
Setelah keluarga Danny meninggalkan Nia di ruangan itu. Nia kembali menangis. Bukan menangis karena Danny atau keluarganya. Nia menangis karena memikirkan keadaan bayi perempuannya yang harus dirujuk ke rumah sakit. Nia takut, jika bayinya tidak bisa bertahan mengingat bayi prematur mempunyai resiko yang tinggi. Nia juga mendengar dari bidan jika bayi prematur bisa saja akan dirawat di rumah sakit dua minggu atau bahkan sampai satu bulan.
Nia rasanya tidak bisa menghentikan tangisnya. Setelah kepergian sang bayi laki laki. Nia sangat berharap dan berdoa, semoga sang bayi perempuan mampu bertahan dan berjuang untuk hidup.
"Putriku, tolong kasihan bunda mu ini. Bertahan lah. Sudah banyak hal menyedihkan yang kita lalui bersama. Bertahan lah demi bunda. Tetaplah bersama bunda menjalani Masa masa yang akan datang. Biarkan bunda mendapatkan imbalan atas kebodohanku yaitu kamu sendiri sayang," kata Nia dalam hati.
Bersamaan dengan itu, Nia merasakan ada yang mengalir dari dalam tubuhnya dengan cepat. Pengalaman pertama melahirkan dan merasakan hal seperti itu membuat Nia cepat cepat memanggil sang bidan.
"Ada apa bu?" tanya bidan itu. Nia meringis kesakitan.
"Perutku masih sakit bu," jawab Nia. Sang bidan memeriksa Nia dan menekan perutnya dengan pelan.
"Jangan terlalu menangis bu. Banyak pikiran akan memperlambat kesembuhan dan juga bisa memperlambat keluarnya asi."
"Asi?. Lahir prematur bisa mengeluarkan asi?.
"Tergantung bu. Tergantung ibu sendiri. Jika bisa mengelola pikiran dengan baik. Ditambah dengan makanan bergizi. Asi ibu pasti bisa keluar. Perlu ibu ketahui jika asi yang pertama keluar sangat bagus untuk bayi."
Nia seperti menemukan semangatnya mendengar keterangan sang bidan. Nia berusaha mengalihkan pikirannya dari sang bayi laki laki. Hampir satu jam wanita itu berusaha melupakan kesedihan tapi sangat sulit melepaskan sang bayi.
"Putraku. Bukan niat bunda melupakan kamu. Kami darah daging dan bagian hidupku. Kamu anak pertamaku. Selamanya kamu akan tetap di hati ini. Tapi demi adik perempuanmu. Tolong bantu mama sembuh dari luka hati Dan kesedihan ini," kata Nia lagi dalam hati. Kemudian Nia mengalihkan kesedihannya dengan membayangkan Hidup di masa depan dengan bayi perempuannya.
Bukan berniat melupakan bayi laki lakinya. Nia hanya ingin menguatkan hatinya sendiri dengan membayangkan hal indah kelak bersama putrinya. Nia sangat sadar. Jika dirinya sendiri lah yang harus menguatkan dirinya. Di klinik.itu, tidak Ada keluarga, teman atau sahabat yang menjaga dirinya layaknya wanita yang baru melahirkan.
Dua hari dua malam Nia dirawat di klinik itu. Sebagai wanita yang melahirkan normal, dua hari dua malam itu sudah cukup lama dibandingkan dengan wanita yang melahirkan normal lainnya yang bisa pulang ke rumah hanya dirawat satu hari satu malam. Tapi karena kondisi Nia yang sedih, ternyata menguatkan diri sendiri tidak langsung bisa membuat wanita itu bangkit dari kesedihannya. Bahkan Nia sempat pendarahan. Beruntung tenaga medis cepat melakukan tindakan sehingga wanita itu selamat dari ancaman kematian.
