Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 122


__ADS_3

"Ada urusan apa dia di rumah itu. Mengapa gerbangnya tidak dikunci?" tanya Anggita. Suami istri itu sedang memperhatikan gerak gerik Nia setelah turun dari taksi. Nia membawa kantong plastik yang lumayan besar. Nia membuka gerbang itu dengan mudah karena memang sepertinya tidak terkunci.


Nia melangkah semakin memasuki area pekarangan rumah tanpa halangan apapun Petugas keamanan tidak ada lagi semenjak Rendra meninggalkan rumah itu. Wanita itu tidak menuju pintu utama melainkan berjalan ke samping sebelah kanan rumah.


"Kita kesana sekarang," kata Evan setelah Nia tidak terlihat lagi. Anggita setuju. Suami istri itu kini bersamaan membuka pintu mobil. Mereka berjalan cepat ke arah gerbang dengan bergandengan tangan. Mereka mengikuti langkah Nia yang berjalan ke sebelah rumah. Banyak pertanyaan yang masuk ke pikiran suami istri itu akan kedatangan Nia ke rumah ini mengingat mama Anita sudah tidak di rumah ini lagi.


Evan dan Anggita berjalan pelan. Mereka ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh Nia di belakang sana sebelum menyapa wanita hamil itu. Suami istri itu menghentikan langkah mereka ketika mendengar suara Nia yang sedang berbicara dengan orang lain. Evan dan Anggita saling berpandangan karena mereka merasa bingung. Ada orang lain di belakang rumah itu sedangkan mama Anita sudah hampir satu minggu mendekam di penjara. Evan juga mengetahui tidak ada lagi pekerja di rumah itu sejak Rendra dan mama Anita bercerai. Lalu siapa orang yang menjadi lawan bicara Nia itu.


"Makan dulu tante. Aku bawakan ini untuk tante."


"Pulang."


"Iya pasti pulang kok. Tapi makan dulu ya."


"Pulang."


Evan dan Anggita saling berpandangan mendengar pembicaraan Nia dengan seseorang itu. Evan tidak dapat untuk menahan rasa penasaran di hatinya. Pria itu menarik tangan istrinya. Mereka melangkah ke arah tempat dimana Nia berada dengan seorang wanita bertubuh gemuk sedang duduk di bawah pohon mangga.


Sambil berjalan, Evan dan Anggita memperhatikan wanita gemuk itu. Nia tidak menyadari kedatangan suami istri itu karena posisinya membelakangi Evan dan Anggita. Nia terlalu sibuk membujuk wanita itu untuk makan.


Nia terdengar menarik nafas panjang. Sepertinya wanita hamil itu sudah lelah membujuk wanita itu supaya bersedia makan. Wanita gemuk itu hanya mengucapkan satu kata yaitu pulang.


"Nia."


Mendengar namanya dipanggil. Nia langsung membalikkan badannya dan terlihat sangat terkejut melihat Evan dan Anggita berada di tempat itu.


"Anggita, Pak Evan."


Nia menyebut nama suami istri itu. Keterkejutan di wajahnya hilang kini berganti dengan wajah yang memucat.


Evan menatap Nia dengan tajam. Kemudian dia memperhatikan wanita gemuk itu dengan seksama. Setelah melihat wanita itu dari jarak yang dekat. Bisa dipastikan jika wanita gemuk itu adalah wanita yang cacat mental. Wanita gemuk itu terlihat ketakutan dengan adanya Evan dan Anggita. Wanita gemuk itu menyembunyikan wajahnya di belakang tubuh Nia.


"Apa yang kamu lakukan di sini Nia. Dan siapa ibu ini?" tanya Anggita sambil melangkah semakin mendekati Nia dan wanita gemuk itu. Ketika Anggita sudah sangat dekat dengan Nia. Wanita tua itu menggerakkan tangannya hendak mendorong Anggita. Tapi Nia langsung menangkap tangan wanita itu dan meminta Anggita untuk mundur.


