Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 144


__ADS_3

"Kak Danny. Stop," kata Nia kencang. Karena terbawa emosi dengan semua perkataan Danny. Nia tidak memandang sekitar lagi. Perkataannya terdengar di penjuru kafe itu membuat pengunjung lainnya menoleh bersamaan ke meja yang ditempati tiga orang itu.


Danny dan Alex berhenti berbicara. Dua pria itu sama sama menatap Nia yang wajahnya sudah memerah karena menahan amarah.


"Baiklah. Aku berikan kalian waktu berbicara satu jam dan harus di tempat ini," kata Alex. Akhirnya pria itu memberikan waktu kepada Nia dan Danny untuk berbicara berdua. Alex berpikir, jika Nia tidak mungkin memilih Danny. Selain itu. Alex memberikan waktu kepada Danny dan calon istrinya itu supaya Danny bisa mendengar sendiri jika Nia tidak menginginkan dirinya lagi. Dan Alex berharap dengan berbicara berdua. Tidak Ada lagi masalah di kemudian hari. Tidak ada hal seperti ini lagi. Biarlah, Danny berusaha membuktikan penyesalannya yang penting Nia tetap miliknya.


"Tidak Lex, Kita pulang sekarang," kata Nia cepat. Wanita itu menarik tangan Alex dengan kencang tapi Alex menahan tangan itu dengan halus.


"Tidak apa apa Nia. Berbicara lah dengan dia. Aku akan menunggu kamu di mobil. Aku percaya kepada kamu," kata Alex lagi. Tidak mungkin dirinya menunggu Nia si salah satu meja kosong di kafe itu. Alex memutuskan menunggu di mobil karena Alex berpikir Danny tidak akan berani berbuat macam macam karena kafe itu tempat umum dan ramai.


Mendapatkan kepercayaan dari Alex. Nia kembali menatap pria itu. Ada rasa bangga di hatinya mempunyai calon suami seperti Alex yang bisa bersikap dewasa menghadapi masalah seperti ini.


"Aku keluar. Dan kamu Danny, jangan coba coba membuat Nia bersedih apalagi sampai mengeluarkan air Mata," kata Alex sebelum meninggalkan tempat itu. Alex bahkan menatap tajam ke tepat ke wajah Danny.


"Aku tidak akan membuat Nia bersedih. Aku justru menawarkan kebahagiaan kepada dirinya," jawab Danny menantang perkataan Alex. Alex ingin berbicara lagi tapi elusan tangan Nia di pundaknya membuat Alex tidak menjawab dan akhirnya meninggalkan tempat itu. Kini tinggal Danny dan Nia di meja itu dengan arah pandangan yang berbeda. Nia terus menatap tubuh Alex hingga menghilang dari kafe itu sedangkan Danny menatap wajah Nia dengan seksama dan hampir kedua matanya tidak berkedip.


"Bagaimana kabar kamu selama enam bulan ini Nia?" tanya Danny. Nia kini sedang memainkan ponselnya yang sedang mengirim pesan kepada Alex yang baru saja masuk ke dalam mobil.


"Baik kak," jawab Nia tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Dia menunggu balasan pesan dari calon suaminya itu.


"Mengapa kamu harus pergi. Saat itu aku datang kesana bersama Sisil untuk menjemput kamu. Kami sekeluarga hendak mengajak kamu ikut membicarakan tentang rencana pernikahan Kita. Tapi kamu pergi. Sisil sampai menangis berminggu minggu," kata Danny. Dia sengaja memberitahukan keadaan Sisil saat itu untuk membuat hati Nia tersentuh.


"Sisil sangat mengharapkan kamu menjadi ibu sambungnya. Bukan hanya Sisil. Bisa dikatakan semua anggota keluarga kami sangat antusias menunggu hari pernikahan Kita," kata Danny menambahkan perkataannya supaya Nia semakin tersentuh.


Seperti keinginan Danny. Nia merasakan hatinya ikut sakit mengingat Sisil. Dirinya merasa bersalah kepada anak kecil itu karena sudah berharap banyak akan dirinya menjadi ibu sambung bagi Sisil. Tapi semua perlakuannya kepada Sisil kala itu bukanlah perlakuan yang mempunyai maksud tersembunyi. Nia bersikap seperti itu secara natural karena Nia memang menyukai anak kecil. Bukan keinginannya yang ingin mendekati Sisil tapi Danny lah yang berusaha mendekatkan mereka berdua tanpa memastikan apakah Nia bersedia menikah dengan dirinya atau tidak.


