Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 102


__ADS_3

Sudah dua hari kamera itu terpasang di kamar Mandi milik para pekerja. Tapi selama dua hari itu juga, tidak ada tanda tanda yang mencurigakan dari salah satu pekerja. Hal itu membuat Anggita dan Oci memutar otak untuk mengungkap penjahat tersebut. Pantas saja, Evan dan Rendra kesulitan menangkap pengkhianat tersebut ternyata pengkhianat tersebut sangat pintar.


"Jangan jangan apa yang dikatakan dokter Angga adalah kebohongan," kata Anggita dalam hati. Dia mulai meragukan apa yang dikatakan oleh Dokter Angga kepada suaminya. Anggita berpikir jika informasi dari dokter Angga hanya sebagai tipuan saja. Selain itu, Anggita juga menjadi pesimis untuk mengungkap si pengkhianat.


"Ci, bagaimana kalau pemasangan cctv itu tidak berhasil menemukan si pengkhianat," kata Anggita cemas kepada Oci yang sedang memandangi layar ponsel milik Anggita. Malam ini adalah malam ketiga setelah pemasangan cctv itu. Dan tanda tanda mencurigakan dari para pekerja tidak terlihat sama sekali.


"Jangan langsung menyerah. Kita lihat dalam satu minggu ini. Jika tidak ada hasil. Kita temukan si pengkhianat dengan cara lain," jawab Oci santai dan optimis. Matanya tidak lepas dari layar ponsel mengamati video yabv terekam di area belakang. Anggita Dan Oci saat ini sedang di kamar mama Feli.


Anggita menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Oci. Keberadaan Oci membuat Anggita tidak menemui jalan buntu mengungkapkan si pengkhianat. Mengingat Cahaya adalah sasaran para pengkhianat tersebut, Anggita berjanji dalam hati harus menemukan si pengkhianat.


Jika boleh jujur, sebenarnya Anggita merasa lelah. Ujian rumah tangganya tidak hanya menunggu cinta Evan berlabuh kepada dirinya. Di saat Evan sudah menyesali semua perbuatan dan sudah mencintai dirinya ada masalah yang lebih besar mengguncang rumah tangganya.


Masalah itu tidak main. Para pesaing bisnis dan para pesaing cinta bersatu padu hendak menghancurkan mahligai rumah tangga mereka. Yang membuat Anggita sangat marah. Cahaya dilibatkan dalam masalah tersebut. Anggita sangat sadar akan resiko menikah dengan seorang pengusaha. Tapi jika resiko itu mengorbankan putri kesayangannya. Anggita tidak akan tinggal diam. Dia tidak akan membiarkan putrinya merasakan bahaya. Sebelum itu terjadi. Anggita yang akan memberikan pelajaran kepada para penjahat tersebut.

__ADS_1


Saat ini sudah hampir tengah malam, Evan juga belum pulang dari kantor membuat Anggita bisa berlama lama di kamar mama Feli dan ponselnya bisa tetap bisa on untuk menampilkan hasil kamera pengintai. Aneh sebentar sudah berniat hendak tidur. Tapi Oci berpendapat jika para pengkhianat akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal hal yang akan mereka perbuat.


"Aku buatkan kopi untuk Kita berdua. Malam ini, aku ingin membahas tentang rencana jika pemasangan cctv itu tidak berhasil," kata Anggita akhirnya. Melihat semangat Oci mengungkap si pengkhianat. Anggita juga bertambah bersemangat. Anggita juga baru saja mendapatkan pesan dari Evan jika suaminya itu akan pulang larut malam karena ada urusan yang harus segera diselesaikan.


Tanpa mendengar jawaban Oci terlebih dahulu. Anggita keluar dari kamar. Dia menuju dapur. Di dapur, Anggita kebingungan karena kopi yang diharapkan ternyata tidak tersedia di dapur itu. Anggita membuka pintu penghubung dapur dengan area para pelayan. Dia berencana meminta salah satu pekerja laki laki untuk membeli kopi ke supermarket.


Tapi ketika pintu itu terbuka. Anggita melihat punggung seorang wanita menuju kamar si bibi tukang masak. Anggita menutup pintu itu pelan. Dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna. Anggita melihat pekerja wanita itu membuka pintu kamar si bibi tukang masak dengan pelan setelah terlebih dahulu mengedarkan pandangannya.


Anggita melihat wanita itu masuk ke dalam kamar Bibi si tukang masak. Tapi tidak lama kemudian. Wanita itu keluar dari kamar Bibi dengan membawa sebuah ponsel yang jelas bukan miliknya. Karena sebelum masuk ke dalam kamar itu. Anggita melihat jika tangan wanita itu kosong tidak membawa apapun. Dan saat ini ada ponsel di tangannya membuat Anggita sangat yakin jika wanita itu mempunyai maksud tertentu masuk ke dalam kamar si bibi tukang masak.


"Mana kopinya?" tanya Oci bingung dan memperhatikan Anggita. Oci jelas mendengar tujuan Anggita ke dapur. Tapi Anggita tidak membawa apapun ke dalam kamar.


"Ada yang lebih penting dari kopi," jawab Anggita asal. Dia memberikan isyarat kepada Oci untuk memperhatikan ponselnya yang tersambung ke kamera pengintai.

__ADS_1


Anggita langsung duduk menghadap layar ponselnya yang sudah menunjukkan gerak gerik wanita itu. Oci melakukan hal yang sama. Mata mereka tidak lepas dari layar ponsel yang menunjukkan si wanita itu sedang berbicara lewat telepon. Sangat di sayangkan karena mereka hanya dapat melihat video tanpa bisa mendengar suara dari wanita tersebut.


"Aku sangat yakin jika wanita ini adalah si pengkhianat itu," kata Anggita marah. Dia menceritakan kepada Oci tentang wanita itu yang keluar masuk dari kamar si Bibi tukang masak.


"Jadi itu bukan ponsel miliknya sendiri?" tanya Oci. Anggita menganggukkan kepalanya. Oci juga berpendapat yang sama setelah mengetahui tentang kepemilikan ponsel itu.


"Benar benar licik. Kita harus lebih teliti dari dia," kata Oci.


Anggita mengepalkan tangannya. Jika karena amarah saat ini. Bisa saja dirinya langsung menghampiri wanita itu dan memberikan banyak pertanyaan untuk menyelidiki keterlibatan wanita itu dengan Adelia dan mama Anita. Tapi Oci melarang. Terburu buru hanya akan mendapatkan sebagian informasi dan bisa membuat wanita itu terbukti sebagai pengkhianat.


"Kalau malam ini bisa tuntas dan kita temukan pengkhianatannya. Mengapa harus menunggu lagi," kata Anggita tidak sabaran. Dia tidak akan memberikan waktu kepada para pengkhianat itu untuk merendahkan hal jahat kepada putrinya. Anggita takut, para pengkhianat itu bergerak cepat dan mereka terlambat tetapi Cahaya sudah menjadi korban. Oci pun akhirnya setuju untuk bergerak cepat.


Anggita melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu dengan lesu. Dia meminta Oci untuk tetap mengawasi layar ponsel itu. Apa yang mereka lihat di layar ponsel itu akan dijadikan dasar kecurigaan terhadap wanita tersebut. Lewat wanita tersebut. Anggita dan Oci akan mengungkapkan rencana jahat yang sudah tersusun untuk mencelakai Cahaya akan terbongkar.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskan kalian," gumam Anggita pelan sambil terus melangkah.


__ADS_2