"Apa pak Evan tidak mengingat wanita ini?" tanya Nia tanpa menjawab pertanyaan Anggita.


Evan mengerutkan keningnya. Kemudian memperhatikan wanita itu kembali. Pertanyaan Nia menegaskan jika dirinya pernah mengenal wanita gemuk itu.


"Wanita ini siapa Nia. Aku baru kali ini bertemu dengan dia," jawab Evan.

__ADS_1


Nia tersenyum sinis mendengar jawaban Evan. Melihat Nia tersenyum sinis. Anggita semakin bingung.


"Sudah aku duga bahwa itulah jawaban semua anggota kakek Martin jika menyangkut tentang wanita ini," kata Nia.


"Apa maksud kamu Nia?" tanya Evan tajam.


"Mengapa kalian malu mempunyai saudara seperti dia. Mempunyai keterbelakangan mental seperti ini bukan keinginannya. Mengapa dia harus dibuang dan jauh dari keluarganya sendiri."


"Keluarga. Dibuang. Maksudnya apa Nia?" tanya Anggita bingung.


"Dari yang aku dengar dari Tante Anita. Tante ini adalah adik kandung dari pak Gunawan dan Pak Rendra. Tapi karena Tante ini mengalami cacat mental. Keluarga malu mengakui dan tidak ingin diketahui oleh para rekan bisnis mempunyai Anggota keluarga seperti wanita ini. Dia dimasukkan ke panti sosial setelah berumur Lima belas tahun. Tante ini dendam kepada keluarga karena tidak pernah dikunjungi lagi."


Nia menceritakan apa yang dia dengar dari mama Anita tentang wanita itu. Nia juga menceritakan, mama Anita akan mengancam membawa wanita itu ke pernikahan Rendra nantinya dan menunjukkan semua bukti tentang wanita itu. Nia bahkan melihat banyak foto tentang kebersamaan wanita itu dengan Rendra dan Gunawan. Di foto kenangan itu. Gunawan, Rendra dan wanita itu terlihat tumbuh bersama.


Nia tidak ingin itu terjadi. Dia tidak ingin pernikahannya dengan Rendra akan membuat keluarga itu malu karena wanita itu. Apalagi Nia sudah melihat bagaimana wanita itu marah hanya mendengar nama kakek Martin dan nenek Rieta. Mama Anita pernah memancing dendam wanita gemuk itu. Hanya mendengar nama kakek Martin wanita itu berteriak histeris dan berusaha melemparkan apa saja yang bisa dijangkau tangannya.


Mendengar cerita dari Nia. Evan tidak bisa berkomentar. Dia tidak mengetahui sama sekali tentang wanita itu.


"Jadi hanya karena ini kamu mencari cara supaya tidak jadi menikah dengan papa?" tanya Anggita. Nia menganggukkan kepalanya.


Dia tidak ingin pesta pernikahannya hancur karena keluarga kakek Martin mendapatkan malu. Wanita itu selain cacat mental. Bentuk tubuh yang gemuk dengan wajah yang sangat jelek. Tubuhnya hitam dan selalu berkeringat. Bagi kaum elite. Mungkin akan jijik jika melihat wanita itu. Mungkin itulah sebabnya keluarga mengasingkan wanita itu.


"Aku hanya satu kali bertemu dengannya. Aku membawakan makanan kepada dia setelah mengetahui tante Anita di penjara. Aku takut dia mati kelaparan," kata Nia lagi. Dia takut Evan dan Anggita berpikir jika dirinya dekat dengan mama Anita.


Nia merasa lega setelah mengungkapkan hal yang sebenarnya dia simpan rapat rapat karena ancaman mama Anita. Kini mama Anita sudah di penjara.


Evan memperhatikan suasana belakang rumah itu. Dia melihat kamar kecil yang sepertinya baru di bangun. Dia sangat yakin mama Anita sengaja membuat kamar wanita itu di belakang rumahnya supaya wanita itu tidak terlihat oleh siapa saja yang berkunjung ke rumah ini.


