Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Danny Dan Dokter Angga


__ADS_3

Hari yang ditunggu oleh Anggita akhirnya tiba juga. Hari sabtu, Hari akhir pekan yang ditunggu banyak orang. Hari ini, Anggita akan resmi membuka kafenya. Anggita dan enam orang karyawannya sudah terlihat sibuk mulai dari tadi pagi.


Walau Anggita sudah berpengalaman mengelola kafe pelangi. Tapi hari ini, Anggita merasa harap harap takut di hatinya. Dia berharap kehadiran kafe miliknya di Kota itu bisa diterima orang dengan baik. Dan Anggita juga merasa takut jika pelayanan dan menu di kafe miliknya nanti bukan selera masyarakat di Kota ini.


Apa yang ditakutkan oleh Anggita. Akhirnya terbantahkan. Jam sebelas siang, satu persatu pengunjung sudah mulai berdatangan. Tidak ada gunting pita di acara pembukaan kafe itu. Anggita, mama Feli dan enam karyawan lainnya hanya berdoa bersama di pagi Hari sebelum memulai aktivitas di kafe itu.


Anggita akhirnya bisa tersenyum. Para pengunjungnya terlihat puas akan menu dan pelayanan di kafe itu. Hal itu terlihat dari wajah wajah puas dari pelanggannya yang juga satu persatu sudah meninggalkan kafe.


"Terima kasih atas kunjungannya mbak, mas," kata Anggita sambil menangkupkan dua tangannya di Dada. Pengunjung itu tersenyum. Saat ini Anggita berada di meja kasir.


"Hari ini dan dua hari ke depan. Semua harga menu yang Ada di kafe ini akan dikenakan setengah harga ya mbak," kata kasir sambil mengulurkan tangannya menerima pembayaran dari pengunjung. Walau informasi tentang harga sudah tertulis di spanduk dan buku menu. Anggita menekankan sang kasir untuk menegaskan soal harga tersebut.


"Iya mbak. Sudah tahu," jawab pengunjung itu juga dengan wajah yang tersenyum.


"Bisa kasih pendapatnya mbak tentang pelayanan kafe ini?" tanya sang kasir lagi.


"Kami rasa pelayanan, harga dan suasana kafe ini sangat bagus," jawab pengunjung itu.


"Terima kasih mbak," kata Anggita lagi setelah pengunjung itu menerima kembalian uangnya.


Anggita menarik nafas lega. Sudah lewat tengah hari tapi masih banyak pengunjungnya masih betah duduk berlama lama di kafe ini. Anggita merasa jika itu karena kenyamanan kafe tersebut.


Anggita tidak hanya duduk manis dan menyerahkan semua tanggung jawab kepada enam karyawannya. Bisa dikatakan jika dia sama lelahnya dengan para karyawannya. Anggita harus bolak balik ke dapur untuk memastikan jika stok bahan baku masih cukup sampai nanti malam.


"Bagaimana persediaan bahan baku Kita?" tanya Anggita kepada karyawan yang ditunjuk sebagai kepala dapur.


"Sepertinya masih aman mbak. Tapi untuk besok seperti harus belanja sore ini."


Anggita kembali tersenyum. Dia sudah membuat stok untuk dua hari tetapi stok itu hanya untuk hari ini. Pengunjungnya hari ini jauh lebih banyak dari perkiraanya.


Anggita keluar dari dapur itu dengan sejuta harapan. Dia sangat berharap kafe ini bisa menjadi ladang rejeki baginya. Dan dia juga berharap pengunjung ramai tidak hanya di tiga hari selama promo berlangsung.


Sesampai di meja kasir Anggita kembali mengembangkan senyumnya. Seseorang yang diundangnya secara khusus sedang berjalan mendekati pintu masuk. Anggita juga menghampiri pintu masuk untuk menyambut tamu tersebut.


"Wow, kafe yang indah," kata pria itu setelah berdiri berhadapan dengan Anggita. Dia memilih memuji desain kafe itu daripada menyapa Anggita. Matanya juga berkeliling melihat isi kafe itu. Dari caranya melihat, bisa diartikan jika dokter Angga mengagumi apa apa saja yang dia lihat di kafe itu.


