Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Lamaran


__ADS_3

Pada akhirnya, Anggita minta waktu berpikir. Jika pernikahan itu dilangsungkan lusa maka dia mempunyai waktu satu malam Dan satu hari untuk berpikir. Anggita tidak ingin terburu buru. Dia ingin memantapkan hatinya untuk menikah kembali apalagi pria yang akan dia nikahi nantinya adalah pria yang telah menggoreskan luka.


Evan juga tidak ingin memaksa Anggita. Walau dirinya kini sangat mencintai Anggita tapi Evan ingin Anggita merasa aman terlebih dahulu dengan dirinya baru kemudian menikah kembali. Jika pun Anggita bersedia memenuhi saran Rendra. Evan tentu saja semakin senang.


"Mas, tidak apa apa kan?. Kalau Kita tidak menikahi dulu," kata Anggita. Kini mereka berada di taman belakang rumah nenek Rieta. Menerima Evan kembali dalam hubungan berpacaran ini, Anggita ingin melihat keseriusan Evan untuk memperjuangkan dirinya.


"Tidak apa apa sayang. Tapi jika menikah pun aku pasti sangat senang," jawab Evan. Pria itu tersenyum. Pertanyaan Anggita seakan akan ingin menjaga perasaannya jika Mereka tidak menikah dalam waktu dekat ini. Mereka kini duduk di bangku besi. Anggita menghadap lurus ke depan sedangkan Evan duduk menyamping. Tangan kirinya menyangga kepalanya. Dia sengaja duduk seperti itu supaya bisa menikmati kecantikan wajah kekasihnya walau hanya dari samping.


Senyuman itu tidak lepas dari wajahnya. Walau melihat Anggita dari samping seperti ini. Evan sangat bahagia.


"Jangan dulu ya mas. Kita jalani saja dulu apa adanya," kata Anggita. Dari perkataannya jelas menunjukkan jika Anggita masih ragu untuk melangkah lebih jauh.


"Iya sayang. Kita pacaran dulu dua hari baru langsung menikah." Evan hampir tertawa melihat Anggita hampir menganggukkan kepalanya kemudian mengerutkan keningnya mencerna perkataannya.


"Itu sama saja artinya kita menikah lusa," kata Anggita setelah terdiam sejenak mencerna perkataan Evan. Wanita itu bahkan memajukan bibirnya karena sadar jika Evan berusaha menjebak dirinya dengan kata kata itu.


Evan tertawa terbahak bahak. Melihat Anggita mengerutkan keningnya dan kemudian tersadar akan perkataannya merupakan hal lucu bagi dirinya.


"Apa yang membuat kamu ragu menikah dengan aku secepatnya," kata Evan. Dia ingin memperbaiki diri jika ada hal yang membuat Anggita masih ragu kepadanya.


"Bagaimana kamu menghangatkan ranjang kamu selama kita berpisah mas," tanya Anggita pelan. Dia merasa khawatir setelah mengungkapkan pertanyaan itu. Anggita khawatir Evan tersinggung. Tapi Anggita juga butuh jawaban atas pertanyaan tersebut. Kurang lebih satu tahun mereka berpisah. Dan tidak ada yang tersakiti jika Evan bermain main dengan wanita lain atau wanita pekerja khusus bagian ranjang.


Pernah melayani kebutuhan batin Evan. Anggita hafal betul pria itu akan kebutuhan tersebut. Mereka memang melakukan hubungan suami istri itu tanpa rasa cinta. Tapi Anggita dapat melihat dan merasakan jika mantan suaminya seakan tidak bosan akan kebutuhan itu. Anggita menoleh sebentar ke arah Evan untuk memastikan jika pria itu tidak tersinggung atau marah. Anggita meremas tangannya sendiri menunggu jawaban dari mantan suaminya itu.


Evan tersenyum mendengar pertanyaan Anggita. Dia tidak tersinggung sama sekali. Justru kini terlihat Evan mencium wangi rambut mantan istrinya.


"Jangan seperti ini mas. Bagaimana kalau ada yang melihat," kata Anggita sambil merapikan rambutnya. Dia juga mengedarkan pandangannya memastikan jika tidak ada satu pun pekerja yang sedang di taman itu. Anggita sadar, bahwa berduaan dengan jarak yang dekat bahkan Evan menciumi rambutnya bukan hal yang dibenarkan bagi meraka pasangan mantan suami istri sekalipun saat ini mereka sudah memutuskan berpacaran.


"Biarkan mereka melihat. Hanya mencium rambut kok. Lagipula rambut yang aku cium kan rambut pujaan hatiku," jawab Evan. Dia kini mengelus rambut Anggita.


"Kamu belum menjawab pertanyaan aku mas," kata Anggita tidak sabar mendengar jawaban itu.