Tiba di rumah sederhana milik keluarganya. Nia bersyukur. Bukan dirinya bersyukur karena penyesalan Danny, Gunawan dan Nenek Rieta. Nia bersyukur karena dirinya tidak terhambat dalam hal keuangan walau hanya dengan cara meminjam. Pinjaman dari bank dengan menjadikan rumah mereka sebagai agunan sudah keluar. Bagi Nia lebih meminjam dari pihak bank daripada kepada teman atau sahabat. Karena ke bank bisa mencicil sedangkan ke teman atau sahabat belum tentu bersedia uangnya dikembalikan dengan mencicil. Nia pun akhirnya mengembalikan uang yang dipinjam olehnya dari wanita yang menolongnya.
"Terima kasih banyak ibu. Tanpa pertolongan ibu. Entah apa jadinya aku dan bayi perempuanku," kata Nia setelah uang yang dia pinjam dari wanita itu sudah berpindah tangan ke tangan wanita itu.
"Sama sama Nia. Ibu minta maaf atas semua kata kata ibu Nia."
__ADS_1
Ternyata wanita itu menyadari adanya karma
dan takut anak perempuan miliknya menerima karma hanya akhirnya karena dirinya yang tidak bisa mengontrol kata kata terhadap Nia yang saat itu sangat jelas wanita itu saat itu membutuhkan dukungan. Dan bagi Nia, Tidak ada alasan untuk tidak memaafkan wanita itu. Dia adalah penolong baginya saat tidak ada yang bisa memberikan pertolongan. Dan wanita itu juga yang memberikan dirinya pinjaman. Dan Nia bisa melihat ketulusan wanita itu. Wanita itu juga bersedia menjadikan usahanya disurvei dari pihak bank sebagai usaha Nia supaya permohonan pinjaman bisa disetujui.
"Aku tidak akan mengingat itu bu. Yang aku ingat pasti kebaikan ibu ini."
"Terima kasih nak. Ini ada kado kecil atas kelahiran putri kamu," kata wanita itu sambil menyodorkan bungkusan kepada Nia. Wanita itu sengaja hanya menyebut bayi perempuan karena dirinya tidak ingin membuat Nia kembali menangis hanya karena bayi laki itu.
"Terima kasih ibu. Isinya apa ya?" tanya Nia sambil membuka kotak kado itu penasaran.
Nia mengerutkan keningnya setelah kado itu sudah terbuka dan dirinya melihat isinya.
"Itu pompa Asi. Kamu harus mencoba memompa asi kamu,"
"Terima kasih bu."
Nia terharu dengan kebaikan wanita itu. Pemberian itu memang jika dinilai secara materi sangat kecil tapi manfaatnya sangat besar untuk bayi. Dia tidak pernah terpikir akan benda itu. Nia fokus untuk membuat asi itu cepat keluar dan setelahnya Nia akan menyusui putrinya ke rumah sakit. Satu Hal yang kurang memungkinkan mengingat dirinya butuh istirahat untuk pemulihan. Nia benar benar terharu dengan kebaikan wanita itu termasuk menyediakan makan siang until dirinya hari ini.
Nia mengamati pompa itu yang sudah dibawah meja. Dia tidak bisa menyembunyikan pompa Asi itu lebih jauh lagi karena dirinya tidak bisa bergerak cepat.
Wanita itu pun bersikap tenang menerima kedatangan keluarga Danny itu di rumahnya.
"Anggita tidak bisa ikut Nia, dia tiba tiba merasa kurang enak badan. Maklum saja, Hamil muda," kata Nenek Rieta setelah mereka berbincang bincang Dan keluarga Danny menanyakan beberapa pertanyaan kepada dirinya. Pihak keluarga Danny juga membawa banyak buah buahan dan kue
Nia hanya tersenyum. Dari tadi dirinya hendak menanyakan Anggita. Tapi dirinya sadar jika dia tidak dekat dengan orang orang yang duduk bersama dirinya saat ini.