"Selamat datang di kafe bintang dokter," kata Anggita tersenyum kemudian membungkukkan badannya. Dokter Angga menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih atas penyambutannya Anggita. Kafe bintang. Nama yang sangat bagus." Kini Anggita juga tersenyum mendengar pujian sang Dokter atas nama kafe itu. Dia menyukai segala sesuatu yang ada di angkasa. Itulah sebabnya Anggita membuat nama kafe itu dengan kafe bintang. Pujian Dokter Angga membuat Anggita bangga akan nama kafenya itu.


"Mari dokter," kata Anggita sambil mempersilahkan dokter Angga untuk berjalan terlebih dahulu. Gerakan tangan Anggita membuat wanita itu persis seperti penerima tamu. Perlakukan yang sangat sopan itu tidak luput dari penglihatan dokter Angga.Tapi dokter Angga tidak ingin diperlakukan sangat hormat seperti itu. Bukan karena berlebihan, dokter Angga hanya ingin diperlakukan biasa saja.


"Kemana?. Dokter itu bertanya konyol untuk mengerjai Anggita. Hal itu membuat Anggita terlihat sedikit cemberut. Dokter Angga terdengar terkekeh melihat ekspresi wajah Anggita.


"Jangan memberlakukan aku seperti orang yang gila hormat Anggita. Jika kamu ingin mengantarkan aku ke meja yang kosong. Perlakukan aku seperti teman."


"Baik dokter. Mari aku antar." Anggita akhirnya memperlakukan dokter Angga seperti teman sesuai dengan permintaan pria itu.


Anggita Dan dokter Angga akhirnya berjalan menuju meja yang kosong di sudut kafe bagian belakang. Mereka berbicara sambil berjalan. Mereka terlihat bukan seperti orang yang baru kenal. Melainkan seperti dua orang sahabat.


Sesampai di meja yang menjadi tujuan mereka. Dokter Angga menarik satu kursi. Bukan untuk tempatnya duduk tapi mempersilahkan Anggita untuk duduk. Anggita tidak enak hati untuk menolak. Apalagi melihat dokter Angga menganggukkan kepalanya seakan menyuruh Anggita untuk duduk.


"Terima kasih dokter." Akhirnya Anggita duduk kemudian dokter Angga juga duduk berhadapan dengan Anggita.

__ADS_1


"Dari tadi kamu pasti sibuk. Saatnya untuk istirahat sebentar Anggita."


Dokter Angga seakan mengetahui apa apa saja yang dilakukan oleh Anggita dari tadi. Tapi hal itu juga tidak dapat dipungkiri. Jika dari tadi Anggita sangat sibuk dan merasa sedikit lelah badan dan pikiran. Walau hanya perintah yang keluar dari mulutnya tetap saja Anggita sangat lelah.


"Tidak juga dokter. Aku hanya mengawasi para karyawan aku." Anggita membantah perkataan sang dokter.


"Mulut bisa berbohong tapi tidak dengan wajah kamu. Anggita, ini adalah pengalaman pertama kamu hamil. Pikiran dan tubuh harus seimbang mendapatkan istirahat yang cukup. Duduklah dengan tenang."


Kata kata dokter Angga bagaikan hipnotis bagi Anggita. Kini wanita itu duduk tenang seperti pengunjung kafe lainnya. Ketika dokter Angga memanggil salah satu pelayan Anggita hanya bisa terdiam. Pelayan itu juga terlihat heran melihat Anggita tidak seperti sebelumnya dia lihat. Kini wanita hamil itu duduk seperti pengunjung lainnya.


"Jangan paket lama ya mbak. Mau dimakan sekarang," kata dokter Angga bercanda. Dia menyerah kertas kecil kepada pelayan itu. Pelayan itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya tidak lupa juga menatap wajah Anggita. Pelayan itu melihat kertas kecil bertuliskan pesanan sang dokter.


"Mohon ditunggu ya Pak."


"Oke."


Anggita pura pura melihat punggung karyawannya. Walau dirinya terlihat tenang tapi sejujurnya Anggita merasa gugup duduk berhadapan dengan pria yang baru dia kenal. Pertemuan dengan dokter Angga hari ini adalah pertemuan ketiga.