"Nia, bisakah kamu membujuk wanita ini supaya ikut ke rumah nenek Rieta?. Aku ingin mengetahui kebenarannya sekarang juga," kata Evan. Nia langsung menggelengkan kepalanya. Selain tidak ingin menginjakkan kaki di rumah itu apalagi bertemu dengan Rendra atau Danny. Nia juga tidak bisa menjamin jika wanita ini baik baik saja jika dibawa ke rumah nenek Rieta.


"Sebaiknya kamu juga pulang. Kami juga pulang sekarang untuk bertanya tentang wanita ini kepada nenek," kata Anggita kepada Nia. Mendengar kata pulang wanita itu menatap Anggita.


Baru saja, Evan dan Anggita melangkahkan kaki. Terdengar suara histeris yang tidak dari wanita itu. Evan dan Anggita menoleh ke belakang dan melihat Nia juga sudah menjauh dari wanita itu. Seketika itu juga mereka sadar jika ternyata kaki wanita itu ternyata terikat dengan rantai besi yang rantainya di lilitkan ke pohon mangga paling bawah.


"Apa selama ini dia terikat di tempat itu?" tanya Anggita.


"Pertama kali setelah tante Anita di penjara. Aku menemukan wanita itu terikat di tempat itu. Bahkan hampir satu minggu ini. Siang dan malam dia terikat. Bahkan tiga Hari yang lalu aku menemukan dia basah kuyup," kata Nia. Nia menceritakan bagaimana dia tiga hari yang lalu mengganti pakaian wanita itu dengan susah payah. Dia harus mengangkat air dari kamar mandi yang ada di kamar yang baru dibangun itu untuk membersihkan tempat itu yang kotor karena kotoran wanita itu.


"Apa rantai itu tidak bisa dibuka?" tanya Evan. Pria itu kembali mendekati wanita gemuk itu karena merasa kasihan.

__ADS_1


"Jangan Pak. Dia akan berubah beringas nantinya. Aku takut bapak kena kukunya yang panjang. Karena ini yang pertama kalinya kalian bertemu. Aku bisa duduk dekat dengan dirinya karena sudah berkali kali bertemu dan selalu membawa makanan untuknya," kata Nia. Langkah Evan berhenti. Anggita merinding hanya melihat kuku wanita itu yang panjang dan kotor.


Evan dan Anggita akhirnya memutuskan pulang. Sedangkan Nia masih berada di tempat itu untuk memastikan wanita itu makan terlebih dahulu. Tidak ada maksud lain atas apa yang dilakukannya saat ini. Dia juga bingung mengapa dirinya sangat perduli akan wanita itu.


Evan tidak berbasi basi untuk mengetahui tentang kebenaran wanita gemuk itu. Sesampai di rumah Nenek Rieta. Evan langsung menanyakan tentang wanita itu.


"Nek, apa papa mempunyai saudara perempuan. Dimana dia?" tanya Evan. Pria itu bahkan belum duduk. Hanya melihat nenei Rieta duduk di sofa ruang keluarga. Evan langsung bertanya.


"Duduk dulu Evan. Apa maksud dari pertanyaan kamu?" tanya nenek Rieta bingung.


"Kalian malu mempunyai seorang putri yang buruk rupa dan cacat mental. Kalian membuangnya ke panti sosial. Begitu kan nek?" kata Evan lagi.


Dia berusaha menahan kemarahannya sebelum mengetahui kebenaran tentang wanita itu.


"Apa nenek tidak tahu. Dampak dari perbuatannya kalian. Pantas saja papa Rendra dan Danny menerima karma secara bersamaan. Pernikahan papa gagal dan Danny harus terjebak dengan situasi yang sulit. Apa nenek tahu apa penyebabnya. Orang yang kalian buang itu dimanfaatkan tante Anita untuk menghancurkan keluarga ini."


