Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Keputusan Anggita.


__ADS_3

Tidak ada pilihan lain bagi Anggita selain mengakui jika bayi cantik itu adalah putri mereka berdua. Anggita sadar, berbohong tentang bayinya saat ini hanya akan membuat dirinya puas tapi tidak dengan bayi itu. Walau bayi itu masih baru lahir. Anggita sangat yakin jika bayi tersebut pasti juga menginginkan kasih sayang kedua orang tuanya. Bayi itu tidak berdosa dan tidak adil jika bayi tersebut ikut menanggung penderitaan karena perpisahan kedua orang tuanya.


Anggita membiarkan Evan menyalurkan kasih sayangnya kepada si bayi cantik. Ketika Evan membawa bayi itu ke tangannya, Anggita tidak melarang. Anggita bisa mendengar bisikan Evan di telinga putrinya. Bisikan permintaan maaf dan harapan seorang ayah kepada putri kecilnya.


Anggita sadar, sekuat apapun dirinya memisahkan Evan dari putrinya tetap saja darah yang mengalir di tubuh putrinya berasal dari Evan. Dia sudah berbohong tentang kehamilan dan mengaku keguguran. Tapi lihatlah hari ini. Tepat di Hari kelahiran putrinya Anggita bertemu kembali dengan sang mantan suami. Bayinya berhak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.


Evan terlihat sangat bahagia sekali. Melihat darah dagingnya, kebahagiaan Evan melebihi kebahagiaan yang pernah dirasakan sebelumnya. Kebahagiaan ini melebihi kebahagiaan karena materi apapun. Banyak kata kata syukur yang dia ucapkan dalam hati kepada Pencipta atas anugerah ini. Berkali Kali Evan meminta maaf atas kesalahannya di Masa lalu. Evan juga terlihat menitikkan air Mata bahagia mengetahui statusnya kini menjadi seorang ayah.


Sebagai wujud rasa bahagia itu, Evan memerintahkan Rico untuk memberikan bonus kepada semua karyawannya di kantor. Tidak tanggung tanggung Evan memerintahkan untuk memberikan bonus satu bulan gaji. Di mobil, Rico sebenarnya bingung atas perintah itu. Dia belum mengerti jika sahabat sekaligus sahabatnya itu sudah menjadi seorang ayah. Tapi mengingat Evan adalah atasannya pria itu langsung menghubungi divisi keuangan perusahaan untuk melaksanakan perintah Evan.


"Mas, biarkan aku menyusui bayi itu," kata Anggita setelah Evan sudah selesai berbicara lewat ponselnya. Evan terlalu bahagia sehingga dia melupakan perkataan perawat tadi yang menyuruh Anggita untuk menyusui si bayi.


"Oiya. Putri ayah sama bunda dulu ya." Evan kembali meletakkan bayi itu di sisi sebelah Kiri Anggita. Kemudian dia berdiri di tempat semula ketika dia pertama kali datang. Senyum tidak terlepas dari bibirnya dan juga tatapan dengan sorot mata berbinar yang selalu mengarah ke Anggita dan bayinya itu.


"Mas, bisakah kamu keluar. Aku ingin menyusui bayiku."


Melihat Evan masih betah berdiri di sisi tempat tidurnya. Sebenarnya membuat Anggita sedikit risih. Dia malu jika untuk menyusui bayinya Evan masih di tempat itu. Apalagi tidak ada mama Feli di ruangan itu. Tadi wanita tua itu keluar dari ruangan seakan memberikan keleluasan kepada Evan dan Anggita untuk berbicara. Sedangkan perawat yang mengantarkan bayi itu juga sudah keluar dan akan mengambil bayi itu satu jam lagi.


"Kenapa harus keluar?" tanya Evan. Dia mengerutkan keningnya seakan perkataan Anggita sesuatu yang tidak dia mengerti.


Anggita menarik nafas panjang. Evan bertingkah seakan akan mereka masih suami istri.


"Apa kamu lupa status Kita mas?. Kita bukan lagi suami istri. Jadi tidak baik jika aku menyusui bayiku kamu masih di tempat ini seperti mandor."


Evan seperti tersadar dari mimpi. Karena bahagia mempunyai seorang putri membuat dia melupakan status mereka. Mendengar suara Anggita yang sedikit kencang membuat pria itu mengangguk mengerti. Dia mundur kemudian berbalik menuju pintu ruangan. Sebenarnya dia ingin melihat putrinya itu disusui untuk pertama kalinya.


Evan menutup pintu itu perlahan. Dia tidak pergi jauh dari depan ruangan itu. Kebahagiaan yang dia rasakan tadi di ruangan berbangga terbalik dengan apa yang dirasakannya saat ini. Di depan ruangan itu. Evan terduduk dan menundukkan kepalanya. Mengingat status dirinya dengan Anggita. Evan takut dan tidak ingin putrinya kelak tidak merasakan kasih sayang dari orang tua kandung seperti dirinya dulu.


