamu.


"Tapi benar loh ma. Ini masih terasa sedikit. Tapi bukan sakit lagi. Geli geli gitu mama." Evan tertawa karena merasakan di area perutnya terasa geli.


"Abaikan saja. Mungkin cacing kamu yang minta makan. Nanti, lama lama juga hilang," kata Tante Tiara kemudian tertawa melihat Evan yang mengelus perutnya persis seperti wanita hamil.


"Kamu persis seperti wanita yang sedang hamil."


Tante Tiara tertawa terbahak bahak. Evan bukannya menghentikan tangannya yang mengelus kini pria itu justru mencondongkan perutnya ke depan sehingga mirip seperti orang hamil. Tidak lupa tangannya masih saja mengelus perutnya.


"Tinggal pakai daster," kata Tante Tiara. Perkataan mamanya membuat Evan juga tertawa. Tapi seketika Evan terdiam.


"Mama, kalau Anggita tidak keguguran. Perutnya pasti sudah kelihatan ya sekarang."


"Jangan bersedih lagi nak. Sekarang yang terpenting. Kamu tetap berusaha mencari keberadaannya. Mama akan membantu kamu."


Di jam yang sama di tempat yang berbeda. Anggita juga merasakan pergerakan janinnya tidak seperti biasanya. Janin itu sangat aktif membuat Anggita meringis tidak bersuara.


"Ada apa nak?" tanya mama Feli yang duduk di hadapannya. Anggita sedang menulis daftar barang barang yang harus dia belanjakan besok untuk keperluan pembukaan kafenya lusa.


"Perut aku sedikit sakit ma. Janinku sangat aktif bergerak," jawab Anggita.. Kemudian kembali meringis karena pergerakan janin itu.


"Sebaiknya kamu periksa dulu Nak. Akhir akhir ini kamu terlihat sangat kelelahan. Lusa adalah pembukaan kafe milikmu. Sebaiknya kamu ke dokter sekarang. Kamu bisa minta disuntik vitamin. Supaya tubuh kamu tetap fit dan janin kamu juga sehat."


"Haruskah itu mama?"


"Harus nak. Apalagi selama Kita dua bulan di tempat ini. Kamu belum pernah periksa kehamilan. Ayo, mama temani kamu."


"Mama di rumah saja mama. Aku bisa sendiri," jawab Anggita. Apa yang dikatakan oleh mama Feli masuk akal baginya. Selama dua bulan ini, Anggita terlalu sibuk merancang kafe Dan sibuk di platform tempatnya bekerja membuat Anggita melupakan jadwal periksa kehamilan yang seharusnya dilakukan setiap bulan.


Jarak rumahnya ke rumah sakit yang lumayan dekat membuat Anggita memutuskan berjalan kaki ke rumah sakit. Hanya lima belas menit berjalan kini Anggita sudah mendaftarkan diri menjadi pasien ibu hamil di dokter spesialis kandungan.


Karena terlalu lama datang, Anggita mendapatkan nomor antrian paling terakhir. Itu tidak masalah bagi Anggita. Kini wanita hamil itu sudah duduk di bangku antrian. Matanya yang dapat menangkap kemesraan para pasangan suami istri yang juga mengantri tidak membuat dirinya merasa minder.


Tapi tidak dengan hatinya. Hatinya menjerit sedih karena dirinya dan janinnya menjalani takdir tanpa seorang laki laki yang disebut sebagai suami sebagai pelindung mereka. Anggita mengelus perutnya. Dia bertekad dalam hati jika tanpa Evan. Hidup mereka akan bahagia nantinya.


Anggita beranjak dari duduknya setelah namanya dipanggil. Kini bangku antrian itu sudah kosong.


"Silahkan duduk bu," kata sang dokter setelah pintu ditutup kembali oleh perawat. Dokter itu hanya sekilas melihat wajah Anggita dan kembali fokus dengan buku dan pulpen yang Ada atas meja itu.


"Anggita duduk. Sebagai seorang pasien. Dia menunggu sang dokter yang masih serius menulis.


"Maaf, saya membuat anda menunggu. Kamu...."


"Dokter."


Anggita dan dokter itu sama sama terkejut. Dokter yang Ada di hadapan Anggita saat ini adalah dokter yang membantu Anggita empat bulan yang lalu menyakinkan Evan akan keguguran itu.


"Kita bertemu lagi bu. Maaf. Saya lupa dengan nama ibu."


"Anggita," jawab Anggita cepat sambil melihat nama dokter itu yang Ada di dada sebelah kanannya.

__ADS_1


"Angga."


"Sudah tahu dokter." Dokter Angga tersenyum. Bagaimana mungkin Anggita lupa kepada dokter yang sudah membantu dirinya untuk meyakinkan Evan jika dirinya keguguran.


__ADS_2