Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Penolakan Anggita


__ADS_3

"Non, tuan tidak jadi pergi ke rumah sakit. Dan wanita itu juga sudah dibawa polisi," kata Bibi Ani yang sedang berbicara di telepon.


"Sama sama non," jawab Bibi Ani lagi.


Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Anggita meletakkan ponselnya di atas ranjang. Anggita menarik nafas lega karena mengetahui Evan tidak jadi pergi ke rumah sakit. Jauh jauh hari sebelumnya Anggita sudah memikirkan kemungkinan Evan akan menyelidiki tentang keguguran itu ke pihak rumah sakit. Itulah sebabnya, Anggita meminta Bibi Ani untuk memantau pergerakan Evan.


Anggita memang bisa mengajak dokter dan perawat untuk bekerja sama menyakinkan Evan bahwa dia keguguran. Tapi Anggita tidak dapat mengajak pihak rumah sakit untuk menyembunyikan janinnya. Dokter tetap menuliskan pelayanan, obat dan diagnosa yang sebenarnya di rekam medis. Tapi Anggita tidak bodoh. Demi membalaskan perbuatan Adelia. Dia meminta rekaman cctv di ruangan Adelia dimana dirinya merasakan kesakitan yang luar biasa karena Adelia mendorongnya.


Dan rekaman cctv itu berguna saat ini untuk mencegah penyelidikan Evan. Dan lebih tepatnya berguna membuat hubungan Adelia dan Evan hancur. Anggita sendirilah pengirim video itu.


Anggita tersenyum sambil melayangkan pandangannya ke arah jendela yang tirainya sudah terbuka. Anggita bisa dikatakan merasa puas mendengar Adelia dipenjarakan oleh Evan. Ini adalah pembalasan dari wanita yang tersakiti. Dia tidak perlu membuang waktu dan uang untuk membalaskan sakit hatinya.


"Bagaimana perasaan kamu saat ini Adelia. Pria yang sangat kamu cintai menjebloskan kamu ke penjara?" tanya Anggita dalam hati. Dia tersenyum sinis mengingat bagaimana jahatnya Adelia kepada dirinya demi mendapatkan Evan.


Anggita kini berdiri di depan meja riasnya. Dia mengamati wajahnya yang terlihat sangat cantik walau tanpa polesan.


"Wajah cantik ini, ketulusan ini. Aku pernah mempersembahkan kepada kamu Evan. Tapi kamu menolak dan menghancurkan seluruh angan aku. Jangan salahkan aku berbuat seperti ini. Aku hanya ingin keadilan bagi anakku. Aku tidak biarkan siapapun yang menyakiti dia. Walaupun itu dirimu atau bahkan wanita pujaan hati kamu," kata Anggita dalam hati.


Anggita bergegas masuk ke kamar mandi. Wanita hamil yang terlihat semakin cantik itu hanya sebentar di kamar mandi. Hari ini, tidak Ada waktunya untuk bersantai. Dua hari lagi pembukaan kafenya. Anggita pasti sangat sibuk hari ini.


"Sarapan dulu nak," kata mama Feli setelah Anggita keluar dari kamar. Anggita menganggukkan kepalanya. Dia memang displin dalam hal makan.


Anggita meminum susu hamil buatan mama tercinta. Dia juga mengambil roti yang sudah tersedia dia atas meja itu.


"Terima kasih ma," kata Anggita setelah segelas susu dan roti masuk ke dalam perutnya.


"Kenapa buru buru?" tanya mama Feli heran. Tempat bekerja Anggita ada di samping rumah. Tapi wanita itu bersikap seolah olah sudah terlambat.


"Hari ini aku akan mewawancarai beberapa calon karyawan ma. Aku harus terlihat siap dan berada di tempat sebelum mereka datang," jawab Anggita. Jarum jam menunjukkan angka delapan. Dan wawancara direncanakan jam sembilan. Masih ada waktu satu jam untuk bersantai tapi tidak bagi Anggita. Sama seperti di kafe pelangi. Dia akan bekerja dengan maksimal di kafenya ini.


Satu jam kemudian, Anggita sudah terlihat melakukan wawancara dengan para calon karyawannya. Di tahap awal, Anggita butuh tiga orang pelayan. Tiga di bagian dapur dan satu bagian kasir. Tapi yang sudah diwawancara masih tiga orang dan kualifikasi tiga orang tersebut sebagai pelayan.


