Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 161


__ADS_3

"Lepas kak," kata Nia sambil mendorong tubuh Danny dari tubuhnya. Danny masih memeluk tubuh Nia. Danny tidak menghiraukan perkataan istrinya. Pria itu justru memeluk Nia semakin erat.


"Kak, kita harus ke rumah Nenek sekarang. Hujan sudah reda," kata Nia lagi. Dia mengingatkan Danny akan rencana mereka ke rumah nenek Rieta hari ini. Anggita sudah mengirimkan pesan kepada Nia jika wanita itu sudah di rumah nenek Rieta.


"Bentar lagi sayang. Biarkan aku tidur sebentar," kata Danny. Ternyata permainan panas itu membuat Danny kelelahan dan ingin tidur sebentar.


"Baiklah kak. Tapi lepas dulu ini. Aku harus mandi dan mempersiapkan anak anak dulu," kata Nia lagi. Nia berpikir Selagi dirinya membersihkan tubuhnya dan mempersiapkan anak anaknya. Biarlah Danny tidur sebentar.


Danny melepaskan tangannya dari tubuh istrinya itu. Sebenarnya jika situasi memungkinkan. Danny masih menginginkan permainan untuk ronde berikutnya. Tapi karena sudah terlanjur berjanji. Danny pun tidak ingin mengingkari janji itu.


Nia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Di dalam kamar mandi itu. Nia berkali kali tersenyum. Dia merasa bahagia dengan perkembangan hubungannya dengan Danny. Dirinya sudah menjadi istri lahir dan batin bagi Danny. Itu artinya bukan hanya hari ini dirinya melayani Danny di ranjang. Setelah ini, Nia harus siap melayani pria itu kapanpun Danny meminta hak nya itu.


Setelah membersihkan tubuhnya dan merias wajah dengan riasan tipis. Nia masuk ke kamar Sisil hendak mempersiapkan anak anaknya itu. Baru saja Nia membuka pintu kamar itu. Nia sudah merasa kesal dengan pengasuh baru itu. Nia melihat pengasuh itu tidak ada niat untuk bekerja. Lagi lagi, pengasuh itu tidak memakai baju dinas melainkan pakai celana hotpant dan baju kaos yang super ketat. Nia marah dalam hati. Karena rasa marah itu. Nia tidak menegur pengasuh itu sama sekali. Namun demikian pengasuh itu tidak merasa bersalah sama sekali.


Nia memilih pakaian yang hendak dipakai oleh Sisil. Sedangkan Naya sudah berganti pakaian dan pengasuhnya yang melakukan itu. Melihat pengasuh Nia yang santai sambil bermain ponsel sementara Nia dan pengasuh Naya sudah sibuk membuat Nia tidak sabar lagi menghadapi pengasuh itu. Pengasuh itu bersikap seperti bos.


Setelah persiapan itu selesai. Nia pun kembali masuk ke dalam kamar dimana Danny sedang tidur.


"Kak, bangun," kata Danny. Pria itu langsung bangun. Dia menarik tubuh istrinya mendekat kemudian melabuhkan bibirnya sebentar di bibir istrinya itu.


"Aku Mandi dulu. Aku janji hanya sebentar," kata Danny. Nia menganggukkan kepalanya. Tapi ketika melihat Danny turun dari ranjang tanpa sehelai benang pun. Nia memalingkan wajahnya. Ternyata Danny melihat itu. Pria itu tidak langsung ke kamar mandi justru berdiri tegap di hadapan Nia.


"Lihat aku sayang," kata Danny. Ketika Nia menoleh ke arah Danny. Pria itu menari tanpa musik.


Nia akhirnya tertawa. Tubuh suaminya yang meliuk liuk indah membuat batang besar yang terlihat lemas itu ikut melambai lambai. Kekesalan hati Nia karena sang pengasuh itu perlahan hilang hanya karena melihat suaminya yang ternyata suka jahil.


"Kak, Mandi lah Sana," kata Nia sambil tertawa. Danny pun akhirnya membalikkan tubuhnya dan melangkah ke arah kamar mandi.


Setelah beberapa menit di kamar mandi. Danny akhirnya keluar dari sana dan tidak melihat Nia di kamar itu. Tapi melihat pakaian yang dipilihkan Nia untuk dirinya yang sudah terletak di ranjang membuat Danny tersenyum.