Lain Anggita lain pula dengan dokter Angga. Pria itu tidak menunjukkan rasa canggung sedikitpun. Dia terlihat santai dengan ponsel di tangannya. Dokter Angga terlihat mengetikkan sesuatu di ponsel itu.


"Apa kamu rutin memakan vitaminnya?" tanya dokter Angga sambil meletakkan ponselnya diatas meja.


"Rutin dokter."


"Bagus."


Anggita menundukkan kepalanya. Lagi lagi dokter Angga memberikan perhatian tentang janinnya.


"Dokter, mengapa bisa pindah ke kota ini?. Akhirnya Anggita menanyakan pertanyaan yang muncul di pikirannya sejak pertama kali bertemu dengan dokter itu di kota ini.


Bekerja di rumah sakit itu adalah impian para tenaga medis. Tapi mengapa dokter Angga meninggalkan rumah sakit tersebut dan memilih bekerja di rumah sakit kecil di Kota kecil ini.


"Kamu ingin tahu alasannya?. Anggita menganggukkan kepalanya. Dokter Angga terlihat menarik nafas panjang.


"Kamu ingat perawat yang menemani aku bertugas saat itu?. Anggita kembali menganggukkan kepalanya. Saat yang dimaksudkan oleh dokter Angga adalah saat dirinya meminta kerjasama dokter Angga untuk meyakinkan jika Evan jika Anggita keguguran.


"Mulutnya bocor."


"Apa dokter?" tanya Anggita terkejut. Dia mengerti arti dari perkataan dokter itu.


"Dia membocorkan perjanjian itu ke direktur rumah sakit. Aku dinyatakan bersalah dan memang aku melanggar peraturan. Kamu bisa menebak sendiri apa yang terjadi padaku Anggita." Dokter itu berkata tenang seakan tidak Ada beban.


"Jadi dokter dipecat?" tebak Anggita. Dokter Angga menganggukkan kepalanya.


"Maafkan aku dokter. Gara gara aku dokter dipecat," kata Anggita tulus dan menundukkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika rencananya itu menjadi bencana untuk dokter Angga. Rasa bersalah menyelinap ke hatinya.


"Berhenti menyalahkan dirimu Anggita. Itu hanya adalah cobaan hidup yang harus ikhlas dijalani. Kalau aku tidak dipecat dari rumah sakit itu. Aku pasti tidak duduk di kafe yang indah ini."


Anggita mengangkat kepalanya. Melihat dokter Angga berbicara tanpa beban. Dia bisa menilai jika dokter itu adalah orang baik. Bersamaan dengan itu. Pelayan juga sudah tiba di meja itu dengan pesanan dokter.


"Aku mentraktir kamu hari ini," kata dokter Angga sambil tersenyum. Dua mangkok bakso porsi jumbo sedang diletakkan oleh pelayan di hadapan Anggita dan dokter Angga. Anggita menatap dokter Angga sebentar. Dia tidak menyangka sama sekali jika dokter itu memesan makanan juga untuk dirinya. Anggita juga sebenarnya sudah lapar. Sibuk memantau kafenya dari tadi pagi membuat Anggita terlupa akan makan siangnya.


"Salah dokter. Aku yang mengundang dokter ke kafe ini. Maka aku yang mentraktir dokter," kata Anggita kemudian tersenyum. Dia tidak mau kalah dengan kebaikan dokter itu. Dia memposisikan dirinya seperti tamu di kafe sendiri. Anggita tidak akan membiarkan dirinya tidak bisa membalas kebaikan dokter itu hari ini.

__ADS_1


"O iya. Aku lupa. Boleh juga. Tapi ingat Anggita. Jika hari ini kamu mentraktir aku. Maka kamu juga harus siap jika suatu nanti aku akan mentraktir kamu makan."


"Oke. Oke dokter. Baiklah," kata Anggita sambil terkekeh. Tangannya sudah mulai aktif memasukkan kecap, saus Dan yang lainnya ke dalam mangkoknya.


"Jangan terlalu banyak cabenya Anggita. Tidak bagus juga untuk wanita hamil seperti kamu."