Anggita menunggu dan berharap para pelamar yang berkas sudah ada di tangannya cepat datang. Tapi sudah hampir dua jam. Satu pelamar pun tak kunjung datang. Anggita jadi gelisah sendiri. Besok, mereka harus mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan pembukaan kafe dua hari lagi. Jika hanya dirinya dan tiga orang pelayan itu yang mempersiapkan pasti akan tidak sanggup.


Akhirnya Anggita menemukan ide. Dia menghubungi para pelamar itu satu persatu. Tapi jawaban para pelamar itu membuat Anggita kecewa. Ada yang sudah mendapatkan pekerjaan, Ada yang sakit dan Ada yang berada di luar Kota.


"Bagaimana ini, tidak mungkin pembukaan kafe ini diundur," kata Anggita pelan pada dirinya sendiri. Di depan kafenya, Anggita sudah mencetak spanduk untuk memberitahukan pembukaan kafenya.


Tidak Ada yang bisa diminta tolong. Anggita masib baru di Kota ini dan belum mempunyai banyak teman. Untuk membuat loker di koran atau di media online juga tidak memungkinkan. Selain itu. Anggita juga tidak ingin membuat loker itu. Keberadaannya yang bersembunyi membuat Anggita tidak bisa bebas untuk bersosial media.


Anggita mengetuk kepalanya. Berharap otaknya bisa berpikir untuk menemukan jalan keluar. Tapi sampai setengah jam berpikir. Ide apapun tidak ada yang melintas di kepalanya.


Anggita sedih bahkan sudah menangis karena otaknya yang buntu. Dia merasa sendirian karena tidak ada teman untuk diajak berdiskusi.


"Nia," gumam Anggita pelan ketika mengingat sahabatnya itu. Dia cepat cepat menghubungi Nia sahabatnya. Setelah panggilan terhubung tanpa basa basi, Anggita menceritakan masalah yang dihadapinya saat ini.


"Waktunya terlalu mendesak Gita. Untuk merekrut terlebih dahalu rasanya tidak terkejar karena pembukaan kafe milik kamu tinggal dua Hari lagi. Bagaimana kalau aku mengirimkan karyawan kafe pelangi tiga orang untuk membantu kamu besok. Mereka bisa berangkat besok pagi dari Kota ini."


Anggita berpikir sejenak mendengar saran dari sahabatnya itu. Sangat besar resiko jika Anggita menerima saran Nia. Dia tidak ingin persembunyiannya terbongkar. Walau dia mengenal baik mantan karyawannya di kafe pelangi tapi dia tidak begitu mengetahui sifat asli dari para karyawannya.


"Tidak perlu Nia. Jika tidak memungkinkan dibuka lusa lebih baik pembukaan kafe diundur satu minggu," jawab Anggita yang tidak ingin mengambil resiko.


Beberapa menit kemudian. Anggita terlihat berpikir keras untuk menemukan solusi tentang kekurangan karyawannya. Tidak Ada pilihan lain. Akhirnya Anggita memberanikan


diri untuk meminta bantuan dari Danny.


Baru saja panggilannya berdering. Sebuah Mobil sudah masuk ke pekarangan kafenya. Dan mobil itu dia kenal adalah mobil milik Danny.

__ADS_1


Anggita menarik nafas lega. Dia berharap kedatangan Danny bisa membantu dirinya untuk mengatasi tentang kekurangan karyawannya.


"Persiapannya sudah sampai dimana?" tanya Danny setelah mereka duduk berhadapan dengan meja sebagai penghalang. Danny sudah mengetahui jika pembukaan kafe itu dua hari lagi.


"Aku kekurangan tiga karyawan. Untuk bagian dapur dan kasir," kata Anggita langsung ke inti permasalahan. Danny tersenyum sambil menatap Anggita. Dia mengeluarkan ponselnya dan tangannya sudah menari nari di layar ponsel.


"Apakah kamu bisa membantu aku?"


"Kamu bertanya atau minta tolong?" tanya Danny sambil tersenyum. Anggita merasa gugup melihat senyum Danny yang tidak biasa.


"Minta tolong." Danny terkekeh mendengar jawaban Anggita.


"Jangan sungkan sungkan Anggita. Kalau kamu butuh sesuatu. Sebut namaku tiga kali. Apa pun yang kamu inginkan pasti terpenuhi," kata Danny bercanda. Anggita tidak kuasa untuk tidak tertawa mendengar candaan Danny itu. Dua orang itu sama sama tertawa.


"Kamu tidak percaya dengan perkataan aku?" tanya Danny.


