Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Saham lima Persen


__ADS_3

Anggita ternyata terbawa pikiran dengan semua perkataan Danny tentang perasaan dokter Angga kepadanya. Dia mengingat ingat perlakuan pria itu kepadanya selama dua bulan ini. Tidak bisa dipungkiri jika dokter Angga selalu memberikan perhatian terkait kesehatan dirinya dan janinnya. Apakah itu bisa dikatakan sebagai perhatian karena cinta.


Anggita tidak ingin terlalu percaya diri mengartikan semua perhatian itu karena cinta. Jika ditanya apakah dirinya ingin berbahagia jawabannya tentu saja ingin berbahagia. Tapi untuk memulai hubungan yang baru dalam waktu dekat ini. Tidak pernah terpikir oleh dirinya. Anggita ingin memfokuskan diri akan kehamilan dan usaha kafenya.


Anggita kembali sibuk setelah Danny pergi dari rumahnya. Hari ini, dia mendapatkan pelajaran berharga dari adik iparnya itu. Cara Danny menjaga dirinya sedikit menyebalkan tapi tidak bisa dipungkiri jika hal itu membuat Anggita mempunyai penilaian tersendiri akan pria jangkung itu. Dia pernah berpikir jika Danny menganggap dirinya rendah karena janda ternyata pria itu berusaha menjaga harga dirinya dari pria Mata keranjang.


Anggita sadar betul akan tatapan tatapan lapar sebagian para pengunjungnya. Perutnya yang membuncit dan wajahnya yang sedikit gemuk tidak menutupi kecantikannya. Kecantikannya masih jelas terlihat membuat para pria terpikat.


Tiga hari berlalu dari pertemuannya dengan Danny yang terakhir. Dokter Angga yang biasanya selalu datang ke kafe. Tapi tiga hari ini, pria itu absen tanpa pemberitahuan.


Anggita tentu saja bertanya tanya dalam hati akan keberadaan pria baik hati itu. Anggita tidak berani untuk bertanya melalui pesan karena selama ini dia dan dokter Angga tidak pernah berkomunikasi lewat ponsel. Komunikasi mereka sebatas di saat bertemu saja.


"Mbak, Dokter Angga kok tidak kelihatan ya selama tiga hari ini," kata Lasmi sambil merapikan uang kertas. Anggita yang duduk di samping Lasmi semakin penasaran akan pria itu.


"Mbak juga tidak tahu Lasmi."


Ternyata pertanyaan Lasmi membuat Anggita semakin memikirkan pria itu.


"Biasanya setiap hari, Dokter itu rutin datang. Tiba tiba absen seperti ini tanpa ijin atau pemberitahuan sakit. Aneh juga ya mbak."


"Aneh bagaimana maksud kamu?. Datang atau tidak itu hak dia. Tidak mesti minta ijin apalagi harus ada pemberitahuan apapun kepada Kita jika dia tidak datang ke kafe ini."


"Mbak tidak merasa aneh. Kalau aku merasa aneh mbak. Apa ada diantara kita yang membuat dokter itu tersinggung?.


Anggita mengerutkan keningnya. Walau dia berkata jika dokter Angga tidak datang ke kafe ini bukan suatu keanehan tapi otaknya berusaha mengingat hal hal yang dia lakukan atau dia katakan yang membuat dokter itu tersinggung.


"Dari aku sih gak ada. Tapi tidak tahu jika karyawan lain," jawab Anggita setelah lumayan lama berpikir tentang kemungkinan yang disebutkan oleh Lasmi.


"Mbak, panjang umur. Yang Kita bicarakan itu sudah datang," kata Lasmi sambil menunjuk keluar kafe. Mobil milik dokter Angga terlihat memasuki pekarangan itu dan kini terlihat sedang mencari tempat parkir.


"Ah, syukurlah. Akhirnya dia datang juga."


"Ternyata ada yang diam diam merindukan dokter itu," kata Lasmi sambil tersenyum. Anggita seketika menundukkan kepalanya. Dia tidak sadar mengeluarkan kata kata pertanda dirinya merasa lega hanya melihat kedatangan dokter Angga.


Anggita merasakan jantungnya berdetak kencang hanya melihat Dokter Angga sedang keluar dari dalam mobil. Ternyata kata kata Danny yang mengatakan dokter Angga menyukai dirinya berpengaruh besar ke kondisi jantungnya saat ini.


