
"Kapan kamu membeli cincin itu?" tanya Anggita penuh selidik. Dari tadi pagi hingga sore hari ini mereka berdua selalu bersama.
"Aku membeli cincin ini tiga hari setelah Cahaya lahir," jawab Evan.
Cincin itu sudah hampir tujuh bulan tersimpan di dalam dompet Evan. Evan menunggu waktu yang tepat untuk diberikan kepada sang pujaan hati. Di saat Anggita menjalin kasih dengan dokter Angga, Evan tidak pernah melepas cincin itu dari dompetnya.
Anggita menatap wajah Evan yang penuh harap akan jawaban yang memuaskan dari dirinya. Ada perasaan aneh yang menyusup relung hatinya mengetahui Evan mempersiapkan cincin itu jauh jauh hari bahkan saat itu dia menolak dengan tegas akan ajakan Evan untuk rujuk. Dia memperhatikan bentuk cincin itu. Model terlihat indah dan tidak pasaran.
"Mas, apa aku layak menerima ini. Aku sudah pernah memberikan hatiku kepada orang lain dan terluka karenanya. Bahkan kalau boleh jujur, Luka itu masih ada di sini. Aku takut, jika kita terburu buru menikah akan ada luka baru lagi. Kita memang pernah menikah satu tahun. Tapi pernikahan itu tidak membuat Kita saling mengenal karakter masing masing. Jujur, aku takut mas. Takut gagal untuk yang kedua kalinya," kata Anggita jujur. Bayang bayang pernikahan yang gagal dan sandiwara dokter Angga masih sangat jelas di ingatannya. Dia sudah bertekad dalam hati jika dirinya menikah untuk yang kedua kalinya adalah pernikahan terakhir..
Sudah hal yang wajar jika Anggita masih ragu. Anggita takut jika apa yang dikatakan oleh Evan juga sandiwara. 4rr Evan memang benar benar menunjukkan penyesalan dan perubahan sikap. Tapi sandiwara dokter Angga yang hampir sempurna membuat Anggita berhati hati menilai siapapun yang berbuat baik kepada dirinya. Termasuk pada mantan suaminya.
"Anggita, Aku sudah berjanji dalam diriku sendiri. Aku tidak akan menikah kalau bukan dengan dirimu. Bahkan jika kamu menikah dengan pria lain pun. Aku akan setia menunggu kamu. Jika kamu bahagia dengan pria lain. Aku akan menerima takdir aku. Tapi lihat, apa yang kita alami bersama. Kamu tertipu aku pun tertipu. Aku rasa itu suatu cara supaya kita kembali bersama. Karena aku sangat yakin bahwa Kita adalah jodoh sejati."
"Ini bukan bualan kosong. Anggita, aku benar benar sudah jatuh hati kepada kamu. Aku mencintai kamu. Menikah lah denganku sayang," kata Evan lagi.
"Mas Evan, aku...."
"Horee. Di terima. Terima kasih sayang," teriak Evan sambil berdiri dari duduknya. Dia mendekat Anggita yang merasa heran melihat rasa senang yang ditunjukkan oleh Evan. Padahal dirinya belum melanjutkan perkataannya apakah menerima atau tidak.
Evan menarik tangan Anggita dengan lembut. Dia memasukkan cincin cantik itu ke jari manis mantan istrinya yang masih terlihat bingung.
Cincin itu sudah melingkar indah di jari manis Anggita. Evan mencium punggung tangan mantan istrinya. Dia sengaja tidak menunggu Anggita melanjutkan perkataannya karena Evan tidak sanggup mendengar jika penolakan.
"Mas, aku belum menjawab. Mengapa kamu langsung memasukkan cincin ini ke jari manisku?" tanya Anggita protes setelah tersadar dari rasa bingung melihat Evan yang sangat bahagia.
"Masa sih. Tadi aku sepertinya sudah mendengar bahwa lamaran aku diterima," kata Evan pura pura bodoh. Dia mencubit pelan pipi Anggita yang menatap dirinya dengan tatapan kesal.
Cinta memang membuat segalanya terasa indah. Evan tersenyum melihat wajah cantik mantan istrinya itu.
"Baiklah, aku berlutut lagi ya," kata Evan. Pria itu kembali berlutut seperti sebelumnya.
"Sudah mas, sebaiknya kita masuk. Jangan karena mengejar mantan istri jadi lupa kepada anak sendiri," kata Anggita. Dia menarik tangan Evan untuk berdiri. Pria itu tersenyum. Walau Anggita tidak menjawab lamarannya setidaknya wanita itu tidak menolak cincin itu.
Evan mengekor kemana Anggita pergi. Setelah duduk sebentar di ruang tamu. Evan mengikuti langkah Anggita masuk ke kamar dimana Cahaya dan mama Feli berada.
