Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 143


__ADS_3

Danny memperhatikan Nia dan Alex yang berjalan bersebelahan sambil berbicara. Ada denyutan nyeri di hatinya melihat Nia bersama pria lain yang akan menjadi suaminya empat hari lagi.


Danny menyandarkan tubuhnya di depan mobil miliknya itu. Dia akan tetap berdiri di tempat itu menunggu Nia dan calon suaminya. Mengingat bagaimana, Alex memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Nia. Tentu saja Danny tidak senang. Dia yang bersusah payah mencari keberadaan wanita itu tapi orang lain yang mendapatkannya.


Danny mengacak rambutnya frustasi dan menendang kerikil kerikil sebagai pelampiasan kekesalannya.


"Mungkinkah aku sudah jatuh hati kepada kamu Nia," gumam Danny sambil mendongak ke langit dengan mata yang terpejam. Ternyata informasi tentang pernikahan Nia dan melihat sendiri Nia dengan calon suaminya bisa membuat Danny hampir gila.


Kini situasi menjadi terbalik. Kalau dulu Nia yang mengejar dirinya meminta pertanggungjawaban kini dirinya yang mengejar Nia untuk menawarkan pertanggungjawaban.


Danny kini menggigit ibu jarinya sambil memikirkan cara untuk membuat Nia kembali kepadanya tanpa paksaan. Danny berjanji dalam hati tidak akan menyerah sebelum ada kata sah dalam hubungan Nia dan calon suaminya. Terkesan egois memang tapi itu yang diinginkan Danny saat ini.


"Semoga cinta, berpihak kepadaku," gumam Danny dalam hati. Dia berharap kisahnya berakhir seperti kisah Evan dan Anggita yang kini sudah bahagia dan saling mencintai. Jika Nia bersedia menerima pertanggungjawaban dari dirinya. Danny berjanji akan memperlakukan wanita itu dengan baik.


Danny menghayal indah. Dia tidak menyadari jika kisah manusia berbeda beda. Anggita dan Nia memang bersahabat. Tapi mereka sangat jauh berbeda dalam sikap, selera dan yang lainnya.


Danny mengembangkan senyumnya setelah beberapa rencana tersusun di otaknya untuk membuat Nia bersedia menerima pertanggungjawaban.


Tidak jauh dari tempat Danny berdiri. Nia dan Alex sedang berdiri sambil berdoa di depan pusara bayi laki laki Nia. Setelah selesai berdoa Nia tidak bisa menahan air matanya ketika mengingat bagaimana wajah bayinya itu untuk pertama dan terakhir dirinya melihat wajah pucat sang bayi.


Alex menepuk pelan berkali Kali pundak calon istrinya untuk memberikan penguatan. Dia tidak melarang calon istrinya menangis karena Alex merasa dengan menangis bisa mengurangi beban Nia selama ini.


"Sudah, sudah cukup. Jangan lagi menangis. Kelamaan menangis hanya membuat kepala kamu sakit," kata Alex melihat Nia tidak kunjung berhenti menangis. Alex bahkan mengulurkan tangannya mengusap wajah Nia.


"Lex, tolong jaga rahasia tentang Naya," kata Nia setelah wanita itu berhenti menangis.


"Sampai kapan kita merahasia Naya dari ayahnya Nia?" tanya Alex. Bukan dirinya keberatan jika Naya menjadi tanggung jawabnya. Tapi Alex merasa jika Naya dan Danny berhak mengetahui jika mereka adalah ayah dan putrinya.


"Ada saatnya nanti Naya dan ayah biologisnya mengetahui ikatan diantara mereka. Tapi untuk saat ini. Biarkan Naya hanya milik kita. Entah mengapa, aku belum ingin memberitahukan tentang putrinya itu ke pihak Danny," kata Nia.


"Baiklah, aku ikut apapun kemauan kamu. Kamu adalah bundanya dan aku sangat yakin kamu mengetahui apa yang terbaik untuk Naya," kata Alex. Dia bisa menangkap apa alasan Nia dibalik menyembunyikan Naya untuk saat ini.


Nia kembali menatap pusara bayi laki lakinya. Kemudian mengajak Alex pergi dari tempat itu. Berlama lama di pusara bayinya hanya akan membuat Nia mengenang masa Masa sulit yang dihadapi di masa lalu.


