Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 150


__ADS_3

Nia mengembangkan senyumnya melihat riasan di wajahnya. Dari cermin besar yang ada di hadapannya Nia bisa melihat jika dirinya sangat cantik. Riasan itu benar benar membuat dirinya tampil beda dan segar. Hari ini adalah hari yang ditentukan untuk dirinya dan Alex mengikrarkan janji suci pernikahan. Sejak tadi malam, Nia dan keluarganya sudah menginap di hotel. Sedangkan Alex dan keluarganya akan datang pagi ini.


Nia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam sembilan. Sesuai pembicaraan mereka. Alex dan keluarganya sudah tiba di gedung hotel itu saat ini. Tapi tanda tanda kedatangan Alex belum juga ada di sekitar gedung tersebut.


Nia hendak menghubungi Alex tapi seseorang yang merias dirinya tadi meminta Nia untuk segera berganti pakaian. Nia menurut tapi hatinya masih memikirkan keberadaan Alex saat ini.


Nia kini sudah berganti pakaian. Kebaya model kutu baru dengan rok batik kini sudah melekat di tubuhnya. Wanita itu sangat terlihat anggun mengenakan perpaduan kebaya putih dan batik itu. Sedangkan stelan dengan warna yang sama dengan kebaya Nia milik Alex masih terpajang di manekin yang ada di ruangan itu juga.


Nia menarik nafas panjang. Hatinya berdebar menantikan waktu yang tinggal satu jam lagi bagi mereka berdua untuk mengikrarkan janji pernikahan. Tapi yang lebih membuat hatinya berdebar adalah pesan Alex yang mengatakan dirinya akan segera tiba di gedung itu.


Nia merasa lega membaca pesan itu. Nia menduga Alex dan keluarganya terkena macet sehingga terlambat tiba di gedung itu.


"Sabar ya mbak. Sebentar lagi calon suamiku akan tiba," kata Nia kepada perias itu. Nia bisa menangkap kegelisahan sang perias karena waktunya tersita untuk menunggu Alex. Sesuai kesepakatan mereka. Perias itu juga harus merias wajah Alex dengan riasan tipis.


"Oke mbak," jawab perias itu lesu.


Selain calon pengantin. Nia juga menjalankan perannya sebagai ibu di menit menit menjelang pernikahan itu. Nia menghubungi Jessi supaya tidak lupa memberikan Naya susu. Jessi berada di ruangan yang lain, Nia sengaja tidak meminta Jessi membawa Naya ke ruangan itu karena dirinya khawatir Naya akan minta digendong olehnya yang bisa merusak tatanan rambut maupun riasan wajahnya.


Nia sudah menunggu lima belas menit dari pesan yang dikirimkan oleh Alex tapi pria itu belum muncul juga. Kesal dan gelisah bercampur di hati Nia. Dia hampir menangis menyadari jika waktu mereka tinggal setengah jam lagi tapi pengantin prianya belum juga menampakan dirinya. Bahkan salah satu kerabatnya sudah bolak balik datang ke ruangan itu menanyakan tentang Alex. Nia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan lesu.


"Apa maksud dari semua ini lex," tanya Nia dalam hati. Wanita itu mendongak menatap langit langit ruangan itu karena air matanya hampir turun. Dalam situasi kesal dan gelisah seperti ini, Nia masih berpikir untuk menjaga riasannya. Paham akan apa yang dialami oleh Nia, sang perias itu memberikan tissue kepada Nia.


"Jangan terlalu dipikirkan mbak. Terlambat setengah jam dari waktu yang ditentukan masih wajar. Bukan hanya mbak yang mengalami seperti ini," kata perias itu membuat hati Nia sedikit tenang. Nia berpikir, tidak apa apa jika terlambat yang penting Alex dalam keadaan baik tiba di tempat itu.


"Kenapa lama sekali lex," tanya Nia ketika Alex sudah muncul di ruangan itu. Alex tentu saja masih mengenakan pakaian biasa. Nia terlihat sangat lega melihat wujud Alex sudah ada di depannya.