"Kenapa kamu ikut masuk mas?" tanya Anggita yang melihat Evan sudah tidur menyamping di ranjang dekat Cahaya. Pria itu mencium wangi putrinya yang sepertinya baru selesai mandi. Sedangkan mama Feli keluar dari kamar itu seakan memberi waktu bersama kepada Cahaya dengan kedua orang tuanya.
"Aku mau lihat malaikat Kita Cahaya. Satu hari ini, dia terlupakan karena kegagalan pernikahan papa. Maafkan ayah dan bunda ya nak," kata Evan. Bayi cantik itu kini sudah duduk di pangkuan Evan. Tangannya mungilnya menggapai wajah Evan dan hampir mencakarnya.
__ADS_1
"Sakit nak," kata Evan. Dia mengamati kuku Cahaya. Evan meletakkan Cahaya di ranjang. Kemudian keluar dari kamar lalu masuk kembali.
Evan kembali meletakkan Cahaya di pangkuannya. Kini pria itu dengan telaten memotong kuku putrinya.
Anggita melihat apa yang dilakukan oleh Evan kepada Cahaya. Satu bentuk perhatian kecil yang bermanfaat besar. Jika lalai memotong seorang kuku bayi, sewaktu waktu bayi tersebut bisa mencakar wajahnya sendiri.
"Sudah selesai nak. Untung wajah papa yang kena cakaran kuku tadi. Papa tidak bisa membayangkan jika wajah kamu sendiri yang terkena cakaran," kata Evan. Dia membersihkan potongan kuku itu kemudian membuangnya.
Anggita menyembunyikan wajahnya yang tersenyum. Dia sangat senang putrinya diperhatikan dan dilimpahi kasih sayang seperti itu. Setelah mengetahui sandiwara dokter Angga. Anggita bisa melihat jika perbuatan antara perhatian Evan dan Dokter Angga. Evan mengetahui batasnya sebagai seorang ayah. Sedangkan dokter Angga, terkadang perhatiannya terlalu berlebihan. Anggita sekarang sadar jika dokter Angga melakukan itu untuk membuat dirinya yakin.
"Sayang."
"Hmmm."
Anggita menjawab panggilan Evan hanya bentuk gumaman saja. Hal itu membuat Evan bersorak dalam hati. Anggita sudah seperti terbiasa akan panggilan sayang itu padahal mereka masih hitungan jam saling membuka diri.
"Setelah menikah nanti, kamu pilih tinggal dimana?. Di rumah kita atau Kita beli rumah baru?" tanya Evan. Anggita yang sedang merapikan perlengkapan Cahaya terlihat menghentikan tangannya.
"Kalau di rumah ini, boleh?" tanya Anggita. Evan tersenyum. Ternyata, Anggita sudah setuju menikah dengan dirinya walau tidak mengucapkannya dengan kata kata.
"Kenapa harus di rumah ini?" tanya Evan.
"Hanya itu?.
"Mas, sebelum kita menikah. Ada hal penting yang harus kamu ketahui tentang diriku."
"Apa itu?" tanya Evan.
"Mamaku adalah tanggung jawabku. Karena aku. Dia harus berpisah dari pria itu. Jika kamu menikahi aku. Itu artinya mamaku harus tinggal bersama aku. Jika kamu keberatan. Maka aku tidak bisa melangkah hubungan ini," kata Anggita tegas. Anggita harus mengatakan ini. Dia tidak ingin di kemudian hari. Evan mengeluh tentang hal apapun menyangkut mamanya. Evan meletakkan Cahaya di ranjang. Dia bangkit dan melangkah mendekati Anggita.
"Sayang, lihat aku," kata Evan membalikkan badan Anggita yang berdiri di depan lemari. Anggita berbalik. Jarak keduanya tidak lebih dari setengah meter.
"Aku mengerti. Tanpa kamu bilang. Aku tahu bahwa ibu Feli adalah tanggung jawab kamu. Setelah menikah nanti. Ibu Feli adalah tanggung jawab kita berdua. Aku juga tidak mungkin membiarkan ibu mertua aku menderita dengan pria seperti Indra."
Entah mengapa setelah mendengar perkataan ini. Anggita merasakan semua keraguan lenyap dari hatinya.
"Jadi, Kita menikah kan lusa?" tanya Evan mempertegas lamarannya. Anggita menganggukkan kepalanya. Dia setuju menikah karena banyak pertimbangan. Selain karena melihat perubahan Evan. Anggita juga tidak ingin disalahkan oleh Cahaya suatu nanti.
Evan bahagia. Dia menarik tubuh Anggita hingga menempel ke tubuhnya. Evan mendaratkan ciuman penuh kasih di kening Anggita. Tidak cukup hanya di kening. Evan menurunkan ciuman di bibir Anggita yang selama satu tahun ini dia rindukan.