Tidak ingin jantungnya terus berdetak kencang. Anggita akhirnya menundukkan kepalanya. Dia merasa bagaikan anak remaja yang baru mengenal cinta.


"Apa aku jatuh cinta kepada dokter itu. Tidak mungkin," kata Anggita dalam hati. Dia berpura pura sibuk memainkan ponselnya padahal Anggita sudah bisa merasakan jika dokter Angga semakin dekat ke meja kasir itu.


Lasmi tersenyum melihat sikap malu malu yang diperlihatkan Anggita. Walau usianya lebih muda dua tahun dari Anggita dia bisa menangkap jika Anggita sengaja pura pura sibuk memainkan ponsel. Lasmi tidak bodoh. Selama dua bulan bekerja di kafe ini dia bisa melihat jika dokter Angga menatap Dan memperlakukan Anggita berbeda dengan mereka para karyawan Anggita. Lasmi sangat yakin jika sebenarnya dokter Angga sudah jatuh hati kepada pimpinannya itu.


"Mbak, dokter itu semakin dekat. Pegang jantung mbak. Jangan sampai terjatuh."


Lasmi terkekeh mendapatkan tatapan tajam dari Anggita karena perkataannya.


"Mbak, aku ke belakang dulu." Anggita seketika memegang tangan Lasmi.


"Jangan coba coba pergi."


"Iya. iya bos.. Tapi lepas dulu tanganku." Anggita melepaskan tangan Lasmi bersamaan dengan dokter Angga yang sudah berdiri di depan meja kasir itu. Lasmi kembali merapikan Uang uang kertas yang kusut sedangkan Anggita sibuk mengusai dirinya sendiri supaya tidak gugup.


"Anggita. Aku membawa sesuatu untuk kamu. Sebaiknya langsung dibawa saja ke rumah."


Anggita langsung melihat tangan dokter Angga yang ternyata membawa beberapa paper bag.


"Baik dokter. Ayo Kita ke rumah." Anggita berdiri dari duduknya dan mempersilahkan dokter Angga untuk berjalan terlebih dahulu. Sikapnya yang masih sedikit gugup masih jelas terlihat oleh Lasmi.

__ADS_1


"Apa ini Dokter?" tanya Anggita setelah beberapa paper bag itu di tangannya. Tidak seperti biasanya. Dia berusaaha untuk tidak menatap wajah dokter itu.


"Bukalah. Semoga kamu menyukainya." Anggita menuruti perkataan dokter itu. Dia membuka paper bag itu dan seketika wajahnya berbinar.


"Ini sangat menggemaskan Dokter. Lucu."


Anggita mengeluarkan isi paper bag yang ternyata pakaian bayi. Warna dan gambar pakaian bayi itu yang lucu membuat Anggita sangat senang.


"Kamu melupakan hal hal yang harus dipersiapkan menjelang persalinan Anggita. Usia kandungan kamu sudah tujuh bulan. Sudah selayaknya kamu mencicil semua keperluan persalinan."


"Terima kasih dokter karena sudah mengingatkan aku."


Anggita memang belum membeli apapun yang menjadi keperluan bayinya nanti setelah persalinan. Sibuk di kafe membuat dirinya melupakan hal penting itu.


"Jika kamu butuh bantuan apapun. Aku siap membantu kamu," kata Dokter Angga. Anggita seketika menatap dokter. Pria itu terlalu baik kepadanya hingga memperhatikan hal detail menyangkut persalinannya nanti.


"Darimana selama tiga hari ini Dokter?" tanya Anggita tanpa menjawab perkataan Dokter Angga. Dokter Angga juga menatap Anggita. Kini dua manusia itu saling menatap tapi Anggita buru buru menundukkan kepalanya karena tidak tahan bertatapan mata dengan pria baik itu.


"Kamu mengkhawatirkan aku?"


Anggita merasa malu untuk menjawab iya atau menganggukkan kepalanya. Dia hanya tersenyum malu malu.


"Terima kasih karena mengkhawatirkan aku. Sebenarnya ada urusan keluarga yang harus aku selesaikan selama tiga hari."


Anggita kini menganggukkan kepalanya mendengar alasan dokter Angga tidak datang selama tiga hari ini.


"Kamu sibuk hari ini?.


"Sangat sibuk dokter," jawab Anggita polos. Pertanyaan itu diartikan Anggita sebagai pertanyaan tentang keadaannya satu hari ini.