Ternyata alam kurang bersahabat bagi Nia dan Alex. Baru saja mereka keluar dari pintu masuk pemakaman itu. Langit mendadak mendung dan petir serta kilat saling bersahutan. Dan yang membuat Nia semakin kesal bukan karena cuaca yang kurang baik itu tapi Danny masih berdiri tegak di depan mobil miliknya menunggu kedatangan mereka.


"Nia," panggil Danny. Nia hendak membuka pintu mobil akhirnya menoleh kepada laki laki itu.


"Untuk berbicara di tempat ini rasanya tidak mungkin. Sebaiknya Kita mencari tempat ngobrol," kata Alex yang sudah berdiri berhadapan dengan Danny. Nia tidak menanggapi. Wanita itu membuka pintu mobil dan langsung masuk. Nia berpikir, Biarlah dua laki laki itu yang menentukan tempat mereka berbicara sesuai dengan keinginan Danny.

__ADS_1


Dari dalam mobil. Nia dapat melihat Danny dan Alex berbicara kemudian berjalan ke arah mobil masing masing.


"Dia yang akan mengikuti kita," kata Alex. Nia terdiam. Tidak ada gunanya dirinya membantah karena Alex sudah menyetuh keinginan Danny.


"Menurut kamu. Kita ke kafe saja atau resto," tanya Alex.


"Terserah kamu saja lex."


"Kafe saja ya."


"Ya."


"Jangan ketus gitu donk sayang. Kamu tidak boleh menganggap dia musuh. Belajarlah memaafkan dia. Karena bagaimana pun kamu membenci dia. Ada Naya diantara kalian. Jangan membenci terlalu berlebihan. Semua yang berlebihan itu tidak baik."


"Aku tidak pernah menganggap dia musuh. Tapi melihat dia akan membuka Luka lamaku."


"Itu karena kamu kurang bersyukur. Andaikan kamu bersyukur memiliki aku. Kamu pasti bisa bersikap wajar di depannya."


"Aku bersyukur memiliki kamu lex. Sungguh. Tapi rasa syukur aku tidak bisa melupakan begitu saja kisah masa laluku yang pahit."


Alex tersenyum. Kata katanya hanya untuk memancing Nia berkata jujur tentang dirinya. Melihat wajah Nia yang terlihat serius. Alex tentu saja percaya.


"Mana ku tahu dan gak mau tahu."


"Iyalah kamu gak tahu. Tapi nanti kan kamu tahu juga."


"Kita bahas yang lain saja ya lex."


Alex tertawa mendengar perkataan Nia. Tidak ingin memaksa Nia membicarakan pria masa lalu calon istrinya itu akhirnya Alex mengalihkan pembicaraan ke topik lain.


Hanya beberapa menit mereka berkendara. Alex menghentikan mobilnya di depan sebuah kafe. Tidak lama kemudian mobil Danny menyusul berhenti di depan kafe tersebut.


Alex menggandeng tangan Nia masuk ke dalam kafe seakan memberitahukan kepada Danny bahwa mereka tidak akan bisa dipisahkan lagi. Sedangkan Danny harus meredam emosinya sendiri melihat pemandangan yang tidak enak di matanya itu.


"Silahkan duduk," kata Alex. Mereka menempati meja yang kurang strategis di kafe itu.


Danny mendapatkan tubuhnya di kursi di sebelah Alex. Matanya tidak lepas dari wajah Nia. Alex bisa memperhatikan tatapan Danny akan calon istrinya itu dan dirinya tentu saja tidak menyukainya. Untung saja, Alex sudah mengamankan tempat duduk Nia supaya tidak berdekatan duduk dengan Danny.


Tiga orang itu sudah duduk di meja itu tapi tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara. Kalau pelayan tidak datang menanyakan pesanan. Mereka tidak akan bersuara. Danny yang ingin membicarakan sesuatu hal yang penting dengan Nia. Ternyata pria itu masih belum mengatakan hal apa yang ingin dia bicarakan. Alex diam karena menunggu Danny yang memulai pembicaraan. Sedangkan Nia, selain tidak mengetahui hal penting apa yang ingin dinikahi Danny dengan dirinya. Nia juga merasa malas berhadapan apalagi dengan berbicara dengan Danny. Kalau bukan karena saran Alex. Bisa dipastikan dirinya tidak akan duduk di tempat itu.