"Maaf, jika karena hal itu Sisil harus menangis berhari hari. Aku berharap Sisil sudah baik baik saja saat ini. Dan semoga kakak mendapatkan wanita yang bisa memperlakukan Sisil dengan sangat baik nantinya," kata Nia. Dia sudah mengetahui maksud Danny untuk berbicara berdua dengan dirinya. Dengan mengatakan hal itu. Nia berharap Danny bisa mengerti jika dirinya tidak ingin memberikan kesempatan kepada Danny.


"Dan wanita itu adalah kamu Nia."


"Jangan bertingkah bodoh kak Danny. Sebentar lagi aku dan Alex akan menikah. Tidak seharusnya kamu berkata seperti ini apalagi memaksa aku harus berbicara berdua dengan kamu. Jika bukan karena Alex. Aku tidak bersedia bertemu dengan kamu."


"Nia, siapa yang memaksa. Bukankah kamu yang memaksa situasi ini. Mengapa kamu berlagak pihak yang paling tersakiti. Apakah bayi laki laki kita ada karena aku yang brengsek. Coba ingat, mengapa dia ada?. Itu karena perbuatan sadar kamu kan. Aku akui aku kurang bijak sana menyikapi masalah itu. Tapi apa kamu mengerti apa yang aku alami selama ini. Aku ditekan habis oleh papa dan Nenek. Aku merasa diriku paling bodoh. Tapi kamu hanya menuntut pertanggungjawaban dengan alasan malu. Kalau kamu tahu malu. Mengapa kamu tidak meninggalkan rumah lama kamu sebelum kehamilan itu diketahui orang banyak. Tapi kamu meninggalkan tempat itu setelah kamu mendapatkan hinaan. Andaikan kamu menenangkan diri terlebih dahulu saat itu. Mungkin situasinya berbeda saat ini. Kamu dan Jessi justru menantang keluarga ku," kata Danny.


"Aku akui aku salah karena mengabaikan kehamilan kamu dulu Nia. Tapi sebenarnya aku sudah mempunyai rencana untuk Kita. Aku sudah berencana akan memperjuangkan kamu setelah kamu melahirkan. Karena aku berpikir. Papa dan Nenek akan luluh setelah melihat cucunya."

__ADS_1


Nia tersenyum sinis mendengar perkataan Danny. Nia berpikir perkataan itu hanya alasan pembenaran diri. Nia masih sangat jelas mengingat bagaimana Danny meminta dirinya menceritakan perbuatannya sendiri kepada Salsa saat itu. Tapi Nia tidak ingin mengungkit karena apapun perkataan Danny saat ini tidak akan berpengaruh kepada keputusannya nanti.


"Nia, tolong pertimbangkan penyesalan aku ini."


"Maaf kak. Aku tidak bisa. Aku dan Alex saling mencintai dan kami bersahabat sebelumnya. Kami sudah mengetahui karakter masing masing sehingga tidak ada alasan meninggalkan dirinya. Dan tidak ada alasan lagi bagi diriku untuk bersama dengan kamu, kak. Jadi anggap saja ini adalah takdir. Dan bayi laki laki itu adalah pelajaran berharga bagi kita."


"Jangan langsung mengambil keputusan sekarang Nia. Pria masa lalu kamu adalah aku. Dan jadikan lah aku menjadi pria masa depan kamu. Saat ini memang kalian saling mencintai. Tapi bisa saja suatu hari nanti, pria itu akan mengungkit Masa lalu kamu. Itu lebih menyakitkan karena akan membuka luka lama kamu nantinya. Bersama aku. Aku akan mengubur masa lalu itu dan aku akan berusaha keras membahagiakan kamu. Asal kamu tahu Nia. Kepergian kamu membuat aku sadar jika aku sebenarnya sudah jatuh hati kepada kamu."


Danny akhirnya mengungkapkan perasaannya. Dia ingin Nia mengetahui jika dirinya ingin menikahi wanita itu bukan karena semata mata penyesalan dan tanggung jawab tapi karena hatinya sudah terpaut oleh Nia.


Nia masih terdiam. Dia hanya menatap wajah Danny yang terlihat serius. Dia bisa melihat ketulusan Danny di setiap kata katanya tapi Nia tidak akan terpengaruh.


"Apapun yang aku dengar dari kamu saat ini kak. Tidak akan mempengaruhi keputusan aku. Jadi jangan membuang waktu mu hanya untuk melakukan perbuatan yang sia sia kak. Aku minta maaf atas segala yang terjadi bagi kita."