Alex tersenyum manis tapi tidak menjawab pertanyaan Nia. Pria itu mendekati Nia dan mengelus wajah Nia sebentar.


"Kamu sangat cantik Nia," puji Alex. Pria itu menatap wajah Nia dengan lekat. Nia terlihat tersipu atas pujian calon suaminya itu. Nia berdiri dan menyuruh Alex duduk di tempat duduk yang dia tempati sebelumnya.


"Duduklah lex, kita tidak banyak waktu lagi. Biarkan mbak ini merias wajah kamu," kata Nia. Tapi lagi lagi Alex hanya menatap wajah Nia dan tidak langsung duduk di bangku itu.


"Cepat lex, nanti kita terlambat," desak Nia lagi. Nia menatap Alex dengan heran karena Alex tidak juga duduk tapi justru meminta perias itu untuk keluar dari ruangan itu.


"Sebelum waktu itu tiba. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu Nia," kata Alex pelan. Nia mengerutkan keningnya.


"Apa yang hendak kamu bicarakan lex. Beberapa hari ini Kita mempunyai waktu bersama tapi kenapa di menit menit menjelang pernikahan kita kamu membicarakan hal itu."

__ADS_1


"Apa kamu benar benar mencintaiku?" tanya Alex menatap lekat mata calon istrinya.


"Kamu pikir. Kita ada di tempat ini. Karena apa?" jawab Nia kesal. Bisa bisanya hanya menanyakan hal itu mereka akan terlambat melangsungkan pernikahan. Alex tertawa mendengar jawaban Nia.


"Kita berada di tempat ini untuk menentukan takdir Kita," jawab Alex pelan.


"Nah, itu kamu tahu. Jadi tunggu apa lagi. Cepat lah bersiap. Lebih baik menunggu daripada ditunggu. Tapi sepertinya gara gara kamu. Kita bukan menunggu tapi malah ditunggu."


"Bukan kita yang ditunggu tapi kalian."


"Maksud kamu?" tanya Nia bingung. Dia menangkap ada yang aneh dalam perkataan Alex.


"Nia, maafkan aku."


"Maaf untuk apa?. Nia semakin bingung.


"Hatiku belum mantap untuk menikah hari ini."


Nia merasakan kakinya hampir tidak bisa menopang tubuhnya. Nyawanya seperti tercabut dari raga. Demi apapun Nia hampir tidak bisa bernafas mendengar perkataan Alex itu. Untung saja Nia langsung berpegangan ke bangku sehingga dirinya tidak terjatuh. Dia jelas mendengar apa yang dikatakan oleh Alex.


"Bercanda, jangan keterlaluan lex," kata Nia. Wanita itu berharap jika apa yang dikatakan oleh Alex sesuatu prank buat dirinya.


"Jangan lanjutkan lex," kata Nia dengan mengusap air matanya. Cukup Alex menghancurkan perasaannya saat ini dan tidak perlu mengungkit masa lalunya. Nia merasa jika perkataan Alex hanya untuk membenarkan keputusannya. Hatinya sangat sakit mendengar keputusan sepihak dari Alex. Tadi malam mereka masih berkomunikasi dengan baik tapi pagi ini Alex sudah menghancurkan impiannya.


"Mungkin saat ini. Kamu berpikir jika keputusan ini adalah menyakitkan tapi aku yakin suatu saat nanti keputusan aku ini akan mengantarkan kamu ke masa depan yang penuh kebahagiaan."


Nia tidak memperdulikan perkataan Alex. Wanita itu sibuk dengan sakit hati yang kini lebih sakit dari apapun yang selama ini dia rasakan. Bahkan dengan penolakan Danny dulu hanya membuat dirinya menangis. Tapi pembatalan pernikahan ini melemahkan tubuh dan hatinya.


