Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 127


__ADS_3

"Mas, aku ingin menunjukkan sesuatu kepada kamu," kata Anna. Kini sepasang pengantin baru itu sedang di kamar hotel dan sudah membersihkan tubuh mereka.


Rendra tersenyum. Tanpa diminta, Anna memanggil dirinya dengan sebutan mas. Rendra yang baru saja membersihkan tubuhnya. Mendekati Anna dan memeluk wanita itu. Rendra merasa dirinya tidak salah memilih wanita dewasa seperti Anna.


"Menunjukkan apa?" tanya Rendra dengan senyum aneh di bibirnya. Rendra ikut duduk di tepi ranjang sangat berdekatan dengan Anna.


"Tunggu disini sebentar."


Rendra langsung menangkap tangan Anna yang hendak berdiri.


"Nanti saja. Kita buat pertunjukan saja sekarang. Kita pemainnya tanpa ada yang menonton," kata Rendra. Pria itu menarik tangan istrinya hingga Anna duduk di pangkuannya.


Anna tersenyum malu. Dia adalah wanita dewasa yang sudah pernah merasakan hidup berumah tangga sebelumnya. Perkataan Rendra jelas meminta hak batin sebagai suaminya.


"Apa mas tidak lelah?" tanya Anna. Ternyata dia mengkhawatirkan suaminya itu. Anna sadar jika suaminya itu bukanlah pria muda yang masih berotot. Melainkan pria yang sudah berkepala lima. Satu harian mereka harus menerima ucapan selamat dari tamu undangan. Dirinya saja yang masih muda merasa kelelahan apalagi Rendra yang sudah lumayan tua.


"Sedikit. Tapi entah mengapa aku sangat menginginkannya."


Anna mengelus wajah Rendra. Hal yang wajar jika suaminya itu menginginkan permainan ranjang yang sudah lama tidak dilakukannya. Begitu juga dengan dirinya. Dia juga menginginkan hal itu. Menginjakkan usianya yang sudah dewasa dan pernah merasakan nikmatnya bermain ranjang. Tidak bisa dipungkiri jika dirinya menginginkan hal itu.


"Yakin sekarang melakukannya. Tidak makan malam dulu?" kata Anna dengan manja sambil menyentuh dada suaminya. Rendra sangat senang melihat tingkah istrinya itu yang sangat jauh berbeda jika berada di kantor. Rendra tersenyum dan semakin terbuai dengan sentuhan istrinya itu. Hanya sentuhan di dada tapi bisa membangkitkan yang dari tadi tertidur kini sudah berdiri tegak.


"Yes."


Rendra menjawab. Bersamaan dengan itu dia menyambar bibir istrinya dengan lembut. Bibirnya disambut Anna dengan membalas ciuman pria itu.


Anna tidak ragu ragu melayani suaminya. Dia menurut apapun yang dilakukan suaminya terhadap tubuhnya. Dia sadar bahwa sebagai istri. Rendra berhak atas tubuhnya kapanpun pria itu mau selagi masih di tahap yang wajar. Rasa lelah terkalahkan oleh keinginan untuk bermain ranjang.


Kini sepasang suami istri itu sudah di inti permainan. Sprei yang awalnya rapi kini tidak terbentuk lagi yang menandakan bagaimana buasnya sepasang istri itu menuntaskan kerinduan akan permainan halal bagi suami istri itu. Mereka berdua sama sama mengejar kepuasan dari permainan itu. Saling menyentuh, saling menatap mesra dan saling membuat lawan merasa nyaman dan terpuaskan. Rendra dan Anna sangat menikmati permainan itu hingga suara aneh terdengar dari mulut sepasang pengantin baru itu.


Anna cukup tahu diri mempunyai suami yang sudah tua. Dia meminta Rendra supaya turun dari tubuhnya dan menyuruh suaminya itu untuk duduk.


"Biarkan aku yang lebih aktif mas. Aku takut kamu kelelahan," bisik Anna lembut di telinga suaminya.