"Sejak kamu pergi. Ranjang ku tidak sehangat waktu kamu tidur di sana. Tidak ada kehangatan wanita sama sekali. Yang ada hanya tangisan penyesalan seorang pria bodoh. Aku sangat menyesali semua perbuatan aku. Aku semakin tersiksa karena tidak bisa secepatnya meminta maaf karena kamu sudah pergi. Asal kamu tahu, aku benar benar kehilangan kamu. Dan tidak akan mau lagi kehilangan kamu, Sayang."


Evan mengatakan yang sejujurnya. Selama berpisah dia tidak pernah menyentuh wanita manapun. Pernah khilaf satu kali dengan Adelia itupun hanya sebatas ciuman.


"Jujur akan lebih baik mas. Setidaknya jika hubungan Kita berlanjut ke jenjang pernikahan. Kamu memastikan wanita yang pernah kamu temani atau apapun itu tidak menuntut sebuah janji kepada kamu. Aku siap menerima kenyataan karena satu tahun itu memang Kita sudah sah bukan suami istri," kata Anggita menguji kejujuran mantan suaminya itu.


Bayang bayang kehadiran Adelia di saat rumah tangga mereka tidak dalam keadaan baik saat itu kini terlintas di pikirannya. Jika memutuskan hubungan ini serius nantinya, Anggita tidak ingin ada wanita lain yang masih terikat janji dengan Evan. Tidak asa wanita yang menuntut kebahagiaan seperti yang dilakukan oleh Adelia dulu.


Anggita sadar. Walau mantan suaminya pernah menyakiti hatinya. Anggita tidak bisa memungkiri jika mantan suaminya itu adalah idola para wanita. Bukan hanya kantong saja yang tebal bahkan dikenal sebagai pengusaha muda tapi Evan juga mempunyai tampang yang sangat menarik perhatian para wanita. Tubuhnya tinggi tegap dan kekar. Kulitnya putih dengan wajah yang tampan.


"Baiklah aku akan jujur sekarang," kata Evan. Dia membantu Anggita untuk duduk menyamping menatap dirinya. Anggita menatap wajah Evan. Ada perasaan tidak rela membayangkan kejujuran yang akan dikatakan oleh mantan suaminya itu jika menyangkut seorang wanita.


"Berbicaralah mas. Aku siap mendengarkan.


Evan menarik nafas panjang. Sebelum menceritakan apa yang ingin dia katakan. Evan menatap wajah Anggita dengan lembut.

__ADS_1


"Sekali lagi aku meminta maaf atas semua luka yang aku berikan. Sebelum kita melangkah menyongsong masa depan bersama. Aku akan menceritakan masa lalu yang membuat aku dulu tidak bisa lepas dari masa lalu tersebut. Ini menyangkut Adelia."


Evan akhirnya menceritakan kisah awal dirinya bisa bersama dengan Adelia. Mulai dari kecelakaan, pengorbanan palsu Adelia hingga mengetahui siapa sebenarnya pendonor darah yang menyelamatkan dirinya saat kecelakaan itu. Evan juga menceritakan sosok Lastri yang sudah pendonor yang sebenarnya hingga karena sosok Lastri juga yang membuat Evan berada di rumah sakit itu di saat Anggita sedang melahirkan Cahaya. Evan tidak menilai itu sebagai kebetulan melainkan satu jalan untuk mempertemukan dirinya dengan Anggita dan putrinya.


"Antara aku dan Adelia jelas tidak ada hubungan lain lagi. Hatiku memang pernah tersesat karena bodoh. Tapi tubuhku murni hanya menyentuh tubuh kamu. Dan saat ini, hati dan semua yang ada dalam diriku itu adalah milik kamu."


Evan terlihat serius mengucapkan kata kata itu. Bukan rayuan apalagi gombal. Itulah kenyataan yang sebenarnya. Dia tidak pernah bermain dengan wanita manapun untuk menghangatkan ranjangnya. Setelah menyadari kesalahannya. Evan larut dalam penyesalan dan pencarian akan Anggita.


"Seandainya situasinya berbeda. Adelia tidak jahat. Bisa saja kamu tidak menyesal sama sekali mencampakkan diriku," kata Anggita pelan. Ternyata untuk mengungkit masa lalu menyakitkan itu. Anggita masih saja merasakan hatinya berdenyut nyeri.


"Apakah ada yang orang yang bilang kepada kamu bahwa aku menyesali kejahatan Adelia?" tanya Evan. Anggita menggelengkan kepalanya.


"Aku menyesali kebodohanku sendiri. Aku menyesali kesalahanku kepada kamu. Aku menyesal percaya kepada wanita licik seperti dia," kata Evan sambil meraih tangan Anggita. Menyadari pergerakan tangan Evan hendak meraih tangannya Anggita meletakkan tangannya ke belakang tubuhnya.