Anggita menghentikan tangannya untuk menyendokkan cabe ke mangkoknya. Dia sudah memasukkan satu sendok cabe sebelumnya.


"Baik dokter." Hanya itu yang keluar dari mulut Anggita untuk menghargai perhatian dokter itu.


Makan berdua dengan orang yang baru dikenal membuat Anggita kembali sedikit gugup. Bisa dikatakan jika dirinya sedikit hilang fokus menikmati bakso yang enak itu. Sedangkan dokter Angga. Dia terlihat menikmati makanan itu. Dua orang itu makan dengan diam.


"Ini adalah bakso yang paling enak yang pernah aku makan," kata dokter Angga setelah isi mangkoknya berpindah ke dalam perutnya.


"Benarkah dokter?" tanya Anggita senang. Isi mangkoknya juga sudah habis.


"Benar. Ini adalah pengakuan jujur dari penggemar bakso berat."


Dokter Angga tidak berbohong. Rasa bakso yang baru saja dia makan benar benar bakso yang paling enak. Bakso adalah salah satu makanan favoritnya.


"Baksonya, kami buat sendiri dari daging pilihan dan tanpa penyedap rasa. Rasa kuahnya asli dari kaldu daging."


"Pantas saja, enaknya luar biasa," kata dokter Angga sambil mengacungkan dua jempolnya kepada Anggita. Rasa bakso itu memang terasa alami tanpa penyedap rasa.


Baru saja Anggita hendak menanggapi perkataan sang dokter. Seseorang sudah menarik bangku di meja yang sama dengan meja yang ditempati Anggita dan dokter Angga.


"Apa kabar Anggita." Pria itu langsung duduk dan menatap Anggita tanpa menghiraukan dokter Angga.


"Kabar baik Danny."


Anggita memalingkan wajahnya setelah menjawab sapaan Danny. Hal itu diperhatikan oleh dokter Angga tapi pria itu masih terlihat tenang.


Danny tersenyum melihat Anggita. Dia tidak tersinggung sama sekali ketika Anggita memalingkan wajahnya. Kemudian Danny menoleh ke dokter Angga. Yang dilihat masih saja bersikap tenang seakan tidak Ada yang melihatnya.


"Anggita, aku mau pesan kopi," kata Danny sambil membuka topi dari kepalanya. Kemudian meletakkan topi itu dekat dengan tangan dokter Angga.


"Baikla. Aku akan memanggil pelayan."


"Aku ingin kamu yang membuatkannya Anggita."


"Baiklah. Tunggu sebentar."


"Satu lagi Anggita. Aku mau kopi hitam bukan kopi instan," kata Danny lagi membuat Anggita sedikit kesal. Dia sudah merasa tidak enak hati kepada dokter Angga karena sikap Danny kurang bersahabat. Ditambah lagi dia harus meninggalkan dokter Angga berdua dengan Danny. Kini pria itu meminta kopi hitam yang tidak ada di daftar buku menunya.


"Maaf Danny. Di kafe ini tidak tersedia kopi hitam."


"Sayang sekali. Padahal aku ingin kopi hitam dibandingkan kopi instan. Tapi ya sudah. Kopi instan juga tidak apa apa."


"Dokter, aku tinggal sebentar ya," kata Anggita kepada dokter Angga. Dokter itu tersenyum dan hanya menganggukkan kepalanya.


"Siapa kamu?" tanya Danny tajam setelah Anggita tidak terlihat lagi.


Mendapatkan pertanyaan tajam seperti itu, dokter Angga langsung mengedarkan pandangannya ke arah pengunjung. Pengunjung terdekat yang duduk dekat mejanya terlihat menoleh ke arah meraka.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu bertanya yang pelan. Kamu sudah mendengar Anggita menyebut aku seperti apa tapi kamu masih bertanya."


"Asal kamu tahu. Aku adalah kekasih Anggita," kata Danny merasa menang. Melihat dokter Angga duduk berhadapan dengan Anggita. Danny sudah merasa tersaingi. Sedangkan dokter Angga masih terlihat tenang mendengar perkataan Danny itu.


__ADS_2