"Ternyata dia memperhatikan penampilanku selama ini," kata Danny sambil mengenakan pakaian itu satu persatu ke tubuhnya. Celana dan baju kaos yang dipilihkan oleh Nia itu adalah celana dan kaos yang dipakai oleh Danny ketika mereka hendak menjemput Anggita saat itu.


Pria itu melangkah keluar kamar penuh percaya diri. Dia tahu kemana tujuan sekarang. Danny langsung membuka pintu kamar Sisil tapi anak dan istrinya itu tidak ada lagi di kamar itu.


"Sisil," teriak Danny dari lantai atas itu. Dia sudah menduga jika anak anak dan istrinya itu sedang menunggu di ruang tamu.


"Kami di sini pa," teriak Sisil dari bawah.


Danny semangat menuruni anak tangga. Dia ingin menunjukkan kepada Nia secepatnya bahwa dirinya memakai pakaian yang dipilihkan oleh istrinya itu.


Baru saja Danny melihat dan menginjakkan kakinya di ruang tamu. Seseorang memanggil dirinya dari arah dapur.


"Pak Danny. Maaf, aku belum bersiap. Bisa menunggu sebentar?" tanya pengasuh yang tidak tahu diri itu. Pengasuh itu bahkan membusungkan dadanya dan menatap Danny dengan penuh damba.


Danny menoleh sebentar kepada pengasuh itu. Kemudian duduk di sebelah Nia yang sedang memangku Naya. Tidak jauh dari mereka Sisil dan pengasuh Naya juga duduk di sofa itu. Nia memang memperlakukan pengasuh Naya itu istimewa dibandingkan dengan pengasuh Sisil. Selain pengasuh Naya itu baik dan sopan. Pengasuh itu juga cepat tanggap akan sesuatu hal. Seperti tadi, setelah mengetahui Mereka akan ke rumah nenek Rieta, tanpa disuruh. Pengasuh itu langsung mengganti pakaian Naya. Setelah itu, pengasuh itu juga langsung mempersiapkan dirinya sendiri. Sehingga tidak ada istilah dirinya ditunggu. Sedangkan pengasuh baru itu tidak mau tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Pengasuh Naya sudah siap untuk berangkat. Pengasuh Sisil itu masih santai bermain ponsel.

__ADS_1


"Siapa kamu sehingga kami harus menunggu kamu. Apa kamu merasa jika kamu adalah orang yang penting bagi kami?" tanya Danny tajam. Dia pun tidak menyukai cara tidak sopan pengasuh Sisil itu. Apalagi melihat cara berpakaian wanita itu yang jelas menunjukkan sikap yang tidak sopan.


Seakan tidak tahu malu. Wanita itu bukannya malu atau tersinggung. Dia tetap memamerkan senyum manisnya. Tidak bisa dipungkiri jika senyuman itu memang sangat cantik. Tapi Danny tentu saja tidak tertarik dengan senyuman itu. Dia tidak menyukai wanita agresif seperti ini karena akan mengingat dirinya kepada sang mantan istrinya.


Nia tertawa kecil mendengar perkataan suaminya itu. Wanita itu cukup puas dengan perkataan itu. Seharusnya dengan kata kata itu. Pengasuh itu sadar akan posisi dan pekerjaannya di rumah itu. Tapi karena pengasuh itu merasa lebih cantik body dan wajah membuat dirinya sangat percaya diri menggoda Danny. Dia sangat yakin Danny akan tergoda dengan tubuh dan wajahnya.


"Apa kamu tidak mengerti perkataan suamiku?" tanya Nia kepada pengasuh itu. Pengasuh itu menggelengkan kepalanya dengan wajah yang dibuat selugu dan seimut mungkin. Nia kembali tertawa. Ternyata pengasuh itu juga jago akting. Di hadapan Danny dia berusaha bersikap manis tapi ketika tidak ada Danny. Pengasuh itu meremehkan Nia. Nia menyuruh pengasuh itu untuk tetap berdiri di tempat itu.


"Kak, kamu pernah berkata bahwa aku bisa membuat peraturan terhadap para pekerja di rumah ini. Menegur bahkan memecat mereka jika tidak menghargai aku," kata Nia kepada Danny.