Anggita tersenyum tidak tulus mendengar perkataan Evan. Masih banyak yang mengganjal di hatinya yang membuat Anggita ragu untuk melangkah bersama.


"Kamu tidak percaya kepadaku?"


"Jujur aku belum percaya mas," jawab Anggita pelan. Dia bahkan memperbaiki cara duduknya menjadi duduk dengan menatap lurus ke depan.


"Aku pernah sakit karena kamu tinggal dua hari menginap di kafe. Kamu kembali pulang ke rumah tapi kamu tidur di kamar tamu. Malam itu aku tidak bisa tidur. Dengan tubuh yang sakit aku menggendong kamu ke kamar atas supaya aku bisa tidur nyenyak."


Anggita mencoba mengingat kilas balik masa lalu itu. Dan dia mengingat jika dirinya pernah merasa tidur di kamar tamu tapi tengah malam terbangun dan mendapati dirinya berada di kamar Evan.


"Dan besok paginya aku marah karena kamu mengijinkan wanita itu tidur di ranjang Kita."


"Aku percaya kepada kamu sayang. Maafkan aku yang tidak langsung mencari kebenarannya saat itu," kata Evan. Anggita menggerakkan tubuhnya untuk menatap wajah pria itu.


"Kalau kamu menyesali perbuatan kamu. Mengapa kamu menggugat aku?" tanya Anggita sedikit ketus. Evan mengerutkan keningnya mendengar perkataan Anggita.


"Aku menggugat kamu?. Bukankah kamu yang menggugat aku?" tanya Evan bingung. Dia menunjuk dirinya dan Anggita secara bergantian.


"Jangan pura pura amnesia mas. Kamu yang menggugat aku. Jangan sok bingung seperti itu." Anggita masih bersikap ketus.


"Tunggu, tunggu Anggita. Jadi menurut kamu aku yang menggugat kamu?" tanya Evan. Anggita menganggukkan kepalanya. Dia memang tidak pernah menggugat Evan sama sekali karena sesuai dengan perjanjian yang meraka buat bahwa Evan yang harus menggugat dirinya. Lagi pula saat itu, Anggita tidak memikirkan gugatan itu karena yakin jika Evan akan menggugat dirinya secepat mungkin. Anggita hanya ingin pergi sejauh mungkin.


Evan mengusap wajahnya kasar. Jika bukan Anggita yang menggugat dirinya jadi siapa sebenarnya yang mendaftarkan gugatan perceraian itu. Mungkinkah Adelia atau mama Anita.


"Anggita. Aku bersumpah. Aku tidak pernah mendaftarkan gugatan perceraian Kita," kata Evan. Anggita terkejut.


"Jadi siapa?" tanya Anggita juga bingung. Tapi otaknya cepat berpikir jika itu adalah ulah Adelia. Terakhir Kali di ke rumah Evan. Adelia ada disana. Dan bahkan mengajak dirinya berdebat.


"Adelia. Pasti dia," kata Evan dengan wajah merah padam. Jika ini adalah ulah Adelia. Dia akan membuat wanita itu membayar semua perbuatan jahatnya. Dia merasa bahwa mama Anita tidak mungkin melakukan hal sejauh itu.


"Ikut aku," ajak Evan. Dia berdiri dan menarik tangan Anggita lembut. Mereka melewati ruang tamu. Mereka juga tidak menjawab ketika nenek Rieta menanyakan mantan suami istri hendak kemana. Evan tidak sabar untuk menjumpai Adelia di penjara. Setelah membuka pintu mobil untuk Anggita. Evan terlihat berlari kecil memutari mobil itu. Evan juga melajukan mobilnya dengan cepat.


Evan terlihat marah di tempat dimana seharusnya Adelia saat ini berada. Adelia sudah bebas dengan kata lain bukan lagi penghuni penjara.

__ADS_1


"Siapa yang menjamin wanita itu keluar dari penjara ini?" tanya Evan dengan wajah marah. Petugas itu menyebutkan nama yang tidak dikenal oleh Evan sama sekali. Evan meninju meja petugas itu karena marah ketika mengetahui jika Adelia keluar dari penjara ini dua jam yang lalu.


"Wanita itu sudah bebas. Kita harus lebih waspada," kata Evan sambil membuka layar ponsel. Dia sengaja belum menjalankan mobilnya. Dia memilih mengabari Gunawan, Rendra dan Danny tentang informasi bebasnya Adelia dari penjara. Dia bahkan menyuruh Danny untuk memperketat pengamanan di rumah nenek Rieta karena Cahaya ada di rumah tersebut. Evan juga mengabari Rico tentang kebebasan wanita licik itu.


"Siapa kira kira yang menjamin wanita itu bebas?" tanya Anggita. Mereka sudah bergerak keluar dari tempat itu.