Tidak ada alasan Nia untuk membatalkan pernikahannya dengan Alex. Kata kata Danny hanyalah membuat waktu Nia terbuang sia sia. Danny hendak berbicara. Tapi Nia sudah berdiri bahkan pamit kepada Danny. Wanita itu tidak menunggu waktu satu jam untuk berbicara dengan pria itu. Tapi ketika kakinya hendak meninggalkan meja itu. Kaki Nia tertahan melihat sahabatnya Anggita dan Evan yang sudah berdiri di hadapannya.


"Apa kabar Nia?" tanya Anggita senang kemudian memeluk Nia. Nia membalas pelukan itu. Dan Karena perut buncit Anggita yang sedang hamil tujuh bulan membuat dua sahabat itu tidak bisa berpelukan erat. Kekesalan hati Nia akan Danny sedikit teralihkan dengar melihat sahabat yang dia rindukan selama enam bulan in


"Kabar baik," jawab Nia bingung. Dia menatap Danny yang melihat dirinya dan Anggita. Tanpa diberitahu Nia sangat yakin jika kedatangan Anggita dan Evan di tempat itu pasti Danny yang meminta suami istri itu untuk datang.


"Kenapa kalian berdua bisa ke tempat ini?" tanya Nia. Dia ingin mengetahui dari mulut sahabatnya tentang dugaannya jika Danny yang meminta suami istri itu ke tempat ini.


"Danny yang meminta kami ke tempat ini. Dia mengatakan kalian bertemu di pemakaman dan akan berbincang bincang di tempat ini."


Nia kembali tersenyum sinis. Ternyata dugaannya sangat benar. Nia menatap jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu setengah jam lagi atas waktu yang diberikan Alex kepadanya.


"Kemana kamu selama ini Nia. Danny hampir seperti orang gila mencari keberadaan kamu. Bukan hanya Danny. Papa Gunawan juga ikut campur tangan mencari keberadaan kamu," tanya Anggita. Danny senang mendengar perkataan kakak iparnya. Dengan mengetahui perjuangan mencari Nia. Danny berharap, Nia bisa melihat ketulusannya hatinya.


"Aku masih di kota ini Gita. Oya, bagaimana kabar Cahaya?" tanya Nia. Sengaja bertanya tentang Cahaya supaya topik pembicaraan bukan hanya tentang perjuangan Danny saja. Kalau boleh jujur, sebenarnya Nia malas membicarakan hal apapun yang berkaitan dengan Danny.


"Cahaya baik. Dan sudah bisa jalan loh. Sebentar lagi. Cahaya akan menjadi kakak. Adik laki laki," kata Anggita sangat senang. Wanita itu sambil mengelus perutnya sedangkan Evan yang duduk di sampingnya juga ikut tersenyum karena membicarakan janin laki lakinya.


"Laki laki?" tanya Nia. Tiba tiba ada perasaan asing di hatinya. Selain mengingat bayi laki lakinya yang sudah tiada. Nia ketakutan dengan pemikirannya sendiri. Dia mempunyai seorang putri dari Danny yang berusia enam bulan. Sedangkan sebentar lagi, Putrinya itu akan mempunyai sepupu laki laki dari Evan. Nia ketakutan jika dirinya tetap menyembunyikan Naya akan berpengaruh ke pergaulan putrinya di masa depan. Dia berencana akan memberitahukan Naya kepada Danny jika Naya hendak menikah nantinya. Bisa saja di Masa depan Naya dan putra Anggita dan Evan bisa berteman atau bahkan lebih dari itu. Membayangkan hal itu terjadi. Nia berpikir jika Danny dan Keluarganya harus mengetahui tentang Naya secepatnya.


Dan ketakutan itu semakin menjadi jadi di hati Nia. Jika Naya diketahui oleh Danny secepatnya. Bisa jadi Danny semakin memaksa dirinya untuk menikah demi kebahagiaan Naya. Jika pun memberitahukan sesudah menikah. Nia takut, Danny dan keluarganya akan mengambil Naya dari sisinya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Nia?. Kamu sakit?. Wajah kamu tiba tiba pucat?" tanya Danny khawatir. Karena sering memperhatikan wajah wanita itu. Danny jadi mengerti perubahan wajah Nia.


"Tidak kak," jawab Nia. Anggita dengan cepat menyodorkan botol minuman mineral yang baru saja tiba di mejanya.


"Minum dulu Nia," kata Anggita. Wanita itu berpikir jika perubahan wajah Nia karena mengingat bagi laki lakinya yang sudah tiada. Sama seperti Danny. Anggita dapat menangkap perubahan wajah sahabatnya sejak dia bercerita tentang janin laki lakinya.