"Nia, kami sudah menentukan beberapa tanggal di bulan ini untuk Hari pernikahan kalian. Silahkan pilih tanggal yang menurut kamu baik untuk melangsungkan pernikahan. Tanggal dua puluh tiga, tanggal dua puluh empat atau tanggal tiga puluh," kata Gunawan.
Ternyata pihak keluarga Danny sudah memikirkan matang matang tentang pernikahan itu. Tanggal yang disebutkan oleh Gunawan adalah tanggal dimana dirinya sudah lebih dari dua minggu setelah melahirkan.
"Menurut tante. Tanggal tiga puluh saja. Nia juga pasti akan lebih sehat di Hari itu daripada tanggal dua puluh tiga atau tanggal dua puluh empat.Ya kan Nia, Danny?" kata Tante Tiara.
__ADS_1
"Aku rasa juga begitu ma," jawab Danny menganggukkan kepalanya setuju.
"Bagaimana dengan kamu Nia?" tanya Nenek Rieta sedikit mendesak jawaban wanita itu.
"Aku belum memikirkan tentang pernikahan nyonya. Aku hanya ingin fokus untuk pulih terlebih dahulu. Apalagi kata bu bidan. Wanita yang baru melahirkan harus istirahat sampai empat puluh hari," jawab Nia tenang.
"Menurut aku juga begitu ma. Akhir bulan depan saja," kata Tante Tiara setuju dengan perkataan Nia. Wanita itu menangkap pengertian jawaban itu dengan salah.
"Aku rasa juga begitu nek," jawab Danny juga setuju. Pihak keluarga Danny akhirnya setuju jika pernikahan itu diadakan akhir bulan depan karena mempertimbangkan kesehatan Nia.
Nia tidak menunjukkan wajah senang sama sekali. Dia bersikap biasa dan lebih banyak diam daripada berbicara. Dia hanya berbicara ketika dirinya mendapatkan pertanyaan dari keluarga Danny itu.
Setelah hampir satu jam, keluarga Danny belum juga keluar dari rumah itu. Nia sudah bosan dan ingin berbaring karena merasa lelah harus duduk tegak di sofa. Untuk nengusir orang orang itu. Nia masih punya sopan santun.
Akhirnya apa yang diharapkan Nia tiba juga. Orang orang itu pamit kecuali Danny.
"Mengapa kakak tidak ikut mereka pulang?" tanya Nia ketika melihat Danny masih betah duduk di hadapannya sedangkan suara mobil sudah terdengar dari luar.
"Aku akan menemani dan mengurus kamu disini sampai kedua adik kamu kembali."
"Jangan membuat aku menjadi bahan gosip lagi kak. Setelah menjadi bahan pembicaraan karena hamil di luar nikah dan karena kamu berada di rumah ini. Para tetanggaku membicarakan aku hal negative lagi,"kata Nia. Dia tidak setuju dengan keinginan pria itu.
"Tapi bagaimana dengan kamu?" tanya Danny terdengar khawatir.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri kak. Pergilah!"
Danny membenarkan kata kata Nia. Nia bisa dicap negative lagi jika dirinya berada di rumah itu untuk beberapa jam. Akhirnya pria itu berdiri. Dan ketika hendak melangkah, bungkusan kado di bawah meja menarik perhatiannya. Danny membungkukkan badannya untuk memperbaiki letak bungkusan itu karena Danny berpikir jika bungkusan itu terjatuh.
"Minta kak," kata Nia sambil mengulurkan tangannya hendak meraih bungkusan itu sebelum Danny melihat hasilnya. Tapi sesuatu yang terlihat dari bungkusan itu menarik perhatian Danny. Pria itu membuka bungkusan kado itu dan mengeluarkan isinya. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat pompa Asi itu. Dirinya sudah pernah berpengalaman akan lahir seorang bayi dalam hidupnya yaitu kelahiran Sisil. Dia mengetahui dengan jelas fungsi dari benda itu.
"Untuk apa ini?" tanya Danny.
__ADS_1