Rendra tersenyum dan duduk bersandar di kepala ranjang. Dia membantu Anna untuk duduk di pangkuannya dan juga membantu wanita itu untuk bergerak. Seperti perkataan Anna. Wanita itu kini aktif mengejar kepuasan bagi mereka berdua. Rendra berkali kali mengeluarkan suara indah yang pertanda jika dirinya sangat menikmati permainan itu. Anna memang seorang janda. Dan Rendra tidak menyesal memilih janda tersebut. Di tengah permainan mereka. Rendra bersyukur karena memilih Anna menjadi istrinya. Dalam situasi seperti ini, istrinya itu sangat pengertian. Itulah sebabnya dirinya memilih wanita yang sudah berumur dan dewasa dibandingkan dengan wanita muda seperti Salsa.


Rendra berpikir jika keinginan akan permainan ranjang wanita yang sudah benar benar matang seperti Anna akan sangat jauh berbeda dengan keinginan akan permainan ranjang seperti Salsa.


Bersama dengan Anna. Rendra sangat yakin masih bisa menyeimbangkan staminanya dengan keinginan Anna di ranjang. Rendra merasa masih sanggup melayani Anna. Sedangkan untuk Salsa. Rendra berpikir jika dirinya terlalu tua untuk wanita itu. Rendra takut, seandainya dia memilih Salsa. Dirinya tidak bisa melayani keinginan Salsa di ranjang dan akhirnya mencari kepuasan di luar sana. Rendra sangat yakin jika kebutuhan akan permainan ranjang bagi suami istri adalah sesuatu yang sangat penting.

__ADS_1


Rendra mencari pasangan bukan untuk berpisah lagi. Tapi benar benar berniat mencari pasangan seumur hidupnya. Dan dirinya bisa melihat hal itu dalam diri Anna. Kisah mereka berdua yang gagal berumah tangga tanpa hadirnya seorang anak juga menjadi alasan utama Rendra memilih Anna. Rendra sangat yakin jika Anna pasti berusaha menerima takdir seperti itu begitu juga dengan dirinya. Jadi suatu hari tidak Ada alasan berpisah hanya karena tidak hadirnya seorang anak dalam pernikahan mereka.


"Terima kasih istriku," kata Rendra setelah Anna berhenti bergerak di pangkuannya. Kini sepasang suami istri itu berpelukan sangat erat karena sama sama mendapatkan kepuasan dari permainan tersebut. Rendra terlihat sangat puas begitu juga dengan Anna.


"Jangan pernah mendua dari aku mas," bisik Anna. Rendra melonggarkan pelukan mereka dan menangkup kedua pipi Anna. Menatap wanita itu sebentar kemudian mencium kening Anna. Rendra juga menggapai pakaian miliknya yang terletak dekat dirinya. Dengan pakaian itu, Rendra mengusap wajah dan tubuh milik Anna karena berkeringat. Rendra melakukan hal yang sama dengan tubuhnya.


"Tidak akan pernah sayang. Percaya sama aku. Tapi kamu juga harus menjaga harga diriku sebagai laki laki. Jadilah istri yang baik dan setia," kata Rendra. Anna menganggukkan kepalanya. Anna kemudian memeluk suaminya karena dirinya bisa merasakan ketulusan dari setiap kata kata yang keluar dari mulut suaminya.


"Terima kasih mas," jawab Anna. Anna merasa beruntung karena menerima Rendra sebagai pendamping hidupnya. Dirinya tidak asal menerima Rendra sebagai pendamping hidupnya. Pernah tersakiti karena dikhianati dan dimadu oleh sang mantan. Anna berharap pernikahan kedua inilah pernikahan terakhir bagi dirinya. Menerima Rendra karena sudah mengetahui bagaimana sebelumnya Rendra setia terhadap pernikahannya yang terdahulu. Dan sebagai karyawan di perusahaan milik Rendra. Anna mengetahui jika Rendra tidak pernah mempunyai gosip dengan wanita di kantor.


"Apa yang ingin kamu tunjukkan kepada aku," kata Rendra mengingatkan apa yanh dikatakan oleh istrinya itu. Anna tiba tiba mengingat sesuatu yang hendak ditunjukkannya kepada Rendra.


"Sebentar mas. Aku tiduran dulu sebentar. Supaya penerus kamu bersemayam di dalam sini," jawab Anna sambil menunjuk perutnya. Wanita itu turun dari pangkuan Rendra kemudian tidur terlentang di ranjang.


"Seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku tidak berharap banyak. Jika di kasih sang Pencipta. Kita syukuri. Jika pun tidak Kita harus tetap bersyukur. Kita bisa mengadopsi anak jika memang kita ditakdirkan tidak bisa memiliki anak biologis."


"Bukankah kamu yang meminta aku untuk berjuang?. Jadi Kita tidak boleh menyerah tanpa berjuang."


"Baiklah Anna sayangku. Terima kasih karena bersedia berjuang dengan diriku."


Anna bangkit dari ranjang setelah merasa cukup waktu untuk tidur telentang. Wanita itu kemudian melangkah ke arah sofa dimana tasnya terletak.


Rendra berusaha tenang. Dia tidak menampakan otaknya yang berpikir keras tentang Surat itu. Ketika Anna sudah dekat dengan dirinya. Rendra berusahan mencuri pandang ke arah surat tersebut..


"Surat apa itu Anna?"


"Lima hari yang lalu. Aku memeriksakan diri ke dokter mas. Hasilnya rahimku baik baik saja," kata Anna. Kata berjuang yang diinginkan Rendra dan Nenek Rieta dari dirinya membuat Anna memeriksakan dirinya. Anna boleh bahagia karena hasilnya baik baik saja. Itulah sebabnya dia meneruskan pernikahan ini. Seandainya hasil tidak bagus. Anna tidak akan meneruskan pernikahan ini. Karena tidak ingin kisah Masa lalunya terulang di Masa depan diceraikan karena dikira mandul.


"Itu artinya peluang kita untuk mempunyai anak sangatlah besar," kata Rendra sangat yakin. Pernah memeriksakan diri ke dokter di pernikahannya yang sebelumnya. Hasil pemeriksaan dirinya juga baik baik saja. Sepasang suami istri saling menatap dan melihat harapan besar si sorot mata mereka.


"Semoga dalam pernikahan Kita ini, harapan kita di pernikahan sebelumnya terwujud," kata Rendra sambil meraih kertas itu kemudian membaca dengan teliti.


"Aku juga pernah memeriksakan diri ke dokter specialis dan pemeriksaan aku baik baik saja," kata Rendra lagi. Sorot Mata Anna terlihat berbinar. Wanita itu menggeser tubuhnya hingga tubuhnya mereka tanpa jarak sedikitpun.


Usia memang sudah tua. Tapi keinginan itu masih besar. Setengah jam yang lalu mereka terengah engah karena lelah untuk mendapatkan kepuasan. Kini tubuh mereka sudah menginginkan kembali. Anna bisa merasakan jika suaminya itu menginginkan permainan itu kembali. Dirinya juga seperti itu. Tapi Anna tidak rakus. Anna menghentikan gerakan suaminya dengan bergeser menjauh dari tubuh Rendra.


"Istirahat dulu mas. Sesuatu yang berlebihan itu tidak bagus. Jangan karena hanya menuruti keinginan. Besok kamu sakit. Malu. Karena orang pasti berpikir jika kamu sakit karena terlalu kelelahan," kata Anna sambil tersenyum. Rendra juga ikut tersenyum dan kemudian tertawa.


"Kamu benar. Seharusnya aku harus tahu diri. Mengapa kita tidak dipertemukan di Masa aku masih muda," kata Rendra.

__ADS_1


"Ada ada saja kamu mas. Jika Kita bertemu saat kamu masih muda. Aku masih anak anak saat itu. Tidak mungkin kan kamu menikahi anak anak?" tanya Anna.


Rendra tertawa membenarkan perkataan istrinya. Walau tidak ada ronde kedua. Rendra tetap bahagia. Anna menolak permainan ranjang itu bukan karena tidak menginginkan tapi menolak karena memikirkan kesehatan dirinya.


Melihat suaminya tertawa bahagia. Anna juga ikut tertawa. Wanita itu meraih botol minuman mineral. Membuka botol tersebut kemudian memberikannya kepada Rendra.


"Terima kasih Anna sayang," kata Rendra. Pria itu semakin berbahagia karena perhatian istrinya itu. Tidak mau kalah. Setelah dirinya menghabiskan sebagian isi dari botol tersebut. Rendra memberikan botol itu kepada Anna.