__ADS_1
Anggita tidak memberikan respon apapun. Tapi juga tidak menolak. Dia ingin melihat sejauh mana pria itu bisa menjaga dirinya selama ini.
Pergerakan bibir Evan di bibir Anggita ternyata membuat wanita itu bisa terbuai. Tidak sadar dirinya membuka mulut memberi ijin kepada sang penjelajah untuk berpetualang di rongga mulutnya. Anggita semakin percaya kepada Evan ketika pria itu melanjutkan ciuman setelah terlebih dahulu memastikan jika Cahaya sudah tidur.
Ciuman itu semakin panas. Baik Anggita dan Evan saling menikmati kerinduan akan ciuman nikmat itu. Anggita sadar bahwa hal ini tidak seharusnya mereka lakukan. Tapi Anggita ingin melihat apakah Evan bisa menahan keinginan mendesak itu atau tidak.
Anggita merasa lega setelah Evan menyudahi ciuman itu. Anggita percaya akan perkataan Evan jika dia tidak pernah menyentuh wanita manapun selain dirinya.
"Terima kasih sayang. Aku bisa menjamin jika cintaku utuh kepadamu. Tapi aku tidak bisa menjamin jika cobaan tidak ada setelah pernikahan kita nantinya. Tapi cobaan apapun itu, aku harap kamu selalu percaya dan selalu di sisiku. Aku sangat yakin jika Bronson dan timnya tidak tinggal diam melihat kita bahagia. Sekuat tenaga dan semampuku, akan berusaha membahagiakan kamu dan Cahaya. Ini janjiku kepadamu sayang."
Esok harinya. Evan dan Anggita mengumumkan kepada keluarga besar jika mereka bersedia menikah besok. Keluarga besar menyambut baik rencana itu. Rendra juga bernafas lega. Dengan pernikahan Evan dan Anggita, reputasinya terselamatkan.
Seperti calon pengantin lainnya. Evan juga tidak ke kantor hari ini. Dia sangat beruntung mempunyai asisten seperti Rico yang bisa diandalkan dalam hal apapun.
"Kita keluar sebentar ya," ajak Evan kepada Anggita.
"Keluar. Untuk apa lagi?" tanya Anggita. Mereka baru saja bertemu dengan seorang desainer yang harus mempersiapkan baju pengantin Anggita secepat mungkin. Nenek Rieta yang membayar untuk gaun tersebut.
"Ikut aku saja. Percaya kepadaku," kata Evan. Anggita menurut. Mereka keluar dari rumah dan kini sedang berada di toko perabotan rumah yang terkenal mahal dan mewah di kota itu.
"Untuk apa di sini?" tanya Anggita heran.
"Kamu pilih yang kamu suka. Aku akan memberikan sebuah rumah sebagai mahar pernikahan kita. Rumah itu masih kosong tanpa perabot. Setelah menikah kita tinggal disana," bisik Evan tepat di telinga Anggita. Rumah itu juga sudah lama dipersiapkan oleh Evan. Karena Evan sudah pernah berjanji dalam hati jika Anggita kembali kepadanya tidak akan membawa wanita itu ke rumah dimana Adelia pernah tinggal.
"Kapan kamu membelinya?" tanya Anggita heran.
"Sudah lama."
"Mas?.
"Pilih sayang. Atau kamu perlu bantuan ku?" tanya Evan. Anggita menganggukkan kepalanya. Mereka membeli semua perabotan rumah berdasarkan selera mereka bersama.
Anggita berdecak kagum setelah masuk ke dalam rumah yang sangat luas itu. Rumah yang terdiri dari dua lantai itu hanya butuh perabot untuk membuat rumah tersebut mendekati sempurna. Bisa dikatakan jika besar rumah itu hampir sama dengan rumah Nenek Rieta. Atau lebih besar dari rumah Gunawan.
"Anggita, rumah ini atas nama kamu. Aku pernah menilai kamu sebagai wanita penggila harta. Maafkan aku akan hal itu. Sebagai penebus atas penilaian itu. Aku akan melimpahi kamu dengan cinta dan harta. Aku akan bekerja keras supaya kamu dan Cahaya tidak berkekurangan," kata Evan sambil menggandeng tangan Anggita mengelilingi rumah itu. Perabotan yang mereka beli tadi diperkirakan datang satu jam lagi.
"Terima kasih mas. Sungguh ini berlebihan aku rasa. Tapi dari semua pemberian mu ini. Aku memilih cinta dan kesetiaan yang harus dominan daripada harta."
"Itu pasti sayang. Tapi tidak mungkin juga aku tidak memberikan kamu apa apa padahal uang aku sangat banyak."
__ADS_1