"Iya benar sayang. Kamu adalah nyonya muda di rumah ini. Kamu berhak mengambil keputusan apapun di rumah ini jika itu yang membuat dirimu nyaman," jawab Danny. Pengasuh Naya tersenyum mendengar perkataan Danny itu. Pengasuh itu ikut bahagia melihat Danny dan Nia seperti suami istri pada umumnya.


"Terima kasih kak. Aku rasa hanya dengan satu pengasuh saja. Aku dan pengasuh Naya bisa menjaga Sisil dan Naya. Selain itu, wanita itu tidak cocok bekerja sebagai pengasuh dari segi apapun apalagi dari segi penampilan. Itu menurut aku kak. Jika kamu menyetujui. Aku ingin memutuskan hubungan kerja ini dengan dia," kata Nia.


Danny tersenyum dan menatap istrinya itu. Cara Nia memilih kata kata yang tepat tanpa menghina pengasuh itu membuat Danny bangga mempunyai istri seperti Nia.


Pengasuh itu bergerak gelisah di tempat berdiri. Sebelumnya dia berpikir jika dengan kecantikannya. Dia sanggup menggoda Danny. Dia sudah bosan hidup sebagai pekerja yang selalu disuruh dan harus patuh. Bekerja sebagai pengasuh hanya sebagai batu loncatan untuk mendapatkan mangsa untuk hidup enak. Dan sepertinya dia berada di rumah majikan yang kurang tepat.


Tapi melihat Danny tidak langsung menjawab perkataan Nia. Pengasuh itu seakan mempunyai harapan untuk tetap tinggal dan bekerja di rumah itu.


"Lakukan apa yang membuat dirimu nyaman sayang."


Pengasuh itu terkejut. Riwayatnya sebagai pengasuh Sisil sepertinya akan tamat hari ini. Beberapa minggu tinggal dan bekerja di rumah ini sebenarnya pengasuh itu merasa nyaman. Danny dan Nia tidak semena mena memperlakukan para pekerja di rumah itu. Gaji yang akan dia terima juga tergolong lumayan besar untuk gaji seorang pengasuh. Tapi yang membuat wanita itu tidak ingin meninggalkan rumah itu karena sudah mengetahui jika Danny adalah anak dari pengusaha kaya dan pewaris perusahaan milik Gunawan.


"Kamu sudah mendengar pembicaraan dengan suami ku kan?. Jadi dengan ini. Aku memutuskan hubungan kerja ini dengan kamu. Segala sesuatu yang berkaitan dengan gaji kamu. Kamu akan berurusan dengan yayasan tempat kamu bernaung," kata Nia. Lagi lagi wanita itu sangat sopan memecat pengasuh itu.


"Tolong jangan pecat Saya bu. Aku benar benar butuh pekerjaan ini," kata pengasuh itu. Dia memohon untuk tidak dipecat.


"Keputusan istriku sudah bulat. Jangan memohon karena itu hanya untuk merendahkan dirimu. Jika kamu sadar, kamu butuh pekerjaan ini seharusnya kamu bekerja dengan sungguh sungguh. Ini kamu bekerja seperti di club malam. Kamu kira aku atau pekerja laki laki yang ada di rumah ini menyukai cara berpakaian kamu itu. Di luar negeri lebih dari minim itu adalah hal biasa," kata Danny mendukung keputusan istrinya itu.


"Ini untuk sekedar uang transport. Kami pulang dari rumah nenek. Aku tidak ingin melihat kamu lagi di rumah ini," kata Nia tegas. Dia meletakkan beberapa lembar uang merah di atas meja. Nia memberikan uang itu bukan karena dirinya sok baik. Pengasuh itu belum menerima gaji pertamanya bekerja di rumah ini. Dan Nia berpikir jika wanita itu juga sudah kehabisan uang.


Setelah mengatakan itu. Nia beranjak dari duduknya dan mengajak Danny untuk segera pergi.


"Kak, keputusan aku sudah tepat kan?" tanya Nia kepada Danny setelah mereka duduk di dalam mobil. Nia sengaja menanyakan itu karena Nia ingin mengetahui bagaimana sebenarnya Danny menilai pengasuh itu.


"Sudah tepat sayang. Bahkan aku pun sebenarnya sudah berusaha mencari pengasuh yang baru. Aku pun sudah berencana memecat wanita itu setelah dia menerima gaji pertama."


