
Nia menundukkan kepalanya berhadapan dengan Evan dan Anggita di ruang tamu itu. Nia merasa malu karena dirinya ketahuan berbohong. Dengan percaya diri, Nia mengatakan jika Mobil yang ada di depan rumahnya adalah Mobil tetangga. Dan tanpa mendengar apapun dari Evan dan Anggita. Nia sangat yakin jika Evan dan Anggita sudah mengetahui jika mama Anita berada di rumahnya dari tadi.
Evan duduk dengan tenang. Pria itu menghubungkan informasi tentang tante Anita yang mengetahui Nia sedang hamil dan kebohongan Nia akan keberadaan tante Anita yang bersembunyi di dalam rumahnya.
"Adakah yang ingin kamu ceritakan Nia?" tanya Evan dingin. Pria itu bersikap tidak seperti biasanya. Dia memperlakukan Nia bukan seperti sahabat dari istrinya Anggita melainkan memperlakukan Nia seperti orang lain lebih persisnya memperlakukan Nia seperti bawahan yang sedang bermasalah.
Nia meremas tangannya. Menatap Anggita sebentar kemudian kembali menundukkan kepalanya.
"Lebih baik jujur daripada berbohong Nia. Jujur, beberapa bulan ini. Aku seperti melihat sesuatu yang berbeda pada dirimu. Kamu bersikap seperti bukan dirimu," kata Anggita. Anggita berharap Nia langsung jujur daripada Evan dan dirinya harus banyak bertanya.
Nia terlihat jelas menunjukkan sikap ketakutan. Berkali kali dirinya memberanikan diri menatap Evan dan Anggita secara bergantian.
"Aku tidak ingin banyak bertanya apapun Nia. Hanya satu yang harus kamu ketahui. Aku dan Anggita jelas melihat tante Anita keluar dari rumah ini. Kamu sudah jelas berbohong. Itu artinya jika dirimu dan tante Anggita bersengkongkol. Asal kamu tahu. Berdasarkan dari penyelidikan orang kepercayaanku. Tante Anita saat ini sedang bekerja sama dengan Adelia dan salah satu musuh bisnis ku untuk menghancurkan aku dan keluargaku. Melihat fakta hari ini. Aku juga mencurigai kamu juga ikut bekerja sama dengan mereka."
__ADS_1
Nia bergerak gelisah setelah mendengar perkataan Evan. Dia tidak terima dalam hati atas kecurigaan Evan terhadap dirinya karena faktanya memang dirinya tidak bersengkongkol dengan orang orang yang disebutkan oleh Evan itu.
"Niat untuk menghancurkan kalian tidak pernah terpikir oleh diriku pak Evan. Jika kalian melihat Tante Anita keluar dari rumah ini. Itu benar adanya. Tapi bukan berarti aku bekerja sama dengan wanita itu untuk menghancurkan keluarga kalian."
"Aku bisa percaya bahwa apa yang kamu katakan itu adalah satu kebenaran. Tapi aku sangat percaya jika kerja sama kalian itu tidak menghancurkan aku dan keluargaku tapi menghancurkan papa Rendra. Benar kan?.
Perkataan dan pertanyaan Evan sangat tepat sasaran. Tapi akibat semua itu dirinya lah yang harus menanggung semua resiko yang sudah dia sepakati.
"Katakan lah dengan jujur Nia. Jangan takut. Mas Evan lebih berpengaruh dari Tante Anita."
"Aku memang bekerja sama dengan Tante Anita. Tapi bukan untuk menghancurkan siapapun melainkan menghancurkan diriku sendiri," jawab Nia sedih dan malu..
"Apa maksud kamu. Jangan bertele tele Nia," bentak Evan sudah mulai marah.
__ADS_1
Nia menciut. Mendengar suara Evan yang sudah mulai membentak membuat Nia ingin menyerah. Menceritakan semua apa yang dialami oleh dirinya selama ini yang menghancurkan dirinya sendiri.
"Tante Anita memaksa aku dengan ancaman untuk membatalkan pernikahan dengan Rendra bagaimana pun caranya," kata Nia memulai cerita tentang beberapa bulan yang lalu. Nia kemudian terdiam beberapa saat. Pengalaman pahit itu sebenarnya sangat menyakitkan dirinya yang mengakibatkan penderitaannya tak kunjung berakhir.
"Teruskan!" perintah Evan dengan menggerakkan tangannya ke arah Nia untuk melanjutkan pernikahan itu.
"Aku nekat melakukan semua perbuatan jahat itu karena terpaksa. Danny yang kala itu sangat baik membuat aku merasa dicintai dan dihargai. Pulang dari kafe bintang milik Anggita. Aku dan Danny terjebak hujan. Desakan dan ancaman tante Anita membuat aku nekat melakukan perbuatan kotor itu," kata Nia.
Evan masih menatap tajam wajah Nia. Mendengar perkataan Nia. Evan masih tidak puas Karena menurut Evan. Masih banyak hal yang di tutupi oleh Nia. Sedangkan Anggita terlihat terkejut mendengar pengakuan sahabatnya itu yang ternyata selama ini di bawah tekanan.
"Ancaman seperti apa yang dia berikan kepada kamu?" tanya Evan lagi.
"Untuk saat ini. Aku belum bisa mengatakan tentang ancaman itu," kata Nia. Wanita itu menutup wajahnya walau hancur melihat hal apa saja di depan mata keluarga itu.
__ADS_1
"Baik. Aku tidak perduli dengan ancaman itu. Yang ingin aku tahu. Apa kamu puas melakukan sandiwara itu?. Dan lihat sekarang. Bagaimana dirimu karena rencana itu. Sekarang, katakan rencana apa selanjutnya yang akan disusun oleh Tante Anita," kata Evan tegas.
"Rencana wanita itu. Semua berkaitan dengan anak anak kecil. Tante Anita sekarang menunggu kehancuran dirinya sendiri. Tante Anita ingin membunuh anak anak itu karena banda tidak tidur sssaat ini.