"Aku rasa kalau hanya menyebut langsung terpenuhi tidak mungkin," jawab Anggita tidak mau kalah. Perkataan Danny terlalu berlebihan di telinganya.


"Kalau begitu. Coba sebutkan namaku tiga kali. Apa aku hanya membual atau apa yang aku katakan benar benar terjadi."


"Tidak percaya," kata Anggita sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian dia tertawa.


"Coba saja. Kali saja bisa benar benar terjadi. Kalau pun tidak. Kan kamu tidak rugi kalau hanya menyebut namaku."


Anggita kembali tertawa. Pembicaraan mereka Kali ini tanpa mereka sadari seperti teman yang sudah lama saling mengenal. Tidak ada rasa canggung sama sekali diantara mereka.


"Sebut saja," kata Evan lagi. Tatapannya tidak lepas dari wajah Anggita.


"Danny. Danny. Danny."


"Tutup mata kamu sebentar," kata Danny. Anggita bingung tapi merasa penasaran akan kebenaran dari kata kata pria itu. Anggita akhirnya memejamkan matanya.


"Satu, dua, tiga." Anggita membuka matanya. Dan dia menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dari dekat Mobil Danny. Tiga orang sudah berjalan menuju kafenya.


"Danny. Mereka itu siapa?" tanya Anggita. Dia sudah menduga jika tiga wanita itu adalah orang orang yang akan bekerja dengan dirinya


"Mereka adalah orang yang kamu butuhkan untuk bekerja di kafe ini."


"Terima kasih Danny," kata Anggita senang. Dia tidak sengaja meletakkan tangannya di atas tangan Danny yang sebelumnya tangan Danny di atas meja.


Anggita seketika sadar. Dia menarik tangannya dengan gugup. Untung saja tiga orang itu masih di dekat pintu dan tidak melihat kegugupan Anggita.


Setelah tiga orang itu duduk. Danny memperkenalkan mereka kepada Anggita. Anggita sangat senang. Dua orang itu memenuhi kualifikasi untuk karyawan yang dia inginkan. Dua diantara mereka adalah lulusan sekolah menengah umun jurusan tata boga dan satu jurusan akuntansi.


"Mereka, belum ada tempat tinggal. Bolehkah mereka untuk tinggal sementara di sini?" tanya Danny.


"Tentu saja. Kebetulan ada kamar kosong," jawab Anggita. Kemudian mengajak tiga orang itu untuk melihat kamar kosong yang dia maksud. Sementara Danny masih betah duduk di bangku itu.


Beberapa menit kemudian, Anggita kembali ke tempat duduknya tadi. Sedangkan tiga orang itu juga mengambil tas masing masing dari dalam Mobil Danny. Dan mereka kembali masuk ke dalam rumah untuk beristirahat sebentar.


"Bagaimana kamu mengetahui jika aku butuh tiga orang karyawan?" tanya Anggita. Dari tadi pertanyaan itu sudah terlintas di pikirannya tapi karena terlanjur senang. Anggita melupakan pertanyaan itu.


"Semua yang ingin kamu butuhkan. Aku bisa tahu. Dan aku bisa memenuhinya. Jadi kamu tidak perlu jawaban akan hal itu," jawab Danny cuek. Perekrutan tiga karyawan itu sengaja dia lakukan untuk mendukung Anggita mengembangkan kafenya. Tiga orang itu juga sudah berpengalaman dua tahun di bidang masing masing. Danny merasa hanya ini yang bisa dilakukan untuk membantu Anggita. Jika membantu wanita itu dengan uang, Danny sangat yakin Anggita tidak akan menerimanya. Danny tidak menyangka jika bantuan ternyata hal penting yang dibutuhkan Anggita saat ini.


"Menyebalkan," kata Anggita mendengar perkataan Danny yang terlalu berlebihan.


Danny terkekeh. Dia merasa menang karena bisa membuat Anggita memanyunkan bibirnya karena kesal.

__ADS_1


"Anggita, kamu pernah dengar tidak istilah yang mengatakan jika tidak ada yang gratis di dunia ini," kata Danny sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Anggita. Anggita semakin kesal melihat tindakan Danny itu.


"Iya. Iya aku pernah dengar. Terus, berapa yang harus aku bayar atas bantuan kamu hari ini?" tanya Anggita.


"Yang pasti aku tidak butuh uang kamu," kata Danny sombong.


"Yang pasti aku tidak butuh uang kamu. Sombong sekali," kata Anggita dengan bibir yang bergerak tidak biasa mengulang perkataan Danny.