"Aku sangat yakin orang itu adalah Bronson," jawab Evan. Mendengar kata Bronson, seketika Anggita takut. Anggita bisa merasakan jika motif Bronson tidak hanya karena urusan bisnis. Dia melihat wajah Bronson memerah hanya menyebutkan nama Evan.


"Mungkinkah ada kaitannya juga dengan dokter Angga?" tanya Anggita. Wanita itu juga sudah ikut ikutan marah membayangkan jika Bronson, Dokter Angga dan Adelia adalah satu Tim untuk menghancurkan Evan.


"Bisa jadi. Tapi kamu tenang saja. Mereka akan aku buat menyesal karena sudah bermain main dengan Evan Dinata," kata Evan sangat serius.


"Sebelum bertindak. Pikirkan matang matang dampaknya. Jangan terbawa amarah yang bisa merugikan diri sendiri. Ingat, kamu punya seorang putri yang harus kamu tanggung jawabi."


Perlahan wajah Evan yang sebelumnya terlihat marah kini berubah senyum. Perkataan Anggita bagaikan nyanyian penyejuk sukma. Dia sangat menyukai wanita yang sedikit cerewet seperti ini. Evan jelas dapat menangkap jika perkataan Anggita demi keamanan dirinya. Dia menangkap ada kekhawatiran Anggita akan keselamatan dirinya.


"Apa aku hanya memikirkan Cahaya?. Padahal pikiranku selalu terbagi dua. Untuk kamu dan Cahaya," kata Evan sambil tersenyum.


"Gombal terussss."


'Kamu tidak percaya?"


"Hanya orang bodoh yang percaya gombalan receh seperti itu."


"Baiklah. Aku setuju dengan pendapat kamu itu. Kamu memang pintar sayang. Pikiranku sebenarnya memang bercabang dan bahkan banyak cabang. Pekerjaan, masalah lain seperti kejahatan Adelia yang mungkin berpengaruh kepada Kita. Tapi apapun yang hinggap di pikiranku. Tapi yang mampu membuat aku untuk bersemangat adalah kalian berdua."


Anggita menganggukkan kepalanya. Tapi tatapan matanya seakan tidak percaya dengan perkataan sang mantan suami. Perkataan Evan ini lebih bisa masuk akal dibandingkan dengan perkataan sebelumnya.


"Anggita, kita sama sama tertipu dengan kebaikan orang. Jika seandainya Adelia tidak mendaftarkan gugatan itu. Kita masih sah sebagai suami istri."


"Jangan berandai andai mas. Kata talak kamu sudah membuat status kita jelas. Jadi Kita ikuti alur kehidupan ini," kata Anggita tegas sambil melepaskan sabuk pengamannya. Evan melakukan hal yang sama. Mereka kini sudah berada di halaman rumah Nenek Rieta.


"Iya, aku tahu. Siapapun yang mendaftarkan gugatan itu tidak merubah status kita saat ini. Tapi dengan menikah lusa kita bisa kembali suami istri. Mengapa kita harus menjalani status yang bukan kemauan kita. Aku tidak mau menjalani status ini karena bukan kamu yang menginginkannya atau aku yang menginginkannya. Anggita, mari kita perbaiki hubungan ini. Jangan kita biarkan mereka memanfaatkan status ini untuk menghancurkan kita berdua. Anggita, kita harus bersatu secepatnya. Aku mohon. Buka hati kamu untuk aku."


"Aku sudah berusaha membuka hatiku mas dengan menerima kamu seperti ini. Kita saling mengenal dulu. Jangan memutuskan terburu buru."


"Anggita, Apa kamu ingin memberikan peluang kepada orang yang jelas menginginkan kita dalam situasi seperti jni?.


Anggita tidak menjawab. Dia bahkan membuka pintu mobil dan keluar dari sana.


"Anggita, tunggu," panggil Evan membuat Anggita berhenti dan berbalik. Anggita tertegun melihat posisi Evan yang sudah berlutut di hadapannya dengan satu kaki yang ditekuk. Di tangannya sudah ada sebuah cincin.


"Anggita, bundanya Cahaya Dinata. Maukah kamu menikah denganku. Untuk yang kedua kali dan yang terakhir kalinya."


Evan memberanikan diri melamar Anggita. Dia tidak perduli jika lamaran ini terkesan terburu buru. Selain tidak ingin memberikan peluang kepada Bronson dan dokter Angga semakin menghancurkan dirinya. Evan juga ingin secepatnya menyalurkan kasih sayangnya kepada Anggita dan Cahaya putrinya dalam satu ikatan keluarga yang sah.


Anggita menatap bola mata mantan suaminya itu. Jelas terlihat sebuah permohonan dan harapan akan jawaban dari dirinya. Anggita terdiam beberapa saat sebelum memutuskan menerima atau menolak lamaran sang mantan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2