"Begitu ya?. Padahal kalau kamu tidak sibuk Hari ini aku ingin mengajak kamu untuk refreshing sebentar."


Anggita kembali merasakan jantungnya berdebar hanya mendengar perkataan Dokter tentang kebahagiaan.


"Anggita, melangkahkan lah bersama aku menyongsong masa depan. Aku akan berusaha keras untuk menjadi yang terbaik untuk kalian berdua."


Anggita mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk. Dia memberanikan diri untuk menatap pria itu. Ternyata apa yang dikatakan oleh Danny tiga hari yang lalu menjadi kenyataan Hari ini. Anggita mendengar sendiri jika dokter Angga menyatakan perasaannya lewat ajakan melangkah bersama.


"Maaf Anggita. Aku tidak pandai merangkai kata kata untuk meyakinkan kamu akan perasaan yang sebenarnya bersemayam di hatiku kepada kamu. Aku hanya yakin jika kalian berdua adalah masa depanku."


Anggita tidak dapat berkata kata mendengar pengakuan perasaan pria itu. Satu hal yang dia tahu bahwa hatinya tersentuh ketika dokter Angga tidak hanya mengatakan dirinya sebagai masa depannya.


"Dokter. Kamu tahu statusku seperti apa. Saat ini aku sedang mengandung. Kamu bisa mendapatkan wanita yang masih suci daripada aku yang hanya janda. Jangan terburu buru untuk mengambil keputusan yang nantinya tidak sejalan dengan apa yang dokter pikirkan saat ini. Aku menghargai semua apa yang dokter lakukan dan rasakan terhadap aku dan janinku. Tapi tolong. Tolong pikirkan matang matang."


Walau hatinya tersentuh dengan Sikap Dokter Angga tidak membuat Anggita langsung menerima pria itu begitu saja. Dia sadar akan statusnya sebagai janda hamil tidak mudah untuk menjalani hubungan baru dengan orang lain. Bisa saja dokter Angga menerima dirinya dan janinnya. Tapi bagaimana dengan keluarga dokter Angga. Dia tidak ingin mendapatkan penilaian negatif dari keluarga dokter Angga. Cukup dirinya mendapatkan penilaian dari mama Anita.


"Sebelum aku mengutarakan perasaan ini. Aku sudah bercerita tentang keadaan kamu kepada mamaku. Mama tidak keberatan sedikitpun tentang status dan janin kamu. Aku berani mengucapkan tentang perasaanku karena sudah berpikir matang matang.


Tiga hari yang dikatakan oleh dokter Angga sebagai alasan tidak datang ke kafe milik Anggita ternyata dokter Angga mengunjungi mama kandungnya dan meminta persetujuan wanita itu terkait dengan perasaannya tentang Anggita.


'Dokter. Kita masih dua bulan menjadi teman. Apa ini tidak terlalu cepat?.


Anggita jelas menunjukkan keraguannya.


"Anggita, kamu tidak perlu menjawab iya jika kamu masih meragukan ketulusanku. Tapi biarkan aku membuktikan ketulusan itu sampai kamu yakin untuk melangkah bersama dengan diriku menyongsong masa depan."


"Baiklah dokter. Tapi aku tidak berani memberikan harapan apapun saat ini."

__ADS_1


Anggita akhirnya setuju atas usul yang dikatakan oleh dokter Angga. Ini lebih baik dari pada memutuskan terburu buru. Walau Anggita merasakan perasaan lain saat ini kepada dokter Angga. Dia tidak ingin mengartikan perasaan itu sebagai cinta.


Di tempat terpisah yakni di kantor Evan. Danny terlihat di kantor itu. Walau kedatangannya mengganggu jam kerja Evan dan asistennya. Danny tidak perduli. Pria itu terlihat duduk santai di sofa sambil menunggu Evan dan Rico yang sedang berbicara serius di meja kerja milik Evan.


"Woi, aku sudah lumutan menunggu kalian berdua. Aku bukan pengangguran yang tidak punya pekerjaan. Aku manusia biasa yang bisa marah jika diabaikan."


Danny berbicara sangat keras. Dia sudah menunggu Evan dan Rico hampir setengah jam. Tapi tanda tanda jika pembicaraan itu akan berakhir tidak ada.


"Kalau tidak sabar menunggu. Pulang saja Sana," jawab Evan kesal. Kedatangan Danny membuat konsentrasi pria itu buyar.