Evan merasakan hatinya sangat sakit mengingat bagaimana dirinya dulu melukai Anggita karena keguguran itu.


"Bagaimana aku bisa meluluhkan hatimu Anggita," gumam Evan pelan. Sikap yang ditunjukkan oleh Anggita tidak membuat Evan langsung tenang. Dia justru takut jika Anggita bersikap tenang karena menganggap dirinya benar benar orang lain.


Evan menjambak rambutnya sendiri. Untuk meluluhkan Anggita dia harus bisa mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai oleh mantan istrinya itu. Satu tahun hidup bersama di atap bahkan di ranjang yang sama tidak pernah terpikir olehnya untuk mengenal pribadi Anggita.


Hampir lima belas menit Evan memikirkan bagaimana caranya meluluhkan hati mantan istrinya itu. Dia sangat sadar menyesali kesalahannya dulu dan meminta maaf kepada Anggita tidak bisa langsung membawa wanita itu kembali ke pelukannya.

__ADS_1


"Ah kakek, andaikan kamu masih hidup. Kakek pasti bisa membujuk Anggita kembali kepadaku."


Evan masih terus berpikir dan berpikir. Hingga setengah jam, Evan masih menunduk lemah di depan ruangan itu dengan Segala pemikirannya.


Evan mengangkat kepalanya ketika mendengar pintu ruangan dibuka. Evan juga langsung berdiri dan menatap tidak senang kepada pria yang masuk ke dalam ruangan Anggita. Dia mengikuti langkah pria itu hingga mereka berdiri berhadapan dengan tempat tidur Anggita sebagai penghalang. Melihat Anggita sudah selesai menyusui putri mereka. Evan merasa lega. Evan tidak ingin jika pria itu melihat Anggita menyusui bayi mereka.


"Bagaimana rasanya jadi ibu Anggita?" tanya pria itu yang ternyata dokter Angga. Pria itu tidak lagi memakai jas putih kebesarannya.


"Rasanya tidak bisa dilukiskan dengan kata kata dokter. Yang pasti bahagia," jawab Anggita sambil tersenyum.


"Bahagia sudah pasti ya. Apalagi putri kamu ini sangat cantik seperti kamu," kata dokter Angga memuji ibu dan bayi itu. Dokter Angga meletakkan paper bag di atas meja kecil dekat kepala Anggita yang sedari tadi di tangannya. Kemudian dokter Angga mengambil bayi itu dari sisi Anggita.


Evan memperhatikan gerak gerik Anggita dan Dokter Angga itu. Dia tidak menyukai dokter Angga yang langsung mengambil putrinya dari Anggita tanpa minta ijin terlebih dahulu.


"Asinya pasti belum keluar kan?" tanya dokter Angga tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah bayi cantik itu. Anggita menganggukkan kepalanya dengan malu. Berbicara tentang asi. Dia seketika mengingat jika dokter yang menangani persalinan Caesar dirinya. Anggita malu karena dokter Angga sudah melihat jalan lahir putrinya itu.


"Apa ini dokter?" tanya Anggita sambil menunjuk paper bag yang diletakkan oleh dokter Angga tadi. Anggita sengaja bertanya hal itu untuk mengalihkan pembicaraan tentang asi. Dia khawatir jika dokter Angga akan menyarankan dirinya menyusui bayinya lagi di saat dua pria itu masih berada di ruangan itu.


"Ooo, itu makanan yang terbuat dari ikan tawar. Khasiatnya sangat ampuh untuk membuat Luka cepat kering. Kamu makan ya. Itu akan mempercepat proses penyembuhan kamu."


"Ibu aku yang khusus memasukkannya untuk kamu."


"Tolong sampaikan rasa terima kasihku kepada beliau Dokter. Kalian berdua sudah sangat baik kepadaku. Entah bagaimana aku membalas kebaikan kalian."


Anggita berkata tulus. Kebaikan dokter Angga tidak terhitung sejak pertama kali mereka bertemu di Kota ini. Anggita juga sudah menerima kebaikan dari ibu dokter Angga sebelumnya. Walau mereka belum pernah bertemu. Ini kedua kalinya ibu dari dokter Angga memberikan dia makanan.


"Cukup menjadi ibu yang baik bagi bayi ini Dan istri yang baik kelak bagi ak..."


Dokter Angga tidak meneruskan perkataannya yang bermaksud menggoda Anggita di akhir kalimat. Dokter Angga tersadar bahwa bukan hanya mereka berdua di ruangan itu. Ada si bayi dan juga Evan.


Evan yang sedari tadi menjadi pendengar budiman. Kini menatap dokter Angga dengan tajam. Dia menebak sendiri akan kata yang tidak dilanjutkan oleh pria itu. Dia bukan pria bodoh. Cara dokter Angga menatap Anggita juga Evan bisa melihat jika ada cinta di sorot Mata pria itu.