__ADS_1


"Bicara lah Danny. Apa yang ingin kamu bicarakan dengan calon istri ku," kata Alex. Akhirnya pria itu mencairkan suasana karena Danny masih betah terdiam. Alex bisa melihat sejak tadi, pria itu sesekali menatap Nia.


"Maaf sebelumnya Alex. Bolehkah aku berbicara dengan Nia berdua saja?" tanya Alex setelah berdehem terlebih dahulu. Alex menatap dan mengerutkan keningnya mendengar permintaan Danny itu sedangkan Nia terlihat terkejut dan langsung menatap wajah calon suaminya. Di bawah meja. Nia menggenggam erat tangan Alex sebagai pertanda jika dirinya tidak ingin berbicara berduaan dengan Danny.


"Mengapa harus berdua?" tanya Alex. Dia menatap Danny penuh tanda tanya. Pertanyaannya itu jelas menunjuk jika dirinya keberatan meninggal calon istrinya di meja itu dengan pria lain.


"Yang akan aku bisa ini. Adalah rahasia. Tidak boleh ada orang lain yang mendengarnya."


"Orang lain?. Mengapa kamu mengatakan aku orang lain atas calon Istriku?.


Alex tersinggung dengan perkataan Danny yang mengatakan dirinya orang lain. Jika ini tidak di tempat keramaian. Bisa saja Alex akan mendobrak meja itu karena kemarahannya.


"Maksud ku pembicaraan ini antara aku dan. Nia."


"Jika kamu tidak nyaman berbicara dengan Nia dengan keberadaan aku di sini. Sebaik kami pulang saja," kata Alex. Pria itu berdiri dan menarik tangan Nia dengan pelan supaya wanita itu mengikuti dirinya berdiri juga.


"Duduk lah dulu. Aku mohon," kata Danny juga menahan tangan Alex supaya tidak melangkah. Akhirnya Alex duduk kembali.


"Alex, aku menduga. Sebelum saat ini tiba. Kamu sudah mengetahui kisah masa lalu Nia tentang bayi laki laki yang baru saja kalian kunjungi tadi," kata Danny. Pria itu berharap dengan mengetahui kisah masa lalu Nia. Alex berubah pikiran dan tidak jadi menikahi Nia.


"Dugaan kamu benar. Bahkan ketika dirinya hamil dengan semua kesulitannya. Aku mengetahui secara mendetail. Bisa saja aku yang lebih mengetahui kondisi janin dan ibunya dibandingkan kamu sebagai pria ayah dari janin tersebut.


Perkataan Alex sangat tepat sasaran menghunjam ulu hati milik Danny. Perkataan Alex mengingatkan Danny akan dirinya yang mengabaikan janinnya sendiri. Danny tentu saja tidak mengetahui jika Alex dan Nia sudah bersahutan lama sebelumnya.


"Jadi, apa maksud kamu menceritakan dugaan kamu ini kepadaku."


"Aku hanya ingin Nia mengetahui penyesalan ku yang sangat dalam."


"Lalu apa hubungannya penyesalan kamu dengan Nia.


"Aku menyesal karena di Masa lalu. Aku ingin menikahi Nia."


"Kurang ajar kamu," kata Alex sambil meninju meja belajar itu dengan tangannya sendiri. Alex tidak terima mendengar perkataan Danny yang ingin menikahi calon istrinya.


"Mari kita berjuang secara sehat. Rencana pernikahannya kalian empat hari lagi kan.. Jadi Biarlah selama empat hari itu in aku membuktikan jika diriku tulus menyayangi Nia."


Alex semakin tidak menyukai perkataan Danny. Perkataannya jelas menantang Alex untuk bersaing mendapatkan Nia. Pria itu marah tapi karena mereka di tempat keramaian Alex hanya menatap Danny dengan tajam dan tangan terkepal dia di bawah meja.


"Biarkan kami berbicara berdua saat ini Alex,"

__ADS_1


__ADS_2