"Baiklah. Karena aku butuh. Aku bersedia menunggu. Bangunkan aku kalau kalian sudah siap." Danny akhirnya mengalah dan berbaring di sofa. Evan dan Rico hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan pria itu.


Setengah jam kemudian. Pembicaraan antara Rico dan Evan berakhir. Evan mengingat perkataan adiknya untuk dibangunkan. Pria itu akhirnya membalas sikap menyebalkan adiknya itu dengan memercikkan air minum ke wajah Danny untuk membangunkan pria itu. Sedangkan Rico keluar dari ruangan itu karena menduga kedatangan Danny pasti tentang keluarga.


"Kami Kira aku tanaman yang perlu disiram?" tanya Danny kesal. Dia langsung duduk dan menatap Evan dengan tajam.


"Tidak perlu sok kesal seperti itu. Katakan apa maksud kedatangan kamu ke kantor ini?" tanya Evan tanpa basa basi.


"Bro. Kita jelas mengetahui jika perusahaan ini adalah warisan dari Kakek untuk kamu. Aku ingin meminta bagianku. Sepuluh persen dari saham yang kamu miliki."


"Jangan main main dengan aku Danny. Kita berdua sama sama cucu kandung kakek Martin. Kamu juga sudah mendapatkan yang seharusnya bagian kamu."


"Tapi kamu tahu sendiri bagaimana nasib perusahaan itu.Perusahaan itu bukan milikku lagi. Perusahaan itu kini di tangan monste betina. Jika aku tidak mempunyai saham di perusahaan ini. Bagaimana aku bisa menghidupi Sisil dan biaya nikah nanti."


"Itu bukan urusan aku. Kamu juga sudah mendapatkan dukungan modal dari Nenek. Jadi jangan coba coba untuk meminta apa yang menjadi bagian aku."


"Ayolah kak. Aku baru memulai usaha. Kamu tahu sendiri jika memulai usaha tidak langsung untung. Butuh beberapa bulan bahkan tahun untuk kembali modal. Apa kamu tega. Aku tidak bisa membahagiakan Sisil."


Danny merengek bagaikan anak kecil. Wajahnya terlihat sangat sedih. Sebagai orang satu satunya yang terlahir dari rahim yang sama. Evan tidak tega melihat wajah sedih adiknya itu.


"Kamu kalau mengemis jangan meminta terlalu tinggi seperti itu. Aku akan memberikan saham itu sebesar lima persen tapi atas nama Sisil."


Danny bersorak dalam hati karena tidak begitu sulit membujuk Evan. Ternyata nama Sisil sangat ampuh untuk meluluhkan hati Evan.


"Sepuluh persen lah kak. Kasihan aku mantan pengusaha bankrut ini." Danny masih berusaha membujuk Evan akan saham lima persen itu.


"Tidak. Kalau kamu tidak mau lima persen ya sudah. Sana pergi."


"Oke. Oke kak. Lima persen juga tidak apa apa. Tapi jangan atas nama Sisil ya!.


"Jadi atas nama siapa?. Atas nama kamu?. Danny menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan tajam dari Evan.


"Atas nama adiknya Sisil yang akan lahir dua bulan lagi."


"Mantan istri mu hamil?. Apa kamu yakin jika itu darah daging kamu. Kalian bercerai karena dia selingkuh. Bisa saja janin itu milik selingkuhannya."


"Bukan clara bro. Tapi dari wanita lain."


"Kamu menghamili perempuan di luar nikah untuk kedua Kali Danny?. Evan sudah mulai marah.


"Bukan di luar nikah. Anak itu ada karena pernikahan bukan karena zina.


"Diam kau, Danny. Kamu memalukan. Selalu memulai hubungan karena kesalahan. Aku bersedia memberikan saham itu jika sudah melihatnya dan melihat hasil tes DNa antara kamu dan anak itu.


"Tidak perl, test DNA. Waktu pertama kali memproses janin itu. Wanita masih Virgin.


Evan meredam amarahnya mendengar perkataan Danny yang seolah tidak bersalah setiap perkataannya. Tapi Evan diam. Dia menoleh ke pintu ruangan Dan melihat Evan Rico sedang mendorong pintu kaca itu.

__ADS_1


"Evan. Seseorang ada di rumah sekarang mencari Adelia. Pria itu menuntut bayaran atas perbuatann di Masa lalu kata Rico tenang.


__ADS_2