Danny pun terlihat menekan beberapa angka di layar ponsel miliknya yang kemungkinan angka angka itu adalah Sandi pengaman. Kemudian Danny mengulurkan tangannya memberikan ponsel itu kepada Nia. Nia menerima ponsel itu. Ternyata di layar ponsel itu. Danny bertanya kepada pihak yayasan untuk mengganti pengasuh baru itu dan menjelaskan alasan mengapa dirinya tidak ingin memperkerjakan pengasuh itu lagi.


"Aku Kira kamu menyukai cara kerja pengasuh itu kak," kata Nia sambil memberikan ponsel itu kepada Danny. Danny terlihat menggelengkan kepalanya. Bukan hanya karena cara berpakaian pengasuh itu yang tidak dia sukai. Sisil pernah mengadu kepada dirinya bahwa Sisil pernah salah membawa buku ke sekolah.


"Tidak. Aku tidak menyukai orang yang tidak mempunyai etika kerja," kata Danny. Mobil sudah bergerak. Nia duduk di sebelah Danny sebagai supir. Wanita itu memangku Naya sedangkan Sisil dan pengasuh Naya ada di bangku belakang.


"Tapi perasaan kemarin. Ada yang nyaman menerima pelayanan pengasuh itu di meja makan," sindir Nia. Mengingat bagaimana Danny menghabiskan sarapan buatan pengasuh itu membuat hatinya menjadi kesal. Danny tertawa. Melihat kekesalan di wajah istrinya. Danny merasa jika istrinya itu cemburu. Waktu itu pun dirinya sebenarnya terpaksa menerima pelayanan itu dari sang pengasuh. Danny bersedia menghabiskan sarapan itu untuk membuat Nia sadar akan tanggung jawabnya sebagai istri. Dan ternyata itu benar. Berkat hal itu. Nia akhirnya sadar dan merasa terancam sehingga mengubah hatinya dan berusaha menjadi istri yang baik bagi Danny.

__ADS_1


"Asal kamu tahu sayang. Justru karena itulah aku tidak menyukai pengasuh itu. Aku menilai itu adalah sikap yang lancang dan tidak menghargai kamu sebagai istriku dan nyonya di rumah kita," jawab Danny jujur.


"Masa sih."


Danny menganggukkan kepalanya. Apa yang dia katakan adalah hal benar. Dia pun bisa melihat jika pengasuh itu tidak layak bekerja sebagai pengasuh. Danny sengaja membiarkan pengasuh itu bekerja sampai akhir bulan supaya pengasuh itu menerima gaji pertamanya tanpa potongan. Bukan karena dia memikirkan pengasuh itu. Tapi itu merupakan tanggung jawabnya juga kepada yayasan.


"Aku Kira dengan cara pengasuh itu memberikan bonus setiap hari. Kamu akan menyukainya," kata Nia lagi. Dia ingin lebih jauh menguji suaminya itu.


"Bonus apa?" tanya Danny tidak mengerti.


"Bonus belahan dada dan pangkal paha kak."


Danny tertawa begitu juga dengan pengasuh Naya di kursi belakang.


"Kan sudah aku bilang tadi. Di luar negeri. Bahkan hampir tidak berpakaian banyak berkeliaran di jalanan atau di tempat tempat umum lainnya. Tapi aku bukan tipe pria yang suka mempunyai cabang. Jika bukan karena kamu. Mungkin sampai saat ini atau sampai beberap tahun mendatang aku masih duda. Tapi takdir berkata lain. Aku harus menjadi suami dari wanita yang bernama Nia. Dan asal kamu tahu. Aku menyukai dan bersyukur akan takdir ini," kata Danny. Dia tidak malu mengungkapkan perasaannya meskipun ada orang lain di mobil itu.


Nia tersenyum malu malu mendengar kata kata bahagia itu. Dia juga merasakan hal yang sama. Dia bahagia karena takdir mempertemukan dirinya dengan Danny dalam satu ikatan pernikahan suci setelah badai hampir memisahkan mereka.