Danny kembali tertawa mendengar perkataan dan melihat mimik wajah Anggita ketika mengatakan itu.


"Ternyata wanita hamil bisa lucu juga ya."


"Jadi kamu minta imbalan apa dari aku?" tanya Anggita lagi. Dia tidak enak hati kalau menerima bantuan Danny tanpa membalasnya.


"Apa ya?" tanya Danny sambil meletakkan jati telunjuk di kening.


"Sebentar, aku pikirkan," kata Danny lagi.


"Jangan minta yang aneh aneh," kata Anggita.


"Aku tidak akan meminta yang aneh aneh. Tapi tentunya akan meminta yang tidak biasa."


"Sama saja."


Dua orang itu akhirnya sama sama diam. Dan sesekali Danny mencuri pandang ke wajah Anggita dan perut buncit itu.


"Anggita."


"Iya."


"Rasanya berlebihan jika aku meminta hal ini atas tiga orang karyawan yang aku berikan kepada kamu. Tapi aku tidak sanggup memendam ini terlalu lama."


"Maksud kamu apa?" tanya Anggita bingung. Mendengar Danny mengatakan tidak sanggup memendam terlalu lama, Dia sudah berpikir jika Danny ingin memberitahukan keberadaan dirinya kepada Evan. Lewat Nia dan Bibi Ani. Anggita mengetahui jika Evan masih berusaha untuk mencari dirinya. Tapi sampai detik ini, tidak ada kerinduan sedikit pun dihatinya untuk Evan.


"Anggita, jadikah kekasih ku," kata Danny kemudian menatap Anggita dengan lembut.


Anggita spontan bergerak di tempat duduknya karena tidak menyangka jika Danny akan mengatakan itu.


"Aku serius," kata Danny untuk meyakinkan Anggita.


"Jangan bercanda kamu Danny. Lihat dirimu dan lihat aku. Aku adalah mantap kakak iparmu. Jangan menambah masalah hidupku Danny," jawab Anggita.


"Aku tidak bercanda. Apa salah jika aku mendekati janda dari kakakku sendiri. Yang salah itu jika aku mendekati kamu ketika kamu masih status istri dari kakakku."


"Iya kamu tidak salah Danny. Tapi aku yang tidak ingin menjadi bagian dari keluarga kalian lagi. Cukup satu tahun."


"Kenapa?. Kamu takut bertemu dengan Evan. Atau kamu masih mencintai pria itu?" tanya Danny.


"Tidak dua duanya. Aku hanya ingin menjalani hidup ini hanya bertiga dengan mama dan anakku."


"Jadikan aku dan Sisil bagian hidup kamu Anggita. Jika cinta tidak ada di hati kamu untuk aku. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui. Pertama bertemu, tanpa aku sadari aku sudah jatuh hati kepada kamu," kata Danny jujur. Pertemuan pertama yang berkesan karena buah kiwi. Danny tidak akan melupakan pertemuan itu sepanjang hidupnya.


"Simpanlah rasa cintamu. Jika kelak kamu menemukan wanita yang baik. Berikan cinta itu kepadanya. Untuk saat ini aku tidak ingin menjalin hubungan dengan pria manapun," jawab Anggita. Dia tidak berkata asal. Memang itulah yang sebenarnya di hatinya. Terlalu sakit menjadi seorang istri dari Evan ternyata membuat Anggita takut memulai hidup baru dengan pria lain.


"Aku pastikan kamu tidak menjalin hubungan dengan pria manapun selain diriku. Pegang perkataan kamu itu. Aku pulang dulu. Tapi aku akan sering sering datang kemari sampai kamu bisa melihat ketulusan hatiku."


Setelah mengatakan itu. Danny beranjak dari duduknya. Kemudian dia melangkah keluar menuju rumah Anggita. Dia pamit ke mama Feli dan kemudian keluar kembali dari rumah itu.

__ADS_1


"Aku pulang dulu. Jaga hatimu untuk aku," kata Danny lagi. Dia kembali ke tempat dimana Anggita duduk. Anggita tidak menjawab. Dia memalingkan wajahnya karena tidak suka mendengar perkataan Danny yang seolah olah dirinya sudah menjadi kekasih pria itu. Hal itu dimanfaatkan Danny untuk mengelus kepala Anggita sekilas. Kemudian pria itu benar benar melangkah menuju mobilnya. Anggita tidak menatap Danny sama sekali sampai pria itu membawa mobilnya keluar dari pekarangan kafe.


__ADS_2