Bahkan ketika Alex, keluar dari ruangan itu. Nia tidak berusaha menahan karena dirinya sudah sangat membenci pria itu. Dia yang menawarkan kebahagiaan tapi dia yang menghancurkan kebahagiaan itu.


"Ternyata kamu sangat jahat dari siapapun yang aku kenal lex, mengapa kamu tega?" umpat Nia sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Dia pernah berpikir jika menerima Alex adalah awal kebahagiaan dirinya dan Naya tapi saat ini dirinya justru terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam dan penuh bebatuan tajam.


Nia terjatuh dan terluka. Lukanya tidak mengeluarkan darah tapi sakitnya melebihi pisau yang menghunjam ulu hatinya. Tidak ada yang dipikirkan wanita itu selain rasa sakit itu.


Nia memandangi wajahnya di cermin yang masih cantik. Air matanya tidak membuat riasan itu langsung pudar. Nia mengusap air matanya itu dengan dada yang naik turun karena terisak.


Di luar ruangan itu. Alex juga menitikkan air matanya. Dia sangat sadar jika keputusannya ini sangat melukai hati Nia. Alex mencintai wanita itu. Dan rasa cinta itulah membuat dirinya menyerah. Alex dapat melihat jika ada pria lain yang lebih mencintai Nia dibandingkan dirinya. Pria itu adalah Danny. Sebagai laki laki, apa yang dilakukan oleh Danny untuk memperjuangkan Nia dan Naya adalah sesuatu yang luar biasa menurutnya. Jika dirinya yang menjadi Masa lalu Nia. Mungkin dirinya tidak bisa melakukan hal itu. Sangat jarang laki laki bersedia menurunkan egonya dan bahkan menurunkan harga dirinya sebagai laki laki demi pertanggungjawaban kesalahannya di masa lalu. Sebagai sahabat Nia, Alex tentu saja mengetahui masa lalu Nia itu secara mendetail.

__ADS_1


Selain itu Alex juga bisa melihat jika Nia juga belum bisa melupakan Danny. Sembunyi dari Danny, Nia hanya berusaha melupakan pria itu. Nia bersedia menerima dirinya hanya karena merasa nyaman bukan karena cinta. Nia tidak bersedia berdekatan dengan Danny. Karena Nia tidak bisa menetralkan detak jantungnya jika berdekatan dengan Danny. Sebagai calon suami, Alex memperhatikan gerak gerik Nia di dua kali pertemuan mereka dengan Danny. Dan pertemuan kemarin, Alex menyimpulkan jika Nia hanya tersesat dalam kebencian sementara kepada Danny.


Setelah berdiam diri sebentar di depan pintu itu. Alex menghubungi seseorang dan mengarahkan orang itu ke ruangan sesuai dengan nomor yang tertempel di pintu ruangan tersebut.


"Mengapa kamu belum siap siap lex," tanya pria itu heran melihat penampilan Alex. Alex tersenyum.


"Aku titip Nia, Danny. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini," kata Alex membuat Danny terkejut. Dia ada di gedung ini saat ini karena Alex yang mengundang dirinya.


"Apa maksud kamu?" tanya Danny tajam. Dia tidak langsung senang mendapatkan amanah itu dari Alex.


"Aku tidak ingin egois. Aku tidak ingin membangun kebahagiaan dia atas air mata orang lain apalagi air mata lebih dari satu orang. Aku takut suatu hari nanti menerima karma dari keegoisanku," jawab Alex. Dia jelas mengetahui dan melihat sendiri bagaimana Danny, Sisil dan keluarga Danny lainnya menginginkan Danny dan Nia bersatu. Mempertahankan keegoisannya bukan hanya Danny yang terluka tapi banyak orang yang terluka dan putus harapan. Alex meninggalkan Danny setelah mengucapkan hal itu.


Danny menggerakkan tangannya membuka pintu ruangan itu. Hatinya sangat sakit melihat Nia duduk di bangku dengan menelungkupkan tubuhnya ke meja rias. Tubuhnya yang berguncang menandakan wanita itu masih menangis.