Evan mengepalkan tangannya. Bukan marah kepada Anggita ataupun dokter Angga. Dia marah kepada dirinya sendiri. Dia baru sadar sekarang. Bahwa dirinya yang bodoh karena pernah tidak menginginkan wanita baik dan cantik itu. Masih hitungan bulan mereka berpisah kini sudah ada pria yang memberikan perhatian tulus kepada Anggita. Satu hal yang tidak pernah dia berikan kala wanita itu masih menjadi istrinya.


"Dokter, berapa hari biasanya asi baru keluar?" tanya Anggita. Tadi dia tidak berminat untuk berbicara tentang asi. Tapi melihat wajah yang kurang bersahabat dari Evan untuk Dokter Angga membuat Anggita berbicara layaknya seorang pasien kepada dokter.

__ADS_1


"Biasanya dua atau tiga hari. Makanya banyak makan yang bergizi ya."


"Selama itu kah. Jadi bagaimana bayiku kalau kelaparan sementara asinya belum keluar dokter?" tanya Anggita khawatir.


"Untuk sementara bisa dibantu susu formula. Tadi pasien harus terlebih dahulu menandatangtangani Surat pernyataan jika pasien bersedia bayinya dikasih susu formula."


"Baiknya bagaimana Dokter. Menunggu asi keluar atau memberikan susu formula untuk sementara," Evan bertanya cepat. Sama seperti Anggita dia khawatir jika bayinya kelaparan sementara asi Anggita belum keluar.


"Banyak pasien yang memberikan susu formula untuk sementara dan selama ini tidak ada keluhan. Saran aku sebaiknya dikasih susu formula dulu menunggu asi ibunya tercukupi."


"Bagaimana Anggita. Kita setuju saja ya. Jika bayi Kita dikasih susu formula untuk sementara. Asi kamu belum tahu keluar kapan. Kasihan putri Kita kalau harus menunggu sampai dua Hari," kata Evan. Dia menyentuh tangan Anggita hanya untuk mengucapkan itu. Anggita cepat menarik tangannya karena tidak nyaman dengan sentuhan itu.


Anggita hanya menganggukkan kepalanya. Evan langsung cepat menghubungi Rico dan menyuruh pria itu untuk membeli susu bayi baru lahir yang paling baik. Evan juga langsung menyuruh Rico supaya mengantarkan susu tersebut ke ruangan Anggita.


"Aku pamit dulu Anggita. Pak," kata dokter Angga. Dia menyerahkan bayi itu kepada perawat yang sudah datang untuk mengambil bayi itu."


Kini tinggal lah Evan dan Anggita di ruangan itu. Bagi Evan ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk berbicara empat mata dengan mantan istrinya itu.


"Anggita, asal kamu tahu. Aku sebenarnya sudah mencari kamu selama ini. Selain menyesal. Aku juga sudah menyadari kesalahanku selama ini. Aku ingin berubah. Aku ingin memperbaiki kesalahan ku kepada kamu dan bayi Kita. Ijinkan aku memperbaikinya Anggita. Aku juga sebenarnya tidak ingin bercerai."


Evan berkata sungguh sungguh. Wajahnya menunjukkan penyesalan yang dalam.


"Mas, bagus jika kamu ingin berubah. Berubah lah demi putrimu. Kamu harus memberikan jejak yang membanggakan bagi putrimu," jawab Anggita. Dia tidak membahas tentang penyesalan Evan akan kegagalan pernikahan mereka. Baginya itu hanya masa lalu.


"Anggita, aku ingin Kita kembali bersama." Evan menatap wajah mantan istrinya dengan sendu.


"Maksud kamu mas."


"Mari Kita rujuk Anggita." Anggita menggelengkan kepalanya cepat membuat Evan seketika lemas.


"Maaf mas. Aku sudah nyaman dengan status seperti ini. Tolong jangan ganggu kenyamanan ku ini."


"Jangan menjawab dulu, Anggita. Tolong pikirkan. Aku akan sabar menunggu jawaban kamu sampai kapanpun." Evan jelas tidak ingin mendengar penolakan itu. Lebih baik dirinya menunggu sampai batas yang tidak ditentukan daripada mendengar penolakan.


"Jangan menunggu jawaban dari aku mas. Sejujurnya aku belum pernah berpikiran untuk menikah kembali ataupun rujuk dengan kamu dalam satu tahun ini. Aku ingin fokus untuk bayiku dan pekerjaanku."

__ADS_1


Jawaban Anggita membuat Evan menundukkan kepalanya. Dia sangat sadar jika ini terlalu cepat. Tapi pesona yang diperlihatkan oleh dokter Angga kepada Anggita. Evan takut jika tidak mendapat kesempatan dan Dokter itu yang berhasil memenangkan hati Anggita. Selain itu dia ingin Anggita mengetahui jika dirinya benar benar menginginkan mereka kembali menjadi suami istri.


__ADS_2