Danny juga tersenyum. Dia dapat melihat wajah istrinya yang tersenyum malu malu itu. Danny bukan bermaksud menggombal. Tapi itulah yang sebenarnya yang terjadi. Pengkhianatan mantan istrinya membuat Danny tidak ingin terikat dengan wanita meskipun dalam status berpacaran. Jika bukan karena Nia. Danny akan betah dengan statusnya itu. Tapi takdir berkata lain. Dia harus menemukan istri yang luar biasa seperti Nia bukan dari proses berpacaran ataupun perjodohan.


Perjalanan beberapa menit akhirnya mengantarkan mereka ke rumah nenek Rieta. Selain Gunawan dan tante Tiara. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga itu. Makanan ringan dan berbagai macam buah menjadi cemilan anggota keluarga itu.


Ada hal berbeda ketika Nia sudah tiba di ruang keluarga itu. Para ibu hamil terlihat memijit kaki nenek Rieta. Sedangkan Evan memijit tangan kanan nenek tua itu.


"Mengapa kalian lama sekali," gerutu nenek Rieta. Mereka sudah menunggu berjam jam di rumah itu tapi Danny dan keluarganya baru saja tiba di rumah itu.


"Banyak pekerjaan nek. Jadi maklum saja," kata Danny santai. Nia tertawa dalam hati mendengar perkataan suaminya itu. Bisa bisanya dia memberikan jawaban yang tidak masuk akal. Hari ini adalah hari minggu. Nia yakin jika siapa pun yang mendengar jawaban Danny tidak akan percaya. Lebih baik memberikan alasan karena hujan dari alasan itu.


"Apa pekerjaan kamu itu sudah selesai?" tanya Evan. Pria itu menggerakkan tangannya kepada Danny supaya mengambil bagian dalam acara pijit memijit itu. Melihat gerakan tangan Evan. Danny pun mengerti. Dia mendekati nenek Rieta dan memijit tangan kiri milik nenek tua itu.


"Sudah bro," jawab Danny.


"Pekerjaan kamu pasti tuntas bersamaan dengan berhentinya hujan kan?" tebak Evan. Pria itu sudah menduga jika Danny dan Nia sudah melakukan pekerjaan suami istri pada umumnya..


"Yes. Tebakan anda benar. Anda berhak mendapatkan hadiah. Hadiahnya adalah Dua tangan nenek akan menjadi bagian kamu," kata Danny. Yang lain tertawa. Apalagi melihat Danny menggerakkan tangan nenek Rieta ke arah Evan. Dan melihat kekesalan di wajah Evan dengan menatap adiknya itu dengan tajam.


"Tunjukkan sedikit bakti kamu kepada nenek, Danny. Jangan hanya minta uangnya saja kamu nomor satu," kata Evan serius. Danny menganggukkan kepalanya. Dia kembali memijit tangan keriput neneknya itu. Akhir akhir ini, kesehatan Nenek Rieta memang sedikit menurun. Selain gampang lelah. Nenek tua itu juga tidak selera makan apapun.


"Kamu pasti lelah setelah bekerja Danny. Istirahat saja dulu. Biar Nia saja yang menggantikan kamu memijit tangan ku ini," kata nenek Rieta pengertian akan cucunya itu.


"Enak sekali dia. Dia kan bekerja yang enak enak nek. Masa di suruh istirahat," gerutu Evan. Danny sudah beranjak dari duduknya itu dan langsung berbaring di lantai dimana Cahaya dan Sisil sudah bermain. Sikapnya itu benar benar membuat Evan sangat kesal. Dia memang mengetahui jika Danny paling anti jika disuruh memijit. Tapi apa salahnya memijit Nenek itu di saat kondisi kesehatannya sedang menurun seperti saat ini.


"Biarkan saja adik mu itu istirahat Evan. Mana ada kerja enak enak. Yang namanya kerja itu ya lelah," kata nenek Rieta lagi. Nenek tua itu tidak mengetahui jika kerja enak enak yang dimaksudkan oleh Evan adalah bermain di ranjang. Danny tersenyum penuh kemenangan mendapatkan pembelaan dari Nenek Rieta.


"Makanya kamu kerja enak enak biar disuruh nenek istirahat," ejek Danny. Evan menatap adiknya itu dengan tajam. Danny tidak memperdulikan tatapan tajam itu. Dia sangat senang mengerjai Kakaknya itu. Danny menduga jika Evan pasti menahan keinginan itu karena melihat buncit Anggita yang beberapa minggu lagi akan melahirkan.

__ADS_1


__ADS_2