Tidak Ada yang di pikiran Danny saat ini selain ingin menenangkan Nia. Danny masuk ke dalam ruangan itu dan seketika itu juga Nia duduk tegak. Melihat Danny yang datang. Nia beranjak dari duduknya dan berdiri.


Danny langsung memeluk Nia tanpa mengucapkan apapun. Nia meronta tapi Danny menenangkan Nia dengan menepuk punggung wanita itu berulang ulang.


"Menangis lah jika itu yang membuat kamu lebih tenang," kata Danny. Nia tidak meronta lagi dalam dekapan Danny. Dan benar saja, wanita itu masih menangis.


"Apa yang kamu lakukan sehingga Alex membatalkan pernikahan kami?" tanya Nia tajam setelah melepaskan diri dari pelukan Danny. Danny menggelengkan kepalanya. Dia tidak melakukan hal apapun bahkan dirinya sudah mengikhlaskan. Jika akhirnya seperti ini yang terjadi, Danny tidak mengetahui apa alasan pria itu membatalkan pernikahan.


"Danny tidak melakukan apapun Nia. Alex membatalkan pernikahan kalian murni dari hatinya sendiri," kata Anna yang entah kapan berada di ruangan itu. Nia terdiam dan menoleh ke arah pintu dimana salah satu keluarganya sedang memasuki ruangan itu.


"Nia, apakah sudah siap. Ini sudah terlambat lima belas menit," kata wanita itu. Wanita itu adalah tante Nia yang suaminya akan menjadi wali nikah bagi Nia. Nia tentu saja tidak menjawab karena dirinya tidak tahu harus menjawab apa.


"Kenapa kamu menangis. Mana calon suami kamu. Sebaiknya riasan kamu itu diperbaiki," kata Tante itu sambil mendekati Nia.


"Tidak ada pernikahan tante. Suruh saja mereka semua pulang. Alex membatalkan pernikahan ini," kata Nia. Nia kembali menangis. Rasa sakit itu tidak juga hilang dari hatinya.


"Kurang ajar si Alex itu. Kalau berniat membatalkan pernikahan ini mengapa tidak jauh jauh hari sebelumnya. Bagaimana kamu memilih laki laki Nia?" kata Tante itu marah. Pihak keluarga Nia sudah kecewa dengan kehamilan Nia di luar nikah kini mereka harus kembali kecewa karena pernikahan itu dibatalkan di Hari h pernikahan. Wanita itu juga menghubungi suaminya supaya secepatnya datang ke ruangan itu.


"Alex membatalkan pernikahan," kata Tante itu frustasi setelah suaminya tiba di ruangan itu.


"Membatalkan pernikahan?" tanya pria itu memperjelas pendengarannya. Ketika istrinya menganggukkan kepalanya. Pria itu sampai terbatuk batuk karena terkejut. Tapi kemudian pria itu menatap Nia dengan sedih. Dia mendekati keponakannya dan memeluk Nia.


"Inilah yang dinamakan karma Nia. Kamu pernah membatalkan pernikahan dengan pria lain dan saat ini kamu menerima apa yang kamu perbuat dulu. Kalau dulu mereka yang malu kini kita yang menanggung malu. Terima ini sebagai ujian hidup dan Pembelajaran," kata pria itu lembut sambil mengelus kepala Nia yang masih menangis. Beban pikiran nya semakin bertambah. Tadi dirinya sibuk mengusai rasa sedihnya kini tanpa memikirkan dampak dari pembatalan pernikahan itu. Ternyata rasa sakit hati itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa malu karena dirinya gagal menikah untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


Awalnya Danny dan Anna tidak mengeluarkan sepatah kata pun melihat Nia dan keluarga itu. Tapi ketika menyinggung pria itu menyinggung rasa malu. Anna merasakan kasihan kepada Nia.


__ADS_2