Wajah Nia akhirnya kembali normal. Wanita itu langsung mengusai diri karena tidak ingin Evan dan Anggita bertanya banyak tentang perubahan wajahnya. Nia takut jika dirinya akan keceplosan.


"Kalian berbicara lah dulu. Aku keluar sebentar," kata Danny. Mendengar sendiri dari tadi jawaban Anggita. Kini Danny ingin berbicara dengan Alex. Jika Nia menolak dirinya. Maka Danny yang akan meminta Alex melepaskan Nia untuk dirinya. Danny sudah berubah menjadi sosok yang sangat egois di muka dunia ini demi mendapatkan Nia.


Nia menarik nafas lega. Dengan tidak adanya Danny di meja itu, seperti terlepas dari bayang bayang masa lalu.


"Nia, Danny meminta kami datang untuk membantu dirinya menunjukkan keseriusannya bahwa Danny benar benar ingin bertanggung jawab atas kejadian masa lalu. Dia sangat terpukul kehilangan bayi laki laki kalian. Dan kami sendiri bisa melihat perubahan Danny. Seperti yang kamu ketahui. Apa yang terjadi atas kalian berdua bukan karena keinginan jahatnya. Aku rasa, Danny berhak mendapatkan kesempatan kedua. Itu pun jika kamu bersedia. Jika tidak. Jangan memaksa diri untuk itu."


Nia meremas jari jarinya mendengar perkataan Evan. Perkataan yang hampir serupa dengan apa yang dikatakan oleh Danny sebelumnya.


"Nia, aku juga tidak akan memaksa kamu. Tapi jika kamu memberikan kesempatan kepada Danny. Aku otomatis mendukung. Satu hal yang harus kamu ingat. Sebelum apa yang menimpa kalian berdua. Kamu mengetahui bagaimana sifat Danny. Jika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan setelah kejadian itu. Itu semua karena Danny juga tertekan. Kalian sama sama menderita. Kamu menderita karena harus menanggung malu. Danny juga menderita karena papa dan Nenek selalu menekan Danny. Aku sangat yakin jika kamu memberikan kesempatan kedua bagi Danny. Kalian akan menjadi keluarga bahagia. Danny sudah pernah gagal berumah tangga. Dia pasti akan lebih berhati hati bertindak demi keutuhan keluarganya. Tapi semua itu tergantung kamu Nia."


Lagi lagi Nia, mendapatkan ceramah gratis dari sahabatnya.


"Aku tidak bisa memberikan kesempatan apapun kepada kak Danny. Karena empat hari lagi. Aku akan menikah dengan pria yang bisa menerima aku dan yang mencintai aku."


Evan dan Anggita sama sama terkejut mendengar informasi pernikahan Nia itu. Evan menilai Nia terlalu cepat menikah hanya berselang enam bulan melahirkan sekaligus berduka.


"Menikah, empat hari lagi?" tanya Anggita. Nia menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu sangat yakin dengan pilihan kamu Nia?" tanya Evan. Selain terlalu cepat memutuskan menikah. Evan juga menilai jika Nia terlalu mudah menilai laki laki yang bisa menerima masa lalunya. Evan berpikir memang Nia adalah wanita yang bisa dikatakan janda tanpa anak. Tapi pria mana pun di dunia ini pasti menginginkan wanita yang tidak mempunyai Masa lalu kelam yang menjadi pendamping hidupnya.


"Sangat yakin pak. Pria yang menjadi suami nanti adalah sahabatku sendiri yang sudah mengetahui masa lalu ku secara mendetail. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk meragukannya," kata Nia sangat yakin.


"Aku jadi ingin mengenal calon suami kamu itu," kata Evan.


"Dia ada di mobil menunggu pak. Tadi kak Danny yang bersikeras meminta kami berbicara berdua sehingga dia meninggalkan meja ini."


"Kalau begitu. Perkenalkan kami dengan calon suami kamu," kata Anggita. Tidak Ada gunanya lagi membujuk Nia untuk memberikan kesempatan kepada Danny. Dirinya berkata ingin diperkenalkan dengan calon suami Nia. Karena Anggita dan Evan merasa malu yang terlalu percaya diri menasehati Nia.

__ADS_1


"Ayo kita keluar," ajak Nia. Nia kembali merasa lega karena dengan mengajak Anggita dan suaminya keluar. Nia bisa kabur secepatnya dari Danny. Tapi apa yang mereka lihat setelah di luar kafe membuat Nia semakin kesal. Di depan mobil Alex. Danny dan Alex terlihat sedang berdebat.


__ADS_2