Nenek Rieta terlihat tidak bisa menangkap arah perkataan Evan. Seperti biasa jika ada masalah. Dia mengumpulkan anak anaknya. Begitu juga dengan hari ini. Nenek Rieta meminta kedua anaknya untuk segera pulang ke rumah untuk membahas apa yang disebutkan oleh Evan.


Menunggu satu jam rasanya sangat lama. Rendra dan Gunawan dalam perjalanan.


Evan menceritakan semua hal yang dia dengar dari Nia setelah Rendra dan Gunawan berada di ruang keluarga itu.


"Kakek dan nenek hanya mempunyai dua orang anak yaitu kami berdua. Apa yang didengar oleh Nia dari Anita ada sebagian yang benar dan tidak. Kami memang tumbuh bersama dengan wanita itu. Namanya Isna. Dia adalah anak tetangga yang ditinggal oleh kedua orang tuanya ketika berumur tiga tahun karena malu membuat anak cacat mental."


Gunawan menceritakan tentang kebenaran tentang wanita itu. Anak tetangga yang ditinggal oleh kedua orang tuanya. Kakek Martin dan Nenek Rieta akhirnya mengasuh anak itu karena kasihan.


Kakek Martin dan Nenek Rieta tidak membeda bedakan Gunawan dan Rendra dengan Isna. Mereka merawat Isna dengan kasih sayang karena mereka pun sebenarnya menginginkan anak perempuan. Keinginan mereka itu terwujud lewat Isna. Kakek Martin sangat menyayangi Isna. Karena dari keluarga kakek Martin mulai dari neneknya hingga ke dirinya tidak mempunyai anak perempuan. Dan Isna adalah pelabuhan kerinduan mereka.


Seiring waktu. Gunawan, Rendra dan isna tumbuh bersama. Gunawan dan Rendra juga menyayangi wanita itu. Isna lebih muda lima tahun dari Rendra. Adanya Isna di rumah seperti ada mainan baru untuk dua kakak beradik itu.


Tapi sayang seribu sayang setelah bertambah besar.. Cacat mental yang diderita Isna bukan cacat mental yang membuat dirinya selalu terlihat bodoh. Sewaktu waktu. Wanita itu bisa berubah seperti singa yang kelaparan. Entah darimana tenaganya. Wanita itu bisa mengangkat beban berat dengan mudah. Bahkan Gunawan dan Rendra juga pernah menjadi korbannya. Apalagi dirinya membenci seseorang. Dia akan menyerang tanpa ampun.


Melihat bagaimana kegilaan wanita itu. Kakek Martin dan Nenek Rieta akhirnya memutuskan memasukkan wanita itu ke panti sosial. Dan kegilaan Isna semakin menjadi jadi.


Mungkin mengerti karena dijauhkan dari rumah membuat Isna marah. Dia marah kepada kakek Martin dan Nenek Rieta. Setiap kakek Martin dan Nenek Rieta datang berkunjung. Isna akan marah besar kepada mereka. Bahkan terkadang akan melempari wanita itu.


Itulah sebabnya kakek Martin dan Nenek Rieta memutuskan tidak datang berkunjung lagi.


"Kalau kamu menganggap cerita ini adalah rekayasa. Ada tes DNA yang membuktikan apa yang aku ceritakan," kata Gunawan.

__ADS_1


Evan menarik nafas lega. Keluarganya bukan seperti yang dituduhkan oleh mama Anita. Evan menghubungi salah satu kepercayaannya. Dia meminta orang tersebut untuk meminta informasi dari mama Anita tentang Isna. Dari panti Mana Anita memungut wanita itu. Evan berniat untuk mengembalikan wanita tersebut ke panti.


"Andaikan Nia jujur dari awal tentang semua ini. Saat ini dia sudah tidak kesulitan lagi," kata Rendra menyesalkan Sikap Nia yang bertindak sendiri sehingga begini akhirnya.


__ADS_2