Di tempat terpisah, di rumah sederhana. Nia juga terlihat bahagia. Kebahagiaan dirinya bukan menyangkut cinta tapi kebahagiaannya karena sang janin sangat aktif di rahimnya. Nia merasakan sensasi yang luar biasa karena pergerakan.


Nia tertawa karena merasa geli dengan pergerakan janin itu. Nia mengusap usap perutnya supaya janin itu kembali bergerak. Dan benar saja. Janin itu bergerak bukan di tempat semula tapi di tempat lainnya.


"Ayo, ayo bergerak lagi sayang. Bunda sangat senang," kata Nia. Janin itu tidak lagi bergerak walau Nia terus mengusap perutnya.


"Mungkin dia sudah tidur," kata seseorang yang ada di rumah itu.


"Tidur?. Apakah tidur berlaku juga untuk janin dalam kandungan?" tanya Nia tidak percaya.


"Yang namanya manusia pasti butuh istirahat Nia," kata orang itu.


"Begitu ya!" kata Nia lagi. Orang itu menganggukkan kepalanya dan menatap Nia. Dia merasa kagum kepada Nia yang bertanggung jawab atas perbuatan dengan membiarkan janin itu berkembang di rahimnya tanpa pertanggungjawaban si pemilik benih. Tidak semua perempuan berani hamil di luar nikah. Banyak perempuan di luar sana yang menggugurkan janinnya karena tidak kuat menanggung malu karena tidak adanya seorang suami. Tapi dalam diri Nia. Wanita itu tidak hanya menerima takdirnya tapi terlihat bersemangat untuk belajar demi Masa depan dirinya dan sang anak kelak.


Dalam dua bulan ini. Nia bekerja di butik milik pria itu. Nia tidak hanya pekerja. Melihat semangat Nia untuk belajar. Pria itu mengajari Nia dengan sukarela membuat desain baju dan pola dasar membuat pakaian.


Nia terlihat gigih. Kehamilan yang sudah terlihat tidak menjadi halangan bagi dirinya untuk belajar. Nia juga tergolong wanita yang pintar. Dia cepat bisa menerima apa saja yang diajarkan pria itu kepada dirinya.


"Bagaimana tugas yang aku berikan semalam. Apa sudah bisa?" tanya pria itu. Semalam dirinya memberikan tugas kepada Nia untuk memotong bahan setelah Nia bisa membuat pola dasar dress.


"Sudah. Ini hasilnya," kata Nia sambil berdiri memamerkan daster yang dia pakai. Pria itu tersenyum melihat daster itu. Dia merasa bangga karena Nia bisa berpikir cepat padahal dirinya mengajar pola dasar dress yang pas badan. Tapi otak Nia bisa berpikir cepat mengembangkan poka tersebut menjadi dres yang seperti payung mulai dari ketiak.


"Bagus," puji pria itu sambil memberikan jempol kepada Nia. Di rumah sederhana itu juga pria itu melihat sudah ada mesin jahit keluaran terlama. Itu artinya Nia benar benar berniat belajar. Dan daster itu adalah tandanya.


"Apa ada kesulitan?" tanya pria itu. Nia menganggukkan kepalanya.


"Aku kesulitan membuat lengannya. Makanya seperti ini," jawab Nia. Daster itu memang tanpa lengan.


"Aku akan mengajari kamu lagi. Aku sangat yakin jika kamu pasti menjadi wanita yang sukses nantinya," puji pria itu. Dia juga melihat coretan coretan Nia tentang desain gaun yang unik.


"Terima kasih kak. Terima kasih atas semuanya," kata Nia tulus. Pria itu memberikan dirinya banyak pelajaran dan pekerjaan. Berkat pria itu juga dia mempunyai penghasilan sendiri dan bisa hidup mandiri.

__ADS_1


"Jadi bagaimana Nia. Kamu bersedia menerima aku?" tanya seorang pria itu kepada Anggita. Nia dan Pria itu bukan baru bertemu. Nia sudah mengenal pria itu sejak duduk di bangku sekolah menengah umum. Pria itu adalah kakak kelasnya. Dan adik dari si pria tersebut adalah temannya Nia.


__ADS_2